LDII Watch

May 10, 2006

Terdapat Kebohongan di http://faq.ldii.or.id

Filed under: Artikel — ldiiwatch @ 1:09 am

Pada sebuah “diskusi” di mailing list islam-jamaah@yahoogroups.com salah seorang member yang kontra-LDII (menggunakan nick tisaga2002) menantang jama’ah LDII bersumpah bahwa jawaban-jawaban yang terdapat di situs http://faq.ldii.or.id tidak terdapat kebohongan.

Kemudian salah seorang member yang pro dan mungkin juga merupakan jama’ah LDII (menggunakan nick Luqman Islam/luqman354) membuat sumpah tertulis bahwa memang terjadi pembohongan pada publik di dalam jawaban-jawaban di situs http://faq.ldii.or.id.

Berikut ini kutipan “diskusi” mereka dari mailing list tersebut (dapat juga dibaca di archive http://groups.yahoo.com/group/islam-jamaah/message/3234)

From: Luqman Islam <luqman354@…>
Date: May 10, 2006 6:59 AM
Subject: Re: [islam-jamaah] Re: Mantan-2
To: islam-jamaah@yahoogroups.com

Demi Allah, bahwa di dalam FAQ tsb, memang terjadi pembohongan pada publik, namun bukan berarti semua jokam setuju dengan FAQ tsb. mungkin kalo “orang luar” masih bisa dibohongi, namun bila yang membaca tersebut adalah “mantan-mantan” maka saya yakin kalian akan menertawakannya, dan jari telunjuk kalian akan kalian arahkan pada muka muka kami sebagai ‘Pembohong Besar”

Namun semua itu tak terlepas dari strategi dakwah kami ; fathonah bithonah dan budi luhur, dan dengan strategi inilah kami bisa besar dan berkembang pesat spt saat ini bila di bandingkan dengan aliran-2 yang kalian anggap sesat.

——————————————————————————————————————

tisaga2002 <tisaga2002@…> wrote:
Berani sumpah atas nama Allah SWT kalau “Jamaah yang Mulia” ini tidak
berbohong dalam faq.ldii.or.id?

— In islam-jamaah@yahoogroups.com, Luqman Islam <luqman354@…> wrote:
>
> Wahai mantan-2, Kenapa kalian keluar dari Jama’ah yang Mulia ini?
>
> Terus setelah keluar, kalian bergabung dengan islam yang mana?

About these ads

38 Comments »

  1. االسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Kebenaran adalah milik Alloh, begitu pula hidayah, inayah serta rohmat. Maha besar Alloh yang menciptakan alam semesta beserta isinya selama 6 hari. Dalam proses kehidupan hakikinya kita adalah seorang pengelana/ pejalan. Hidup adalah perjalanan yang melelahkan, tanjakan maupun turunan kerap kali dirasakan oleh setiap pejalan, kita semua adalah pejalan yang dituntut untuk sampai ke tujuan kita walaupun banyak rintangan maupun ujian yang kita hadapi di tengah jalan yang tak bertepi ini yakni kehidupan. Oleh karena itu seorang pejalan hendaklah memiliki panduan dan pedoman dalam menapaki lika-liku fenomena kehidupan. AlQur’an dan AsSunah adalah panduan dan pedoman yang telah lulus uji coba dan terbukti dengan eksistensi keduanya yang bersifat universal dalam segala lini kehidupan.
    Ana tidak ingin berdebat dengan antum, karena agama tidak untuk diperdebatkan karena selain tidak akan ada ujungnya juga merupakan akar dari kerusakan sebuah agama, serta pernyataan antum diatas dijawab dengan jawaban apapun tidak akan memberi antum kepuasan & pasti antum akan selalu membelot. Akan tetapi dalam hal ini ana hanya akan bertanya pada antum dan tolong dijawab dengan jawaban ilmu dan yang pasti jawaban ‘ala kitabillah wa sunntinnabiy, tidak dengan jawaban akal pikiran, nafsu, amarah, hawa nafsu serta mengada-ada yang tidak jelas dalilnya.
    1. Di dalam LDII, yang dipelajari adalah kitabillah wa sunnatinnabiy (AlQur’an dan AlHadist) dengan cara selalu berguru yang disebut dengan ilmu mangkul dengan berisnad yang berlaku di kalangan ulama sejagad, seperti yang dulu diamalkan oleh shohabat-shohabat, tabiin dan seterusnya sampai pada para ulama’ salaf yang notabene ada 7 cara mangkul, sehingga dalam mempelajari kedua pedoman muslim itu tidak dipelajari sendiri, dibaca sendiri, difahami sendiri walaupun dia bisa, ahli bahasa, cerdas atau jenius atau ahli nahwu shorof atau menguasai ilmu alat yang lainnya. Adapun dari siapa itu terserah, tidak hanya dari kalangan LDII saja, tapi jika ada ulama yang membawa ilmu mangkul yang bersumber dari Nabi besar Muhhamad SAW maka wajib untuk belajar darinya, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, akan tetapi yang wajib dicari hanya 3, yakni AlQur’an, AlHadist dan ilmu faroid, selainnya hanya fadzlun (HR.Abu Dawud). Jika ilmu mangkul tidaklah harus menurut antum, maka apakah yang dengan ilmu mangkul tsb sesat, salah dan dosa?
    2. Jika LDII antum fatwa, antum tuduh, antum tuding, antum katakan sesat menyesatkan, lalu bagaimana dengan organisasi islam yang lain seperti Muhammadiyah, NU, MTA dsb yang ada di indonesia, apakah mereka benar semua, tidak sesat semua serta akan masuk surga semua ataukah malah sebaliknya? Padahal menurut hadist akan ada 73 firqoh, dan yang masuk surga hanya satu!!!!
    3. Jamaah LDII juga mengerjakan rukun islam, mereka juga bersyahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji jika mampu. jika LDII antum fatwa, antum tuduh, antum tuding, antum pojokkan, antum sisihkan dan antum katakan sesat menyesatkan apakah antum berani mengatakan jamaah LDII pasti akan masuk neraka semua serta tidak akan masuk surga karena fatwa sesat antum kepada muslimin/mukminin LDII? Serta apakah antum berani menjamin antumlah yang akan masuk surga karena keyakinan antum pada yang antum tetapi?? Dan bagaimana juga denganorganisasi islam yang lain???
    4. Jamaah LDII berusaha mempelajari, memahami dan mengamalkan AlQur’an dan hadist secara kaffah, secara murni terhindar dari syirik, bid’ah, khurofat serta takhoyul, berusaha mengikuti dengan benar suri tauladan Nabi besar Muhammad SAW, antara lain masalah sholat, jamaah LDII diajari & dituntun semuanya dengan pelan-pelan menurut syariat & sumber islam yakni ayatun muhkamat wa sunnatun qo-imah mulai dari wudlu yang benar secara Qur’an Hadist sampai gerakan-gerakannya serta kekhusyukan/tuma’ninahnya. Masalah zakat ada timnya sendiri karena mngetahui pentingnya akan kewajiban zakat sehingga jangan sampai terkena ancaman dalam hadist orang yang meninggalkan zakat. Yang pada akhirnya tidak ada jamaah LDII yang tercecer tidak menunaikan zakat, terutama pada zakat fitrah atau zakat lain. Juga Masalah puasa setiap menjelang puasa jamaah LDII di nasehati, diarahkan, dibimbing dan dikajikan tentang dalil-dalil qur’an dan hadist akan kewajiban puasa bagi muslim, yang masih punya hutang dinasehati supaya menyaurnya, pada saatnya puasa tiba jamaah LDII dinasehati agar mempersungguh mencari pahala, fastabiqul khoirot/ saabiqum bilkhoirot, ngebut/sukses membaca AlQur’annya (banyak mengkhatamkan AlQur’an), bisa sukses sholat lailnya, sukses puasanya, sukses lailatul qodarnya dan sukses zakatnya. Dan tidak ketinggalan akan pentingnya mengerjakan haji bagi yang sudah nishob, jamaah LDII juga diajari, dikajikan serta ada contoh praktek masalah seputar haji dan ada himpunannya sendiri bab haji yang jelas-jelas dari rujukan kitabillah wa sunnatinnabiy. Dinasehati agar bisa haji mabrur, mempersungguh dalam hajinya dan menjaga kemabrurannya, dalil-dalil haji banyak dikajikan disini.
    Masalah peramutan, mulai dari caberawit/ usia TPA, pra remaja, remaja, muda-mudi, ibu-ibu, dewasa sampai manula ada semua, mereka dibimbing untuk memahami AlQur’an dan AlHadist. Caberawit sejak usia dini dipersiapkan untuk menjadi generasi islami bisa fasih membaca AlQur’an hadist dan banyak hafal doanya, yang pra remaja dan remaja juga ditarget menjadi generasi islami yang faqih akan islam, tidak termakan fitnahnya zaman yang pada umumnya generasi sekarang sudah amburadul, bobrok, bejat moralnya karena kurang perhatian sejak dini dari ortunya dan kurangnya pemahaman agama sejak kecil. Yang muda-mudi ditargetkan bisa faqih dan alim agamanya, berakhlakul karimah seperti nabinya dan mandiri tidak menggantungkan orang lain, bisa berbakti pada orang tuanya dan menjadi orang yang beradab/beretika. Yang dewasa dinasehati bisa menyikapi hidup ‘ala kitabillah dan AlQur’an dan AlHadist, bisa membina keluarganya, rumah tangganya bisa sakinah mawaddah warohmah hidup damai, tentram, bahagia, romantis sampai kaken-kaken dan ninen-ninen. Tidak kalah juga yang manula dinasehati agar tidak banyak makshiyat serta memperbanyak ibadah dan taqorrub ilalloh serta mengepolkan amalan andalan, karena menurut dalil lebih mendekati/ berpeluang akan meninggalkan alam fana lebih dulu. Semua fase-fase di atas dikajikan dalilnya dengan rinci dan mendetail dengan merujuk AlQur’an dan AlHadist. Yang mana jarang, jarang sekali bahkan tidak dijumpai hal seperti itu di luar jamaah LDII. Apakah semua yang dikerjakan diatas yang berusaha menetapi dan mengikuti alur/ arahan dari Sang Kholiq dan Nabinya adalah salah dan sesat???????
    5. Jamaah LDII dinasehatkan pula cara berpakaian yang benar dan menurut syariat seperti yang dikehendaki Alloh Rosul, yaitu pakaiannya orang islam laki-laki adalah setengah betis, dan tidak dosa apabila diantara betis dan mata kaki, tidak boleh memakai emas dan sutra. Yang perempuan diperintahkan berjilbab yang sesuai syariat, pakaianya tidak boleh ketat, karena hukumnya hakikinya seperti telanjang, tidak boleh memakai wangi-wangian dsb masih banyak lagi. Yang hal ini masih kurang diamalkan oleh umat muslim lainnya. Serta jamaah LDII sangat sangat memperhatikan najis karena akibatnya siksa kubur sehingga selalu mutawarik. Apakah hal itu bertentangan dengan hukum islam atau salah atau sesat???
    6. Dalam LDII masalah ilmu selalu diprioritaskan. Seperti pengkajian qur’an dan hadist yang intensitasnya lebih banyak dibanding lainnya. Ada juga pengkajian qiroatus sab’ah yang berisnad yangmana hal ini tidak dijumpai oleh lainnya. Ada juga pengkajian hadist-hadist qutubussittah yang hal inipun juga jarang dijumpai pada lainnya. Ada juga pengkajian ilmu faroidl yang merujuk pada AlQuran dan AlHadist, jelas sesuai syariat. Tidak ketinggalan juga dikajikan nahwu shorof serta ushul fiqih. Tidak berhenti disitu banyak juga tholib-tholib jamaah LDII yang dikirim ke ummul quro’ untuk menimba ilmu disana. Yang diajarkan LDII tidak lain hanyalah AlQuran dan AlHadist.
    Jikalau ada jamaah LDII yang berbudi asor itu bukanlah ajarannya melainkan oknum atau kurangnya pemahaman tentang ajarannya, jangankan di zaman sekarang zaman dulu saja seorang Rosul masih di tengah-tengah mereka, masih ada yang berperilaku asor, munafiq bahkan kafir/ menentang nabinya. Jikalau ada jamaah LDII yang mengatakan kafir di luarnya itu TIDAKLAH BENAR, akan tetapi yang dikatakan kafir adalah yang tidak mau berpedoman AlQuran dan AlHadist, serta tidak mengerjakan rukun islam, misal tidak mau sholat, tidak menunaikan zakat dll, yang menurut dalilnya memang demikian. Jamaah LDII, mengatakan yang paling benar dan yang masuk surga hanyalah LDII, itu juga TIDAK BENAR, karena yang bisa masuk surga adalah SEMUA ORANG yang menetapi islam dengan kaffah, berpedoman qur’an hadist dan mengamalkannya serta ikhlas dalam niatnya lillahi ta’ala seperti yang dikerjakan nabi dan shohabatnya. Jikalau orang keluar dari LDII dikatakan orang murtad itu TIDAKLAH BENAR, akan tetapi yang dikatakan murtad adalah orang yang keluar dari agama islam dalam arti islam yang sesungguhnya bukan dari LDII, kalo islam hanya sebatas pengakuan/hanya KTP tidak usah kita bahas karena hakikinya dia belum islam/ keluar agama.
    SYUKRON, JAZAAKUMULLOHU KHOIRO.

    Comment by Armus Asadillah — February 11, 2013 @ 3:34 am

  2. prihatin bagi eang murtad dari LDII, mungkin kalian hati eang sakit gak bisa menerima nasehat, gak bisa menerima kebenaran.

    kenapa murtad , gak jauh paling juga ngantuk, ngobrol, melamun, dinasehati malah membantah dan mencari2 kejelekan orang.

    seharusnya kita bersyukur islam ini ada ilmu manqul. manqul tidak ada dalam hadist tapi harus kita perhatikan dalam setiap hadist ada penyampai satu ke kepenyampai lainnya hingga sampai ke Rosullulloh S.A.W. (telitilah anda, jangan mengatakan manqul itu gag ada.)

    adapun “yang menyampaikan ” itu bisa dipercaya atau tidak, itulah diperlukannya keyakinan. anda iman berarti masuk surga, anda ragu-ragu silahkan pilih neraka, anda kafir sudah jelas neraka.

    sekarang, anda silahkan beribadah berdasarkan keyakinan anda. surga dan neraka itu sudah jelas, 72 golongan ke neraka dan 1 golongan ke surga.

    Comment by Ikhwan Mt Syadid — October 1, 2011 @ 3:07 pm

  3. waduh waduh………. kenapa sih pada menjelek-jelekkan LDII. Apakah agama islam yang kalian anut sudah benar ???!!!
    apakah kalian (yang menjelekan LDII)merasa sudah benar dan terbebas dari dosa???
    Semua itu tergantung dari niat masing masing. Jika anda sudah percaya terhadap apa yang kalian anut, ya sudah jangan mencari-cari kesalahan orang lain. Malah membuat diri kalian tambah dosa.

    Comment by jokam indonesia — June 10, 2009 @ 11:40 am

  4. haha,,gw bingung sama kalian semua..seharusna kalian mikir diantara kalian memang dah bener,kalian-kalian yang berpartisipasi disini memang dah bener,kalian semua yakin dengan ajaran kalian,kalian semua yakin apa yang kalian katakan disini itu bisa membawa dan menghasilkan kebenaran…sebetulnya kalian hanya orang2 yang saling bertentangan,kalian saling menjelekkan satu sama lain,,,,sinting…seharusnya kalian tetapin aja apa yang kalian anggap benar,karena kalian juga yang bertanggung jawab sama yang diatas (ALLAH SWT),surga dan neraka menanti kalian,ntar klo dah terjadi juga kalian baru menyadari,sapa yang bener dan salah,,tapi percuma,semua ntu dah terlambat cang none nyak babe,intinya kenapa harus kayak gini “ga mutu coy” urus aja diri kalian jangan saling menjelekkan,gw jadi curiga kalian ini propokator islam…………..intelnya negara kafir yeee…hehe

    Comment by Gila tapi Waras — April 26, 2009 @ 5:18 am

  5. Membongkar Kesesatan LDII : Bantahan Manqul (2)

    Dalil-dalil Manqul LDII

    Disini akan kami sebutkan dalil-dalil mereka dalam hal manqul dan akan kami jelaskan kedudukan dalil atau pemahaman dari dalil itu – Insya Allah – .

    Diantara dalil mereka:
    Pertama,
    Firman Allah Ta’ala:
    لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِه ِ(16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَه ُ(18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ(19(
    Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak secepat-cepatnya (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, atas tanggungan kamilah penjelasannya. [Al Qiyamah:16-19]

    وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ …(114)
    “Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu.” [Thaha:114]

    Kajian
    Ibnu Katsir mengatakan: firman Allah …ولا تعجل بالقرآن seperti firman Allah dalam surat (al Qiyamah) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ …لاتحرك به لسانك…terdapat riwayat dalam kitab Ash Shahih dari Ibnu Abbas, bahwa beliau mengatakan: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami usaha yang payah dalam menghafal wahyu, sehingga beliau menggerak-gerakkan lidahnya (untuk menghafal-pent), maka Allah turunkan ayat ini. Yakni bahwa Nabi dulu, jika datang kepada beliau Malaikat Jibril dengan wahyu maka setiap kali Jibril mengucapkan satu ayat Nabi menirukannya karena semangatnya untuk menghafal, maka Allah bimbing kepada yang lebih mudah dan ringan supaya tidak berat baginya, sehingga Allah berfirman (yang artinya): “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak secepat-cepatnya (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya” Yakni, Kami jadikan itu hafal di dadamu, lalu kamu (nanti) bacakan kepada umat manusia dan kamu tidak akan lupa sedikitpun. “Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, atas tanggungan kamilah penjelasannya”.

    Dan dalam ayat ini, Allah berfirman(artinya) : “Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu”.Yakni diamlah kamu dan dengarkan, jika malaikat selesai membacakannya kepadamu maka bacalah setelahnya …[Tafsir Ibnu Katsir : 3/175]. Jadi ayat ini menerangkan bagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menerima wahyu dan bahwa nabi disuruh membaca setelah bacaannya Jibril. Namun orang-orang LDII menyimpulkan bahwa kalau begitu harus manqul dalam belajar, kalau tidak maka tidak sah. Pertanyaan kami, mana yang mengatakan bahwa jika tidak demikian, maka tidak sah?? Bahkan sampai dianggap kafir??.

    Lalu seandainya cara demikian itu wajib tentu Nabi akan praktekkan kepada semua orang, tapi ternyata tidak, buktinya surat-menyurat Nabi dengan para raja. Kemudian tentu para Sahabat juga akan mengikutinya, tapi ternyata tidak buktinya surat menyurat mereka [lihat dalam pembahasan Mukatabah di atas dan al Wijadah]. Lihat pula bagaimana ulama mengambil pelajaran dari ayat itu. As Sa’dy mengatakan: “Dalam ayat ini ada adab menuntut ilmu agar seorang murid jangan memotong guru dalam masalah yang sedang dia mulai terangkan, lalu jika guru selesai maka baru ia bertanya yang belum paham.

    Demikian pula jika di awal penjelasan ada yang mengharuskan untuk dibantah atau dinilai baik, maka jangan langsung dibantah atau dinyatakan diterima sampai ia selesai menjelaskannya, supaya jelas yang benar dan yang salah …” [Tafsir as Sa'dy : 899, lihat pula hal. 514].

    Tidak ada faidah yang diambil dari ayat itu bahwa ilmu itu wajib manqul, dimana kalian dari penjelasan ulama tafsir, justru kalian tafsiri dari diri kalian sendiri !??.

    Kedua,
    Firman Allah Ta’ala:
    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (36(
    “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya sesungguhnya pendengaran, pengelihatan, dan hati seluruhnya itu akan ditanya tentangnya” [al Isra:36]

    Kajian
    Tafsir ayat ini, Qatadah mengatakan: “Jangan kamu katakan bahwa kamu melihat sementara kamu tidak melihat, mendengar sementara kamu tidak mendengar, mengetahui sementara kamu tidak mengetahui karena Allah akan bertanya kepadamu tentang itu semua.” Ibnu Katsir mengatakan: “Kandungan tafsir yang mereka (para ulama) sebutkan adalah bahwa Allah melarang untuk berbicara tanpa ilmu bahkan sekedar dengan sangkaan yang itu hanyalah perkiraan dan khayalan [Tafsir Ibnu Katsir:3/43] demikian tafsir para ulama. Maka dari sisi mana dan atas dasar tafsir siapa ayat ini sebagai dasar sistem manqul ala LDII ??? Sementara para ulama’ tidak kenal sama sekali sistem manqul seperti itu.

    Ketiga,
    من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ
    ‘Barangsiapa membaca/mengartikan Al Quran dengan pendapatnya sendiri (tanpa manqul), walaupun benar maka sungguh-sungguh hukumnya tetap salah (HR Abu Daud) (Ini terjemah LDII dinukil dari Bahaya LDII hal. 254)

    [Arti yang benar lebih umum dari pada itu mencakup menafsiri al Quran. Ubaidullah al Mubarakfuri mengatakan: Yakni, berbicara tentang lafadznya, bacaanya, maknanya dan kandungannya. [Mir'atul mafatif syarh Misykatul Mashabih:1/330]-pen]

    Kajian
    Hadits ini lemah, diriwayatkan oleh Abu Dawud [Kitabul 'Ilm:4/43], Tirmidzi [5/184], Nasa’i [Sunan Kubra kitab Fadhailul Quran:5/31], Ibnu Jarir at Thabari [dalam tafsirnya:1/25]. Semuanya melalui jalan (sanad yang sampai kepada) Suhail bin Mihran bin Abi Hazm al Qutha’i. [Dalam kitab Taqributtahdzib: (kunyahnya) Abu Abdillah dikatakan pula bahwa ayahnya adalah Abdullah al Qutha'i - pen] Dari Abu ‘Imran (Abdul Malik bin Habib) al Jauni, dari Jundab dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi mengatakan:…(hadits tersebut)

    Hadist tersebut ‘illahnya pada Suhail bin Mihran bin Abi Hazm al Qutha’i. Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, al Bukhari dan yang lain mencacatnya (Tahdzibut tahdzib:4/261) dan Ibnu Hajar mengatakan: Dha’if (lemah). (Taqribut tahdzib:421). Demikian, sanad hadits ini lemah karena ada seorang rawi yang dha’if.

    Asy syekh al Albani mengatakan tentang hadits ini: Dha’if [Dha'if, Sunan Abu Dawud:3652, hal.294 dan Miyskatul Mashabih, no:235], al Baihaqi mengatakan: Pada hadits ini ada kritikan ['Aunul Ma'bud:10/85].

    Keempat,
    من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار
    ‘Barangsiapa membaca Al Quran tanpa berilmu atau manqul maka hendaknya menempati tempat duduknya di neraka’ (HR Tirmidzi) (Ini terjemah LDII dinukil dari Bahaya LDII hal. 254)
    [Terjemah yang benar bukan membaca bahkan lebih umum dari pada itu termasuk menafsiri atau menerjemahkannya, lihat al Kifayah fi 'Ilmirriwayah:343-pen]

    Kajian
    Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud: [kitabul Ilm ], At Tirmidzi: 5/183 dan beliau mengatakan: “Hasan Shahih”, An Nasa’i dalam Sunan al Kubra : [kitab Fadhailil Quran:5/31], Ahmad 1/233, 323, 293 [Demikian disebutkan oleh al Mizzi dalam Tuhfatul asyraf:4/423 demikian pula Ibnu Hajar dalam an Nukatudhiraf:4/423, sementara tidak saya dapati dalam sunan Abu Dawud di Kitabul 'Ilm kemudian saya dapati asy Syekh Ubaidullah al Mubarakfuri mengatakan dalam bukunya Mir'atul Mafatih:1/331: Saya tidak mendapatinya dalam Sunan Abu Dawud, namun nampak dalam Mukhtashor Jami' al Mawarits karya al Mizzi demikian pula al 'Iraqi dalam takhrijnya terhadap Ihya' bahwa hadits tersebut dalam riwayat Abu Dawud Kitabul 'ilm dalam sunannya melalui riwayat Ibnul 'Abd… (Lihat, al Mughni 'An Hamlil asfar Juz:1/29 no:101 cet maktabah dar thabariyyah-pent) Ibnul 'Abd adalah salah satu periwayat sunan Abu Dawud. -pen] , 327 dan ad Darimi dalam Musnadnya : 1/76, tetapi dengan matan yang lain. Dan Ibnu Jarir at Thabari dalam Tafsirnya:1/34, semuanya melalui jalan Abdul A’la dari Said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengatakan:….(hadits tersebut). Abdul A’la dalam sanad tersebut adalah Ats Tsa’labi, Ibnu Hajar mengatakan: “Shaduqun Yahim, yakni hafalannya tidak begitu kuat dan suka keliru.”

    Hadits ini diriwayatkan juga secara mauquf yakni hanya sampai kepada Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari dua jalan yang pertama: Muhammad bin Humaid dari al hakam bin Basyir dari ‘Amr bin Qois al Mula’i dari Abdul a’la dengan sanad tersebut di atas tapi sampai kepada Ibnu Abbas saja.
    Kedua: Dari Ibnu Humaid dari Jarir, dari Laits, dari Bakr, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas.
    Ibnu Hajar mengatakan: Ibnul Qhotton menshahihkannya [An Nukatudhiraf: 4/423]. Asy Syekh al Albani mendhaifkannya dalam Misykatul Mashabih [No:234 Juz:1/79]. Lalu saya dapati beliau mentakhrij hadits ini panjang lebar yang berakhir dengan kesimpulan Dha’if dan membantah yang menshahihkannya dalam kitabnya Silsilah al Ahadits Adh Dhaifah : 4/265, no:1783 , silahkan dilihat.

    Demikian derajat hadits ini, seandainyapun shahih, maka bukan artinya harus manqul seperti dipahami dan diterjemahkan demikian oleh LDII, tidak ada kata manqul dari tidak mengandung makna manqul sama sekali. Arti yang benar pada hadits pertama (dengan pendapatnya) dan pada hadits kedua (tanpa ilmu) tetapi mereka menafsirinya dengan tanpa manqul, bukankah ini manipulasi makna hadits. Kalau begitu apa sebetulnya makna hadits itu bila shahih, untuk itu kami akan nukilkan penjelasan ulama.

    Dalam kitab Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abu Dawud disebutkan: “(dengan ra’yunya/pendapatnya) yakni sekedar dengan akalnya dan dari dirinya sendiri tanpa meneliti ucapan para Imam dari ulama ahli bahasa Arab yang tidak sesuai dengan kaidah syar’iyyah, bahkan dia sesuaikan dengan akalnya, padahal (pemahaman terhadap ayat atau maknanya) tergantung pada naqli. [10/85] Al Baihaqi mengatakan: “Jika hadits ini shahih, maka Nabi memaksudkan –wallahu a’lam- pendapat akal yang lebih dominan di qalbunya tanpa dalil yang mendukungnya. Adapun pendapat yang didukung oleh dalil maka boleh. Beliau juga mengatakan, bisa jadi maksudnya orang yang mengatakan dengan pendapat akalnya tanpa mengetahui prinsip-prinsip ilmu dan cabang-cabangnya [idem]. Makanya, kami nasehatkan jangan terkungkung pada kitab himpunan saja, lihat buku ulama, syarah kutub sittah dari ulama, bukan syarah ‘paku bumi’ dan imam LDII saja. Para ulama yang mensyarah Kutubus Sittah itu, mereka punya sanad sampai ke Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sanadnya lebih tinggi dan lebih shahih – Insya Allah – .

    Dengan demikian ra’yu itu ada dua macam:
    1. Ra’yu yang sesuai dengan bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya, sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah dengan memperhatikan seluruh syarat-syarat tafsir. Maka menafsiri al quran dengan itu boleh.
    2. Ra’yu tidak sesuai dengan aturan bahasa Arab, tidak sesuai dengan dalil syar’i serta tidak memenuhi syarat-syarat tafsir, maka ini tidak boleh [At Tafsir wal Mufassirun:1/264]
    Ibnu Qoyyim juga membagi ra’yu menjadi dua, yang terpuji dan yang tercela [lihat Al Intishor li Ahlil Hadits hal. 23-34, lihat pula hal. 13 dan At Tafsir wal Mufassirun:1/264]. Dan terakhir simaklah ucapan An Naisaburi: “Tidak boleh hadits ini dimaksudkan bahwa; Jangan sampai seorangpun mengatakan pada Al Quran kecuali apa yang ia dengar (yaitu manqul dalam istilah LDII-pent)”. Karena para Sahabat mereka telah menafsirkan Al Quran dan mereka berselisih pendapat pada beberapa masalah dan tidaklah semua yang mereka katakan itu mereka dengar dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam…[Mir'atul Mafatih:1/330].

    Bukankah ini pukulan telak buat kalian wahai para pengikut LDII?! Sungguh tafsir kalian sangat bertentangan dengan ulama’. Maka benar apa yang dikatakan Ibnu Taimiyyah bahwa ahli bid’ah berhujjah dengan sebuah dalil, padahal dalil itu menghujat mereka.

    Kelima,
    تعمل هذه الأمة برهة بكتاب الله ثم تعمل برهة بسنة رسول الله ثم تعمل بعد ذلك بالرأي فإذا عملوا بالرأي ضلوا
    Umat ini sesaat akan mengamalkan berdasarkan kitab Allah kemudian sesaat mengamalkan berdasarkan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian setelah itu mengerjakan dengan pendapatnya maka jika mereka mengamalkan dengan pendapat mereka sesat. [HR Abu Ya'la]

    Kajian
    Hadits ini lemah, diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil Ilm wa Fadhlihi no:1998, 1999, dari sahabat Abu Hurairah, Abul Aysbal mengatakan: “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnadnya:10/240 no:5856″ dan Al Khatib meriwayatkan dari jalannya dalam kitab Al Faqih wal Mutafaqqih:2/179, kata beliau : “Telah mengkhabarkan kepada kami al Hudzail bin Ibrahim al Jummani, ia mengatakan: Telah mengkhabarkan kepada kami Utsman bin Abdurrahman dengannya”. Sanad ini lemah sekali. Utsman bin Abdurrahman az Zuhri al Waqqoshi disepakati, bahwa haditsnya dibuang bahkan Ibnu Ma’in menganggapnya pemalsu hadits demikian pula dikatakan oleh al Haitsami dalam al Majma':1/179. Ada mutaba’ah (dukungan) buat Utsman bin Abdurrahman yaitu dari Hammad bin Yahya al Abah, Ibnu Hajar mengatakan: “Hafalannya kurang kuat dan suka keliru”, diriwayatkan pula oleh al Khatib dalam Al Faqih wal Mutafaqqih :2/179 dari dua jalan melalui Jubarah. Dan disana ada ‘illah (kelemahan lain) yaitu lemahnya Jubarah Ibnu al Mughallis. Jadi hadits itu dengan dua jalannya tetap tidak shahih Wallahu a’lam [lihat Jami Bayanil Ilm wa Fadhlihi: 2/1039-1040 dengan tahqiq Abul Asybal]

    Ibnu Abdil Bar mengatakan: “Ulama berbeda pendapat dalam hal Ra’yu yang tercela tersebut, sebagian kelompok mengatakan: Ra’yu yang tercela adalah bid’ah yang menyelisihi sunnah dalam hal aqidah, serta yang lain -mereka adalah mayoritas ahlul ilmi- mengatakan: Adalah berbicara dalam hukum syari’at agama dengan sekedar anggapan baik dan prasangka.” [lihat selengkapnya dalam Jami Bayanil Ilm wa Fadhlihi:2/1052,1054]. Demikian pendapat ulama tentang ra’yu yang dimaksud tidak satupun menafsirinya ‘tidak manqul’. [lihat pula kitab Mir'atul Mafatih]

    Keenam,
    تسمعون ويسمع منكم ويسمع ممن سمع منكم
    ‘Kalian mendengar dan akan didengarkan dari kalian dan akan didengarkan dari orang yang mendengarkan dari kalian’

    Kajian
    Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud: 3659, Ahmad:1/321, Ibnu Hibban:1/263 Al Hakim:195 al Khatib dalam Syaraf Ashabul Hadits dan Ar Ramahurmuzi dalam Muhadditsul Fashil:92, semuanya melalui jalan Al A’masy dari Abdullah bin Abdullah ar Razi, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengatakan ….(Hadits itu)… Diriwayatkan pula melalui jalan lain oleh Al Khatib dalam Syarof Ashabul Hadits dan Ar Ramahurmuzi dalam Muhadditsul Fashil:91, Al Bazzar dan At Tabrani. [lihat perinciannya dalam Silsilah al Ahadits Ash Shahihah, no:1784]

    Al Hakim mengatakan: “Shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim dan tidak diriwayatkan oleh keduanya, tidak ada ‘iilah padanya ” [Ithaful Maharah:7/192] dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Namun Asy Syaikh al Albani tidak setuju bila dikatakan sesuai dengan syarat al Bukhari dan Muslim, karena Abdullah bin Abdullah bukan merupakan rawi Bukhari dan Muslim, namun hadits itu tetap Shahih sedang al ‘Ala’i menghasankannya. [lihat Shahih Sunan Abu Dawud:3659 dan Ash Shahihah:1784]

    Demikian derajat hadits itu, tapi dimanakah yang menunjukan bahwa musnad muttashil lebih-lebih ‘manqul’ ala LDII itu syarat sahnya ilmu?! Bukankah yang namanya syarat di dalam ilmu Ushul Fiqih artinya ‘Bila syarat sesuatu tidak terpenuhi maka sesuatu itu tidak sah’.!! Manakah dalam hadits itu yang menunjukan bahwa bila tidak manqul maka ilmu itu tidak sah. Hadits itu hanya berisi anjuran atau perintah untuk menyampaikan, tidak terdapat padanya syarat sahnya ilmu itu harus dengan manqul, oleh karenaya Abu Dawud memberikan judul pada hadits ini ‘Bab Keutamaan Menyebarkan Ilmu’. Dan para ulama tidak memahami hadits ini seperti pemahaman LDII buktinya Abu Dawud Ibnu Hibban al Hakim dan ulama yang kita sebut di atas, tidak ada yang berpemahaman seperti LDII.

    Ketujuh,
    الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء
    ‘Isnad/sanad itu termasuk dari agama kalaulah bukan karena sanad tentu sembarang orang akan mengatakan semaunya’.

    Kajian
    Ini adalah ucapan Abdullah Ibnul Mubarak diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 dan ar Ramahurmuzi dalam al Muhadditsul Fashil:96 dan al Khotib dalam Syaraf Ashhabul Hadits.

    Mereka menganggap ucapan itu sebagai dasar teori manqul, ini tentu tidak sesuai dengan nash ucapan Ibnul Mubarak itu sendiri. Ucapan itu menerangkan keutamaan sanad dan sanad itu lebih umum dari pengertian manqul ala LDII di antara sanad adalah Al Mukatabah seperti yang kami terangkan di atas. Dan tidak mengandung sama sekali keharusan untuk manqul, juga tidak ada larangan mengambil ilmu tanpa manqul, demikian pula beliau ucapkan kata-kata ini di zaman beliau dan beliau meninggal pada tahun 181 H. Berbeda keadaannya dengan keadaan sekarang, oleh karenanya kita dapati para ulama mengatakan bahwa mengamalkan ilmu yang diambil dengan al wijadah, padahal itu tidak sekuat al Mukatabah wajib sebagaimana perincian dalam bahasan al wijadah di atas.

    Kedelapan,
    إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذوا دينكم
    ‘Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah oleh kalian dari mana kalian mengambil agama kalian.’

    Kajian
    Ini adalah ucapan Muhammd bin Sirin diriwayatkan Imam Muslim dalam Muqoddimah Shahihnya:26, 1/44 Atsar (ucapan Tabi’in) ini mengandung bagaimana memilih guru agama yaitu memilih yang baik yang sesuai dengan sunnah Nabi, dan tidak sama sekali mengandung keharusan untuk manqul serta tidak ada di dalamnya larangan mengambil ilmu tanpa manqul.

    Kesimpulan:
    Demikian dalil-dalil mereka, semuanya tidak tepat sebagai dalil. Adapun ayat Al Quran mereka tafsiri dari diri mereka sendiri, berbeda dengan ulama tafsir, makanya mereka tidak menyebutkan referensi tafsir dalam menerangkan ayat-ayat itu. Nah, bukankah ini artinya menafsiri Al Quran dengan ra’yu ?!! Mereka menuduh orang lain bicara hal agama dengan ra’yu, ternyata justru diri merekalah yang melakukannya ?!!

    Dalil-dalil yang kalian pakai untuk menyerang selain golongan kalian justru itu senjata makan tuan dan bumerang bagi kalian sendiri. Kalian mengharuskan manqul dan melarang dengan ra’yu, pada kenyataannya bahkan kalianlah yang memakai ra’yu dalam agama ini, dimana kalian tafsirkan ayat dan hadits semau kalian dan tidak sesuai dengan pemahaman ulama. Dan kalau mereka (LDII) mengkafirkan seseorang yang mereka anggap pakai ra’yu, tidakkah vonis kafir itu juga mengenai mereka sendiri?! Karena mereka juga pakai ra’yu. Ingat ketika kau vonis kafir seseorang dan kau tunjuk dengan jari telunjukmu bukankah 4 jarimu menunjuk pada dirimu sendiri.?!

    Saya tidak mengkafirkan kalian, namun saya hanya ingin mengingatkan bahayanya mengkafirkan seseorang, yang bisa jadi vonis kekafiran itu justru akan kembali kepada dirinya sendiri seperti dalam hadits Nabi
    أيما رجل قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما
    “Barangsiapa mengatakan kepada Saudaranya : Wahai orang kafir maka (hukum) tersebut akan kembali kepada salah satu dari keduanya” [HR Bukhari dan Muslim…]

    Adapun dalil dari hadits maka sebagiannya shahih dan sebagiannya dha’if dan semuanya mereka pahami dengan pemahaman yang salah, sehingga menjadi bumerang buat mereka sendiri. Terakhir dalil dari ucapan para ulama yang lagi-lagi mereka tafsiri sesuai kepentingan mereka. Kalaupun seandainya maksud ulama itu sesuai dengan maksud mereka –dan itu tidak mungkin- maka ucapan ulama bukan hujjah! Hujjah itu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Contoh Hadits-Hadits Dha’if

    Sekilas saya melihat buku ‘Himpunan’ susunan LDII Kitabush Sholah maka saya dapati beberapa hadits dha’if, bahkan ada yang maudhu’ diantaranya:
    إقرؤوا على موتاكم يس
    “Bacalah pada mayit-mayit kalian surat Yasin” hal.147.

    Hadits ini Riwayat Abu Dawud Ibnu Majah dan lain-lain, didalamnya terdapat tiga cacat:
    – Kemajhulan (tidak ada rekomendasi/komentar dari ulama ahli hadits) rawinya yang bernama Abu Utsman.
    – Kemajhulan ayahnya.
    – Idlthirab (kegoncangan pada sanadnya)
    Hadit ini didha’ifkan oleh Ibnul Qhaththan, Ad Daruqhuthni dan Al Albani. Lihat perinciannya dalam Irwa’ul Ghalil karya al Albani hadits no:688.

    من قرأ يس في ليلة أصبح مغفورا له…
    “Barangsiapa yang membaca Yasin dalam satu malam maka di pagi harinya dalam keadaan diampuni dosanya”, Kitabush shalah, hal.146. Asy Syaikh al Albani mendho’ifkannya dalam Dha’iful Jami':5787.

    من قرأ يس كتب الله بقرائتها قرآءة القرآن عشر مرات
    “Barangsiapa yang membaca Yasin maka Allah tuliskan dengan membacanya sama dengan membaca Al Quran 10 kali”, hal.146.

    Asy Syekh al Albani mengatakan: Maudhu’ (palsu) karena ada rawi yang bernama Harun Abi Muhammad, azd Dzahabi menuduhnya sebagai pendusta [lihat perinciannya dalam Silsilah al Ahadits adh Dhaifah, no:169]

    كان إذا أفطر قال اللهم لك صمت وعلى رزقك افطرت
    “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bila berbuka membaca Allahumma laka shumtu…” , Kitabush shalah hal.134.
    Hadits ini Riwayat Abu Dawud, mursal dan mursal termasuk dha’if. Mursal karena Muadz bin Zuhrah bukan sahabat, lalu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam…, bahkan dia juga tergolong majhul. [lihat perinciannya dalam Irwa'ul Ghalil no:919], asy syekh al Albani mengatakan: “Dha’if”. Mana persyaratan Musnad Muttashil (MM) di hadits ini dan hadits setelahnya wahai kaum LDII?!

    Hadits khutbah Jum’ah hal 104 dan seterusnya, dari riwayat Abu ‘Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud, ternyata lemah, karena sanadnya terputus antara keduanya, dimana Abu Ubaidah tidak mendengar dari Abdullah bin Mas’ud. Anehnya mereka sendiri menyebutkan ucapan Abu Abdurrahman/Imam An Nasa’i dalam hal ini, lalu mengapa mereka tetap memakai hadits itu?! Lihat hal.105 : قال أبو عبد الرحمن أبو عبيدة لم يسمع من أبسه شيئا… “Abu Abdurrahman (An Nasa’i) mengatakan: Abu Ubaidah tidak mendengar hadits dari ayahnya (Ibnu Mas’ud) sedikitpun”

    Demikian pula hadits Asma wa Sifat pada hal.124 dan kita sudah terangkan sisi kelemahannya diatas.

    Perlu dikaji kembali bahwa syarat shahihnya hadits ada lima sebagaimana penjelasan pada halaman 4, sehingga tidak cukup dengan musnad atau muttashil saja, dan betapa banyak hadits yang musnad atau muttashil tapi dha’if atau bahkan maudhu’!!

    Demikian sekilas kami melihat dan hanya dalam Kitabus Shalat, bagaimana bila seseorang benar-benar meneliti satu-persatu dan pada semua kitab himpunan mereka.

    Mari kembali kepada kebenaran sebelum ajal menjemput…
    Bila anda tidak terima penjelasan ini…
    Ku tunggu jawaban ilmiyah anda.
    qomar77 @ telkom.net
    kunjungi http://www.asysyariah.com

    Comment by hamba alloh — February 2, 2009 @ 7:57 am

  6. BACA DENGAN SEKSAMA,
    WAHAI ORANG LDII !!!!

    Membongkar Kesesatan LDII : Bantahan Manqul

    Penulis:
    Al Ustadz Qomar ZA, Lc LULUSAN JAMIAH ISLAMIAH SAUDI ARABIA( ISNADYA JELAS TIDAK DIAGUKAN LAGI DAN BIOGRAFI PARA SYEH2/ISNADNYA JELAS, TIDAK SEPERTI UBAIDAH YANG BIOGRAFI ISNADNYA NGGAK NGGENAH )

    Antara Al Quran, al Hadits dan ‘Manqul’

    Jangan khawatir…
    Jangan takut…
    Baca dulu…
    Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk.

    Pengertian Manqul dalam Ajaran LDII
    Manqul H Nur Hasan Ubaidah adalah proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Ilmu itu harus musnad (mempunyai sandaran) yang disebut sanad, dan sanad itu harus mutashil (bersambung) sampai ke Rasulullah sehingga manqul musnad muttashil (disingkat M.M.M.) diartikan belajar atau mengaji Al Quran dan hadits dari Guru dan gurunya bersambung terus sampai ke Rasulullah.
    Atau mempunyai urutan guru yang sambung bersambung dari awal hingga akhir (demikian menurut kyai haji Kastaman, kiyai LDII dinukil dari bahaya LDII hal.253)
    Yakni: Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru, telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat, terhalang dinding [Menurut mereka, berkaitan dengan terhalang dinding sekarang sudah terhapus. Demikian dikabarkan kepada kami melalui jalan yang kami percaya. Tapi sungguh aneh, aqidah yang sangat inti bahkan menjadi ciri khas kelompok ini bisa berubah-rubah. Demikiankah aqidah?! - pen] atau lewat buku tidak sah sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapatkan ijazah (ijin untuk mengajarkan-red) [Ijazah artinya pemberian ijin untuk meriwayatkan hadits misalnya saya katakan: 'Saya perbolehkan kamu untuk meriwayatkan hadits-hadits yang telah saya riwayatkan dari guru saya'- pen] dari guru, maka ia boleh mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu” [Drs Imron AM, selintas mengenai Islam Jama'ah dan ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993 hal. 24 dinukil dari Bahaya LDII hal. 258- pen]

    Keyakinan LDII tentang Manqul
    1. Mereka meyakini dalam mempelajari ajaran agama harus manqul musnad dan muttashil, bila tidak maka tidak sah ilmunya, ibadahnya ditolak dan masuk neraka.
    2. Nur Hasan mengaku bahwa dirinyalah satu-satunya jalur untuk menimba ilmu secara musnad muttashil di Indonesia bahkan di dunia., atas dasar itu ia mengharamkan untuk menimba ilmu dari jalur lain.
    3. Ia mendasari kayakinannnya itu dengan dalil-dalil, -yang sesungguhnya tidak tepat sebagai dalil-.

    Kajian atas Keyakinan dan Dalil-Dalil mereka

    Kajian atas point pertama:
    a. Keyakinannya bahwa ilmu tidak sah kecuali bila diperoleh dengan musnad mutashil dan manqul, adalah keyakinan yang tidak berdasarkan dalil, adapun dalil-dalil yang dia pakai berkisar antara lemah dan tidak tepat sebagai dalil. Seperti yang akan anda lihat nanti Insya Allah.

    b. Bahwa ini bertentangan dengan dalil-dalil syar’i yang menunjukan bahwa sampainya ilmu tidak mesti dengan manqul, bahkan kapan ilmu itu sampai kepadanya dan ilmu itu benar, maka ilmu itu adalah sah dan harus ia amalkan seperti firman Allah: …وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ “Dan diwahyukan kepadaku Al Quran ini untuk aku peringatkan kalian dengannya dan siapa saja yang Al Quran sampai padanya” [Al An'am:19]
    Mujahid mengatakan: dimanapun Al Quran datang maka ia sebagai penyeru dan pemberi peringatan. Kata (ومن بلغ) Ibnu Abbas menafsirkannya: “Dan siapa saja yang Al Quran sampai kepadanya, maka Al Quran sebagai pemberi peringatan baginya.”

    Demikian pula ditafsirkan oleh Muhammad bin Ka’b, As Suddy [Tafsir at Thabari:5/162-163], Muqatil [Tafsir al Qurthubi:6/399], juga kata Ibnu Katsir [2/130]. Sebagian mengatakan : “Berarti bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemberi peringatan bagi orang yang sampai kepadanya Al Quran.” Asy Syinqithi mengatakan: “Ayat mulia ini menegaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pemberi peringatan bagi setiap orang yang Al Quran sampai kepadanya, siapapun dia. Dan dipahami dari ayat ini bahwa peringatan ini bersifat umum bagi semua yang sampai kepadanya Al Quran, juga bahwa setiap yang sampai padanya Al Quran dan tidak beriman dengannya maka ia di Neraka”. [Tafsir Adhwa'ul Bayan:2/188 lihat pula tafsir-tafsir di atas-pen] Maka dari tafsir-tafsir para ulama di atas – jelas bahwa tidak seorangpun dari mereka mengatakan bahwa sampainya ilmu harus dengan musnad muttashil atau bahkan manqul ala LDII.

    Bahkan siapa saja yang sampai padanya Al Quran dengan riwayat atau tidak, selama itu memang ayat Al Quran, maka ia harus beriman dengannya apabila tidak maka nerakalah tempatnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:بلغوا عني ولو آية”Sampaikan dariku walaupun satu kalimat” [Shahih, HR Ahmad Bukhari dan Tirmidzi]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengharuskan cara manqul ala LDII dalam penyampaian ajarannya.

    c. Keyakinan mereka bertentangan dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau menyampaikan ilmu dengan surat kepada para raja. Seperti yang dikisahkan sahabat Anas bin Malik: عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada Kisra, Qaishar, Najasyi dan kepada selurus penguasa, mengajak mereka kepada Allah. bukan an Najasyi yang Nabi menshalatinya” [Shahih, HR Muslim, Kitabul Jihad….no:4585 cet Darul Ma'rifah] (Surat Nabi kepada Heraqlius) [Shahih, HR Bukhari no:7 dan Muslim: 4583]. An Nawawi mengatakan ketika mensyarah hadits ini: “Hadits ini (menunjukkan) bolehnya beramal dengan (isi) surat.” [Syarh Muslim:12/330] Surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada raja Bahrain, lalu kepada Kisra [Shahih, HR al Bukhari, Fathul Bari:1/154]dan banyak lagi surat beliau kepada raja atau tokoh-tokoh masyarakat, bisa anda lihat perinciannya dalam kitab Zadul Ma’ad:1/116120 karya Ibnul Qoyyim [Cet Ar Risalah ke 30 Thn. 1417/1997]

    Surat-menyurat Nabi ini tentu tidak sah menurut kaidah manqulnya Nur Hasan Ubaidah. Adapun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap itu sah, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menerima Islam – mereka yang masuk Islam – karena surat itu tidak menganggap mereka kafir karena tidak manqul. Dan Nabi menganggap surat itu sebagai hujjah atas mereka yang tidak masuk Islam setelah datangnya surat itu, sehingga tiada alasan lagi jika tetap kafir, seandainya sistem surat-menyurat itu tidak sah, mengapa Nabi menganggapnya sebagai hujjah atas mereka??.

    Kemudian setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, cara inipun dipakai oleh para sahabatnya seperti surat Umar kepada Abu Musa al ‘Asy ‘ari yang terdapat didalamnya hukum-hukum yang berkaitan dengan Qadha’ [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, ad Daruqhutni al Baihaqi dan lain-lain `dishahihkan oleh al Albani dalam Irwaul Ghalil:8/241, Ahmad Syakir dan lain-lain -pen], lihat perinciannya dalam buku khusus membahas masalah ini berjudul رسالة عمر ابن الخطاب إلى أبي موسى الأشعري في القضاء و آدابه رواية ودراية karya Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul.], Aisyah menulis surat kepada Hisyam bin Urwah berisi tentang shalat [al Kifayah fi 'Ilmirriwayah:343], Mu’awiyahpun menulis kepada al Mughirah bin Syu’bah tentang dzikir setelah shalat [Shahih, HR Bukhari dan Muslim], Utsman bin Affan mengirim mushaf ke pelosok-pelosok [Riwayat al Bukhari secara Mu'allaq:1/153 dan secara Musnad:9/11], belum lagi para ulama setelah mereka. Namun semuanya ini dalam konsep manqulnya Nur Hasan Ubaidah tidak sah, berarti teori ‘manqul anda’ justru tidak manqul dari mereka, sebab ternyata menurut mereka semua sah. Dan pembaca akan lihat nanti – Insya Allah – komentar para ulama tentang ini.

    Surat-menyurat ini lalu diistilahkan dengan mukatabah, dan para ulama ahlul hadits menjadikannya sebagai salah satu tata cara tahammul wal ada’ (mengambil dan menyampaikan hadits), bahkan mereka menganggap ini adalah cara yang musnad dan muttashil, walaupun tidak diiringi dengan ijazah. Ibnus Sholah mengatakan: “Itulah pendapat yang benar dan masyhur diatara ahlul hadits…dan itu diamalkan oleh mereka serta dianggap sebagai musnad dan maushul (bersambung) [Ulumul Hadits:84] . As Sakhowi juga mengatakan: “Cara itu benar menurut pendapat yang shahih dan masyhur menurut ahlul hadits …. dan mereka berijma’ (sepakat) untuk mengamalkan kandungan haditsnya serta mereka menganggapnya musnad tanpa ada khilaf (perselisihan) yang diketahui.” [Fathul Mughits:3/5]

    Al Khatib al Baghdadi menyebutkan: “Dan sungguh surat-surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi agama yang harus dianut dan mengamalkan isinya wajib bagi umat manusia ini, demikian pula surat-surat Abu Bakar, Umar dan selain keduanya dari para Khulafar ar Rasyidin maka itu harus diamalkan isinya. Juga surat seorang hakim kepada hakim yang lainnya dijadikan sebagai dasar hukum dan diamalkan.’ [al Kifayah :345] . Jadi, ini adalah cara yang benar dan harus diamalkan, selama kita tahu kebenaran tulisan tersebut maka sudah cukup. [lihat, al Baitsul hatsits:123 dan Fathul mughits:3/11]

    Imam al Bukhari pun mensahkan cara ini, dimana beliau membuat sebuah bab dalam kitab Shahihnya berjudul : “Bab (riwayat-riwayat) yang tersebut dalam hal munawalah dan surat/tulisan ulama yang berisi ilmu ke berbagai negeri.” [Fathul Bari:1/153]

    Kalaulah ‘manqul kalian’ dimanqul dari para ulama penulis Kutubus Sittah, mengapa Imam Bukhari menyelisihi kalian?? Apa kalian cukupkan dengan kitab-kitab ‘himpunan’, sehingga tidak membaca Shahih Bukhari walaupun ada di bab-bab awal, sehingga hal ini terlewatkan oleh kalian?? Demikian pula Imam Nasa’i menyelisihi kalian, karena beliau ketika meriwayatkan dari gurunya yang bernama Al Harits Ibnu Miskin beliau hanya duduk di balik pintu, karena tidak boleh mengikuti kajian haditsnya Sebabnya, karena waktu itu imam Nasa’i pakai pakaian yang membuat curiga al Harits ibnu Miskin dan ketika itu al Harits takut pada urusan-urusan yang berkaitan dengan penguasa sehingga beliau khawatir imam Nasa’i sebagai mata-mata maka beliau melarangnya [Siyar A'lam an Nubala:14/130], sehingga hanya mendengar di luar majlis. Oleh karenanya ketika beliau meriwayatkan dari guru tersebut beliau katakan: حدثنا الحارث بن مسكين قراءة عليه وأنا أسمع”Al Harits Ibnu Miskin memberitakan kepada kami, dengan cara dibacakan kepada beliau dan saya mendengarnya” dan anehnya riwayat semacam ini ada pada kitab himpunan kalian Kitabush Sholah hal. 4, “Apa kalian tidak menyadari apa maksudnya??”

    d. Istilah ‘manqul’ sebagai salah satu bidang ilmu ini adalah istilah yang benarbenar baru dan adanya di Indonesia pada Jama’ah LDII. Ini menunjukan bahwa ini bukan berasal dari para ulama. Adapun manqul sendiri adalah bahasa Arab yang berarti dinukil atau dipindah, dan ini sebagaimana bahasa Arab yang lain dipakai dalam pembicaraan. Namun hal itu hanya sebatas pada ungkapan bahasa -bukan sebagai istilah atau ilmu tersendiri yang memiliki pengertian khusus – apalagi konsekwensi khusus dan amat berbahaya.

    e. Adapun musnad dan mutashil, memang ada dalam ilmu Musthalah dan masing masing punya definisi tersendiri. Musnad salah satu artinya dalam ilmu mushtolahul hadits adalah ‘Setiap hadits yang sampai kepada Nabi dan sanadnya bersambung/mutashil’ [Min atyabil manhi fi 'ilmil Musthalah:8]. Akan tetapi perlu diketahui bahwa persyaratan musnad ini adalah persyaratan dalam periwayatan hadits dari Nabi, bukan persyaratan mengamalkan ilmu. Harus dibedakan antara keduanya, tidak bisa disamakan antara riwayat dan pengamalan.

    Sebagaimana akan anda lihat nanti – Insya Allah – dalam pembahasan al wijadah, bahwa al wijadah itu secara riwayat terputus Namun secara amalan harus diamalkan. Orang yang tidak membedakan antara keduanya dan mewajibkan musnad mutashil dalam mengamalkan ilmu maka telah menyelisihi ulama ahlul hadits.

    f. Musnad muttashilpun bukan satu-satunya syarat dalam riwayat hadits. Karena hadits yang shahih itu harus terpenuhi padanya 5 syarat yakni pertama, diriwayatkan oleh seorang yang adil [adil dalam pengertian ilmu mushtalah adalah seorang muslim, baligh, berakal selamat dari kefasikan dan hal-hal yang mencacat kehormatannya (muru’ah) [Min Atyabil Manhi fi Ilmil Musthalah:13]-pen, kedua yakni yang sempurna hafalannya atau penjagaannya terhadap haditsnya, ketiga, sanadnya bersambung, keempat, tidak syadz [Syadz artinya, seorang rawi yang bisa diterima menyelisi yang lebih utama dari dirinya [nuzhatun nadzor] yakni dalam meriwayatkan hadits bertentangan dengan rawi yang lebih kuat darinya atau lebih banyak jumlahnya. Sedang mu’allal artinya memiliki cacat atau penyakit yang tersembunyi sehingga tampaknya tidak berpenyakit padahal penyakitnya itu membuat hadits itu lemah. -pen] dan kelima tidak mu’allal.

    Kalaupun benar –padahal salah- apa yang dikatakan oleh Nurhasan bahwa ilmu harus musnad muttashil, mana syarat-syarat yang lain ? Kenapa hanya satu yang diambil ? Jangan-jangan dia sengaja disembunyikan karena memang tidak terpenuhi padanya !

    Atau kalau kita berhusnudhon, ya mungkin tidak tahu syarat-syarat itu, atau lupa, apa ada kemungkinan lainnya lagi?? Dan semua kemungkinan itu pahit. Jadi tidak cukup sekedar musnad muttashil bahkan semua syaratnya harus terpenuhi dan tampaknya keempat syarat yang lain memang tidak terpenuhi sama sekali. Hal itu bisa dibuktikan apabila kita melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ajaran LDII, misalnya dalam hal imamah, bai’at, makmum sholat, zakat, dan lain-lain. Ini kalau kita anggap syarat Musnad Muttashil terpenuhi pada mereka, sebenarnya itu juga perlu dikaji.

    g. Amal LDII dengan prinsip ini menyelisihi amal muslimin sejak Zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai saat ini.

    h. Kenyataannya mereka hanya mementingkan MMM, tidak mementingkan keshahihan hadits, buktinya dalam buku himpunan mereka ada hadits-hadits dha’if, bahkan maudhu’ (palsu). Lantas apalah artinya MMM kalau haditsnya tidak shahih karena rawinya tidak tsiqoh misalnya? [Contoh pada pembahasan terakhir -pen]

    i. Dari siapa ‘manqul’ ini dimanqul? Kalau memang harus manqul bukankah ‘metode manqul’ itu juga harus manqul?? Karena ini justru paling inti, Nur Hasan atau para pengikutnya harus mampu membuktikan secara ilmiyah bahwa manqul ini ‘dimanqul’ dari Nabi, para sahabatnya dan para ulama ahli hadits. Kalau ia tidak bisa membuktikannya, berarti ia sendiri yang pertama kali melanggar kaidah manqulnya. Kalau ia mau buktikan, maka mustahil bisa dibuktikan, karena seperti yang kita lihat dan akan kita lihat – Insya Allah – ternyata manqul ini menyelisihi Nabi, para sahabat, dan ulama ahlul hadits.

    j. Dalam ilmu Mushtholah al Hadits pada bab tahammul wal ada’ (menerima dan menyampaikan hadits) terdapat cara periwayatan yang diistilahkan dengan al Wijadah. Yaitu seseorang mendapatkan sebuah hadits atau kitab dengan tulisan seseorang dengan sanadnya [al Baitsul Hatsits:125]. Dari sisi periwayatan, al wijadah termasuk munqothi’ [Munqothi: terputus sanadnya. Mursal: terputus dengan hilangnya rawi setelah tabi'in. Mu'allaq: terputus dengan hilangnya rawi dari bawah sanad - pen], mursal [Ulumul hadits:86, Fathul Mughits:3/22] atau mu’allaq, Ibnu ash Sholah mengatakan: “Ini termasuk munqothi’ dan mursal…”, ar Rasyid al ‘Atthor mengatakan: “Al wijadah masuk dalam bab al maqthu’ menurut ulama (ahli) periwayatan”.[Fathul Mughits:3/22]

    Bahkan Ibnu Katsir menganggap ini bukan termasuk periwayatan, katanya: “Al Wijadah bukan termasuk bab periwayatan, itu hanyalah menceritakan apa yang ia dapatkan dalam sebuah kitab.” [al Baitsul Hatsits:125]

    Jadi al wijadah ini kalau menurut kaidah M.M.M-nya Nur Hasan tentu tidak terpenuhi kategorinya, sehingga tentu tidak boleh bahkan haram mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan cara al wijadah. Tetapi maksud saya disini ingin menerangkan pandangan ulama tentang mengamalkan ilmu yang didapat dengan al wijadah, ternyata disana ada beberapa pendapat:
    a. Sebagian orang terutama dari kalangan Malikiyah (pengikut madzhab Maliki) melarangnya.
    b. Boleh mengamalkannya, ini pendapat asy Syafi’i dan para pemuka madzhab Syafi’iyyah.
    c. Wajib mengamalkannya ketika dapat rasa percaya pada yang ia temukan. Ini pendapat yang dipastikan ahli tahqiq dari madzhab as Syafi’iyyah dalam Ushul Fiqh. [lihat Ulumul Hadits karya Ibnu Sholah:87]

    Ibnush Sholah mengatakan tentang pendapat yang ketiga ini: “Inilah yang mesti dilakukan di masa-masa akhir ini, karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadits yang dinukil (dari Nabi) karena tidak mungkin terpenuhinya syarat periwayatan padanya.” [Ulumul Hadits:87] Yang beliau maksud adalah hanya al wijadah yang ada sekarang. [al Baitsul Hatsits: 126]
    An Nawawi mengatakan: ‘Itulah yang benar’ [Tadriburrawi:1/491], demikian pula As Sakhowi juga menguatkan pendapat yang mewajibkan. [Fathul Mughits:3/27]
    Ahmad Syakir mengatakan: yang benar wajib (mengamalkan yang shahih yang diriyatkan dengan al wijadah). [al Baitsul Hatsits: 126]

    Tentu setelah itu disyaratkan bahwa penulis kitab yang ditemukan (diwijadahi) adalah orang yang terpercaya dan amanah dan sanad haditsnya shahih sehingga wajib mengamalkannya. [al Baitsul Hatsits:127] Ali Hasan mengatakan: Itulah yang benar dan tidak bisa terelakkan, seandainya tidak demikian maka ilmu akan terhenti dan akan kesulitan mendapatkan kitab, akan tetapi harus ada patokan-patokan ilmiyah yang detail yang diterangkan para ulama’ dalam hal itu sehingga urusan tetap teratur pada jalannya [Al Baitsul Hatsits:1/368 dengan tahqiqnya]. Dengan demikian pendapat yang pertama tidak tepat lebih-lebih di masa ini. Diantara yang mendukung kebenaran pendapat yang membolehkan atau mewajibkan adalah berikut ini Nabi bersabda:
    -أي الخلق أعجب إليكم إيمانا ؟قالوا : الملائكة.قال: وكيف لايؤمنون وهم عند ربهم وذكروا الأنبياء،فقال: وكيف لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم ؟!قالوا : ونحن فقال: وكيف لاتؤمنون وأنا بين أظهركم. قالوا فمن يا رسول الله؟ قال قوم يأتون من بعدكم يجدون صحفا يؤمونو بما فيها artinya: “Makhluk mana yang menurut kalian paling ajaib imannya?” Mereka mengatakan: “Para malaikat.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Bagaimana mereka tidak beriman sedang mereka di sisi Rabb mereka?”. Merekapun (para sahabat) menyebut para Nabi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallampun menjawab: “Bagaimana mereka tidak beriman sedang wahyu turun kepada mereka”. Mereka mengatakan: “Kalau begitu kami?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bagaimana kalian tidak beriman sedang aku ditengah-tengah kalian.” Mereka mengatakan : “Maka siapa Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya.” [HR Ahmad, Abu Bakar Ibnu Marduyah, ad Darimi, al Hakim dan Ibu ‘Arafah, Ali Hasan mengatakan: Cukuplah Hadits itu dalam pandangan saya sebagai Hadits Hasan lighoirihi (bagus dengan jalan-jalan yang lain), semua jalannya lemah namun lemahnya tidak terlalu sehingga dihasankan dengan seluruh jalan-jalannya. Dan al Haitsami dalam al Majma:10/65 serta al Hafidz dalam al Fath:6/7 cenderung kepada hasannya hadits itu. [al Baitsul Hatsits:1/369 dengan tahqiqnya], maraji': Ad Dho’ifah:647-649, syekh al Albani cenderung kepada lemahnya, Fathul Mughits:3/28 ta’liqnya, Al Mustadrak:4/181, musnad Ahmad:4/106, Sunan ad Darimi:2/108, Ithaful Maharoh:14/63. Tafsir Ibnu Katsir:1/44 Al Baqarah:4- pen]
    – Amalan Ibnu Umar, dimana beliau meriwayatkan dari ayahnya dengan al wijadah, al Khatib al Baghdadi dalam bukunya [al kifayah:354] meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Nafi, dari Ibnu Umar, أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب صحيفة فيها ليس فيما دون خمس من ا لابل صدقة فإذا كانت خمسا ففيها شاة
    ‘Bahwa beliau mendapatkan pada gagang pedang umar sebuah lembaran (tertulis) ‘Tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari lima, kalau jumlahnya 5 maka zakatnya satu kambing jantan…’
    – Abdul Malik bin Habib atau Abu Imran al Jauni beliau adalah seorang Tabi’in yang Tsiqoh (terpercaya) seperti kata al Hafidz Ibnu Hajar dalam [at Taqrib:621], beliau mengatakan: “Kami dulu mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat padanya ilmu, maka kamipun silih berganti mendatanginya, bagaikan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih.” [Al Kifayah:355 dan Fathul Mughits:3/27]

    Bila seperti ini keadaannya maka seberapa besar faidah sebuah sanad hadits yang sampai ke para penulis Kutubus Sittah di masa ini, toh tanpa sanad inipun kita bisa langsung mendapatkan buku mereka. Dan kita dapat mengambil langsung hadits-hadits itu darinya, walaupun tanpa melalui sanad ‘muttashil musnad manqul’ kepada mereka. Dan wajib kita mengamalkannya seperti anda lihat keterangan di atas.

    Tidak seperti yang dikatakan Nur Hasan bersama LDIInya bahwa tidak boleh mengamalkanya bahkan itu haram!! Subhanallah, pembaca melihat ternyata dalil dan para ulama menyelisihi mereka, jadi dari mana ‘manqulmu’ dimanqul?? Ahmad Syakir mengatakan: “Dan kitab-kitab pokok kitab-kitab induk dalam sunnah Nabi dan selainnya, telah mutawatir periwayatannya sampai kepada para penulisnya dengan cara al wijadah.

    Demikian pula berbagai macam buku pokok yang lama yang masih berupa manuskrip yang dapat dipercaya, tidak meragukannya kecuali orang yang lalai dari ketelitian makna pada bidang riwayat dan al wijadah atau orang yang membangkang, yang tidak puas dengan hujjah.[Al Baitsul Hatsits:128].

    Oleh karenanya para ulama yang memiliki sanad sampai penulis Kutubus Sittah, tidak membanggakan sanad mereka apabila amalannya tidak sesuai dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan mereka tidak pernah pamer, tidak pula mereka memperalatnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok, karena mereka tahu hakekat kedudukan sanad pada masa ini., berbeda dengan yang tidak tahu sehingga memamerkan, memperalat dan…dan…

    k. Juga, untuk membuktikan benar atau salahnya ajaran manqul. Kita perlu membandingkan ajaran LDII dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Seandainya manqulnya benar maka tentu ajaran LDII akan sama dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya, kalau ternyata tidak sama maka pastikan bahwa manqul dan ajaran LDII itu salah, dan ternyata itulah yang terbukti.

    Berikut ini pokok-pokok ajaran LDII yang berbeda dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya:
    – Dalam hal memahami bai’at dan mengkafirkan yang tidak bai’at.
    – Dalam hal mengkafirkan seorang muslim yang tidak masuk LDII
    – Dalam hal manqul itu sendiri
    – Dalam aturan infaq
    – Menganggap najis selain mereka dari muslimin
    – Menganggap tidak sah sholat dibelakang selain mereka
    – Begitu gampang memvonis seseorang di Neraka padahal dia muslim
    – Menganggap tidak sahnya penguasa muslim jika selain golongannya
    – Dan lain-lain
    [perincian masalah-masalah ini sebagiannya telah kami jelaskan dalam makalah yang lain, dan yang belum akan menyusul insyaallah, tunggulah saatnya!! -pen]
    l. Sanad Nur hasan Ubaidah [Seputar sanad Nur Hasan atau Ijazah haditsnya ini banyak cerita unik di kalangan LDII, konon hadits-haditsnya hilang waktu naik becak, yang disampaikan kepada pengikutnya hanya 6.-pen], dalam kitab himpunan susunan LDII pada Kitabush Sholah hal. 124-125 yang sampai kepada Imam at Tirmidzi pada hadits Asma’ wa Shifat Allah, ternyata hadits itu adalah hadits lemah, Ibnu Hajar mengatakan: “‘Illah (cacat) hadits itu menurut dua syaikh (al Bukhari dan Muslim). Bukan hanya kesendirian al Walid ibnu Muslim (dalam meriwayatkannya), bahkan juga adanya ikhtilaf (perbedaan periwayatan para rawinya), idlthirab (kegoncangan akibat perbedaan itu), tadlis (sifat tadlis pada al Walid ibnu Muslim yaitu mengkaburkan hadits) dan kemungkinan adanya idraj (dimasukkannya ucapan selain Nabi pada matan hadits itu [Fathul Bari, syarah al Bukhari:11/215].). Jadi cacat/’illah/kelemahan hadits itu ada 5 sekaligus, yaitu tafarrud, ikhtilaf, idlthirab, tadlis dan idraj.” Imam At Tirmidzipun merasakan kejanggalan pada hadits ini, dimana beliau setelah menyebutkan hadits ini mengatakan: ‘Gharib’ (aneh karena adanya tafarrud/kesendirian dalam riwayat) [Sunan at Tirmidzi:5/497, no:3507], demikian pula banyak para ulama menganggap lemah hadits ini seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, al Bushiri, Ibnu Hazm, al Albani dan Ibnu Utsaimin. [lihat al Qowa'idul Mutsla:18 dengan catatan kaki Asyraf Abdul Maqshud]. Hadits yang shahih dalam masalah ini adalah tanpa perincian penyebutan Asma’ul Husna dan itu diriwayatkan al Bukhari dan Muslim

    Kajian keyakinan kedua, bahwa dialah satu-satunya jalan manqul…

    Apa ini bukan kesombongan, kebodohan serta penipuan terhadap umat?!. Karena sampai saat ini sanad-sanad hadits itu masih tersebar luas di kalangan tuhllabul ilmi, mereka yang belajar hadits di Jazirah Arab, Saudi Arabia dan negara-negara tetangganya, di Pakistan, India atau Afrika, baik yang belajar orang Indonesia atau selain orang Indonesia, mereka banyak mendapatkan Ijazah [Bukan ijazah tamat sekolah, tapi ini istilah khusus dalam ilmu riwayat hadits. Yaitu ijin dari syekh untuk meriwayatkan hadits - pen] riwayat Kutubus Sittah dan yang lain termasuk diantaranya adalah penulis makalah ini. Kalau dia konsekwen dengan ilmu manqulnya, lantas mengapa dia anggap dirinya satu-satunya jalan manqul?? Sehingga kalian – wahai pengikut LDII – mengkafirkan yang tidak menuntut ilmu dari kalian, termasuk mereka yang mengambil ilmu dari negara-negara Arab dari ulama/syaikh-syaikh yang punya sanad, padahal mereka mendapat sanad, ternyata kalian kafirkan juga?!

    Asy Syaikh al Albani dan murid-muridnya di Yordania, asy Syaikh Abdullah al Qar’awi dan murid-muridnya, asy Syaikh Hammad al Anshari dan murid-muridnya di Saudi Arabia, asy syaikh Muqbil di Yaman, asy Syaikh Muhammad Dhiya’urrahman al ‘Adhami dari India dan murid-muridnya, dan masih banyak lagi yang lain tak bisa dihitung. Merekapun punya sanad Kutubus Sittah dan selainnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tapi mereka tidak seperti kalian, wahai Nur Hasan dan pengikutnya. Mereka tahu apa arti sebuah sanad di masa ini, dan perlu diketahui bahwa semua mereka aqidahnya berbeda dengan aqidah kalian, wahai penganut LDII. Mana yang benar, wahai orang yang berakal??

    Comment by hamba alloh — February 2, 2009 @ 7:54 am

  7. saya mantan LDII ,sudah di LDII selama kr2 20 tahn,dan jadi ustadnya ldii,juga prnh belajar kutubus sitah dan isi semua ternyata TAI BONJROT ILMU LDII!!!!!!!! ngaku mereka satu2nya yang punya isnad di indonesia ,ternyata bohong besar bahakan insadnya ubaidah/LDII majhul( tidak nggenah / tdk diketahui dg jelas )bahkan bisa dikatakan KADZAB ( bohong ) banyak yang punya isnad bukan hanya ldii,dan kebanyakan isnad itu para salafy di arab saudi/bumi haromain ,yang isnadnya sohih dan mutashil ya salafy itu
    sekarang saya sudah tobat karena dpt nasehat dr salafy,
    LDII pembohong, penipu agama lebih bejat drpd copet, maling rampok dll.

    Comment by hamba alloh — February 2, 2009 @ 7:48 am

  8. jangan sok LDII, kamu itu bodoh semua tapi ngaku tau agama!!
    kamu itu dinasehati orang salafy( orang yang beragama islam dengan metode nabi dan sahabatnya ) biar tobat dari bid’ah khawarijnya , jangan malah merasa dicela, kalo kamu merasa dicela karena kamu memang terkena nasehatnya para salafiyin!!! orang salah dinasehati itu biasanya kalo tidak menerima biasa dikira dicela, itulah orang BODOH!!! tapi kalo orang pinter ,dinasehati didengar dulu kalo bener dipake kalo gak bener boleh tidak dipakai…

    Comment by hamba alloh — February 2, 2009 @ 7:46 am

  9. Merasa aman dari ancaman Allah

    Sesungguhnya hati sangat mudah untuk berbolak-balik, oleh karena itu kita diperintahkan untuk berdoa memohon ketetapan dalam ketaatan kepada Allah
    Allah Ta’ala berfirman,
    Hingga ketika mereka bersenang-senang dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka sekonyong-konyong. (Al-An’am: 44)

    Maksudnya, siksa Kami akan menimpa mereka dengan cara yang tidak mereka sadari. Hasan berkata, Barangsiapa diberi kemudahan (rizki) oleh Allah sedangkan ia tidak menganggap bahwa dengan itu Allah mengancamnya maka orang tersebut tidak punya pikiran. Dan barangsiapa dipersempit (rizkinya) namun ia tidak menganggapnya bahwa Allah memperhatikannya maka orang itu tidak punya akal. Kemudian ia membaca firman Allah,

    Hingga ketika mereka bersenang-senang dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (Al-An’am: 44)

    Hasan mengatakan, Makar terhadap kaum artinya, demi Tuhan-Nya Ka’bah, semua kebutuhan dicukupi lalu mereka disiksa.

    `Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba semua yang disukainya padahal ia tetap berada dalam kemaksiatan. Hal itu merupakan bentuk isdjraj baginya. Lalu beliau membaca ayat tersebut, Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (Al-An’am: 44).

    Al-Iblas artinya putus harapan untuk selamat pada saat ditimpa bencana. Ibnu Abbas berkata, Mereka berputus asa dari segala kebaikan.

    Sedangkan Zajjaj berkata, Al-Mublis adalah orang yang sangat menyesal dan berputus ada serta sedih.

    Dalam atsar disebutkan bahwa ketika Iblis mempunyai makar saat itu masih menjadi bagian dari malaikat segeralah Jibril dan Mikail menangis dan Allah bertanya, ‘Apa yang membuat kalian berdua menangis? Mereka berdua menjawab, Ya Rabb, kami tidak merasa aman dari makar-Mu. Lalu Allah berfirman, Demikianlah semestinya kalian, janganlah kalian merasa aman dari makar-Ku.

    Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri sering mengucapkan, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkan hati kami dalam agama-Mu! Ada yang bertanya, Wahai Rasulullah, apakah engkau mengkhawatirkan kami? Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya hati itu berada di dua jari dari jari-jari Arrahman, Dia membolak-balikkan sekehendak-Nya. (Diriwayatkan Tirmidzi dari hadits Anas bin Malik)

    Dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Sesungguhnya seseorang mengamalkan amal ahli surga hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal sehasta. Namun ia telah didahului kitab (ketentuan-Nya) lalu ia mengamalkan amalan ahli neraka dan ia pun memasukinya. (Diriwayatkan Bukhari dari hadits Abu Hurairah).

    Di dalam Shahih Bukhari dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang mengamalkan amalan ahli neraka dan ia termasuk ahli surga. Juga ada orang yang mengamalkan amalan ahli surga padahal ia termasuk ahli neraka. Sesungguhnya semua amal tergantung akhirnya”

    Di dalam kitab suci-Nya Allah menceritakan kisah Bal’am, yakni dicabutnya keimanan setelah adanya ilmu dan makrifat. Demikian pula kisah Barsesa, seorang pendeta yang meninggal sebagai orang kafir.

    Dikisahkan bahwa di Mesir terdapat seseorang yang aktif di masjid untuk adzan dan shalat. Pada diri orang tersebut terdapat kharisma ibadah dan cahaya ketaatan. Pada suatu hari ia naik ke atas menara untuk adzan sebagaimana biasa. Di bawah menara itu terdapat sebuah rumah milik orang Nashrani dzimmi (yang dilindungi negara Islam). Orang tersebut melihat ke rumah dan nampak seorang gadis anak orang Nashrani itu, gadis itu cantik sekali. Orang itu tergoda olehnya dan tidak jadi adzan, ia turun menemuinya, gadis itu bertanya,
    Ada apa dan apa yang kamu inginkan?
    Kamu yang aku inginkan, jawabnya.
    Aku tidak mau menurutimu melakukan yang tidak benar.
    Aku akan menikahimu.
    Kamu seorang Muslim sedang ayahku tidak akan menikahkan aku denganmu.
    Aku masuk Kristen, katanya.
    Jika kamu melakukan itu, aku mau.
    Lalu orang itu masuk Kristen demi menikahi gadis itu dan tinggal di rumah itu bersama keluarga Nashrani. Pada hari itu juga ia naik ke atap rumah kemudian jatuh dan meninggal dunia. Ia tidak berbahagia dengan agamanya dan tidak dapat menikmati gadis itu. Kita berlindung kepada Allah dari makar-Nya dan dari su’ul-khatimah.

    Salim meriwayatkan dari Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering bersumpah dengan kata-kata, “Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hatil (Diriwayatkan Bukhari).

    Artinya, cepat sekali Allah membalikkan hati bahkan lebih cepat dari tiupan angin dalam membalikkan sifat-sifat yang bertentangan. Misalnya, menerima dan menolak, menginginkan dan membenci, juga sifat-sifat lainnya.

    Di dalam Al-Quran Allah berfirman,
    Dan ketahuilah bahwa Allah menjadi penghalang antara seseorang dengan
    hatinya. (Al-Anfal: 24).

    Mujahid berkata, Maksudnya, Allah menjadi hijab antara seseorang dengan akalnya hingga ia tidak tahu apa yang diperbuat oleh jari-jarinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati. (Qaaf: 37).

    Maksudnya, orang yang mempunyai akal.
    Thabari berpendapat bahwa ayat tersebut merupakan berita dari Allah Ta’ala bahwa Dia lebih berhak atas kepemilikan hati para hamba daripada mereka sendiri. Bahwa Allah juga bisa menjadi hijab antara mereka dengan hati itu hingga seseorang tidak tahu apa-apa kecuali dengan kehendak Allah Azza wa Jalla.

    Aisyah Radhiyallahu’anha berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering mengucapkan, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk mentaati-Mu’.Aku bertanya,’Wahai Rasulullah, Engkau sering sekali berdoa demikian, apakah Engkau khawatir?’ Beliau menjawab, Apakah yang membuatku merasa aman wahai Aisyah, sedangkan hati para hamba ada di antara dua jari di antara jari jari Arrahman, Dia membolak-balikkannya sekehendak-Nya. Jika Dia ingin membalikkan hati seorang hamba Dia mampu melakukannya’

    Jika memang hidayah itu sesuatu yang jelas maka istiqamah itu tergantung kepada kehendak-Nya dan nasib akhir adalah misteri sedangkan kehendak-Nya tiada terkalahkan. Maka janganlah Anda merasa bangga dengan iman, amal, shalat, puasa, dan semua amal perbuatan Anda yang jika memang Anda yang melakukan, sesungguhnya itu adalah ciptaan Tuhan Anda dan karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya kepada Anda. Walaupun Anda membanggakan dengan itu semua, pada hakikatnya Anda telah membanggakan sesuatu yang bukan milik Anda. Bisa saja Dia merenggutnya dari Anda, maka hati Anda kembali kosong dari kebaikan sebagaimana rongga perut keledai.

    Betapa banyak kebun yang kemarin bunga-bunganya rimbun bermekaran, namun pagi hari ini bunga-bunga itu kering dan berguguran karena diterpa angin topan. Demikian pula seorang hamba, kemarin hatinya dipenuhi ketaatan kepada Allah, bersinar dan sejahtera. Namun pada pagi ini ia menjadi gelap dan sakit. Itu merupakan takdir dari Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.

    Wahai anak Adam, pena-pena pencatat berlari namun Anda lalai tiada menyadari. Wahai anak Adam, tinggalkan semua nyanyian dan kecapi, tinggalkan rumah-rumah dan pondok asri. Tinggalkan perpacuan di negeri ini hingga Anda melihat apa yang dilakukan takdir terhadap dirimu!

    Diambil dari Al-Kabair

    Comment by hambaAlloh — December 10, 2008 @ 1:47 pm

  10. ternyata masih ada orang yang tidak mengenal salafi, dengan mengatakan ” salafi memaksakan kehendak”, “salafi menghujat” dll. coba diteliti lagi mengapa salafiyyin itu mengoreksi seseorang, apakah dg akalnya ? hawa nafsunya ? atau dengan mendasarkan al Quran dan Assunnah ?seharusnya ricky mencari tahu sebelum berprasangka .siapa sih yang dikoreksi? mengapa dikoreksi? apakah berbahaya bagi aqidah umat atau tidak?. cari jawabanya

    Comment by ujang — November 24, 2008 @ 3:45 pm

  11. bagaimana islam akan jaya dengan ilmu jika berbicara tanpa ilmu?setiap orang bs membantah,beropini tp mana hujah kita?ini yang kita tuntut kan kita tidak berbicara tanpa ilmu.\
    Maka haruslah engkau memiliki ilmu, dan ini hukumnya wajib, maka hati-hatilah jangan sekali-kali engkau berýda’wah dengan kebodohan, janganlah sekali-kali engkau berbicara dalam hal-hal yang tidak engkau ketahui, maka orang yang bodoh itu menghancurkan, bukannya membangun, merusak bukannya memperbaiki, maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, hati-hati, janganlah sekali-kali engkau mengatakan sesuatu dengan mengatasnamakan Allah tanpa ilmu, janganlah engkau berýda’wah mengajak orang lain kepada sesuatu, kecuali dengan ilmu tentang hal tersebut, dan hujjah yang nyata itu artinya sesuai dengan firman Allah dan sabda RasulNya.

    Maka seharusnya atas setiap penuntut ilmu dan juru ýda’wah agar memperhatikan tentang apa yang ia serukan dan memperhatikan dalilnya, apabila nampak bagi dia kebenaran dan mengetahuinya maka baru dia menýda’wahkannya, menyeru untuk melakukan keta’atan dan melarang kemaksiatan yang dilarang oleh Allah dan RasulNya.” [2]

    http://www.almanhaj.or.id/content/1893/slash/0

    Comment by hambaAlloh — October 11, 2008 @ 1:34 pm

  12. salut buat LDII. yang tetap tegar, sabar,tabah dan tawakal ditengah badai fitnah, cacian,makian,hujatan dan pembunuhan karakter.

    cobaan,rintangan dan fitnah adalah kesempatan untuk menunjukan kesejatian dakwah.

    jusrtru, apabila LDII tetap sabar dan tabah menghadapi fitnah,hal itu akan mendatangkan simpati dari masyarakat dan mengangkat wibawa LDII

    maju terus LDII untuk tetap berdakwah Quran dan hadits secara murni.

    jangan pedulikan salafy dengan fitnahannya, jangan pedulikan PERSIS / DDII dengan LPPInya, jangan pedulikan hasutannya PKS dengan jamaah tarbiyyahnya.mereka cuma gerombolan ambisius yang penuh dengan iri dengki.

    Comment by toni — October 4, 2008 @ 2:28 am

  13. kalau LDII itu ekslusif.kalau LDII itu tertutup, kalau LDII itu menyebalkan, kalau LDII itu meresahkan

    kalau dakwah LDII itu sembunyi-sembunyi. mengapa LDII dari tahun ketahun tumbuh dan berkembang dengan pesat? mengapa semakin banyak orang yang bergabung dengan LDII?

    ini bukan kehebatan LDII. ini adalah pertolongan ALLAH SWT.

    mengapa salafy tidak mengurus dirinya sendiri saja? mengapa salafy menghabiskan waktu dan tenaganya hanya untuk mencela harokan lain?

    apakah anda berpikir dengan maraknya dakwah salafy di internet anda berpikiran salafy lah yang benar dan terbuka. ya salafy hanya eksis di dunia maya saja. di dunia nyata mereka is nothing.

    Comment by dora — October 4, 2008 @ 2:19 am

  14. kita sudah masuk perangkap oleh orang orang jahat yang menghendaki seluruh umat islam saling bertengkar,mengejek ,menghina,mencaci maki ,dan merasa paling benar sendiri .apakah anda merasa lebih baik dari orang-orang yang anada cacimaki ,hina dan apa anda merasa puas setelah anda mengungkapkan kejelekan orang lain ,apakah anda merasa paling baik diantara orang-orang yang anda hina kalau memang demikian andalah musuh islam yang sebenarnya .mungkin anda tidak pernah tau bahwa masih banyak musuh islam yang lain .seperti pembuat qur,an palsu di amirika serikat.dan seorang laki-laki kristen pakai jilbab masuk pengajian wanita di malang .mungkin juga anda diantara mereka bukan …………? kalau memang begitu anda musuh islam atau teman setan ………

    Comment by atik imroatun — September 30, 2008 @ 12:09 am

  15. anda ingin tau download gratis dakwah yang tidak di sembunyikan kunjungi

    http://www.radiorodja.com/

    Comment by antok — September 18, 2008 @ 2:32 pm

  16. dear
    yang saya tidak habis pikir…. kenapa sudah tau,sudah ngaji kok malah keluar.. apa tidak eman…bahkan keluargamu juga ikutan ngaji…
    cobalah niatnya di ubah.. jangan cuma nginteli saja… diniati untuk nyari hidayahnya…kan yo ra rugi to? jangan cuma terbawa trennya masyarakat … surga neroko itu urusannya sendiri sendiri…
    kalo bisa jangan nuruti omongan orang yang nggak nggenah… sing penting ngaji kuran hadist secara berjamaah/ bersama2, agar dapat ilmunya masuk surga selamat dari api neraka.
    masuk surga itu susah …. lha kalo ingin masuk neraka… kalian ndak usah repot repot diam sajalah nanti kan masuk neraka sendiri, apalagi melakukan fitnah, ngelek elek tonggone …

    sekian dulu lah malah nggladrah

    salam dari jokam, probolinggo jawatimur

    Comment by sirajudin harahab — August 19, 2008 @ 2:06 pm

  17. ciri-ciri khas salafy dalam berdakwah

    (oleh ust Abu Rifa’ Al Puari)

    1. Salafi merasa dirinya yang paling benar, karena mereka meyakini kebenaran hanya satu, indikasi yang terdapat dalam hadits hanya satu golongan yang masuk syurga dari 73 golongan adalah golongan salafi, serta salafi menganggap sesat dan bid’ah golongan yang berseberangan ijtihad dengan mereka. Sehingga sulit bagi salafi untuk menerima ijtihad yang berbeda dengan mereka dan sangat taqlid dengan ijtihad ulama-ulama mereka.
    2. Salafi cenderung mencela golongan lain, karena salafi diperintahkan untuk mengungkapkan semua keburukan golongan sesat dan bid’ah itu dan dilarang mengungkapkan secuil-pun kebaikan mereka. Karena mengungkapkan kebaikan mereka akan menyebabkan orang lain mengikuti golongan sesat dan bid’ah itu. Sehingga tidak heran jika buku-buku dan website-website salafi banyak memuat celaan sesat dan bid’ah kepada golongan lain.
    3. Salafi juga melarang untuk berkasih sayang, berteman dengan golongan selain mereka, bahkan tidak boleh shalat di belakang mereka, salafi menyesatkan ulama yang mereka anggap ahlu bid’ah, melarang memuji, mengagungkan, membaca kitab dan mendengarkan kaset ulama-ulama tersebut. Sehingga salafi akan mengalami kesulitan dalam menjalin ukhuwah dengan golongan lain, malah akan menimbulkan pertentangan dan perpecahan dengan golongan lain.
    4. Salafi akan menghambat gerak da’wah golongan yang dianggap sesat dan bid’ah oleh mereka, bahkan harus memusnahkan mereka (golongan da’wah dan partai politik), karena golongan itu dianggap akan meracuni umat dan menimbulkan perpecahan. Sehingga akan timbul benturan di medan da’wah antara salafi dengan golongan lain, karena golongan lain merasa dihalang-halangi saat berda’wah di area-area yang dikuasai oleh salafi.
    Diharapkan setelah memahami karakter salafi ini, kita mampu mengantisipasi menghadapi golongan seperti ini. Tetapi jangan kaget, jika penjelasan dari kitab-kitab salafi di atas, akan ditemukan pertentangan dalam kitab-kitab salafi yang lain. Karena di antara ulama salafi sendiri bisa terjadi saling pertentangan, seperti halnya terpecahnya salafi dalam beberapa golongan.
    Wallahua’lam

    Comment by guilsa — June 9, 2008 @ 6:50 am

  18. kenapa ya salafy begitu benci sama LDII sampe2 mereka begitu gencar buat propaganda di internet dalam bentuk blog, situs dan milis yang isinya memfitnah, mencaci, menjudge, menghujat LDII? tidak adakah cara yang lebih baik dan santun menghadapi perbedaan dengan manhaj lain? apakah salafy indonesia selalu bertindak dengan cara-cara yang menjijikan dalam menghadapi harokah yang tidak sejalan dengan mereka?

    Comment by jumiat — June 9, 2008 @ 6:04 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: