LDII Watch

April 18, 2006

Beberapa Dalil Yang Dicurigai Menyimpang

Filed under: Artikel — ldiiwatch @ 6:15 pm

Berikut ini adalah beberapa dalil yang kami curigai terjadi penyimpangan di dalam ajaran LDII.

  1. Imarah (Bai’at, Jama’ah)
    • Atsar (ucapan) Umar bin Khattab r.a., yang artinya:
      “Sesungguhnya tiadalah Islam kecuali dengan berjamaah, tiadalah jamaah kecuali dengan beramir, tiadalah beramir kecuali dengan berbai’at, tiadalah berbai’at kecuali dengan taat.”
    • Hadits riwayat (Hr) Muslim, yang artinya:
      “Barang siapa yang membuka tangan (mengudar) ketaatan (dari imam) niscaya ia bertemu dengan Allah dengan tidak memiliki alasan, dan barang siapa yang mati padahal tidak ada ikatan bai’at di pundaknya, maka ia pasti mati seperti mati di zaman Jahilliyah”
  2. Manqul
    • Hr. Abu Daud , yang artinya:
      “Barang siapa yang mengucapkan/menerangkan Kitab Allah Yang Maha Mulia dengan pendapatnya walau benar, maka sesungguhnya ia telah salah”
    • Hr. Tirmidzi, yang artinya:
      “Barang siapa yang mengatakan tentang Al Qur’andengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah menempati tempat duduknya di neraka”

Penyimpangan yang mungkin terjadi antara lain adalah:

  1. Pergeseran makna/tafsir dalil-dalil tersebut
  2. Penggunaan dalil yang lemah (dha’if)

Pembahasan selengkapnya akan segera menyusul.

Wallahu A’lam

19 Comments »

  1. setiap orang yg keluar dr ldii kok diisukan karna merebut kekuasaan,ingin jadi pemegang uang,benci sakit hati iri masaallah…kami semua umat islam sbg muslim hanya kasihan dan ingin kalian kembali kejln yg lurus yg diridhoi allah. jgn suudzon…ya akhi…

    Comment by altov — July 5, 2009 @ 10:36 am

  2. WALAU SIBUK, KRNA MENYANGKUT AGAMA HARUS SEGERA DISAMPAIKAN… “SAMPAIKANLAH WALAUPUN HANYA SATU AYAT”

    Comment by HAMBA ALLOH — November 29, 2008 @ 3:51 am

  3. MANA PENJELASAN SELANJUTNYA. KUTUNGGU JANDAMU(BACA: JANJIMU)

    Comment by HAMBA ALLOH — November 29, 2008 @ 3:49 am

  4. menurut saya salah satu pola kronologisnya begini:

    1.ada seseorang, ambilah nama contoh mohamad ramdan
    2.Di LDII dia mempunyai ambisi pribadi ( contoh : mau jadi pengurus, mau jadi imam, mau jadi bagian keuangan) atau melakukan pelanggaran
    3.dia sangat kecewa ambisi pribadinya tidak tercapai
    4. dia marah besar ketika diingatkan dan dinasihati karena merasa lebih hebat dan ngga layak kalau dia dinasihati.
    5. dendam, marah, iri, kebencian, sakit hati, frustasi, stress, depresi, kecewa menyelimuti dirinya sampai bertahun-tahun dan sampai pada titik kulminasi tertinggi yang tak tertahankan.
    6.dia mengikrarkan diri keluar dari LDII. lalu memproklamirkan diri mendapat “hidayah” dengan keluar dari LDII
    7. berhubung dia tau banget LDII maka dia berikrar akan membocorkan semua “rahasia” dan “bithonah” LDII dengan harapan LDII akan hancur dan tercipta konflik horizontal dengan masyarakat.
    8.dia masuk salafy, -karena dia tidak sepenuhnya menyalahkan ajaran LDII- maka dipilihlah salafy yang tidak jauh2 coraknya dari LDII
    9.dia mencari orang-orang yang mengerti internet untuk membantu dia mempublikasikan fitnah dan hasutannya
    10.bikin milis, bikin blog2 yang memprovokasi,memcaci maki dan menghasut LDII

    11. orang2 salafi menyambut baik para “desertir” untuk bergabung dengan salafi dan turut memfasilitasi menyebarkan fitnah.

    12. para “desertir” ini kemudian membikin “asosiasi desertir” yaitu wadah mantan2 LDII untuk bersatu menyebarkan fitnah dan hujatan.sampe2 mereka bikin pertemuan2 konyol dan forum komunikasi mantan jokam (tambah konyol..:D)

    13. kecewa LDII koq ngga bubar2 ( kasihan yaaa..yo ramdan piss ah

    Comment by muntarsih — June 11, 2008 @ 7:53 am

  5. mengapa kaum salafi-indon begitu gencar membuat blog-blog yang menghujat LDII ya?apalagi di situs audiosalaf, disitu “ulama-ulama” salafi begitu bebas mengeksperesikan kebenciannya pada LDII.direkam lagi.disave lagi. trus bebas didownload lagi. salafi indon memang antek yahudi yang memecah belah umat islam.coba antum semua buka situs-situs dan blog-blognya salafi. pasti disitu ada menu wajib yang isinya memfitnah, menghujat, mencaci,menghina, menghasut LDII dan memprovokasi masyarakat agar terjadi perpecahan. belom lagi milis-milis “karya”salafi indon yang isinya debat2 an konyol dan memfitnah LDII.kan kalo salafi ngga sejalan dengan LDII bisa melakukan dialog baik2. ngga usah pake caci maki.terus terang, banyak orang2 LDII yang awalnya simpati pada salafi kini berbalik benci pada salafi.

    Comment by tondi — June 10, 2008 @ 3:09 am

  6. betul,kenapa ya salafy begitu benci sama LDII sampe2 mereka begitu gencar buat propaganda di internet dalam bentuk blog, situs dan milis yang isinya memfitnah, mencaci, menjudge, menghujat LDII? tidak adakah cara yang lebih baik dan santun menghadapi perbedaan dengan manhaj lain? apakah salafy indonesia selalu bertindak dengan cara-cara yang menjijikan dalam menghadapi harokah yang tidak sejalan dengan mereka?

    Comment by jumiat — June 9, 2008 @ 6:06 am

  7. salah apa sih orang2 LDII pada salafy? sampai-sampai orang2 salfy sebegitu bencinya sama orang LDII?

    Comment by hutomo — June 7, 2008 @ 9:10 am

  8. LDII…..? bagus ah….ngga sesat. gua ngaji di LDII udah lebih dari 10 tahun. dan ternyata apa yang dituduhkan orang itu ternyata ngga bener. kalau LDII sesat gua pasti udah keluar dari LDII. gua akui, LDII tidaklah sempurna. masih banyak yang harus dibenahi. tapi ketidak sempurnaan itu kan hal yang wajar selama tidak melanggar hukum ALLAH dan Rasul yang sifatnya prinsip.sekarang gua tanya harokah mana sih yang sempurna menurut lo pada? salafi?, HTI?, ESQ?, FPI?, NU?, Muhammadiyah?persis? majelisrasulullah?. masing2 harokah pasti punya aspek positif dan negatif. sejujurnya demi ALLAH gua menginginkan umat Islam bersatu.apapun organisasi dan manhajnya mari kita lihat persamaan kita jangan lihat perbedaan kita. jazakalahukhoiro

    Comment by gareqo — June 6, 2008 @ 9:59 am

  9. begitulah kelakuan si ramdan setelah bergabung sama salafi

    Comment by muntarsih — June 6, 2008 @ 4:15 am

  10. bantai LDII, bunuh orang2 LDII, hidup salafi

    Comment by mohamad ramdan — June 6, 2008 @ 3:54 am

  11. Ciri Salafi adalah Suka Memaksakan Hujjah Demi Memuaskan Nafsunya

    Entah sampai kapan aku bisa membuang ingatanku akan kebencian orang-orang salafi terhadap ulama, mujahid, syuhada, mujadid atau muslim lainnya yang tidak berafiliasi dalam kelompok mereka. Terus kucoba untuk bisa menerima pemikiran mereka dalam karakterku sebagai manusia yang mendambakan ukhuwah. Tapi, entah mengapa, selalu saja kulihat dan kutemukan keanehan yang dipaksakan oleh mereka. Salah satunya adalah ketika mereka beranggapan bahwa manhaj muwazanah atau menimbang kebaikan dan keburukan bukanlah prinsip yang diterapkan oleh para salafus shalih. Mereka justru mengganggap [baca: memaksakan] bahwa metode al-Jarh wat Ta’dil-lah manhaj yang terbaik yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Alhasil, secara sadar ataupun tidak sadar, kebiasaan mengghibah, mentahdzir, menjarh, mencela, menghina bahkan memfitnah menjadi makanan yang paling lezat, yang kita yakini sebagai salah satu bentuk pembelaan terhadap agama Islam.

    Jujur tadinya aku setuju, tapi setelah memikirkannya secara tenang, menelitinya secara perlahan, justru yang kutemukan hanyalah merupakan salah satu metode yang dilakukan agar orang-orang yang belum berada dalam kelompok mereka bisa masuk kedalam hizb mereka. Contohnya metode al-Jarh wat Ta’dil yaitu melakukan jarh tanpa membicarakan kebaikannya sama sekali dari orang-orang yang dianggap menyimpang yang pernah ku bahas dalam article ini. Ternyata metode ini hanya untuk masalah periwayatan hadits dan telah habis masanya, masyaAllah…..

    Dan yang lebih mengerikan adalah ketika salah seorang yang cukup disegani dalam kelompok ini mengatakan, bahwa al-Qur’anpun melakukan hal yang sama dengan menggunakan hujjah ayat-ayat berikut ini untuk bisa menghalalkan perbuatan mereka dalam melakukan ghibah, hinaan, celaan bahkan fitnahan atas nama al-Jarh wat Ta’dil yang menurutku teramat dipaksakan,
    Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa (@) Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan (@) Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (@) Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar[Pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. isteri abu Lahab disebut pembawa kayu bakar Karena dia selalu menyebar-nyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslim. Biasanya tukang-tukang sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut] (@) Yang di lehernya ada tali dari sabut (@)
    (Qs. Al-Lahab:1-5)
    Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Qs. Al-Bayyinah:6)
    Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Qs. Al-Maidah:72)

    Beliau mengatakan, “Perhatikan ayat-ayat di atas, bagaimana Allah menyebutkan kejelekan serta kekufuran orang-orang kafir dan musyrikin tanpa sedikitpun Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kebaikan-kebaikan yang ada pada mereka.”1

    Ayat-ayat di atas adalah bukti nyata contoh yang diberikan oleh tokoh Salafi dalam rangka membenarkan pensesatan, hujatan, ghibahan, hinaan, celaan yang dilakukan olehnya dan orang-orang yang semanhaj dengannya.

    Perhatikanlah kalimat berwarna merah dan bergaris bawah di atas. Tidakkah kita bisa memahaminya untuk siapa ayat itu diturunkan??? Agar lebih jelas berikut aku pertegas kembali:

    [1] Binasalah kedua tangan abu Lahab, Dan (begitu pula) istrinya
    [2] Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik
    [3] Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”

    Kalian tahu untuk siapa tokoh ini dan para pengaku pengikut salaf menggunakan hujjahnya??? Lihatlah buku Mereka Adalah Teroris sebagai buku bantahan Aku Melawan Teroris-nya Imam Samudra. Seharusnya buku ini adalah khusus untuk membantah kesalahan Imam Samudra saja, tapi yang terjadi justru buku Mereka Adalah Teroris dibuat untuk menghujat, menjelek-jelekan, mensesatkan, menggelari dengan nama-nama yang menjijikan, menghina, mengghibah, mencela, mentahdzir, memfitnah para ulama, mujahid, mujadid yang telah diyakini ke-ISLAM-annya oleh umat tanpa ada bukti-bukti kekafiran dalam diri mereka.

    Sementara Imam Samudra hanya dijadikan batu loncatan untuk menjadikan para pembela agama semisal Syaikh Hasan Al-Banna, Syaikh Sayyid Quthb, Syaikh Ahmad Yasin, Prof. Dr. Syaikh Yusuf Qaradhawi hafizhahullah, Dr. Syaikh Safar Al-Hawali hafizhahullah, Dr. Salman Al-Audah hafizhahullah, Syaikh Dr. Nashir Al-Umar menjadi daftar hitam target ulama, syuhada, mujahid, mujadid paling berbahaya bagi kebangkitan Islam dan keamanan orang-orang kafir.

    Apakah aku harus mempercayai dan menuruti mereka padahal aku melihat secara nyata kekeliruan analogi yang mereka gunakan dalam menempatkan hujjah???

    Kemudian tokoh ini dan orang-orang yang memujanya mempertegas kembali dengan mengatakan,

    “Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kondisi orang-orang kafir serta kaum musyrikin dan munafiqin dengan menyebutkan kejelekan, kekurangan, dan kejahatan mereka tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan maupun jasa-jasa mereka.”2

    Dan mengatakan,

    “Allah menyifati orang-orang kafir itu dengan tuli, bisu, dan buta bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi (Al-A’raf:179). Allah menyebutkan orang-orang kafir yang cenderung mengikuti hawa nafsunya dan berpaling dari ketaatan kepada Allah bagaikan anjing yang menjulurkan lidahnya (Al-A’raf:175-176). Alla menyebutkan adzab yang pedih dengan berbagai bentuknya yang akan mereka terima sebagai balasan terhadap kekufuran dan keengganan mereka untuk beramal denga perintah-perintah Allah dan Rasulnya. Itu semua Allah ‘Azzawajalla sebutkan tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan dan kelebihan yang ada pada mereka dalam rangka prinsip “keseimbangan” dan “keadilan”.3

    Subhanallah, semakin jelas sudah perumpamaan yang jauh sekali dari kenyataan. Mereka menyamakan para ulama, syuhada, dan mujahidin, dengan orang-orang kafir, musyrik, dan munafiq, nau’dzu billah… Jelas ini adalah sebuah perumpamaan yang bukan hanya tidak tepat, melainkan kelewat berani. Ya, kelewat berani! Karena hal ini sudah menyentuh dasar keimanan seseorang.

    Bagaimanapun juga, orang beriman tidak bisa disamakan dengan orang kafir. Bahkan, orang yang beriman tidak boleh dibunuh (diqishash) karena dia telah membunuh orang kafir, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir-nya Syaikh Al-Albani (11612),

    “Tidaklah seorang mukmin dibunuh karena dia membunuh seorang kafir.”

    Atau hujjah dalil berikut ini,
    “Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik (kafir)? mereka tidak sama.” (Qs. As-Sajdah:18)

    Jelaslah, Allah dan Rasul-Nya membedakan antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Mereka tidak sama dan memang tidak bisa disamakan sampai kapan pun.

    Bukankah tokoh dan para pengaku-aku pengikut salaf ini sangat membanggakan bahkan mempromosikan buku yang berjudul Mengkafirkan Kaum Muslimin Sebuah Kejahatan Kaum Teroris Khawarij terbitan Hikmah Ahlus Sunnah?

    Apakah kalian hanya bangga kemudian membacanya tanpa mau tahu esensi dari isi buku yang berisi fatwa-fatwa seputar permasalahan takfir dan berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala?

    Baiklah, berikut aku kutipkan sebagian isi buku tersebut, tepatnya pada cetakan kedua, tahun 1997M, halaman 16-17,

    Abdullah bin Umar telah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya “Hai kafir!”, maka (kekafiran) itu pasti kembali kepada salah seorang dari mereka.”4

    Beliau juga berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Siapa saja yang mengkafirkan seseorang, maka salah satunya kafir.”

    Juga dari beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Apabila seseorang berkata kepada sahabatnya “Hai kafir!”, maka (kekafiran) itu wajib atas salah seorang dari mereka, apakah orang yang dikatakan kepadanya itu memang kafir, atau kala tidak maka apa yang dikatakan penuduh itu kembali pada dirinya.”5

    Dari Abi Dzar, beliau mendengarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Tidaklah seseorang menggelari orang lain dengan gelar fasik atau kafir melainkan hal itu akan kembali kepadanya kalau lawannya itu tidak demikian adanya.”6

    Hadits-hadits ini dan selainnya masih banyak lagi memperingatkan dari menggelari kaum muslimin dengan tuduhan kafir7, sebab tidak boleh mengkafirkan seorang muslim kecuali kalau ia memang jatuh dalam sesuatu yang mewajibkan kekafiran, karena seorang yang sudah jelas masuk Islam tidak boleh difasiqkan, dikafirkan, dilaknat, atau dikeluarkan dari Dienul Islam kecuali dengan bukti yang mewajibkan hal tersebut.

    Lihatlah, bagaimana buku yang menjadi rujukan mereka ini !!! Apakah mereka tidak bisa memahaminya? Atau mereka akan mengatakan, Beliau tidak mengkafirkan dengan sebutan “Wahai Kafir!”

    Maka disini aku jelaskan, Apakah bedanya Tidak mengkafirkan dengan sebutan “Wahai Kafir!” dengan menyamakan para ulama, syuhada, mujahid dengan hujjah dalil-dalil yang diperuntukkan untuk orang-orang kafir di atas???

    Tidakkah kita bisa mengambil ibrahnya? Dulu mereka menganggap kita telah mengkafirkan pemerintah atau orang-orang yang bersama dalam barisan kita dengan selalu mengungkit-ungkit firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka adalah orang-orang kafir”. (Qs. Al-Maidah:44), sekarang mereka sendiri yang telah melakukan hal yang sama seperti dugaannya terhadap kita….

    Tidakkah kita mau mengambil hikmahnya? Dulu mereka mengganggap kita telah menyempal keluar dari Islam dengan selalu mengungkit hadits iftiraq/perpecahan, “…Islam akar terpecah menjadi 73 golongan, hanya satu yang selamat….”, sekarang mereka sendiri yang telah terpecah menjadi beberapa golongan….

    Subhanallah, tidakkah kita mau mengambil hikmah atas semua kejadian ini…??? Tidakkah kita menyadari, sesungguhnya apakah yang Allah inginkan dari kita atas kejadian-kejadian yang telah kita lewati..???

    Comment by nara — June 6, 2008 @ 3:27 am

  12. LDII dari dulu udah digempur dengan fitnah, hujatan, cacian dan makian. bukannya malah bubar,malah jumlah mereka semakin banyak. data dari intelijen kejaksaan agung dan BAIS jumlah mereka sekarang sudah 18.4 juta orang.dari orang miskin sampai multi milyuner, dari prajurit sampai jenderal2, dari yang ngga pernah sekolah sampai para profesor .semua ada. angka yang lumayan.. LDII eksis semata2 supaya orang-orang menetapi quran dan sunnah. itu aja. LDII ngga ada keinginan menguasai parlemen, bersenang-senang dll yang LDII inginkan adalah bertaqwa pada ALLAH dan mewujudkan indonesia yang diridhai oleh ALLAH. fitnah terjadi karena betapa mudahnya orang percaya dengan fenomena “katanya”, “katanya” tanpa tabayyun itu saja koq.atau bisa jadi orang cemburu, iri dan dengki dengan prestasi2 yang diraih LDIIsehingga ia menyebar fitnah kemana2 termasuk lewat internet. kita tahu salah satu golongan yang akan mengalami azab kubur yang pedih adalah orang yang suka adu domba, suka menghasut, suka provokasi, suka manas-manasin sehingga terjadi permusuhan. orang2 itu akan menghadapi gada besi malaikat mungkar dan nakir dan akan dihimpit oleh bumi sampai hari kiamat. oleh karena itu, berhati2lah dengan fitnah dan hasut.

    Comment by jampang — June 5, 2008 @ 8:07 am

  13. Agar tidak terjadi kesalahpahamam antum semua bisa menyimak adab perbedaan pendapat

    ADAB KHILAF

    Oleh :

    Al-Imam Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

    Kesalahan bisa saja terjadi pada manusia termasuk para imam ketika memahami hukum-hukum Islam. Hal ini disebabkan karena manusia itu bersifat lemah sebagaimana firman Allah ,” …dan manusia itu diciptakan bersifat lemah.“ (An-Nisaa`: 28).

    Kelemahan manusia dari segi ilmu dan pengetahuannya, karena dari awal Allah mengingatkan bahwa ilmu manusia itu terbatas, sebagaimana firman-Nya,” dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. 17:85). Setidaknya ada enam hal yang membuat orang salah dan khilaf dalam memahami Islam diantaranya:

    1. Dalil belum sampai padanya.

    2. Dalil sudah sampai padanya tetapi ia lupa.

    3. Dalil sudah sampai padanya tetapi ia memahaminya lain dengan yang dimaksud dalil itu.

    4. Hadits telah sampai padanya namun telah dihapus hukumnya sedang ia belum tahu.

    5. Ia yakin bahwa dalil itu bertentangan dengan nash atau ijma` yang lebih kuat.

    6. Orang alim itu memegangi hadits dha`if atau mengambil hujjah dengan hujjah yang lemah.

    Sebab Pertama:

    Bila dalil belum sampai pada orang yang keliru, yang salah dalam menentukan hukum ini, atau dalil itu sampai namun dalam bentuk yang tidak meyakinkannya.

    Pertama, yaitu adanya dalil belum sampai pada pembicara. Kami ketahui hal itu dalam hadits shahih di Shahih Bukhari dan lainnya ketika Amirul Mu`minin Umar bin Khathab RA pergi ke Syam, dan di tengah jalan, disebutkan padanya bahwa di sana ada wabah penyakit yaitu tho`un (wabah sakit sampar/ pes). Maka dia (Umar) berhenti dan mulai minta petunjuk pada para sahabat RA. Ia minta petunjuk pada para sahabat Muhajirin dan Anshar, dan mereka berselisih dalam hal itu atas dua pendapat…Dan yang lebih kuat adalah pendapat yang mengatakan agar pulang. Dan di tengah perbincangan dan musyawarah ini datanglah Abdur Rahman bin Auf, yang tadinya ia tidak hadir karena ada keperluan, lalu ia berkata: Sesungguhnya aku punya pengetahuan tentang hal itu, aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu sekalian mendengar tentangnya (tho`un, wabah sakit) pada suatu tempat di bumi maka kalian jangan datang padanya. Dan apabila telah terjadi sedang kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian keluar lari darinya.“

    Jadi hukum ini adalah samar bagi para pembesar sahabat dari Muhajirin dan Anshar, sampai datangnya Abdur Rahman yang kemudian mengkhabarkan kepada mereka tentang hadits ini.

    Contoh yang lain:

    Ali bin Abi Thalib RA dan Abdullah bin Abbas RA berpendapat bahwa wanita hamil apabila suaminya meninggal maka si wanita itu ber`iddah (masa tunggu, tidak boleh nikah selama masa itu) dengan waktu yang terpanjang dari dua masa, yaitu 4 bulan 10 hari, atau sampai waktu melahirkan kandungan. Apabila ia melahirkan kandungan sebelum 4 bulan 10 hari, maka iddahnya belum gugur, dan masih tersisa sampai habisnya masa 4 bulan sepuluh hari. Sedang kalau telah selesai masa 4 bulan 10 hari namun belum lahir kandungannya, maka ia tetap masih dalam `iddahnya sampai lahirnya kandungan. Karena Allah Ta`ala berfirman;

    “ Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu `iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.“ (At-Thalaq: 4).

    Dan Allah berfirman:

    “Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu sekalian dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan diri mereka (ber`iddah) 4 bulan 10 hari.“ (Al-Baqarah: 234).

    Dua ayat itu ada yang umum dan ada yang khusus arahnya. Jalan mengumpulkan antara kedua ayat, umum dan khusus arahnya itu dipegangi dengan bentuk pengumpulan (menjama`) keduanya. Tidak ada jalan ke arah itu kecuali yang ditempuh oleh Ali dan Ibnu Abbas RA; tetapi As-Sunnah adalah di atas yang demikian itu. Sungguh telah ditetapkan dari Rasulullah SAW dalam Hadits Sabi`ah Al-Aslamiyah bahwa ia nifas setelah meninggal suaminya dalam beberapa malam, maka Nabi SAW mengizinkan padanya untuk menikah/ bersuami“. Yang demikian itu artinya kita memegangi ayat Surat At-Thalaq yang dinamai Surat An-Nisaa` As-Shughraa, yaitu keumuman firman-Nya: “ Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu `iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.“ (At-Thalaq: 4).

    Dan kami mengetahui secara ilmul yaqin bahwa hadits ini kalau telah sampai pada Ali dan Ibnu Abbas pasti keduanya berpegang padanya secara pasti, dan mereka berdua tidak menggunakan pendapatnya.

    Kedua, kadang hadits telah sampai pada orang alim tetapi penyampaian kutipan/ riwayatnya tidak tsiqqoh (terpercaya) dan orang alim itu berpendapat bahwa hadits itu menyelisihi dalil yang lebih kuat , maka ia memegangi dalil yang dipandang lebih kuat. Kami mencontohkan juga, bukan dalam kalangan orang setelah sahabat tetapi di dalam sahabat sendiri.

    Fathimah binti Qois RA ditalak suaminya pada talak tiga yang terakhir, lalu suaminya mengirimkan padanya (Fathimah) –sejumlah gandum—sebagai nafakah baginya selama `iddah., tetapi ia marah dan tidak mau mengambil gandum itu, lalu keduanya mengangkat (masalah itu) kepada nabi SAW, maka Nabi mengkhabarkan padanya: Bahwasanya tidak ada nafakah baginya dan tidak ada tempat tinggal (dari bekas suami). Hal itu karena ia (suami) mentalak ba`in (talak yang ketiga kalinya), sedangkan talak ba`in itu tidak ada padanya nafakah dan tempat tinggal yang diwajibkan atas suaminya kecuali kalau yang ditalak itu dalam keadaan hamil. Karena firman Allah Ta`ala:

    “Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin…“ (At-Thalaq:6).

    Umar RA atas sunnah ini ia samar, maka ia berpendapat bahwa bagi wanita tertalak ba`in itu memperoleh nafakah dan tempat tinggal, dan ia menolak hadits Fathimah karena memungkinkan bahwa Fathimah telah lupa, maka Umar berkata: Apakah kita akan meninggalkan firman Tuhan kita karena perkataan seorang perempuan yang kita tidak tahu apakah ia ingat atau lupa? Ini artinya bahwa Amirul Mu`minin Umar bin Khathab RA tidak yakin terhadap dalil ini, dan ini seperti yang terjadi pada Umar dan orang selainnya dari para sahabat dan lainnya dari Tabi`in (generasi setelah sahabat Nabi SAW), terjadi pula bagi orang setelah mereka dari para pengikut Tabi`in. Dan demikian seterusnya sampai hari ini bahkan sampai hari Qiyamat, akan ada orang yang tidak yakin terhadap sahihnya dalil.

    Betapa banyak kita lihat pendapat ahli ilmu, di dalamnya ada hadirts-hadits, lalu sebagian ahli ilmu memandang bahwa itu shahih maka mereka memeganginya, dan sebagian ahli yang lain memandangnya dha`if (lemah) maka mereka tidak memeganginya dengan memandang karena tidak adanya keterpercayaan pada penukilannya (periwayatan) dari Rasulillah SAW.

    Sebab kedua:

    Hadits telah datang pada sang ahli ilmu tetapi ia lupa.

    Maha Agung, Allah yang tidak pernah lupa. Betapa banyak manusia yang lupa suatu hadits, bahkan kadang lupa suatu ayat. Rasulullah SAW “Beliau shalat pada suatu hari di dalam (mengimami) sahabat-sahabatnya maka ia gugur suatu ayat dalam keaadaan lupa“. Dan beliau itu bersama Ubay bin Ka`ab RA. Maka ketika beliau telah beranjak dari shalatnya, Ubay berkata: “Tidakkah engkau yang telah mengingatkanku tentang ayat“, sedangkan beliaulah yang diituruni wahyu, dan sungguh Allah telah berfirman kepada beliau:

    “Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.“ (Al-A`laa: 6-7).

    Dari sini—yakni hadits telah sampai pada seseorang tetapi ia lupa—ada satu kisah, Umar bin Khathab bersama Ammar bin Yasir RA ketika keduanya diutus oleh Rasulullah SAW dalam suatu keperluan, lalu dua-duanya, Amar dan Umar semuanya junub (berhadats besar). Adapun Ammar maka ia berijtihad dan berpendapat bahwa bersuci dengan debu itu seperti bersuci dengan air. Maka ia berguling-guling di atas tanah seperti bergulingnya binatang melata, agar supaya debu meratai badannya, seperti air meratai badannya, dan ia shalat. Adapun Umar RA maka ia belum shalat.. Kemudian keduanya datang kepada Rasulullah Saw maka beliau menunjuki keduanya kepada yang benar. Dan beliau bersabda kepada Ammar: “Sesungguhnya kamu cukup hanya menepukkan kedua tapak tanganmu begini—dan beliau memukulkan kedua tapak tangannya ke bumi satu kali—kemudian yang kiri mengusap atas yang kanan—dan luar dua tapak tangannya dan wajahnya.

    Dan Ammar RA menceritakan hadits ini dalam masa kekhalifahan Umar, dan masa sebelumnya, tetapi Umar mengundangya pada suatu hari dan berkata padanya (Ammar): Hadits apakah yang kamu ceritakan ini? Lalu Ammar mengabarinya dan berkata: Apakah Engkau tidak ingat ketika Rasulullah SAW mengutus kita (berdua) dalam suatu keperluan, lalu kita berdua junub, maka adapun engkau belum shalat, sedangkan aku maka berguling-guling di atas tanah, maka Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya cukup kamu hanya menepuk begini dan begini“. Tetapi Umar tidak ingat yang demikian itu, dan ia berkata: Bertaqwalah kamu kepada Allah wahai Ammar. Lalu Ammar berkata kepada Umar: “Kalau kamu menghendaki orang yang dijadikan Allah untuk taat padamu ini agar tidak menceritakannya (hal itu tadi) maka kerjakanlah.“ Lalu Umar berkata kepadanya: “Kami kuasakan padamu apa yang kamu kuasai—artinya maka ceritakanlah hal itu pada orang-orang–“ Maka kalian melihat sekarang bahwa Umar lupa kalau Nabi SAW menjadikan tayammum di dalam keadaan jinabat itu seperti dalam keadaan hadats kecil.

    Dalam hal ini Abdullah bin Mas`ud telah mengikuti Umar. Dan terjadi tukar pendapat (munadharah) antara dia (ibnu Mas`ud) dan Abu Musa Al-Asy`ari RA dalam perkara ini, maka Abu Musa mengemukakan kepada Ibnu Mas`ud ucapan Ammar kepada Umar. Lalu Ibnu Mas`ud berkata, apakah kamu tidak memandang bahwa Umar tidak puas dengan perkataan Ammar. Lalu Abu Musa berkata: Kita tinggalkan perkataan Ammar, lantas apa yang kamu katakan dalam hal ayat ini, yakni ayat Al-Maaidah: 6 (“….dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.“) Maka Ibnu Mas`ud tidak mengatakan sesuatupun, tetapi tidak diragukan lagi bahwa yang benar itu adalah yang bersama jama`ah yang mengatakan bahwa junub itu bertayamum, sebagaimana orang yang berhadats kecil bertayamum. Dan yang dimaksud itu adalah bahwa manusia itu kadang lupa maka ia samar terhadap hukum syar`i. Lalu bila ia mengatakan suatu perkataan maka pendapatnya itu ma`dzur (tidak bisa dijadikan hujjah). Tetapi orang yang mengetahui dalil maka dia kuat. Inilah pembicaraan mengenai dua sebab terjadinya perbedaan pendapat.

    Sebab yang ketiga:

    Dalil telah sampai padanya (ahli ilmu) tetapi ia memahaminya berbeda dengan yang dimaksud dalil itu.

    Kami akan mengambil dua contoh untuk masalah ini, pertama dari Al-Quran, dan yang kedua dari As-Sunnah.

    1. Dari Al-Quran: Firman Allah Ta`ala:

    “Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)…“(An-Nisaa`: 43).

    Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam makna “au laamastumun nisaa`“ (An-Nisaa`:43). Sebagian mereka memahami bahwa yang dimaksud itu adalah mutlaknya menyentuh, sedang yang lain memahami bahwa yang dimaksud lafal itu adalah menyentuh yang membangkitkan syahwat, dan ulama yang lain lagi memahami bahwa yang dimaksud lafal itu adalah jima` (bersetubuh), dan pendapat ini adalah pendapat Ibnu Abbas RA.

    Jika Anda renungkan ayat itu maka Anda dapati bahwa yang benar itu adalah orang yang berpendapat bahwa lafal `laamastum` itu artinya jima` (bersetubuh). Karena Allah Tabaraka wa Ta`ala menyebutkan dua macam dalam bersuci pakai air, yaitu bersuci dari hadats kecil dan besar. Dalam hal hadats kecil, firman-Nya: “…maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki..“ (Al-Maaidah:6).

    Adapun hadats besar maka firman-Nya: “..dan jika kamu junub maka mandilah..(Al-Maaidah: 6).

    Dan yang dikehendaki oleh ilmu balaghah dan bayan (ilmu sastra Arab) hendaknya disebutkan pula kewajiban bersuci dua hadats dalam bersuci pakai tanah/ dengan tayammum. Maka firman Allah Ta`ala :“atau kembali dari tempat buang air“ itu menunjukkan kepada kewajiban bersuci hadats kecil. Dan firman-Nya:“atau kamu telah menyentuh perempuan“ (al-Maaidah:6) menunjukkan kepada kewajiban bersuci dari hadats besar.. Kalau kita jadikan “almulaamasah“ (saling bersentuhan) di sini dengan arti “allams“ (menyentuh), maka pastilah dalam ayat itu disebutkan dua kewajiban bersuci, dari hadats kecil dan besar. Sedangkan di sini tidak disebutkan sama sekali tentang kewajiban bersuci dari hadats besar, maka pemahaman ini menyelisihi apa yang dituntut oleh balaghahnya (kejelasan makna) Al-Quran. Maka orang-orang yang memahami ayat itu bahwa maksudnya adalah mutlaknya menyentuh, mereka mengatakan: kalau lelaki menyentuh kulit wanita maka batallah wudhu`nya, atau jika menyentuhnya karena syahwat maka batal, sedang tanpa syahwat maka tidak batal. Yang benar adalah tidak batal dalam dua keadaan itu (menyentuh ataupun menyentuh dengan syahwat). Sungguh telah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mencium salah satu isterinya, kemudian beliau pergi ke shalat dan tidak berwudhu. Riwayat itu datang dari berbagai jalan yang saling kuat menguatkan.

    2. Dari As-Sunnah: Ketika Rasulullah SAW pulang dari perang Ahzab, dan beliau meletakkan beberapa tombak maka didatangi Jibril lalu berkata pada beliau: Sesungguhnya kami belum meletakkan senjata maka keluarlah ke Bani Quraidhah. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk keluar, dan bersabda:

    لا يصلين أحد العصر إلا في بني قريظة

    “Janganlah sekali-kali seseorang shalat ashar kecuali di dalam Bani Quraidhah“. (al-Hadits). Maka telah terjadi perbedaan para sahabat dalam memahaminya. Sebagian mereka ada yang memahami bahwa maksud Rasul agar cepat-cepat untuk keluar sehingga tidak datang waktu `Ashar kecuali mereka telah berada di Bani Quraidhah. Maka ketika masuk waktu `Ashar sedang mereka di tengah jalan, maka mereka shalat `Ashar dan tidak mengakhirkannya sampai keluar waktunya.

    Sebagian lainnya ada yang memahami bahwa maksud Rasulullah agar mereka tidak shalat kecuali jika mereka telah sampai di Bani Quraidhah, maka mereka mengakhirkan shalat hingga mereka sampai di Bani Quraidhah, maka mereka mengeluarkan shlat dari waktunya.

    Tidak diragukan lagi bahwa kebenaran di pihak orang-orang yang shalat `Ashar pada waktunya, karena nash-nash (teks) dalam hal wajibnya shalat pada waktunya itu muhkamah (jelas hukumnya), sedangkan sabda beliau ini tadi nashnya musytabihah (samar). Jalan ilmu (yang benar) adalah membawa yang mutasyaabih (samar) ke muhkam (yang jelas hukumnya). Jadi, termasuk faktor penyebab perbedaan adalah kalau memahami dalil tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh Allah dan Rasul-Nya, dan ini adalah sebab yang ketiga.

    Sebab keempat :

    Hadits telah sampai tetapi dimansukh (hukumnya dibatalkan) sedang si ahli ilmu belum tahu pembatalan itu, maka hadits itu sendiri shahih tetapi dibatalkan isinya, sedangkan si orang alim itu tidak tahu pembatalannya.

    Maka dalam keadaan ini ada kemaafan bagi si alim, karena hukum asalnya adalah tidak adanya pembatalan sehingga ia tahu pembatalannya.

    Dari sini Ibnu Mas`ud RA berpendapat… apa yang orang perbuat dengan tangannya ketika ia rukuk? Dulu pada awal Islam, disyari`atkan bagi orang yang shalat agar melipat kedua tangannya (tathbiiq baina yadaihi) dan meletakkan keduanya di antara dua lututnya. Ini adalah syari`at di awal Islam, kemudian dihapus. Dan jadilah yang disyari`atkan adalah meletakkan kedua tangan di dua lutut.

    Penghapusan itu telah ditetapkan, ada di shahih Al-Bukhari, sedangkan Ibnu Mas`ud RA dulu belum tahu naskh/ penghapusan hukum itu, maka ia melipat dua tangannya (yuthobbiqu baina yadaihi), lalu ia shalat di sisi `Alqomah dan Aswad, kedua orang itu meletakkan dua tangan mereka di lutut mereka, tetapi Ibnu Mas`ud RA melarang mereka berdua dari yang demikian, dan menyuruhnya untuk melipat…. kenapa? Karena ia (Ibnu Mas`ud) belum tahu penghapusan hukum itu, sedangkan manusia itu tidak dibebani kecuali sekadar usaha dirinya… Allah Ta`ala berfirman:“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.“ (Al-Baqarah: 286).

    Sebab kelima:

    Si `alim meyakini bahwa dalil itu bertentangan dengan dalil yang lebih kuat berupa nash atau ijma` (teks ayat/ hadits atau kesepakatan ulama).

    Artinya, dalil itu sudah sampai pada si alim yang mencari dalil, tetapi ia memandang bahwa dalil itu bertentangan dengan nash atau ijma` yang lebih kuat. Dan ini banyak dalam hal perbedaan para imam. Betapa seringnya kita dengar orang yang menukil ijma` tetapi dia jika merenungkannya sebenarnya bukan ijma`.

    Di antara yang paling aneh, apa yang dinukil dalam hal ijma`, bahwa sebagian mereka berkata: Mereka telah sepakat atas diterimanya kesaksian budak.. sedang orang-orang yang lain berkata: Telah mereka sepakati bahwa kesaksian budak itu tidak diterima. Ini di antara yang aneh penukilannya, karena sebagian manusia apabila orang di sekitarnya telah sepakat atas suatu pendapat maka ia mengira bahwa tidak ada perbedaan bagi mereka, karena keyakinannya bahwa hal itu sesuai kehendak nash, maka terkumpul dalam perasaannya dua dalil, nash dan ijma`. Dan kadang ia memandangnya sebagai telah sesuai tuntutan qiyas/ analogi yang benar dan teori yang benar, maka ia menghukumi bahwa hal itu tidak ada perbedaan. Dia yakin tidak ada perbedaan terhadap nash yang tegak di sisinya ini dengan qiyas shahih di sisinya, padahal sebenarnya perkara itu bertentangan.

    Bisa kami contohkan hal itu dengan pendapat Ibnu Abbas RA dalam masalah riba fadhl (tambahan).

    Telah ada ketetapan/ shahih dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:

    إنما الربا في النسيئة

    “Sesungguhnya riba itu hanyalah dalam hal nasii`ah (lipat ganda).“

    Dan telah tetap dari Nabi SAW dalam hadits Ubadah bin Shamit dan lainnya:

    أن الربا يكون في النسيئة وفي الزيادة

    “Bahwa riba itu ada dalam nasii`ah dan dalam ziyadah (penambahan).“

    Dan telah sepakat para ulama setelah Ibnu Abbas bahwa riba itu ada dua bagian: riba fadhl dan riba nasii`ah. Adapun Ibnu Abbas maka ia menolak kecuali riba dalam nasii`ah saja. Contohnya, kalau kamu menjual satu sho`a (kati) gandum (dibeli) dengan dua kati dari tangan ke tangan (seketika langsung) maka bagi Ibnu Abbas tidak apa-apa. Karena ia memandang bahwa riba itu hanya nasii`ah saja. Dan jika kamu jual –misalnya– satu mitsqol emas (dibeli orang) dengan dua mitsqol emas secara langsung tangan dengan tangan maka bagi Ibnu Abbas itu bukan riba. Tetapi jika pengambilannya itu ditunda, kamu memberiku satu mitsqol sedangkan aku belum memberikan gantinya kecuali setelah berpisah maka itu riba. Karena Ibnu Abbas RA memandang bahwa pembatasan ini mencegah jatuhnya riba dalam hal selainnya. Dan sudah diketahui bahwa: “innamaa“ itu memberi pengertian batasan (hashr) maka menunjukkan bahwa selain itu berarti bukan riba. Tetapi sebenarnya apa yang ditunjuk oleh Hadits Ubadah itu menunjukkan bahwa fadhl (kelebihan dari penukaran barang yang sama) itu termasuk riba. Karena Rasulullah SAW bersabda:

    من زاد أو استزاد فقد أربى

    “Barangsiapa menambah atau minta tambah maka sungguh ia telah meribakan.“

    Jadi, bagaimana sikap kita terhadap hadits yang dijadikan dalil oleh Ibnu Abbas? Sikap kita hendaknya membawa hadits itu ke arah yang bisa untuk dicocokkan dengan hadits lain yang menunjukkan bahwa riba itu ada juga dalam hal fadhl (kelebihan), dengan kita katakan: Sesungguhnya riba yang keras itu yang disandarkan padanya ahli jahiliyah dan yang terdapat dalam firman Allah Ta`ala: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda.“ (Ali Imran: 130). Sesungguhnya itu hanyalah riba nasii`ah. Adapun riba fadhl maka ia bukan riba yang keras lagi besar. Oleh karena itu Ibnu Qoyyim berpendapat dalam kitabnya I`laamul Muwaqqi`ien bahwa pengharaman riba fadhl itu termasuk bab pengharaman sarana, bukan dari bab pengharaman tujuan.

    Sebab keenam:

    Si alim memegangi hadits dha`if atau mengambil hujjah dengan dalil yang lemah.

    Ini banyak sekali. Di antara contoh berdalil dengan hadits dha`if adalah pendapat sebagian ulama tentang disunatkannya shalat tasbih. Yaitu agar manusia shalat dua raka`at, membaca Al-Fatihah di dalamnya, dan bertasbih 15 kali. Demikian pula dalam ruku` dan sujud sampai akhir shalat. Itu yang tidak saya lakukan, karena saya tidak meyakininya dari segi syara`. Ulama lain memandang bahwa shalat tasbih itu bid“ah yang dibenci/ makruh, dan haditsnya pun tidak sahih. Termasuk yang berpendapat demikian itu Imam Ahmad Rahimahullah, dan ia berkata: Sesungguhnya shalat tasbih itu tidak benar dari Nabi SAW. Dan Syeikh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, sesungguhnya haditsnya (tentang shalat tasbih) itu berdusta atas nama Rasulullah.

    Sebenarnya orang yang merenungkannya akan mendapati bahwa di dalamnya ada keanehan-keanahan (syudzudz) hingga pada penisbatannya pada syara`. Karena sesungguhnya ibadah itu, kalau itu ada manfaatnya untuk hati, –dan pastilah di antaranya untuk memperbaiki hati– maka disyari`atkan di setiap waktu dan tempat. Ataupun kalau tidak ada manfaatnya maka tidak disyari`atkan. Tetapi ini dalam hadits tentang shalat tasbih yang dilakukan orang itu shalatnya tiap hari atau tiap minggu atau tiap bulan atau sekali dalam sepanjang hidupnya. Ini tidak ada yang setara dengannya dalam syara`, maka itu menunjukkan atas keganjilan-keganjilannya sacara matan (teks hadits) dan sanad (pertalian riwayat).

    Sesungguhnya orang yang mengatakan bahwa shalat tasbih itu bohong, seperti perkataan Syeikh Islam Ibnu Taimiyyah maka dia itu betul. Oleh karena itu Syeikh Islam berkata: Sesungguhnya tidak ada satu imampun yang mensunnatkannya.

    Saya mencontohkan shalat tasbih ini hanyalah karena banyaknya pertanyaan tentang itu, maka aku takut kalau bid`ah ini menjadi perkara yang disyari`atkan. Dan sesungguhnya aku hanyalah mengatakan bid`ah. Tetap aku katakannya (bahwa shalat tasbih itu bid`ah) walaupun sebenarnya berat bagi sebagian manusia. Karena kami yakin bahwa setiap orang yang mendekati Allah SWT dari jalan yang tidak ada di dalam Kitabullah atau sunnah Rasulillah maka sesungguhnya adalah bid`ah.

    Demikian pula orang yang memegangi dalil yang dha`if/ lemah dari segi dijadikan hujjah –dalil itu kuat tetapi dari segi kehujjahannya dia lemah, seperti yang dipegangi sebagian ulama mengenai hadits “Sembelihan janin (kandungan) adalah sembelihan ibunya…“ Maka yang dikenal oleh ahli ilmu dari makna hadits itu bahwa ibu janin apabila disembelih maka penyembelihan ibunya itu adalah penyembelihan bagi janin itu pula — artinya tidak perlu penyembelihan lagi bila janin itu dikeluarkan dari induknya seteleh penyembelihan. Karena janin itu telah mati dan tidak ada gunanya penyembelihan setelah mati.

    Sebagian ulama ada yang memahami bahwa maksud hadits ini… penyembelihan janin itu seperti penyembelihan ibunya, yaitu dengan memotong dua urat leher dan mengalirkan darah –tetapi ini jauh, dan yang menjauhkannya adalah tidak mendapati pengaliran darah setelah mati.

    Rasulullah Saw bersabda:

    ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكل

    “Apa (sembelihan) yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah atasnya maka makanlah“. Dan telah maklum bahwa tidak mungkin mengalirkan darah setelah mati. Inilah sebab-sebab yang aku senang untuk mengingatkannya di samping banyaknya hal yang lain, bagai lautan tak bertepi… tetapi setelah pembicaraan ini semua, apa sikap kita ?

    Manusia lantaran banyaknya sarana informasi audio visual (didengar dan dilihat) dan bacaan, dan berbeda-bedanya ulama atau perselisihan antara ahli-hali kalam (teologi) dalam media-media ini maka para manusia ragu-ragu dan berkata, siapakah yang akan kita ikuti?

    Ketika hal itu terjadi maka kami katakan sikap kita terhadap perbedaan ini- maksud saya perbedaan para ulama yang kami ketahui mereka itu terpercaya secara agama dan keilmuannya, bukan orang yang dianggap berilmu padahal mereka bukan ahlinya, karena kami tidak menganggap mereka itu ulama, dan tidak menganggap ucapan mereka itu termasuk yang dikategorikan perkataan ahli ilmu.. tetapi kami maksudkan dalam hal ini adalah ulama yang dikenal karena ketulusannya pada ummat, Islam, dan ilmu; maka sikap kami terhadap mereka itu ada dua arah:

    1. Bagaimana mereka para imam itu menyelisihi apa yang dikehendaki Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya? Dan ini bisa diketahui jawabnya dengan apa yang telah kami sebutkan tadi berupa sebab-sebab terjadinya perbedaan, dan yang tidak kami sebutkan. Sebab-sebab itu banyak, dan akan tampak bagi penuntut ilmu walaupun tidak sampai luas ilmunya.

    2. Bagaimana sikap kita terhadap pengikut-pengikut mereka? Lalu siapa yang akan kita ikuti dari para ulama itu? Apakah manusia akan mengikuti seorang imam dan tidak akan keluar dari pendapat imamnya walaupun kebenaran berada pada ulama lainnya, seperti kebiasaan orang-orang fanatik madzhab? Ataukah akan mengikuti yang dalilnya lebih kuat walaupun menyeleisihi apa yang dinisbatkan kepada para imam? Jawabnya adalah yang kedua itu. Wajib bagi orang yang mengetahui dalilnya untuk mengikuti dalil walaupun menyelisihi imam, apabila tidak menyelisihi ijma` (kesepakatan) ummat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa seseorang selain Rasulullah SAW itu wajib dipegangi ucapannya, baik berbuatnya maupun tidak berbuatnya pada setiap keadaan dan setiap waktu, maka sungguh ia telah bersaksi kepada selain Rasul dengan ketentuann-ketentuan kerasulan. Karena seseorang tidak bisa perkataannya itu menjadi hukum kecuali Rasulullah SAW dan tidak ada seorangpun ucapannya wajib dipegangi dan larangannya harus ditinggalkan kecuali Rasulullah SAW.

    Akan tetapi perkara itu masih menyisakan satu teori/ pandangan, karena kita masih tetap mempertanyakan siapa yang mampu untuk mengistinbatkan hukum (menarik kesimpulan) dari dalil-dalil? Ini suatu problema, karena setiap orang bisa mengatakan: Sayalah orangnya yang berhak. Dan ini sebenarnya tidak baik, dari segi tujuan maupun pokoknya. Yang baik yaitu kalau penuntun manusia itu kitab Allah dan Sunnah rasul-Nya, tetapi keadaan kita membuka pintu bagi setiap orang yang mengerti untuk berbicara dengan dalil. Kalau seseorang tidak tahu makna dan kandungan dalil, maka kita katakan: Kamu mujtahid (orang yang berijtihad/ mencurahkan pikiran untuk menentukan hukum) tetapi kamu berkata semaumu. Inilah yang mengakibatkan timbulnya kerusakan syari`at dan keruskan makhluk dan masyarakat. Sedangkan manusia dalam hal ini terbagi menjadi 3 golongan:

    1. Orang alim yang Allah beri rizqi ilmu dan kefahaman.

    2. Penuntut ilmu yang memiliki sebagian ilmu, tetapi ia belum sampai derajat yang mendalam itu.

    3. Orang awam yang tidak tahu apapun.

    Adapun yang pertama, ia berhak untuk berijtihad dan berkata, bahkan ia wajib mengatakan sesuatu yang dikehendaki oleh dalil sekalipun ia menyelisihi orang-orang yang menyelisihi dalil, karena ia diperintah untuk bersikap demikian. Allah Ta`ala berfirman:

    لعلمه الذين يستنبطونه منهم.

    “…tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahui dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (An-Nisaa`: 83).

    Dan ini adalah termasuk ahli istinbath yang mengetahui pengertian yang diitunjukkan oleh Al-Quran dan Sunnah.

    Adapun yang kedua: Orang yang Allah beri rizqi ilmu dan kefahaman tetapi belum sampai derajat yang pertama itu maka dia tidak ada halangan apabila memegangi hal-hal yang umum, mutlak, dan yang telah sampai padanya. Tetapi ia wajib menjaga hal itu dan tidak boleh lengah untuk menanyakan kepada orang yang lebih tinggi darinya yaitu ahli ilmu, karena ia (si tingkat kedua ini) kadang-kadang salah, dan kadang ilmunya tidak sampai pada suatu ketentuan khusus dari yang umum, atau yang terikat (muqoyyad) dari yang mutlak, atau telah terhapusnya apa yang ia pandang muhkam (jelas hukumnya). Sedang ia tidak tahu tentang itu.

    Adapun golongan yang ketiga: Yaitu orang yang tidak punya ilmu. Ia ini wajib bertanya kepada ahli ilmu. Karena Allah Ta`ala berfirman:“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (Al-Anbiyaa`/ 21: 7). Dan dalam ayat lain:“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui keterangan-keterangan (mu`jizat) dan kitab-kitab.“ (An-Nahl/ 16: 43-44).

    Tugas orang awam ini adalah bertanya, tetapi siapakah yang akan ditanya? Di dalam negeri itu banyak ulama, masing-masing berkata, bahwa dirinya alim, atau masing-masing dikatakan alim, maka siapakah yang akan ditanya?

    Ada yang berpendapat: Wajib atas orang awam untuk bertanya kepada ulama di negerinya yang paling terpercaya dalam hal keilmuannya. Karena sebagaimana orang yang tertimpa penyakit di badannya maka ia mencari dokter yang paling ahli, maka demikian pula hal ini, karena ilmu itu adalah obat hati. Sebagaimana kamu pilih dokter paling ahli untuk penyakitmu maka wajib pula kamu pilih ulama yang paling ahli ilmu, jadi tiada beda.

    Ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak wajib, karena orang yang paling ahli kadang tidak lebih tahu dalam setiap masalah secara sebenarnya. Pendapat ini menguatkan bahwa manusia pada zaman sahabat RA mereka bertanya kepada orang-orang. yang tidak unggul padahal ada orang yang unggul. (alfadhil).

    Yang saya pandang dalam masalah ini bahwa bertanya kepada orang yang dipandang lebih utama dalam hal agama dan ilmunya itu tidak merupakan kewajiban, karena orang yang dirinya dipandang lebih utama itu kadang juga salah dalam masalah tertentu ini, sedangkan orang yang tidak diunggulkan kadang dia benar, maka dia justru merupakan prioritas/ yang didahulukan. Pendapat yang terkuat adalah: hendaknya bertanya kepada orang yang lebih dekat kepada kebenaran karena ilmunya, wara`nya (sikap hati-hatinya), dan agamanya.

    Terakhir, aku nasihati diriku lebih dulu dan saudara-saudaraku kaum Muslimin, terutama para penuntut ilmu, apabila problema berupa masalah-masalah ilmu (agama) singgah pada manusia maka janganlah tergesa-gesa dan terburu-buru sebelum diketahui betul, lalu mengatakan, agar tidak mengatakan atas nama Allah tanpa ilmu

    Karena manusia yang memberi fatwa itu adalah perantara antara manusia dan Allah, menyampaikan syari`at Allah sebagaimana telah disebutkan dalam hadits shahih dari Rasulullah SAW: (العلماء ورثة الأنبياء) “Ulama itu adalah para pewaris nabi-nabi.“. Dan Nabi SAW mengabarkan:

    أن القضاة ثلاثة: قاض واحد في الجنة وهو من علم الحق فحكم به

    “Bahwa hakim itu ada tiga: Hakim yang satu ada di dalam surga yaitu orang yang mengetahui kebenaran maka ia menghukumi dengannya.“

    Demikian pula yang penting apabila terjadi problema padamu maka ikatkanlah hatimu kepada Allah dan bersikap butuh padaNya agar Dia memahamkanmu, memberimu ilmu, terutama dalam perkara-perkara besar yang samar bagi kebanyakan orang.

    Sebagian guru-guru kami telah mengingatkan padaku bahwa sebaiknya orang yang ditanya tentang suatu masalah hendaknya memperbanyak istighfar, mengambil dalil dari firman Allah:“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, suapaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ (An-Nisaa`: 105-106).

    Karena memperbanyak istighfar itu mengakibatkan hilangnya bekas-bekas dosa yang dosa itu menyebabkan lupanya ilmu dan timbulnya kebodohan. Seperti firman Allah Ta`ala: “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya…“ (Al-Maaidah: 13).

    Disebutkan dari Imam As-Syafi`i bahwa ia berkata:

    “Aku mengeluhkan titik rendah buruknya hafalanku

    Maka Dia menunjukiku agar meninggalkan maksiat-maksiat

    Dan Dia berkata, ketahuilah bahwa ilmu itu bagai cahaya

    Sedang cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.“

    Maka tidak diragukan lagi ketika itu hendaknya istighfar sebagai sebab untuk membukakan pintu Allah atas seseorang..

    [Dinukiil dengan sedikit adaptasi dari Al-Khilaaf bainal `ulamaa` asbaabuhu.. wa mauqifunaa minhu, Al-Muhaadhorootu ats-Tsamiinah fiimaa yajibu an ya`rifahul muslimu `an diinih oleh As-Syaikh Muhammad As-Shalihh Al-`Utsaimin, Maktabah Daru Thabariyah, cetakan I, 1995/ 1415H).

    Comment by abu fathimah — April 3, 2007 @ 4:02 pm

  14. Hadits ” Laa imarota illa bil baeah …, “bil baeah” ini tambahan sepihak oleh Nurhasan, di hadits Darimi aslinya tidak ada, dimodifikasi oleh Nurhasan agar orang2 baiat ke ybs.
    Hadits tersebut DHAIF karena ada perawi yang MAJHUL bernama SHOFWAN bin RUSTUM.
    Hadits DHAIF tidak pernah dijadikan hujjah oleh ulama dimanapun didunia, kecuali oleh LDII.

    Comment by Ramdan — April 3, 2007 @ 12:28 pm

  15. Semoga hati kita dibersihkan dari nafsu syaitho laknat jahanam. Semoga semua yang menulis ini telah sadar akan segala akibatnya. Barang siapa yang menyebarka fitnah, maka dia akan bertanggung jawab di ahdapan Alloh nanti. Hanya kepada Alloh kita takut dan berpasrah diri. Mudah-mudahan Alloh senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Amin

    Comment by anto — December 30, 2006 @ 10:36 am

  16. Para saudara2 yang mengaku ber Iman ( org Islam )cobalah kita kembali ke sunnah Rosullah,semoga Sunnah ini dapat menjadi pedoman asalkan rujukan kita achklakullqorimah,bukan achklaknya umat2 kebanyakan saat ini yang lebih mencintai dunia dari ackhiratnya sbb ; Utsman bin Affan R.A berkata ” Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan,niscaya Allah akan menampakkan tanda-tanda amalan itu pada dirinya,bila amalannya baik ,niscaya akan kelihatan baik,dan bila amalannya buruk ,niscaya akan kelihatan buruk.(Rowahu Baihaqi)

    Comment by Dede — October 31, 2006 @ 9:08 am

  17. assalamu’alaikum
    Para Saudara Ysh.
    Insya Allooh dalil-dalil tidak ada yang menyimpang mas. Yang menyimpang ya manusia itu sendiri atau oknum manusia yang tidak bisa dengan baik menerima ilmu agama dengan baik karena terlalu keras mengurusi dunia, ketika waktu belajar/mengaji telah datang langsung terus melamun, terus ngobrol, terus ngantuk, terus tidur, tidak konsentrasi apa yang disampaikan guru atau penashihat, apa yang dinashihatkan, sehingga meremehkan ilmu dan nashihat, ketika selesai tidak ada yang dibawa bahkan akhirnya bisikan syaithon laknatullooh hinggap pada diri orang itu yang akhirnya menjadi curiga terus, curiga terus, curiga terus tidak ada henti-hentinya. Jika merasa capai, lelah, lemas, ngantuk tak terkendali tapi tetap karena Allooh dan ketika selesai mencari ilmu dan mendengarkan nashihat bisa menerima. Atau seorang guru/ustadz yang baik akhirnya menjadi oknum karena salah niat, karena sakit hati, karena kurang syukur, karena merasa harus jadi tempat segala jawaban, karena melihat kepentingan dunia akhirnya bisikan syaithon laknatullooh hinggap pada diri orang itu yang akhirnya menjadi curiga terus, curiga terus, curiga terus tidak ada henti-hentinya. Akhirnya orang-orang tersebut dengan bangga berkata saya telah bebas dari quran hadits jamaah. Dan bisa jadi pula sekarang dengan merasa bangga pula meninggalkan mengaji mencari ilmu agama (quran hadits jamaah)yang merupakan kewajiban muslim tetapi bangga dengan kitab karangan ucapan-ucapan rojul ahli fikir bahkan sama sekali tidak mencari ilmu, meninggalkan pengamalan ilmu agama (quran hadits jamaah) tetapi mengamalkan kitab-kitab karangan ucapan-ucapan rojul ahli fikir bahkan tidak beramal/beribadah sama sekali, meninggalkan membela agama Allooh (quran hadits jamaah)tetapi hanya membela diri sendiri bahkan bukan Allooh dan rosulullooh SAW yang dibela, meninggalkan jamaah (quran hadits jamaah) tetapi berjamaah dengan anti quran hadits jamaah bahkan seperti anak ayam kehilangan induknya, meninggalkan ketoatan Allooh dan rosulullooh SAW tetapi toat kepada kitab-kitab karangan rojul-rojul ahli fikir bahkan melakukan kemaksiatan terhadap peraturan-peraturan Allooh dan Rosulullooh SAW.
    Para saudara ini hanya sekedar nashihat saja bagi kita semua tidak ada maksud menyakiti hati siapapun, sebagaimana disampaikan web ldiiwatch.wordpress.com ini.
    Semoga hidayah Allooh tetap selalu pada diri kita.
    Mohon maaf bila ada kata yang kurang baik dan tidak berkenan.
    Jaza kumulloohu khoiro
    wassalamu’alaikum

    Comment by abu altov — July 17, 2006 @ 9:40 am

  18. Penyimpangannya dimana? sudah hampir 3 bulan sejak diterbitkan kok belum ada ulasannya padahal disitu dijanjiin akan ada pembahasan lengkap menyusul.
    Apa sampeyan perlu tanya dulu ke ustad ustad yang anti LDII atau mantan mantan LDII yang banyak berkeliaran baru bisa menulisnya?.

    Comment by kardiman — July 14, 2006 @ 7:00 am

  19. Para saudara,
    Curiga terhadap dalil, naudzubillaah.
    Curiga merupakan tiupan/bisikan syaithon laknatullooh kepada hati manusia dengan upadayanya sehingga manusia memiliki rasa : dengki, iri, jahat, su’udzon, tidak mau bersyukur, menolak kebenaran, meremehkan pada yang lain, menjadi sombong, takabur, sok punya otak, sok punya ilmu, sok punya pangkat, sok jadi boss, menganggap remeh dosa, menimbun dosa, melakukan perbuatan tidak baik, tidak bisa fatonah berbudi luhur, memandang orang menjijikan, suka melakukan pelecehan, suka dengan fitnah-fitnah, berbuat kerusakan, berbuat kemaksiatan, tidak percaya Qodar Allooh, tidak bisa mengontrol diri, mudah pusing kepala, mudah naik darah, mudah kena penyakit hati, akhirnya jadi teman syaithon laknatullooh, karena terpengaruh oleh tiupan/bisikan syaithon laknatullooh. Awas hati hati terhadap curiga, awas hati hati terhadap curiga, awas hati hati terhadap curiga. CURIGA ADALAH MAKANAN ORANG GILA YANG DIBERIKAN SYAITHON LAKNATULLOOH. lebih baik husnudzon saja, tenang saja, kalem saja, rileks saja. Ingatlah mati datang sewaktu-waktu, maka jangan mati dengan CURIGA berarti mati penasaran, mati tidak tenang, mati yang berakhir dengan curiga berarti mati dalam keadaan su’ulkhotimah.

    Comment by abu altov — July 12, 2006 @ 9:04 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: