LDII Watch

May 10, 2006

[Kliping] BERAGAMA ITU HARUS MANKUL!!!!!

Filed under: Kliping Artikel Kontra LDII — ldiiwatch @ 2:26 am

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/islam-jamaah/message/3238
Ditulis oleh seseorang dengan nick name Abu Manqul <abu_manqul@…>

PREAMBULE

“beragama itu harus MANKUL, kalau nggak MANKUL maka itu adalah ro’yu”
1. kaidah di atas adalah kaidah yang sering kita dengar di milis ini. Menurut bahasa, kaidah di atas memang benar adanya. Sebab, beragama memang harus menggunakan DALIL, sedangkan DALIL itu adalah SESUATU yang “DINUKIL” (alias “MANKUL”) dari alquran dan assunnah/hadits. Dengan demikian, kalimat di atas mempunyai bentuk lain seperti berikut ini:

“beragama itu harus pakai DALIL, kalau nggak pakai DALIL berarti pakai ro’yu”

2. tahap berikutnya adalah terciptanya kaidah berikut ini:

“berAMAL itu harus MANKUL. kalau NGGAK MANKUL, maka amalannya tidaklah diterima/tidak sah”

dengan menggunakan penjelasan pada point pertama, maka kalimat pada point ke dua adalah sama seperti bentuk berikut:

“berAMAL itu harus ADA PETUNJUKKNYA YANG DINUKIL DARI ALQURAN DAN ASSUNNAH, kalau NGGAK ADA NUKILANNYA (ALIAS BID’AH), maka amalannya tidaklah diterima/tidak sah”.

Kaidah tersebut adalah cocok dengan salah satu kaidah tentang tiga syarat diterimanya amal, yaitu: islam, ikhlash dan SESUAI SYARIAT.

3. lebih jauh lagi, kaidah nomer dua tersebut dijadikan sebagai “touch stone” untuk memvonis seseorang itu kafir atau mukmin. Sehingga yang terjadi adalah kaidah berikut ini:
Case Beragama : if mankul à then diterima amalnya à then surga
Case Beragama : if tidak mankul à then tidak diterima amalnya à then sama dengan orang kafir à then neraka kekal

Dengan menggunakan tiga penjelasan di atas, insya alloh orang-orang “hum” akan menjadi tahu tentang alur pemikiran orang LDII. Sehingga, apabila ingin membantah orang LDII, caranya adalah bukan dengan pertanyaan à “mana dalilnya bahwa beramal harus mankul??”. Sebab pertanyaan tersebut, bagi orang LDII, adalah sama dengan pertanyaan à “mana DALILNYA bahwa beragama itu harus pakai DALIL???”. Kalau salafiyyin insya alloh bisa menjawabnya. Yaitu dengan memakai dalil hadits-hadits shohih, misalnya “man amila amalan, laisa ‘alaihi amruna, fahuwa roddun” atau “kulla bid’atin dholalah”, atau yang semisalnya. Kalau orang LDII? Mungkin orang LDII akan bingung, sebab mereka menjadikan kaidah di atas sebagai premis yang memang sudah mendasar (UUD kali?). Kalau toh dipaksakan, yang terjadi adalah engkel-engkelan, mungkin kata orang LDII adalah: “sampeyan kuwi piye to? Wong wis jelas kok ditakokne??!! Ning ngendi-ndi yo NGAGOMO KUWI KUDU MANKUL!!! (pakai DALIL maksudnya)” sambil menunjukkan ayat-ayat dan hadits yang “kira-kira” bisa mendukung pendapat tersebut. (ayat dan hadits “paksaan” tersebut bisa dilihat di tulisan ustadz Qomar ZA yang berjudul “antara Al Qur’an, Hadits, dan mankul”. Bisa dilihat di archieve milis ini, atau bisa dilihat langsung di situs sumbernya. http://www.salafy.or.id). Terus kenapa mereka (orang LDII) nggak memakai dalil yang sama dengan yang dipakai salafiyyin untuk menjawab pertanyaan tersebut? Nggak ah… Sebab takut dalil tersebut akan menjadi boomerang bagi diri mereka sendiri. Kayak di forum jokam.com. Mubalighnya mbahas tentang bid’ah, akhirnya malah jadi runyam. Silahkan dicek sendiri disana.. (tapi ndaftarnya sulit, harus ada ”koneksi” terhadap orang dalam)

Oleh karena itu, contoh pertanyaan yang sebaiknya dipakai untuk membantah orang LDII sebaiknya adalah à “buktikan bahwa cara anda beragama adalah mankul!”. Pertanyaan-pertanyaan yang semakna dengan pertanyaan inilah yang bisa dijadikan senjata.

Mari kita ulas lebih lanjut!

1. misal ada anggota jokam yang bertanya pada mubalighnya: “pak pak, sampeyan bilang ngagomo kuwi ben POL kudu mankul kan pak… lha kalau ada hum yang tanya apakah LDII itu mankul (SESUAI DALIL karepnya), Njawabnya ke dia gimana pak?”

Bila kita bepikir menjadi seorang mubaligh LDII, maka cara yang terpikir di benak kita adalah mencari jawaban yang kiranya bisa diberikan oleh murid kita tadi untuk temannya “hum” yang mengajukan pertanyaan tersebut. Tentu saja caranya adalah dengan jalan mengambil pendapat-pendapat ulama salaf yang kira-kira sependapat dengan LDII. Kenapa menukil ulama salaf? Karena ulama salaf adalah ulama yang lurus, dan pendapat mereka (ulama salaf) bisa diterima oleh sebagian besar umat islam saat ini. Termasuk bisa diterima oleh orang yang tanya kepada murid kita tadi.

Berpikir lebih lanjut…. yang terjadi kemudian adalah kita (sebagai mubaligh LDII) akan bingung, sebab hal ini tentu saja tidak mungkin dilakukan, karena memang tidak ada ulama salaf yang berpikiran/berpemahaman seperti LDII.

Kalau toh ada (sekali lagi: “KALAU TOH ADA”, padahal tidak ada) ulama salaf yang berpikiran sama dengan LDII (??!), maka cara tersebut (mencari rujukan kitab ulama salaf) adalah tidak mungkin (paling tidak “sangat anti”) dilakukan. Kenapa begitu? Jawabnya ada pada point kedua

2. “tidak boleh mengambil ilmu melalui kitab (KARANGAN)! Belajar ya harus MANKUL”

kaidah MANKUL, yang sebenarnya bersifat umum “dipahami” oleh semua orang, menjadi “berbeda” ketika ada di tangan LDII. Sesuatu yang mempunyai arti luas “disempitkan” oleh orang LDII. Akibatnya kaidah tersebut menjadi “salah kaprah”. (kaidah salah, tapi dianggap benar)

Keanehanpun mulai terjadi, yaitu “mankul” yang pada asalnya bermakna “harus pakai dalil” mulai berubah menjadi “harus pakai guru” versi LDII. Dan kemudian berubah lagi menjadi “harus tatap muka dengan guru, dan gurunya itu-pun harus dari LDII. kalau NGGAK ADA GURUNYA DARI LDII, MAKA NGGAK MANKUL. KALAU NGGAK MANKUL, MAKA TIDAK DITERIMA AMALNYA, MAKA MAKA MAKA.. dst”

Keanehan berikutnya adalah munculnya statement-statement lanjutan yang semakin nyleneh seperti -> “belajar harus MANKUL (ke LDII saja tentunya). Kalau nggak mankul ke LDII, nggak bakalan diterima amalnya! MESKIPUN AMALANNYA TERSEBUT SESUAI DALIL ALQURAN DAN HADITS, TAPI KALAU NGGAK MANKUL (ke LDII) MAKA TETAP SAJA NGGAK DITERIMA!! Makanya NGAJI ke LDII pun HARUS BELAJAR ALIF BA’ TA’ LAGI DARI AWAL, sebab HASIL BELAJAR YANG DULU (sebelum mankul ke LDII) ITU NGGAK MANKUL, NGGAK SAH!!

Allahuakbar…

puncaknya adalah klaim orang LDII bahwa satu-satunya jalan yang selamat adalah milik LDII. Jalan tunggal ke surga, dan yang lain ke neraka. Orang LDII harus syukur pada amir. Sebab kalau nggak ada amir, semuanya akan mati jahiliah (alias “kafir” kata mereka) dan masuk neraka kekal!!.

Na’udzubillahimindzalik..

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam saja hanya berani menjanjikan surga kepada shahabatnya atas dasar taufiqi dari Allah ta’ala. Ulama salaf sendiri memberikan kaidah-kaidah tentang manhaj al-haq, firqotun najiyah, dll jika ingin masuk surga. Dan itu berlaku umum (tidak dimiliki oleh organisasi ternentu saja). lha kok beraninya LDII (yang baru lahir kemarin) menganggap bahwa dirinyalah satu-satunya jalan menuju ke surga dan yang lain ke neraka? Bahkan ada yang menyatakan bahwa ketika orang LDII ditegur karena pakai jeans, pakai topi, merokok dan sebagainya, maka bilangnya “tampang turis, tapi jiwa ahli surga”. Allohuakbar…. Sudah merasa aman dari azab Allah?

Al A’raf 99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam ketika ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab: “SYIRIK kepada Allah, BERPUTUS ASA dari rahmat allah, DAN MERASA AMAN DARI MAKAR ALLAH”.
Abdurozzaq meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, ia berkata: “dosa besar yang paling besar adalah SYIRIK kepada Allah, MERASA AMAN DARI SIKSA ALLAH, berputus harapan dari rahmat Alah, dan berputus asa dari pertolongan Allah (HR. Abdur Rozzaq)

Kalau ada pihak-pihak yang dengan YAKIN menjanjikan surga, maka saya jadi ingat Dajjal Al-kadzdzab yang berani menjanjikan surga. Padahal yang dibawanya adalah neraka…

(mungkin ketika diberikan bantahan-bantahan semacam ini, orang LDII yang nggak bisa membantah, akan menjawab dengan prinsip “kecap saya nomer satu, kalau kecap anda ya terserah anda” ataupun “kalau saya bilang istri saya cantik, apa saya nganggap istri anda jelek?” dll. Suatu jawaban yang sekilas membingungkan orang awam, tapi tidak bagi mereka yang mengerti ilmu)

Kembali ke pertanyaan di point kedua. Ketika kita (yang bertindak sebagai mubaligh LDII) mencoba mencari jawaban dengan jalan mencari “dukungan” dari pihak ulama salaf (padahal mencari rujukan ke pihak ulama salaf tidak bisa dilakukan kecuali dengan jalan membuka-buka kitab KARANGAN mereka), maka akan memberikan kesan bahwa mencari ilmu dengan MEMBACA kitab KARANGAN (alias tanpa GURU/tanpa MANKUL) adalah BOLEH. Tentu saja ini akan menghancurkan doktrin MANKUL yang dibuat dan didoktrinkan dengan susah payah oleh Alm. Madigol (semoga Alloh ta’ala mengampuninya) pada rukyah LDII.

Akhirnya menjadi bingunglah mubaligh LDII…..

Satu-satunya jalan keluar dari pertanyaan murid tadi adalah dengan jalan memvetonya supaya tidak tanya aneh-aneh (katanya -> kalau nanya aneh-aneh, maka itu adalah bani isro’il). Kemudian melarang murid tadi untuk bergaul (berdiskusi/berdebat) dengan para “hum”. Kalau toh murid tadi tetap tanya aneh-aneh, maka mubaligh akan menghukumnya. Misalnya dihukum dengan harus tobat 50 hari 50 malam. Membuat surat tobat. Membayar kafarot serta nggak boleh ngaji ke mubaligh selama 50 hari tersebut. Dst…

Bukanya malah “tobat”, yang terjadi adalah bisa-bisa muridnya keluar dan akhirnya “bertaubat” (bukan “tobat” dalam versi LDII lho). Alhamdulillah…

Itu masih belum seberapa, kalau misalnya ada murid lagi yang bertanya seperti ini: “pak, boleh nggak saya ngaji/sambung di luar jm?”. Maka mubalignya tentu saja (kalau dia masih 100% ber-aqidah LDII) akan menjawab: “nggak boleh ngaji di luar LDII!! Karena mereka nggak mankul!!”.
Jawaban singkat ini memang sangat memuaskan sebagian besar rukyah LDII. Sedikit sekali dari mereka yang berpikiran “sedikit kritis” (saya bilang, “sedikit kritis”. Karena memang nggak usah mikir jauh-jauh untuk nemukan ketidakberesan di LDII). Yaitu dengan melancarkan berondongan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Misalnya:

PERTANYAAN 1:
“kenapa kok yang mankul cuma LDII dan yang lain tidak?” (pertanyaan inti yang sudah bisa menjadi ‘skak mat’ buat orang LDII)

PERTANYAAN 2:
“apakah nurhasan itu hafal sepersepuluh hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam?” (pertanyaan retoris. HAFAL sepersepuluh kitab bukhori saja mbuh-mbuhan. Kok ngaku islamnya yang sah dan POL cuma milik nurhasan? Sombong banget!!! Imam malik saja, ketika disuruh oleh kholifah Harun Al Rasyid, bahwa kitabnya Al Muwaththo’ akan dijadikan kitab undang-undang pengadilan di wilayah abbasiyah nggak mau kok. Sebab Imam Malik Rahimallahu ta’ala merasa bahwa dia tidak menguasai seluruh hadits. [buka muqodimah sifat sholat nabi, albani]. Lah kok LDII yang baru kemarin muncul merasa bahwa ilmu yang sah diamalkan hanya yang dari LDII, selain itu nggak sah..?? Allahuakbar… Betapa takaburnya…)

Lanjutan pertanyaan sebelumnya “kalau nggak hafal, bukankah orang luar LDII banyak yang menghafalnya?” (si mubaligh LDII bingung lagi, njawab “ya” atau “tidak”?. Mau njawab “tidak” kok jelas boongnya, terus kalau njawab “ya” jelas nggak mungkin. karena jawaban tersebut ujung-ujungnya adalah membolehkan belajar di pihak lain yang non LDII. Kalau murid belajar di luar LDII, maka dia akan tahu belangnya LDII)

“kalau nggak hafal, bukankah kitab-kitab ulama ahli hadits masih ada saat ini? Kenapa nggak dibuka dan dipelajari semuanya?” (si mubaligh LDII bingung lagi, njawab “ya” atau “tidak”. Mau njawab “tidak” kok jelas boongnya, terus kalau njawab “ya” jelas nggak mungkin. karena jawaban tersebut ujung-ujungnya adalah membolehkan belajar melalui KITAB, alias belajar BUKU KARANGAN YANG TIDAK MANKUL)

PERTANYAAN 3:
“islam menyebar ke seluruh penjuru dunia sejak masa kekhalifahan, dan kesemuanya menyebar dengan punya sanad, kenapa kok sanad yang sah hanya di LDII?” (Mau njawab bahwa rowi yang “tsiqoh” hanya milik LDII dan yang lain tidak? Lho….. Sejak kapan syarat MANKUL milik LDII itu menyertakan syarat “rowi harus tsiqoh” dalam kriteria-kriteria haditsnya? Kalau toh menjawab “rowi LDII itu tsiqoh semua”, nggak mungkin. Sebab banyak saksi yang menunjukkan bahwa rowi LDII/nurhasan itu adalah “nggak tsiqoh”, bahkan ada yang menuduh “kadzdzab” segala. Yang ngumpetin kambing, yang nyrobot tanah milik KH. Ghozali di Banjaran 1/37 Kediri, yang ngaku-ngaku belajar di darul hadits di makkah, yang ngaku diangkat oleh amirul mukminin di arab Saudi, dll. Lagipula BITHONAH itu sendiri dipelihara di lingkungan LDII)

PERTANYAAN 4:
“kenapa saya tidak boleh menuntut ilmu di negeri makkah sana? Bukankah dulu mbah nurhasan juga ngaji disana? Kenapa di sana kok malah dikatakan tidak mankul?” (pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang diajukan oleh .. maaf lupa namanya… yang jelas dia adalah seorang mantan amir LDII, sudah bertaubat dan menyatakan keluar dari LDII dan kembali pada islam berdasarkan pemahaman salaf as-sholeh. File ceramah beliau tentang hal ini bisa di download di website vbaitullah. Recommended!!)

PERTANYAAN 5:
“pak mubaligh, LDII kan mengklaim islamnya sah dibawa dari Arab Saudi sana atas izin amirul mukminin arab, kalau begitu, mustinya di arab sana adalah sarangnya LDII, tapi kenapa kok yang terjadi malah sebaliknya? nggak ada/sedikit sekali orang LDII di sana? Dan yang saya tahu, LDII kok malah bangga bisa ‘buka cabang’ di makkah sana? Bahkan lebih jauh, di forum internal jokam.com, Arab Saudi malah dikatai sebagi ‘wahabi’. Kok aneh sekali? Kalau Arab Saudi ‘wahabi’, mustinya LDII juga membela-bela ‘wahabi’ dong?? Apakah ini ‘kacang lupa kulitnya’ atau ‘kacang yang ngaku-ngaku kepada kulitnya karena nggak punya kulit’? saya bingung… tolong dijawab ya mubaligh… ….”
(bingung kan? kalau nggak salah, salah seorang rukyah LDII di milis ini menyatakan dengan bangga bahwa ada salah satu ulamanya yang bisa masuk ke makkah. Kalau nggak salah namanya ada ‘syaikh yahya’-nya gitu.. sungguh membingungkan bagi orang yang bingung dan orang yang nggak bingung. Terus kalau nggak salah juga ada lagi yang sempat memposting bahwa ada ulama LDII yang belajar qiro’ah di ulama non LDII di Malaysia. Lho kok? Nggak mankul dong? Nggak mangkul kok dipelajari? Qiro’ahnya nggak sah no? Amalnya terus gimana nanti? Dll?…. Hm….. mungkin orang LDII berpikir bahwa apapun yang asalnya nggak mankul, kalau dipelajari oleh LDII jadinya mankul. Persis “money laundring” ilmu)

Kesimpulan: Bagaimana murid bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah? Lha wong mau membuktikan kebenaran LDII saja dianggap tidak to’at amir?… akhirnya yang terjadi adalah lingkaran setan.
Murid Tanya -> apakah LDII benar? -> Kata mubaligh, hanya LDII-lah yang benar -> buktinya apa? -> buktinya adalah karena mubaligh menyatakan bahwa LDII-lah yang benar. Murid nggak boleh Tanya lagi ataupun konfirmasi di pihak lain. Sebab hanya LDII-lah yang benar dan yang lain salah. Karena yang lain salah, maka nggak bisa dijadikan sebagai pihak untuk membuktikan kebenaran LDII.

OK
Sementara itu saja ya… Padahal ini masih bab mankul, belum bab lainnya (seperti bithonah, imamah, infaq, mu’amalah, dll)

kalau ada yang kurang silahkan ditambahkan. Kalau ada orang LDII yang mau menjawab, silahkan dijawab. Mau njawab pakai DUSTA (bithonah) atau nggak terserah anda… toh saya tidak bakalan tahu kalau anda berdusta atau nggak. Anda yang berdusta/bohong, anda pula yang bertanggung jawab.

Penutup:
DOKTRIN MANKUL VERSI LDII MEMBUAT MURID MERASA PINTAR, PADAHAL SEBENARNYA DIA DIBODOHI.

(kalimat penutup di atas diambil dari ceramah mantan amir LDII yang telah saya sebut sebelumnya)

Orang yang MERASA PINTAR tidak akan mau dibenarkan, diluruskan, atau diingatkan. Sebab MERASA DIRI PINTAR DAN MERASA YANG LAIN BODOH. Masak orang bodoh mau ngluruskan orang yang pintar?

….

note:
Bila anda orang LDII dan ingin keluar namun bingung: “Islam di LDII kan bagi saya sudah pol. Kalau mau keluar, terus islam yang seperti apa lagi yang harus saya anut?”. Maka jawabnya adalah:
Islam yang murni. yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, dipahami oleh generasi terbaik ummah. yang mana Allah ta’ala sendiri yang telah memuji mereka dalam kitab-Nya (Alquran At-Taubah 100) yaitu shahabat (muhajirin dan anshor), dan orang-orang yang mengikuti mereka. Bila kita bukan muhajirin, bukan pula anshor, maka kita berusaha untuk menjadi golongan yang ketiga, yaitu golongan orang-orang yang mengikuti mereka semua. Mereka inilah (pengikut muhajirin, anshor, tabiin, tabiut tabiin) yang disebut oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam sebagai “al jamaah”, yaitu golongan yang Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dan shahabatnya berada di atasnya.

“semua kebaikan ada pada ittiba’ kepada salaf, dan semua kejelekan ada pada khalaf”

Bila anda rukyah LDII yang sudah paham, namun tidak ingin keluar karena ingin “nebeng” pada amir di akherat kelak, maka perhatikan ayat berikut (ayat ini bukan untuk orang iman, tapi untuk orang kafir. Tapi ada baiknya kita mengambil pelajaran dari ayat ini sehingga kita bisa terhidar dari hal tersebut):

Ibrahim 21. Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”

Ash-shoffat 27-34 Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah yang tidak beriman.”. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.

Kalau anda amir, maka perhatikan ayat berikut:
Al haaqqoh 28-29: Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku.

Demikian. Maaf bila ada kalimat-kalimat yang kurang berkenan di hati anda semua. Semoga Allah azza wa jalla memberikan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita bisa menempuh jalan yang lurus.

Wallahu’alam.

Wassalamualaikum

45 Comments »

  1. (al‑Turmuzi berkata): Sufyan bin Waki’ menceritakan kepada kami, (Sufyan berkata): Suwaid bin `Amr al-­Kalbi menceritakan kepada kami, (Suwaid berkata): Abu `Awanah menceritakan kepada kami dari `Abd al‑A`la dari Sa`id bin Jubair dari Ibn `Abbas dari Nabi Saw, beliau bersabda; takutlah kalian (hati‑hati dalam memegangi) hadis‑hadis dariku kecuali yang benar‑benar telah aku ajarkan kepada kalian, barangsiapa berbohong atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari API NERAKA, siapa yang mengatakan sesuatu tentang al‑Qur’an dengan ra’yu‑nya (PENDAPAT/AKAL) maka hendaklah ia menempati TEMPAT DUDUKnya dari API NERAKA

    Isnad adalah bagian dari agama seandainya tidak ada isnad , niscaya orang orang akan berkata pada apa-apa yang dikehendakinya dengan semaunya sendiri. sesungguhnya pembeda antara kami orang iman dengan mereka musyrikin adalah isnad . ( muqodimah muslim )

    manusia selalu berada dalam kebaikan selama orang yang awal masih hidup dan orang yang akhir mau belajar ilmu ( agama ) darinya . ketika generasi tua telah mati sebelum generasi mudanya belajar ilmu darinya , maka rusaklah manusia ( H.R. addarimi )

    Nabi bersabda: Ambillah ilmu sebelum hilang, berkata shohabat ” bagaimana ilmu dapat hilang, wahai nabinya Alloh , sedangkan dikalangan kita ada kitab Alloh ?” maka nabi marah yang Alloh belum pernah membuat nabi marah seperti itu. Kemudian nabi bersabda : ” celakalah kalian, bukankah taurot dan injil itu masih ada dikalangan bani isroil, kemudian keduanya ( taurot dan injil ) tidak dapat mencukupi mereka sedikitpun, sesungguhnya hilangnya ilmu adalah hilangnya pembawanya. Sesungguhnya hilangnya ilmu adalah hilangnya pembawanya (isnadnya atau ulama’nya)” HR. Ad-Daromi dari Abi umamah…

    Comment by Altair An-Nur — March 14, 2014 @ 1:19 pm

  2. Untuk dapat Isnad perlu MANQUL….pada Jaman Nabi bahkan TAURAT dan INJIL telah di CETAK/DITULIS/DIJADIKAN BUKU, TAPI KARENA TANPA ISNAD (MANQUL) ILMU NYA DIANGGAP HILANG……JADI Nabi PUN MEWAJIBKAN MANQUL…(BLUNDER UNTUK PENDUSTA AGAMA seperti YANG NULIS INI THREAD)

    Comment by Altair An-Nur — March 7, 2014 @ 2:45 pm

  3. Nabi bersabda: Ambillah ilmu sebelum hilang, berkata shohabat ” bagaimana ilmu dapat hilang, wahai nabinya Alloh , sedangkan dikalangan kita ada kitab Alloh ?” maka nabi marah yang Alloh belum pernah membuat nabi marah seperti itu. Kemudian nabi bersabda : ” celakalah kalian, bukankah taurot dan injil itu masih ada dikalangan bani isroil, kemudian keduanya ( taurot dan injil ) tidak dapat mencukupi mereka sedikitpun, sesungguhnya hilangnya ilmu adalah hilangnya pembawanya. Sesungguhnya hilangnya ilmu adalah hilangnya pembawanya (isnadnya atau ulama’nya)” HR. Ad-Daromi dari Abi umamah…

    Comment by Altair An-Nur — March 7, 2014 @ 2:43 pm

  4. (al‑Turmuzi berkata): Sufyan bin Waki’ menceritakan kepada kami, (Sufyan berkata): Suwaid bin `Amr al-­Kalbi menceritakan kepada kami, (Suwaid berkata): Abu `Awanah menceritakan kepada kami dari `Abd al‑A`la dari Sa`id bin Jubair dari Ibn `Abbas dari Nabi Saw, beliau bersabda; takutlah kalian (hati‑hati dalam memegangi) hadis‑hadis dariku kecuali yang benar‑benar telah aku ajarkan kepada kalian, barangsiapa berbohong atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari API NERAKA, siapa yang mengatakan sesuatu tentang al‑Qur’an dengan ra’yu‑nya (PENDAPAT/AKAL) maka hendaklah ia menempati TEMPAT DUDUKnya dari API NERAKA

    … sesungguhnya Rasulalloh s.a.w. bersabda: “Barangsiapa beramal yang tidak ada atas amalan itu perkaraku maka amalan itu ditolak”.(Hadist Shohih Muslim No. 18 – (1718) Kitabul Iman)

    Isnad adalah bagian dari agama seandainya tidak ada isnad , niscaya orang orang akan berkata pada apa-apa yang dikehendakinya dengan semaunya sendiri. sesungguhnya pembeda antara kami orang iman dengan mereka musyrikin adalah isnad . ( muqodimah muslim )

    manusia selalu berada dalam kebaikan selama orang yang awal masih hidup dan orang yang akhir mau belajar ilmu ( agama ) darinya . ketika generasi tua telah mati sebelum generasi mudanya belajar ilmu darinya , maka rusaklah manusia ( H.R. addarimi )

    Comment by Altair An-Nur — March 7, 2014 @ 2:42 pm

  5. numpang baca-baca..

    Comment by tri — May 5, 2009 @ 2:14 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: