LDII Watch

July 10, 2006

[Kliping] Bai’at dalam timbangan syariat Islam – Hukumnya

Filed under: Kliping Artikel Kontra LDII — ldiiwatch @ 3:42 pm

Penulis: Al Ustadz Qomar Su’aidi

Masalah bai’at cukup ramai dalam dunia dakwah, simpang siur pendapat dalam masalah ini cukup membuat bingung para penganut jama’ah dakwah bahkan para aktivisnya. Namun sangat disayangkan kebanyakan mereka tatkala membahas masalah yang satu ini tidak merujuk kepada penjelasan para ulama Ahlussunnah.

Bahkan mereka mengambil hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini, lalu mereka memahaminya dengan akal pikiran mereka sendiri. Lebih parah jika kemudian disesuaikan dengan kepentingan pribadinya, kelompoknya atau pahamnya, sehingga bai’at menjadi jaring atau tali pengikat para pengikut jama’ah dakwah untuk tidak lepas darinya. Kalau tetap saja lepas maka… Tak sedikit orang dianggap kafir dan diberlakukan padanya hukum-hukum orang kafir di dunia dan akhirat karena tidak berbai’at.

Nah kami mengajak anda para pembaca untuk mengetahui sejauhmana sesungguhnya ajaran Islam tentang bai’at ini. Oleh karenanya mohon tulisan sederhana ini dibaca dengan seksama, tanpa curiga sampai tuntas pada akhirnya kemudian kita koreksi amal kita dengan penuh kejujuran dan keadilan. Sehingga kita tidak menjadikan bai’at sebagai sarana kepentingan pribadi maupun kelompok bahkan semata-mata melakukan agama Allah yang mulia. Semoga Allah memberikan kepada kita petunjuk kepada jalan yang lurus dan Ia ridhoi.

Definisi bai’at
Shiddiq Hasan Khan (wafat:1307 H) dalam bukunya ‘Iklil al karamah’ hal:26 mengatakan: Ketahuilah bahwa bai’at adalah berjanji untuk taat, seolah-olah seorang yang berbai’at berjanji kepada pimpinannya untuk menyerahkan kepadanya urusan dirinya dan urusan kaum muslimin untuk tidak menentangnya pada masalah apapun dalam urusan itu serta mentaatinya pada apa yang ia bebankan kepadanya dari perintahnya baik dalam keadaan suka atau duka.

Dulu jika mereka berbaiat kepada pimpinan dan mengikat janjinya mereka meletakkan tangan di atas tangan pimpinannya untuk menekankan janji itu, sehingga dengan itu mereka menyerupai perbuatan penjual bersama pembelinya maka dinamailah Bai’at. Bentuk mashdar dari kata ( باع ) -yang berarti menjual- sehingga jadilah kata bai’at berarti berjabat tangan.

Hukum bai’at
Tidak diragukan lagi tentang disyariatkanya berbaia’at hal itu karena banyaknya hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan tentang bai’at ini, demikian pula menunjukan bahwa beliau membai’at para sahabatnya dalam beberapa kesempatan. Diantaranya :
عن مجاشع بن مسعود السلمي قال : جئت بأخي أبي معبد إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد الفتح فقلت يا رسول الله بايعه على الهجرة قال قد مضت الهجرة بأهلها قلت فبأي شيء تبايعه قال على الإسلام والجهاد والخير
Dari Mujasyi’ bin Mas’ud as Sulami saya berkata Aku datang bersama saudaraku Abu ma’bad kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam setalah fathu makkah (pembukaan kota Makkah) maka saya katakan: Wahai Rasulullah: Bai’atlah dia untuk berhijrah. Beliau mengatakan: Sesungguhnya hijrah telah berlalu bersama orang-orang yang melakukannya. Saya katakan: Lalu diatas apa engkau membai’atnya? Ia berkata: Di atas Islam, jihad dan kebaikan. {shahih, HR Muslim no:4804 cet, Darul Ma’rifah]

عن عبد الله بن عمر يقول : كنا نبايع رسول الله صلى الله عليه وسلم على السمع و الطاعة يقول لنا فيما استطعت
Dari Abdullah Ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu, ia mengatakan: Dulu kita berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk patuh dan taat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Pada apa yang aku mampu” [Shahih, HR Muslim no: 4813 cet, Darul Ma’rifah] Yakni katakan: “Pada apa yang aku mampu” – demikian jelas an Nawawi.

Al Qurthubi (Wafat.671 H) dalam tafsirnya (1:272 cet. Darus Sya’b) mengatakan: Dan jika kepemimpinan telah terwujud…maka wajib bagi rakyat seluruhnya untuk membai’atnya untuk patuh dan ta’at untuk menegakkan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka barangsiapa yang tidak berbai’at karena udzur dia diberi udzur/maaf dan barangsiapa yang tanpa udzur maka dia dipaksa (untuk berbai’at), agar kesatuan kaum muslimin tidak terpecah.

Demikianlah syar’inya bai’at, lantas apa hukuman bagi mereka yang tidak berbaiat?
Tentu ia telah meninggalkan sesuatu yang disyariatkan.
Apa hukumannya kafir atau berdosakah dia?
Kalau berdosa, tentu namun untuk dikatakan kafir apa dalilnya?

Barangkali ada orang mengatakan dalilnya adalah Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
Barangsiapa yang meninggal dan pada lehernya tidak terdapat baiat (tidak berbai’at) maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyyah. [Shahih, HR Muslim no:4770 cet:darul ma’rifah]
dimana Nabi mengatakan mati jahiliyyah, berarti kafir.

Menjawab pernyataan itu kami katakan bahwa perlu dipahami hal-hal berikut:
1. Secara umum kata jahiliyyah itu sendiri tidak menunjukan kufur karena makna Jahiliyyah terambil dari kata (الجَهْل ) jahl yang berarti bodoh. Jaman jahiliyyah adalah jaman kebodohan, yang dimaksud dalam istilah syariat kita adalah keadaan yang ada padanya orang-orang arab sebelum Islam dari kebodohan terhadap Allah, para Rasul-Nya dan syariat-Nya.
Kebodohan yang dimaksud mencakup beberapa hal:
1. Tidak tahu yang haq.
2. Meyakini lawan dari al haq.
3. Mengatakan sesuatu yang tidak benar apakah dia tahu kebenaran atau tidak.
4. Semua yang menyelisihi apa yang dibawa Rasul termasuk yahudi dan nasrani.
[lihat: Iqtidho’ Shiraatil mustaqim:1/256-259 dan Kitabut Tauhid karya Shalih al Fauzan:21-22]

Oleh karenanya sebagian dosa disebut jahiliyyah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tapi tidak bararti bahwa dosa itu kekafiran sama sekali. Contohnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الفًخْرُ فِي الأَحْسَابِ وِ الطَّعْنُ فِي الأَنْسَابِ وَ الإِسْتِسْقاَءُ بِالنُّجُوْمِ وَ النِّيَاحَةُ
Ada empat perkata pada umatku termasuk karakter jahiliyyah mereka tidak akan meninggalkannya: berbangga dengan kebanggaan nasab, mencela nasab, minta hujan dengan bintang dan meratapi mayat [Shahih, Hadits Riwayat Muslim dari Abu Malik al Asy’ari]
Sehingga kalau hadits diatas ditafsiri kufur hanya karena kata jahiliyyah maka tidak benar.

2. Bahwa kata miitah (مِيْتَةً ) dengan mengkasrohkan mim seperti dikatakan Imam an Nawawi (wafat: 676 H) dalam syarah Muslim (juz :12 hal: 441) Isim ini dalam ilmu nahwu menunjukkan Hai’ah, maksudnya adalah menunjukan keadaan. Jadi artinya:…mati seperti keadaan jahiliyyah. Nah, kesamaan dengan jahiliyyah disini dalam hal apanya? Karena kita tahu bahwa keadaan jahiliyyah itu mencakup banyak hal, kalau dikatakan semua keadaannya sama, tentu tidak benar. Kalau dikatakan sebagian keadaannya, maka pada keadaan yang mana? Untuk mengetahuinya kita perlu kembali kepada penjelasan para Ulama bukan dengan menafsiri hadits semau kita demi kepentingan kita baik secara pribadi atau jama’ah. Untuk itu saya akan nukilkan ucapan para ulama dalam menafsirkan hadits itu.

Imam Nawawi mengatakan maksud hadits itu: Maksudnya seperti keadaan matinya orang jahiliyyah dari sisi mereka itu kacau tidak punya imam [syarh Shahih Muslim:12/441]

Ibnu Hajar (wafat:852 H) mengatakan: Yang dimaksud (mati dalam keaadaan jahiliyyah) adalah keadaan matinya seperti matinya orang jahiliyyah yakni diatas kesesatan tidak punya imam yang ditaati karena mereka dulu tidak tahu yang demikian. Bukan yang dimaksud ia mati kafir, bahkan (maksudnya) mati dalam keadaan maksiat…[fathul bari syarah Shahih Bukhari:13/7]

As Suyuthi (wafat: 911 H) mengatakan: Yakni seperti matinya orang-orang jahiliyyah diatas kesesatan dan perpecahan [Zahrurruba, syarah Nasa’I juz:7-8/139]

As Sindi (wafat:1138 H) mengatakan: Yang dimaksud seperti matinya orang-orang jahiliyyah diatas kesesatan bukan yang dimaksud kekafiran [hasyiah/catatan kaki pada Nasa’I juz:7-8/139]

Jadi, dari penjelasan para ulama pada Syarah Bukhari, Muslim dan Nasa’i kita tahu bahwa tidak satupun dari mereka manafsiri kata jahiliyah itu dengan makna kafir, oleh karenanya ambillah keterangan dari mereka.

Barangkali juga ada orang berdalil dengan hadits berikut, untuk mengatakan bahwa orang yang keluar dari jama’ah dan tidak berbai’at kafir, yaitu hadits:
من فارق الجماعة شبرا فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه
Barangsiapa yang memisahkan dari jama’ah sejengkal, maka ia telah melepas kalung Islam dari lehernya [Shahih, HR Abu Dawud dengan lafadz ini dan dishahihkan oleh syekh al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud:4758 dari sahabat Abu Dzar]
Apa sesungguhnya makna ‘ia melepas kalung Islam dari lehernya’ apakah artinya kafir?

Secara ringkas kita katakan: Tidak, karena kita melihat ancaman/vonis yang sama dengannya dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من تولى غير مواليه فقد خلع ربقة الإيمان من عنقه
Barangsiapa (budak) yang berwali kepada selain tuan yang membebaskannya maka Ia telah melepas kalung keimanan dari lehernya
[Shahih, HR ahmad dalam musnadnya:3/332 dan dishahihkan oleh syekh al Albani dalam Silsilah ash Shahihah no:2329 dan dalam Shahih Jami’ as Shaghir no: 6181 dengan lafadz : ربقة الإ سلام ‘kalung keislaman’ ]

Al Imam an Nawawi menerangkan hadits yang semakna dengannya dalam syarah shahih muslim katanya: Di dalamnya terdapat larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seorang budak yang dibebaskan untuk berwali kepada selain yang membebaskan dan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknatinya …dan ini haram karena ia menelantarkan hak orang yang memberikan nikmat padanya [syarah Shahih Muslim :10/388, cet Darul ma’rifah]

Demikian pula ancaman yang sama ada dalam ucapan Abdullah Ibnu Abbas seperti yang diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dari sufyan ats Tsauri dari Ibrahim Ibnul Muhajir dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa ia menawarkan kepada budaknya kebutuhan pernikahan dan beliau mengatakan: Siapakah diantara kalian yang mau kebutuhan nikah? sesungguhnya tidaklah seorang pelaku zina melakukan zina kecuali Allah akan cabut darinya kalung Islam maka jika Allah ingin mengambalikannya Allah akan kembalikan dan jika Allah tidak ingin mengembalikannya maka tidak Allah kembalikan. [Riwayat Abdurrazzaq dalam al Mushonnaf :7/417]

Pada dua riwayat diatas terdapat vonis ‘ia telah melepas kalung Islam dari lehernya’ bagi dua pelaku dosa yaitu seorang budak yang tidak berwali kepada yang membebaskannya dan seorang yang melakukan perbuatan zina. Sedangkan kita ketahui bersama dalam pandangan ahlussunnah wal jama’ah bahwa dua perbuatan itu adalah dosa yang tidak mencapai derajat kekafiran dan pelakunya tidak dikafirkan (dipertegas dengan hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang lain bahwa beliau bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang mengatakan Lailaha illallah lalu mati diatas kalimat itu maka ia akan masuk surga.” Abu Dzar mengatakan, “walaupun berzina dan mencuri ?” Nabi mengatakan “walaupun berzina dan mencuri . Abu Dzar mengatakan,”walaupun berzina dan mencuri ?” nabi mengatakan, “walaupun berzina dan mencuri.” sampai ia katakan tiga kali dan yang keempat kalinya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan: “walaupun abu Dzar tidak suka.” kemudian Abu Dzar keluar dan mengatakan, “walaupun Abu Dzar tidak suka”. [HR Muslim no:269 cet Darul Ma’rifah] – pen). Sehingga vonis diatas tidak menunjukkan kekafiran.

Demikian pula ketika vonis itu diberikan kepada orang yang tidak berbai’at maka sama saja maknanya yakni tidak keluar dari Islam menuju kekafiran, namun jatuh dalam pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah, sebagaimana kita akan lihat penjelasan ulama pada kata خلع ربقة الإسلام من عنقه ‘ia telah melepas kalung Islam dari lehernya’:

Mari kita melihat keterangan para ulama:
Nu’aim bin Hammad mengatakan kepada Sufyan bin ‘Uyainah: apa pendapatmu tentang sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Barangsiapa yang meninggalkan jama’ah maka ia telah menanggalkan kalung Islam dari lehernya’ maka Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan: Barangsiapa yang meningalkan jama’ah ia telah menanggalkan ketaatan kepada Allah dan tidak berserah diri kepada perintah-Nya, kepada Rasul dan kepada pimpinan dan saya tidak mengetahui seseorang diberi hukuman lebih dari hukuman mereka ……Ini pada orang-orang Islam [at Tamhid karya Ibnu Abdil bar 21:283]

Al Khattabi (wafat:388 H) mengatakan:
Ribqoh artinya sesuatu yang dikalungkan di leher binatang..(Maksudnya) dia telah tersesat dan binasa dan menjadi seperti binatang jika dilepaskan dari kalungnya yang terikat padanya maka binatang tersebut tidak aman dari binasaan dan hilang [Aunul ma’bud syarh sunan Abu Dawud:13/72-73]
Al Mubarakfuri mengatakan: Ribqoh…maksudnya apa yang diikatkan oleh seorang muslim pada dirinya dari ikatan Islam yakni batasan-batasannya, hukum-hukumnya, perintah-perintah dan larangannya. Sebagian mengatakan: ia telah membuang perjanian Allah, membatalkan tangung jawabnya yang melekat pada leher-leher hamba. [ tuhfatul Ahwadzi syarah sunan at Tirmidzi :8/131]
Al Munawi mengatakan: (Maksudnya) menyepelekan aturan-aturan Allah, perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya serta meninggalkannya secara keseluruhan [faidhul Qodir:6/11]
As Suyuthi mengatakan: Maksudnya apa yang diikatkan oleh seorang muslim pada dirinya dari ikatan Islam yakni batasan-batasannya, hukum-hukumnya, perintah-perintah dan larangannya. [Syarh Suyuthi pada sunan an Nasa’i:8/65]

Demikian kata para ulama, tidak terdapat dari mereka tafsir bahwa maksudnya kafir dan keluar dari Islam.

Tata cara berbai’at
Tata cara berbai’at kepada Imam adalah sebagaimana dijelaskan oleh al Ubbi dalam bukunya Syarah Muslim: 4/44, katanya: Barangsiapa yang termasuk anggota ahlul halli wal Aqd dan yang masyhur maka bai’atnya dengan ucapan dan bersalaman dengan tangannya jika dia hadir, atau dengan ucapan saja serta dipersaksikan jika dia tidak hadir. Dan cukup bagi yang tidak dikenal dan tidak diketahui hanya dengan meyakini bahwa ia berkewajiban untuk mentaati pimpinan tersebut serta tunduk dan taat padanya baik dalam keadaan tersembunyi atau terang-terangan serta tidak meyakini sebaliknya (yakni lawan dari keyakinan yang disebutkan,pent), kalau ia menyembunyikan keyakinan itu (tidak berbai’at) lalu mati, maka matinya seperti keadaan jahiliyyah, karena ia tidak menjadikan pada lehernya bai’at. [dinukil dari fiqih siasah syariyyah:157]

Kepada Siapa Kita Berbai’at
Ini yang sangat perlu kita ketahui karena banyak terjadi kesalahpahaman sehingga demikian banyak bai’at-bai’at di dunia ini, banyak kelompok-kelompok menjadikan pimpinannya sebagai amir lalu membai’atnya dengan berdalil hadtis-hadits nabi tentang bai’at. Oleh karenanya akan kami nukilkan disini penjelasan sebagian ulama dalam hal ini.

Syekh Shaleh al Fauzan ditanya tentang bai’at, jawabnya: Bai’at tidak diberikan kecuali kepada waliyul amr-nya (penguasa) kaum muslimin adapun bai’at-baiat yang ada ini adalah bid’ah itu akibat dari adanya ikhtilaf, yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin yang mereka berada di satu negara atau satu kerajaan hendaknya bai’at mereka cuma satu dan untuk satu pimpinan …[Fiqh as Siyasah as Syar’iyyah:281]

Syekh Abu Zaid mengatakan: Bahwa bai’at dalam Islam hanya satu, yaitu dari orang-orang yang memiliki kekuatan (ahlul hali wal ‘aqdi) untuk waliyul amr/pimpinan dan penguasa kaum muslimin [Hukmul intima:163]

Nah, bagaimana jika kaum muslimin tidak punya khalifah yang menguasai mereka diseluruh dunia ini, lantas kepada siapa mereka berbai’at?
Jawabnya bahwa bai’at itu diberikan kepada pimpinan kaum muslimin yang muslim di masing-masing negara atau kerajaan mereka, yakni kita sebagai rakyat bisa berbai’at dengan cara meyakini berkewajiban untuk mentaati pemimpin tersebut serta mendengar dan taat padanya baik dalam keadaan tersembunyi atau terang-terangan serta tidak meyakini sebaliknya, semampu kita pada perkara yang baik menurut syari’at dan tidak mengandung maksiat.

Yang demikian ini dibenarkan karena ini keadaan darurat. Memang pada asalnya kaum muslimin mestinya punya satu pimpinan tapi jika itu tidak bisa terwujud di suatu saat maka hukumnya lain, sebagaimana keterangan para ulama berikut ini:
Ibnu Taimiyyah (wafat: 728 H) menjelaskan: Sunnahnya kaum muslimin itu memiliki satu imam (Yakni –Wallahu a’lam- khalifah yang memimpin kaum muslimin sedunia – pen) dan yang lain itu adalah para wakilnya. Seandainya jika sebuah umat keluar/memisah darinya karena perbuatan maksiat dari sebagian umat itu atau karena adaya kelemahan dari yang lain sehingga umat itu memiliki beberapa imam. (Sehingga kaum muslimin terpisah-pisah, masing-masing dengan pimpinan negaranya atau kerajaannya di negeri-negeri mereka. Wallahu a’lam. – pen) Maka wajib atas setiap imam (pimpinan negara) untuk menegakkan hukum-hukum had dan memenuhi hak-hak…ini di saat para amir/imam (pimpinan negara) itu berpecah dan berbilang. [Majmu’ Fatawa :34/175]

As Shan’ani (wafat: 1182 H) mengatakan ketika menerangkan hadits: “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jama’ah lalu mati maka matinya seperti mati jahiliyyah.” [HR Muslim]
‘keluar dari ketaatan’ : Maksudnya ketaatan kepada khalifah yang disepakati, seolah-olah (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maksudkan khalifah/pimpinan daerah manapun dari daerah-daerah yang ada, karena manusia (sejak) di masa daulah Abbasiyyah tidak bersepakat pada satu orang khalifah diseluruh negeri-negeri Islam bahkan penduduk setiap daerah menyendiri dengan pimpinan yang mengurusi urusan mereka. Dimana kalau hadits itu dibawa/difahami kepada satu orang khalifah yang telah disepakati orang Islam (seluruhnya, pent) maka faedah hadits itu tentu menjadi kecil. [Subulussalam:3/499 dinukil dari buku Mu’amalatul hukkam:35]

Asy Syaukani (wafat: 1255 H) mengatakan: Adapun setelah tersebarnya Islam dan meluasnya daerahnya serta ujungnya berjauhan, maka dimaklumi bahwa jadilah kekuasaan di tiap daerah dari daerah-daerah untuk seorang Imam atau penguasa, demikian pula pada daerah yang lain. Dimana perintah dan larangan sebagian pimpinan itu tidak terlaksana pada selain wilayahnya atau beberapa wilayah yang dibawah kepemimpinannya. Oleh karenanya tidak mengapa berbilangnya pimpinan dan penguasa (bukan hanya satu pimpinan). Dan atas penduduk negeri yang terlaksana padanya perintah dan larangan (aturan-pent) pimpinan tersebut, wajib mentaati pimpinannya. Demikian pula keadaannya pada daerah yang lain. Serta tidak wajib bagi penduduk daerah lain untuk mentaatinya (selain pimpinannya) dan tidak pula (wajib) masuk dalam kepemimpinannya…ketahuilah hal ini! karena itulah yang sesuai dengan kaedah-kaedah syari’at dan sesuai dengan dalil-dalil [As Sailul Jarror:4/512 dinukil dari Mu’amalatul hukkam:37 dan ar Raudhatun Nadiyyah: 2/774-775]

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab (wafat:1206 H) juga mengatakan: Para Imam dari setiap madzhab bersepakat bahwa seseorang yang berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri maka penguasa itu memperoleh hukum imam dalam segala hal. Kalaulah tidak demikian maka (urusan) dunia ini tidak akan tegak karena manusia sejak waktu yang lama sebelum Imam Ahmad sampai hari ini mereka tidak sepakat pada seorang imam/pimpinan. Demikian pula mereka tidak mengetahui seorangpun dari ulama menyatakan bahwa sesuatu dari sebuah hukum tidak akan sah kecuali dengan imam terbesar (khalifah seluruh kaum muslimin). [Ad Durar as Saniyyah:7/239 dinukil dari mu’amalatul hukkam:34 lihat pula dalam masalah ini iklilul karamah:127]

Siapa Imam yang dimaksud?
Apakah setiap yang mengaku imam dimanapun ia berada berarti dia Imam/pimpinan yang boleh kita berikan bai’at padanya? Tentu tidak.

Sebagaimana kata Shiddiq Hasan Khan: “Tidak terdapat di dalam kitab (al Qur’an), sunnah (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), ucapan sahabat ataupun Ijma’ bahwa seseorang yang mengajak manusia untuk membai’atnya kemudian ia dianggap sebagai Imam sekedar dengan itu, yang harus ditaati dan haram diselisihi. Bahkan yang ada dalam hadits itu (bunyinya) orang yang berbai’at kepada seorang Imam maka ia wajib mentaatinya dan haram menyelisihinya, demikian pula yang terjadi pada para Khulafaurrasyidin (para Khalifah yang diberi petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, red) sesungguhnya tidak seorangpun dari mereka mengajak (manusia) kepada dirinya dan mengatakan: ‘Aku adalah Imam aku mengajak kalian untuk taat kepadaku dan berbai’at kepadaku’. Bahkan mereka membenci yang demikian…”[Iklilul Karamah:127]

Pimpinan yang dimaksud wajib ditaati adalah pimpinan yang ada pada negara atau kerajaan, yang diketahui serta yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mentaati para pimipinan yang ada dan diketahui (keberadaanya) yaitu yang punya kekuasaan (dan) mampu dengan kekuasaan itu untuk mengatur manusia (masyarakatnya), bukan mentaati orang yang tidak ada atau tidak diketahui keberadaanya bukan pula orang yang tidak punya kekuasaan dan kemampuan atas sesuatu sama sekali [Minhajussunnah Nabawiyyah:1/115 dinukil dari Mu’amalatul Hukkam:39] yakni yang punya kekuatan untuk melaksanakan tujuan-tujuan kepemimpinan, jika dia memerintahkan untuk mengembalikan hasil perbuatan dhalim maka akan dikembalikan dan jika seandainya ia memberikan hukum had maka akan ditegakkan, serta jika memberikan hukuman ta’zir (Ta’zir adalah hukuman yang tidak ada ketentuan tetapnya, bahkan hukuman yang disesuaikan dengan keadaan pelaku pelanggarannya dan pelanggarannya itu sendiri dan ditentukan sesuai kebijakan hakim- pen) akan diterapkan pula pada rakyatnya [Mu’amalatul hukam:40, perhatikan pula ucapan-ucapan ulama sebelumnya]

Pada Perkara Apa Ditaati
Tentu ketaatan itu sebatas pada perkara yang baik menurut syari’at, apakah dengan tegas dinyatakan baik oleh syari’at atau pada perkara yang tidak secara tegas dinyatakan baik namun menurut kaedah-kaedah umum dalam syari’at bahwa itu baik. Adapun perintah maksiat maka tidak perlu didengar dan ditaati. Sebagaimana dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ خَالِقٍ
Tidak ada ketaatan pada makhluq dalam bermaksiat kepada Khaliq [Shahih, HR Ahmad, at Thabrani, al Hakim dan yang lain dengan lafadz at Tabrani disahihkan oleh syekh al Albani dalam Silsilah ash Shahihah:179]
لا طاَعَة فِي المَعْصِيَةِ َ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي اْلمَعْرُوْفِ
Tidak ada ketaatan pada maksiat, ketaatan itu hanya dalam kebaikan [Shahih, HR Bukhari dan Muslim]

فَإِنْ أَمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
Maka jika diperintahkan dengan perbuatan maksiat maka tidak dipatuhi dan tidak ditaati [Shahih, HR Muslim]

Bagaimana jika berbuat kejam?
Walaupun jahat, dhalim, bermaksiat, fasiq, mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok atau kepentingan asing, tapi selama ia masih muslim dan belum keluar dari keislamannya maka wajib ditaati pada perkara yang baik. Berdasarkan sabda Nabi berikut ini:
شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَ يُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ . قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ:لاَ مَا أَقَامُوْا فِيْكُمْ الصَّلاَة َوَ إِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
Sejelek-jelek pimpinan kalian adalah yang kalian membencinya dan mereka membenci kalian, yang kalian melaknatinya dan melaknati kalian. Dikatakan kepada beliau; Wahai Rasulullah tidakkah kita melawannya dengan pedang (senjata)? Beliau mengatakan: “Jangan! selama ia mendirikan shalat pada kalian, dan jika kalian melihat pada pimpinan kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalnya dan jangan kalian cabut tangan kalian dari ketaatan [Shahih, HR Muslim]

Ubadah bin ash Shamit mengatakan:
بَايَعْنَا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَ عُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَ اَثَرَةٍ عَلَيْنا وَ أَلاَّ نُنَازِعَ اْلأَمْرَ أَهْلَهُ ، قَالَ إِلاَّ أَنْ تَرَوا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُُمْ فِيْهِ مِنَ اللهِ بُرْهَانٌ

Kami berbaiat kepada Rasulullah untuk patuh dan taat baik dalam keadaan kami giat atau terpaksa, susah atau mudah dan dalam keadaan mereka mengutamakan diri mereka dari pada kami dan agar kami tidak merebut urusan (kepemimpinan) dari pemiliknya. Beliau bersabda: Kecuali kalian melihat kekafiran yang nyata yang kalian memiliki bukti tentangnya dari Allah [Shahih, HR Bukhari dan Muslim]

Bai’at model lain
Dengan kita mengetahui bai’at yang Sunnah maka semua yang selain itu seperti baia’tnya Ikhwanul muslimin, Jama’ah Tabligh, NII, LDII dan kelompok-kelompok lain kecil maupun besar adalah bid’ah sebagaimana dikatakan oleh syekh Shalih al Fauzan: “Bai’at tidak diberikan kecuali kepada waliyul amr-nya (penguasa) kaum muslimin. Adapun bai’at-baiat yang ada ini adalah bid’ah itu akibat dari adanya ikhtilaf, yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin yang mereka berada di satu negara atau satu kerajaan hendaknya bai’at mereka cuma satu dan untuk satu pimpinan…”[dinukil dari Fiqh as Siyasah as Syar’iyyah:281]

Demikian pula dikatakan oleh syekh Abu Zaid: “Bai’at ini (bai’at sufi atau bai’at kelompok-kelompok) adalah bai’at bid’ah dan baru.” [Hukmul intima’:162]

Mengapa dihukumi bid’ah? Karena alasan-alasan berikut ini:
– Kaum muslimin terutama generasi awal umat ini dan setelahnya dari para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in tidak mengetahuinya dan tidak mengenalnya, mereka hanya kenal satu bai’at yaitu untuk pimpinan kaum muslimin sebagimana keterangan di atas.

Said bin Zubair –seorang Tabi’in- mengatakan: Sesuatu yang tidak diketahui oleh para ahli Badr (sahabat ahli badar) maka bukan bagian dari agama [Fatawa:4/5 dinukil dari Hukmul Intima’:165]. Imam Malik mengatakan: “Sesuatu yang semasa sahabat bukan sebagai agama, maka hari ini juga bukan sebagai agama.” [idem]
– Islam telah melarang berbilangnya bai’at, yakni tatkala di sebuah negeri telah dibai’at seorang pimpinan maka dilarang membai’at yang lain apa lagi yang lain itu hanya seorang yang mengaku imam dan tidak punya kekuasaan, bahkan ia dikuasai oleh pimpinan di negeri tersebut. Nabi bersabda :
إذا بويع لخليفين فاقتلوا الآخر منهما
Jika dibai’at dua khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya [Shahih, HR Muslim dari Abu Said]
– Tidak memiliki dalil dari al Quran maupun as Sunnah ataupun Ijma’. Kalaupun mereka mendasari dengan hadits maka tentu itu berdalil bukan pada tempatnya karena hadits-hadits bai’at itu berkaitan dengan waliyyul arm- muslimin (penguasa) sebagaimana keterangan diatas bukan pada pimpinan jama’ah dan sejenisnya. Dan Nabi bersabda :
من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد
“Barangsiapa yang mengamalkan amalan bukan atas perintah/agama kami maka itu tertolak.” [Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah]
– Pengingkaran para ulama terhadapnya –dan itu memperkuat bahwa bai’at mereka tidak bersandar pada dalil- diantara ulama yang mengingkari mereka adalah Ibnu Taimiyyah, beliau mengatakan: Dan tidaklah boleh bagi seorangpun dari mereka untuk mengambil janji setia dari seorang yang lain untuk sepakat dengannya dalam segala apa yang ia inginkan dan untuk berloyal pada orang yang berloyal padanya, serta untuk memusuhi orang yang memusuhinya. Bahkan orang yang melakukan demikian itu berarti ia sejenis dengan Jenghiz Khan dan semacamnya yang menjadikan orang yang sepakat dengan mereka sebagi teman yang loyal dan yang menyelisihi mereka sebagai musuh yang jahat. [Majmu’ Fatawa:28/16].

Bahkan jauh sebelumnya diriwayatkan bahwa seorang Tabi’in bernama Mutharrif bin Abdillah bin Syikhkhir mengingkari Zaid bin Shouhan dalam hal tulisan perjanjian yang ia siapkan untuk orang lain. Mutharrif mengatakan:”…Saya mendatanginya (Zaid bin Shouhan) di suatu hari dan mereka (yang bersama zaid) sudah menuliskan sebuah tulisan serta sudah mereka rapikan redaksinya sebagaimana berikut ini: Sesungguhnya Allah Rabb Kami Muhammad Nabi kami, al Qur’an Imam kami dan barangsiapa bersama kami maka kami mendukungnya dan barangsiapa yang menyelisihi kami, maka tangan kami akan melawannya dan kami… dan kami…. Lantas ia sodorkan tulisan itu kepada seorang demi seorang dan mereka mengatakan: “Apakah engkau sudah mengikrarkannya wahai fulan?”, sehingga sampai pada giliran saya maka mereka pun mengatakan: “Apakah kamu sudah mengikrarkannya wahai anak?” Akupun menjawab: “Tidak!.” Zaid bin Shouhan mengatakan (kepada petugasnya, pent): “Jangan kalian terburu-buru pada anak ini, apa yang kamu katakan wahai anak?” Saya katakan: “Bahwa Allah telah mengambil janji atas diriku dalam kitab-Nya, maka saya tidak akan mengambil janji lagi selain janji yang Allah telah ambil atas diriku.” Maka kaum itupun akhirnya tidak seorangpun dari mereka mengikrarkannya. [Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya:2/204 dengan sanadnya sampai kepada Mutharrif] dan jumlah mereka saat itu kurang lebih 30 orang.
– Pendahulu mereka yang melakukan bai’at ini adalah aliran sufi dimana merekalah yang dikenal mengunakan cara ini untuk mengikat murid-muridnya.
– Baiat bid’ah ini menyebabkan sekian banyak pelanggaran syari’at, diantaranya apa yang disebut dalam penjelasan setelah ini.

Akibat jelek dari bai’at yang bid’ah
Banyak sekali akibat jelek darinya diataranya:
1. Berwala’ dan bara’ bukan karena Islam tapi karena kelompok
2. Menyebabkan terpecahbelahnya umat.
3. Menyebabkan permusuhan antar sesama muslim bahkan antar kerabat, lebih dari itu tak jarang sampai saling mengkafirkan.
4. Berbuat bid’ah dan menyalahi hadits-hadits yang shahih.
5. Merendahkan muslimin yang lain dan tidak memberikan hak sesama muslim bahkan bersikap keras terhadap mereka.
6. Menimbulkan kesombongan pada diri mereka seolah merekalah yang paling benar.
7. Membuat fitnah diumat ini semakin panjang.
8. Fanatik/ta’ashub kepada Imamnya.
9. Membuka jalan bagi orang yang berkepentingan pribadi atau kelompok untuk menggunakan bai’at ini sebagai sarana memenuhi kebutuhannya.
10. Mengungkung pengikutnya dalam ruang yang sempit.
11. Hilangnya atau berkurangnya kewibawaan pemerintah.
12. Tidak ditaati atau dipatuhi penguasa yang sebenarnya.
13. Taklid buta pada amir jama’ah-jama’ah sempalan.

Bagaimana dengan yang terlanjur bai’at?
Disebutkan dalam buku Hukmul Intima’ : 164 bahwa: “Semua bai’at yang tidak ada asal usulnya dalam syari’at maka janjinya tidak harus (ditaati), atas dasar itu tidak ada dosa untuk ditingalkan dan dibatalkan, bahkan dosa itu tertimpa pada pengikat janji tersebut, hal itu karena beribadah kepada Allah dengannnya merupakan perkara yang baru/bid’ah dan tidak ada asalnya (dalam syari’at)”.

Wallahu a’lam bish showab, Allahlah yang memberi taufiq

Ditulis oleh Qomar Suaidi ( Tak lupa saya ucapkan terimakasih wa jazakumullahu khoiron kepada sebagian asatidzah yang mengoreksi dan memberikan beberapa tambahan penting diantara 3 nomor terakhir pada pembahasan akibat jelek dari bai’at bid’ah dan hadits Abu Dzar pada foot note no:1 – pen)

(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Qomar Su’aidi, Lc, judul asli “Bai’at”, yang diberikan via disket oleh al Akh Abu Muhammad Syubah.)

Sumber:

  1. http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=743
  2. http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=744
  3. http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=745
  4. http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=746

20 Comments »

  1. […] Bai’at dalam timbangan syariat Islam – Hukumnya [Kliping] Bai’at dalam timbangan syariat Islam – Hukumnya […]

    Pingback by Bai’at dalam timbangan syariat Islam – Hukumnya « AGAMA ITU NASEHAT — July 15, 2009 @ 4:30 am

  2. Kemudian ketahuilah! bahwa ancaman dengan neraka kepada semua golongan tersebut tidak berarti bahwa mereka semua akan kekal di dalam neraka. Akan tetapi barangsiapa yang menyelisihi jalan yang beliau Shallallahu’alaihi wasallam tempuh dengan para shahabatnya http://sunniy.wordpress.com/2008/07/17/islam-adalah-sunnah-dan-sunnah-adalah-islam-maka-dari-sunnah-berpegang-kepada-al-jama%e2%80%99ah-bagian-1/

    Radhiallahu’anhum, bisa jadi penyimpangan yang ia lakukan menyebabkan ia murtad, keluar dari agama Islam ini maka dia itulah termasuk orang-orang yang kekal di dalam neraka selama-lamanya. Barangsiapa yang penyimpangannya hanya juz’iyyah (sebagian) dan dia tetap dalam keadaan Islam maka dia terkena ancaman dengan neraka namun dia masih memiliki harapan sebagaimana yang diharapkan oleh orang-orang yang bertauhid, bahwa mereka akan keluar dari neraka. Hal ini berkenaan dengan hadits tentang syafaat, yakni bahwasanya Allah Tabaroka wata’ala akan mengeluarkan setiap orang dari neraka yang mati dalam keadaan bertauhid, meskipun dia hanya mempunyai sedikit keimanan. [Hadits-hadits tersebut dapat anda baca dari kitab Fathul Majid, pada Bab “Keutamaan Tauhid dan dosa-dosa yang diampuni karenanya.]
    Akan tetapi, sampai kapan waktunya seseorang akan mendekam dalam neraka? Allah subhanahu wa ta’ala yang lebih tahu tentang hal itu. Dan apabila telah warid berita dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bahwasanya orang-orang yang masuk surga terpaut waktunya satu sama lain dalam jangka empat puluh tahun, dan sebagian lainnya (akan tertahan) selama lima ratus tahun dan mereka adalah orang-orang yang telah diselamatkan dari (hukuman) neraka dan akan melewati Shiraat (jembatan), lalu bagaimana persangkaanmu dengan orang-orang yang masuk neraka…?!!
    Oleh karena itu barangsiapa yang menghendaki keselamatan bagi dirinya dan berkeinginan untuk selamat bersama dengan orang-orang yang selamat serta masuk ke dalam surga bersama dengan orang-orang yang masuk, yang dikatakan kepada mereka,
    ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ آمِنِينَ
    “(Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”. (Al Hijr: 46)
    http://sunniy.wordpress.com/2008/07/17/islam-adalah-sunnah-dan-sunnah-adalah-islam-maka-dari-sunnah-berpegang-kepada-al-jama%e2%80%99ah-bagian-1/

    Comment by hambaAlloh — July 23, 2008 @ 1:07 pm

  3. salafi memang dimana saja bikin onar, sebenarnya yang jadi korban pun bukan hanya LDII oleh fitnah dan hasutannya komplotan salafi. manhaj lain pun sama dicaci maki. mereka mengklaim siapa saja yang menghina salafi maka hukumnya adalah khawarij.khawarij mata lu…justru salafi sendiri yang khawarij, yang suka mengkafir2kan orang yang bukan golongannya. lagian herannya kalo salafi ngga suka sama keamiran yang ada di IJ ya bikin aja keamiran sendiri…beres.ngga usah nyari ribut atas nama amar ma’ruf nahi munkar. lagian kalau ada keamiran di IJ lantas kenapa? haram hukumnya? wong ada dalilnya. lagian semua orang tau ko di IJ ada keamiran. lantas kenapa? apa yang ditakuti dalam keamiran?subversi? wong keamiran cuma kepemimpinan yang sifatnya spiritual. bukan politis. urusan politis orang2 LDII setia pada UUD 1945 dan Pancasila tau..demi Allah, perintah yang ada di LDII itu adalah supaya warga LDII menjadi warga negara yang baik dan berbudi luhur.semakin kenceng saalafi menghina LDII justru semakin keliatan kalo salafi itu sebenarnya sirik ama LDII. terus terang gua dulu seneng sama salafi dan berharap terjadi penggabungan antara salafi dan LDII karena secara teologi akar dan visi mereka sama. tapi entah kenapa justru dalam dakwah mereka justru menghujat dan memfitnah LDII serta menghasut masyarakat supaya terjadi benturan sesama orang Islam. itulah kebusukan salafi. mereka kepanjangan tangan dari zionis yang ingin mengadu domba umat islam.supaya islam terpecah belah.

    percaya atau tidak, orang2 LDII yang suka mengkafir2kan orang lain justru orang2 LDII yang sekarang keluar dari LDII dan bergabung dengan salafi.lalu mereka membuat komplotan untuk menyebar fitnah.

    Comment by vedder — June 13, 2008 @ 8:56 am

  4. bagi pejuang qur’an hadits jamaah silahkan kunjungi http://firqoh.blogspot.com

    Comment by pengikut quran hadits jamaah — June 5, 2008 @ 7:01 am

  5. yess

    Comment by dt — May 9, 2008 @ 8:51 am

  6. SUATU KEKELIRUAN EMBAH NURHASAN UBAIDILLAH LUBIS ADALAH MEMBAIAT DIRINYA SEBAGAI IMAM (AMIR) SIAPA TDK MAU BERBAIAT BERARTI KAFIR.
    SEMENTARA YANG WAJIB DIBAIAT ADALAH SEORANG PEMIMPIN YANG PUNYA WILAYAH DAN KEKUASAAN TERHADAP RAKYATNYA,HUKUM DAN KETATA NEGARAAN DALAM TATANAN ISLAM.
    SEBAGAIMANA YANG PERNAH DICONTOHKAN OLEH SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AL-MASYRAFI AL-TAMIMI AL-NAJDI (1115-1206 H./ 1703-1791.)DIMANA TERJADILAH DIALOG KERJA SAMA DALAM DAKWAH DGN PANGERAN MUHAMMAD BIN SU’UD SEBAGAI PENGUASA DAERAH DIR’YAH (1139-1179 H ).SINGKAT KATA BERBAIATLAH SYEIKH KEPADA PANGERANG BESERTA MURIDNYA DAN BERJANJILAH PANGERANG UNTUK MENDUKUNG DAKWAH SALAFIYAH MEMERANGI BID’AH DAN KHURAFAT.
    UNTUK LEBIH JELASNYA BACA “GERAKAN KEAGAMAAN DAN PEMIKIRAN (AKAR IDEOLOGIS DAN PENYEBARANNYA,PENERJEMAH A.NAJIYULLAH,PENYUNTING,ABU RIDHA. PENERBIT AL-I’TISHOM CAHAYA UMAT.

    Comment by Abu Daud — July 3, 2007 @ 7:23 am

  7. silahkan kunjungi
    http://vbaitullah.or.id/content/category/3/80/89/ banyak mantan ldii

    Comment by abu fathimah — May 31, 2007 @ 2:08 pm

  8. Dilahkan baca http://www.perpustakaan-islam.com jangan apriori boleh jadi anda suka,tidak cocok campakan
    Arsip … My Artikel
    07/05/2007 Termasuk dosa besar, durhaka kepada kedua orang tua
    04/05/2007 Kemana engkau akan melangkah?
    16/04/2007 Kebodohan termasuk sifat penghuni neraka
    11/04/2007 Pokok-Pokok Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
    05/04/2007 Tahapan-tahapan dalam belajar ilmu syar’i
    28/03/2007 Belajar dari yang ushul (pokok) sebelum yang furu’ (cabang)
    28/03/2007 Belajar agama boleh dari buku atau harus langsung ke ulama?
    22/03/2007 Mengapa harus belajar ilmu syar’i?
    05/03/2007 Bolehkah menafsirkan Al-Quran dengan sains modern?
    06/02/2007 Perihal pertanyaan kubur oleh malaikat
    22/01/2007 Murnikan Agamamu!
    04/01/2007 Mu’minin, Yahudi, Nashrani, Sabi’in yang beriman
    11/12/2006 Setiap amalan tergantung niatnya
    28/09/2006 Kedaifan hadits “Menarik makmum ke belakang jika shaf depan penuh“
    28/09/2006 Makna Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi
    29/08/2006 Golongan yang sesat dalam memahami takdir
    29/08/2006 Iman kepada takdir
    28/08/2006 Kekeliruan orang yang takut mempelajari qadar karena khawatir tergelincir
    25/08/2006 Kedhaifan hadits ”Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah”
    22/08/2006 Bagaimana Agar Turun Pertolongan Allah?
    16/08/2006 Kedhaifan hadits ”Mencintai tanah air sebagian dari iman”
    15/08/2006 Ta’wil yang dilakukan imam Ibnu Hajar dan An-Nawawi
    14/08/2006 Kedhaifan hadits ”Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina”
    28/07/2006 Benarkah Jamaah-Jamaah Islam yang ada saling melengkapi?
    28/07/2006 Sifat fi’liyyah dan dzatiyyah Allah
    12/04/2006 Kenapa Harus Berdzikir
    22/02/2006 Bolehkah mengambil kebaikan pada buku-buku ahli bid’ah?
    21/02/2006 Apakah bid’ah memiliki beberapa tingkatan?
    08/02/2006 Sekitar Hajr dan Pemboikotan
    08/02/2006 Hukum Shalat Berjamaah BAGI WANITA
    08/02/2006 Beberapa Cara Shalat Malam
    08/02/2006 Kewajiban Mengikuti Manhaj Salafush Shalih
    08/02/2006 Hukum berkaitan dengan Jambang dan Jenggot
    22/10/2005 Di Tengah Iftiraqul Ummah (Perpecahan Umat)
    21/10/2005 Talbis Iblis terhadap Para Ulama
    04/07/2005 Hadits-hadits lemah tentang mengusap muka setelah berdo`a
    04/07/2005 Hadits Shahih tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur`an, Syaikh Al-Bany
    25/06/2005 Janji Allah Bagi Orang Yang Akan Menikah
    13/06/2005 Hak-Hak Istri dalam Poligami
    20/12/2004 Shalat dan Kaifiyyahnya
    16/12/2004 Silaturrahmi
    16/12/2004 Zakat al-Fithr
    06/12/2004 Kenapa Harus Menikah?
    02/09/2004 Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau memilikinya?
    18/08/2004 Hukum Nikah dalam Keadaan Hamil
    18/08/2004 Para hamba selalu membutuhkan hidayah
    09/08/2004 Beramal Perlu Ilmu!
    09/08/2004 Sudah benarkah Syahadat Laa ilaaha illallah saya?
    09/08/2004 Bagaimana Anda Beramal?
    07/08/2004 Tentang salat tahajud
    30/06/2003 Ketahuilah Wahai Hamba Allah!
    02/06/2003 Ukhti…, renungkanlah!
    23/04/2003 Nasehat Bagi Para Penghapal Al-Qur`an
    19/04/2003 Tanda Kebaikan Islam Seseorang
    10/04/2003 Solusi Tepat Problematika Umat
    25/03/2003 Ulama Salaf dalam menghadapi godaan kekuasaan
    20/02/2003 Batasan sholat jamak , karena hujan?
    20/02/2003 Juklak sesaat setelah kelahiran sampai usia 7 tahun
    20/02/2003 Ayat yang seolah mengandung pemaksaan/jabariyah
    20/02/2003 Apa yang harus kita lakukan untuk dapat menafsirkan Al-Qur’an ?
    20/02/2003 Nasehat Bagi Wanita yang Terlambat Menikah
    20/02/2003 Mengaminkan khatib dalam shalat Jumat
    13/02/2003 Pengertian Jahiliyah
    09/01/2003 Bantahan terhadap golongan sesat
    23/12/2002 Bid`ah Hasanah….? Itulah Bid`ah
    28/11/2002 Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz tentang i`tikaf
    25/11/2002 Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz tentang lailatul qadar
    19/11/2002 Hukum-hukum yang berkenaan dengan Istihadlah
    19/11/2002 Takbirnya ma`mum yang masbuk (terlambat)
    09/11/2002 Apakah sunnah Nabi saw tidak ada yang berkategori wajib ?
    08/10/2002 Khawin agama lain
    19/09/2002 Apakah para ulama pasti benar?
    16/09/2002 Kesalahan membaca assalamu `alaika ayyuhan nabiy dalam tasyahud.
    12/09/2002 Hukum-hukum berkenaan dengan haidh
    12/09/2002 Penetapan nama dan sifat Allah dengan ucapan shahabat
    08/09/2002 Khitanan
    03/09/2002 Tidak menggerakkan lidah [melafadzkan] bacaan shalat merupakan salah satu kesalahan dalam shalat
    21/08/2002 Hukum Aborsi
    21/08/2002 Hukum memutar kaset bacaan Al-Qur`an yang tidak disimak
    19/08/2002 Bagaimana membedakan ayat tentang sifat dan yang bukan?
    19/08/2002 Sembelihan ahli kitab
    19/08/2002 Apakah fatwa bisa berubah dengan menurut perbedaan tempat dan waktu?
    19/08/2002 Tentang cinta
    19/08/2002 Nikah masa kuliah
    19/08/2002 Nadzar untuk Menikah
    19/08/2002 Kelalaian yang membinasakan
    17/08/2002 Hukum Onani
    17/08/2002 Hukum Mengolok-Olok Orang Yang Teguh Menjalankan Ajaran Agama
    14/08/2002 Apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu ?
    14/08/2002 Bapak Menyuruh Anaknya Agar Mentalak Istrinya
    14/08/2002 Pakaian wanita yang sampai ke tanah dan terkena najis
    14/08/2002 Ciri-ciri darah haidh
    14/08/2002 Bersuci dari air kencing bayi
    12/08/2002 Ayat yang seolah bertentangan, Syaikh Al-Bany
    07/08/2002 Ayah.., Dengarkanlah!
    18/07/2002 Wudhu di WC
    11/07/2002 Dampak Maksiat
    07/07/2002 Kebaikan-Kebaikan Akan Menghapus Kejahatan
    07/07/2002 Tolonglah Aku …!!
    05/07/2002 Nasehat Kasih Sayang Untuk Umat Islam dan Pembawa Panji Dakwah Salaf
    27/06/2002 Apakah tabdi` hanya khusus bagi Kibarul Ulama?
    27/06/2002 Apakah Hasan Al Banna seorang mubtadi` (ahli bid`ah)?
    27/06/2002 Apakah mentahdzir khusus hanya bagi ulama?
    27/06/2002 Apa makna perkataan sebagian ulama Tidak ada qiyas dalam Sunnah?
    26/06/2002 Renungan Buat Sang Suami
    25/06/2002 Renungan Buat Sang Istri
    17/06/2002 Hukum Majalah Porno dan Bahayanya
    16/06/2002 Aurat Wanita Didepan Wanita Non Muslim
    16/06/2002 Pria mendapatkan Bidadari di Surga, wanita mendapatkan apa ?
    16/06/2002 Bolehkah wanita haidh mengikuti pengajian di Masjid ?
    15/06/2002 Kristenisasi dan Kejahatan-Kejahatannya
    15/06/2002 Berpegang dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah, mengikuti atsar salaf dan menjauhi bid`ah
    14/06/2002 Apakah perkataan Syeikh Bin Bazz tentang Muhammad Alawi Maliki
    14/06/2002 Hukum warna pakaian
    14/06/2002 Masalah adopsi menurut islam
    14/06/2002 Antara nikah dan thalabul ‘ilmi
    14/06/2002 Apakah Benar Al Quran Syi`ah itu Sama dengan Al Quran Sunni?
    11/06/2002 Wahai anakku,.. bertakwalah kepada Allah!
    07/06/2002 Nikah
    05/06/2002 Nak tahu
    05/06/2002 Hukum Mabit
    03/06/2002 Pokok-Pokok Kesesatan Syiah
    02/06/2002 Membongkar kesesatan dan kedustaan Ahmadiyah
    01/06/2002 Tauhid,…Keutamaan dan Pembatalnya
    28/05/2002 Sering tergoda
    27/05/2002 NII & Syiah
    14/04/2002 Ini Aqidah Kita dan Dakwah Kita
    03/04/2002 Syarat Dakwah dan Amar Maruf Nahi Mungkar
    03/04/2002 Adab-Adab Berfatwa dan Berijtihad
    03/04/2002 Etika Amar Maruf Nahi Mungkar
    27/03/2002 Hukum Sutrah dalam Sholat
    21/03/2002 Termasuk Syirik Memakai Cincin dan Benang dan Semisal Keduanya Untuk Menghilangkan dan Menolak Bala
    03/03/2002 Kebodohan,…penyakit yang Membinasakan
    03/03/2002 74 Wasiyat Untuk Para Pemuda
    08/02/2002 Salafiyah Bukan Organisasi
    04/02/2002 Mengapa Harus Salafy?
    14/12/2001 Hukum Shalat di Mesjid yang Ada Kuburannya.
    12/12/2001 Apakah sunnah bagi laki-laki memanjangkan rambutnya?
    10/12/2001 Hukum Memperingati Isra & Mir`aj
    09/12/2001 Kedudukan Akal Didalam Islam
    06/12/2001 Manhaj Golongan Yang Selamat
    06/12/2001 Tata Cara Thoharah dan Shalat Orang Sakit
    06/12/2001 Hukum Sholat Jamaah (Bagi laki-laki)
    06/12/2001 Hakekat Tasawuf
    06/12/2001 Sikap Kepada Penguasa Yang Dhalim
    05/12/2001 Ibnu Saba Bukan Tokoh Fiktif
    05/12/2001 Apakah Hukum Asunransi Dalam Islam ?
    05/12/2001 Penentuan Hilal bulan Ramadhan dan Syawal
    02/12/2001 Seputar Bulan Syaban
    02/12/2001 Membendung makar syiah – Membela Sahabat Nabi shallallahualaihi wa sallam
    02/12/2001 Tanda-tanda Ahlul Bidah
    02/12/2001 Pokok Pokok Bidah
    02/12/2001 Muhasabah Harian Setiap Muslim Muhasabah Harian Setiap Muslim Muhasabah Harian Setiap Muslim
    02/12/2001 Definisi Bid’ah
    02/12/2001 Bolehkah wanita berziarah kubur ?
    01/12/2001 Dasar-dasar memahami Tauhid

    Comment by muslim — May 31, 2007 @ 2:01 pm

  9. buat apa taqlid buta pada website

    Comment by M.siregur — May 31, 2007 @ 2:24 am

  10. Silahkan simak Saudaraku?
    Perbedaan Antara Ba’iat Sunnah Dan Ba’iat Hizbiyyah ?http://www.almanhaj.or.id/content/1731/slash/0
    Hukum Ba’iat Dan Hukum Menisbatkan Diri Kepada Jama’ah Yang Menerapkan Sistem Sirriyah dan Ba’iah? http://www.almanhaj.or.id/content/1524/slash/0
    Baiat Aqabah Pertama Dan Kedua Terjadi Sebelum Tegaknya Negara Islam ?http://www.almanhaj.or.id/content/305/slash/0
    Ba’iat Dengan Berbagai Macamnya Tidak Diberikan Kecuali Kepada Khalifah Kaum Muslimin
    http://www.almanhaj.or.id/content/283/slash/0
    Ketaatan Kepada Amirul Mukminin Muncul Dari Ba’iat Yang Hanya Diberikan Kepadanya Sajahttp://www.almanhaj.or.id/content/268/slash/0
    Ba’iat Secara Syar’i Dan Kebiasaan Tidaklah Diberikan Kecuali Kepada Amirul Mukminin Dan Khalifah
    http://www.almanhaj.or.id/content/243/slash/0

    Comment by abu fathimah — May 29, 2007 @ 5:01 am

  11. Assalamu ‘alaikum,
    Untuk mas Coki& selainya silahkan
    kunjungi http://abusalma.cjb.net/,abasalma.wordpress.com

    Comment by abu fathimah — March 29, 2007 @ 1:06 pm

  12. Ass.wr.wb

    Banyak ilmu pengetahuan yang saya dapat dari tulisan pak Qomar ini. Jadi, saya menangkapnya begini: bai’at adalah syar’i; dan karenanya bagus. Omong-omong apa pak Qomar sudah berbai’at pada seseorang yang Anda yakini sebagai pemimpin. Atau apakah pemimpin yang dipatuhi adalah secara tak langsung pemerintah RI?

    Saya dari unsur NII, ishallah bukan seperti yang di patrol indramayu itu. Jangan pukul rata gitu dong, pak Qomar. banyak (komandemen) wilayah dari NII yang masih murni mengharapkan ridhallah, ngga ngafir-ngafirkan orang lain, hormat dan santun kepada tetangga.

    Di masa lalu kami berada di D1, sekitar 20 tahun lalu kerna beberapa hal menjadi termasuk wilayah 7. Sekarang mungkin sebutannya kw 7′. Cukup miskin hingga belum punya mesjid sendiri. jadi kami shalat dan menjadi makmum di mesjid mushalla mana saja, di rumah, di kantor atau di perjalanan.

    Warga NII ga fanatik-fanatikan. sebagian besar dari kami cuma takut kalo berhukum tidak pada hukum Allah. Dan dalam diskusi yang cukup panjang (bertahun-tahun) kami tetap pada kesimpulan menegakkan (agama) hukum Allah itu, kok, rasa-rasanya hanya bisa terwujud bila negara ini menjadi negara Islam. Sebagain dari kami kepingin cepat jadi terpecah menjadi fillah dan fisabilillah. Yang belakangan ini memilih jalan revolusi bersenjata. jadilah kami semua diburu oleh pemerintah.

    Sebagian kw yang ndukung teori fisabilillah disusupi intel, dipecah-belah, diperalat, dibodoh-bodohi menjadi yang sekarang ramai disebut teroris. Padahal, wah yaa saya ga tau juga. Tapi rasanya ga mungkin Imam Samudra C.s (semoga mereka dirahmati Allah) secara skill mampu melakukan pemboman itu. Itu terlalu besar. Mestinya mereka semata dikadalin aja.

    Oke pak Qomar, jangan pukul rata. Kalo memang yang Anda maksud si Toto Zaitun itu, Ya benar. Salam…!

    Comment by coki — March 16, 2007 @ 10:19 am

  13. #

    Islam yang betul melenceng dari sunnah itulah yang mengatakan presiden adalah Imamnya (Uli Amri )inilah yang membuat kerusakan dimuka bumi,sehingga Islam menjadi berfirkoh-firkoh dikendalikan oleh politik negaranya sehingga negara Islam sama negara Islam saling berperang mengaku paling benar membela sunnah,kebetulan kalau Presidennya beragama Islam kalau presidennya Islam abangan?atau Nasrani gimana tuh? inilah Islam produk kapitalis,Imperialis yang akan mengukuhkan legitimasi pemimpinnya,peninggalan colonialis francis,Inggris,Belanda terhadap bangsa Asia tenggara,afrika dan arab yang mayoritas Islam.sehinga arti keimaman dalam Islam diputar balikan.padahal Rosul-Rosul dari Adam hingga Muhammad dahulu yang mereka bangun adalah jama’ah bukan pemerintahan.setelah jama’ah terbangun otomatis tatanan dan syariat akan tumbuh.

    Comment by Cinta Islam — January 10, 2007 @ 8:04 am

  14. Betul mas Arief saya setuju. dan bagi yang suka menjelek-jelekan orang lain, marilah kita berkaca dulu dan apakah tidak takut ancamannya.
    Sudahlah kita lebih baik banyak mendekatkan diri kepada Alloh, banyak berdoa dan minta petunjuk-Nya. Ingat, hidup ini sebentar dan setelah itu tidk ada kesempata lagi untuk memperbaiki diri. Mudah-2 an Alloh meberikan hidayah-Nya kepada kita.

    wasssalam

    Comment by anto — December 30, 2006 @ 10:13 am

  15. Pak ustad yg di hormati, permasalahan anda itu menurut aku tidak mencerminkan seorang ustadz tapi teroris.
    Biarkanlah mereka beragama islam dgn peraturannya masing-2 yg penting sesuai dengan tunutnan islam yaitu alqur’an & hadist.
    Adapun pemahaman itu terserah pada pemikiran mereka.
    aku rasa anda hanya mencari kesalahan org lain tp belum tentu anda yg paling benar.
    Apa yg diajarkan nabi itu utk mencari kesalahan org lain.
    Nabi telah memberi teladan sewaktu beliau berjalan menuju masjid beliau dilempari batu dan diludahi mukanya namun Rasulullah tdk membencinya, malah Rasull mencuari org yg meludahi & meleparinya itu ketika beliau tdk mengalami hal itu lagi.
    coba kita itu meraba diri kita apa kita ini sdh benar dgn perintah allah rasul, sebenarnya kita hrs menentramkan islam jangan malah bikin resah org islam lainnya

    Comment by arief — December 16, 2006 @ 3:58 am

  16. Aku dari orang yang bukan ldii, kok rasanya ada yang kurang sreg dari ulasan ustad. Ustad panjang lebar menjelaskan masalah baiat beserta dalil2nya, tapi aku malah dapat pemahaman yang lain. kalau tak salah di setiap negara ada baiatnya. ada yang resmi dari kerajaan islam atau dari kelompok keagamaannya sewaktu negara itu bukan islam. orang di negara kita aja ada yang menerapkan “baiat” kok. lihat tentara dengan sumpah prajuritnya, mereka mati hidup untuk bangsa dan negara. kalau menurut aku, biarlah mereka meyakini apa yang mereka yakini, dan kita tidak perlu menghukumi. kalau kita masih berpecah belah, kita akan mudah dipecah belah. pemahaman seseorang terhadap suatu keyakinan akan berlain-lainan. aku dapat memahami kalau baiat itu sesuatu yang baik. baiat akan mendidik ketulusan untuk taat. ketaatan ini menurut aku, sesuatu yang sangat diperlukan baik itu dari pandang sudut agama atau diluar agama/negara. orang islam “tidak maju” karena saling benar sendiri. gontokan sendiri. coba lihat negara maju, mereka menerapkan ketaatan terutama terhadap hukum dan undang-undang. nah seperti yang diterapkan oleh ldii, Ikhwanul muslimin dan yang lain, cobalah itu dipandang dari sudut positifnya. kita janganlah menghukumi, walau toh ada pendapat dari syeh timur tengah itu adalah bidah, namun kita pun bukan hidup di negara mereka yang memiliki raja/imam yang dibaiat oleh rakyatnya. kalau pemahaman kita bahwa hidup di negara kita adalah seperti kehidupan jahiliah, ya silakan. kalau kita menganggap kita dapat mengangkat pengurus/amir agama kita sendiri dan menganggap tidak di jaman jahiliyah ya silakan. kalau amir-amir itu ada dan diyakini oleh umatnya ya silakan. tidak ada yang salah dipandang dari sudut undang2 di negara kita. marilah kita bersama-sama membangun masyarakat kita dengan penuh toleransi dan saling menghormati. kita mahu negara kita maju. aku yakin bahwa dengan mendengar adanya baiat aku mendapatkan sesuatu yang sangat bermanfaat. bagi aku yang orang awam dan berada di luar negeri dan berpindah-pindah aku selalu mengikuti ulasan-ulasan tentang keagamaan di dalam negeri. dan aku juga melihat bagaimana islam berlaku di negara2 itu. aku banyak sekali berhubungan dengan orang islam berpendidikan berasal dari negara2 islam. mereka sangat berlainan dalam mengamalkan islam, contohnya sholat. tak ada satu pun mereka yang memasalahkannya walau itu terjadi di negaranya sendiri. orang islam harusnya yang islami. janganlah disalahkan kalau negara2 bukan islam membantu orang2 islam di afrika. dan mereka akan pindah agama, selagi negara2 islam kaya tidak pedulikan mereka dan hanya memasalahkan hal2 yang membuat perpecahan. wallahu a’lam.

    Comment by edi — November 5, 2006 @ 5:46 am

  17. mungkin ini lah yang salah bukan organisasinya,tapi metode dakwahnya yang salah tidak sesuai dgn Q&H. hingga tidak mengenai sasaran,ya…sesat.

    Comment by Abu — October 11, 2006 @ 3:48 am

  18. Ya tuh, sudah banyak organisasi Islam yang mengatas namakan menegakan Alqur’an dan Alhadis tapi kenyataannya mereka malah meninggalkan Alqur’an dan Alhadis dan malah cendrung tawaduk ke organisasinya sehingga Islamnya malah jadi menyimpang,contohnya banyak lihatlah NU,Muhammadyiah,mereka maksudnya mengajak ke Alqur’an dan Alhadis secara benar dan pendapat ulama tapi kenyataannya ulamanya malah meninggalkan umatnya yang diurusi hanya politiknya.

    Comment by Husin — October 11, 2006 @ 3:44 am

  19. Kalau begitu dapat disimpulkan ibaratkan kita habis mandi dgn air yang bersih setelah itu kita tidur didalam kandang kambing,kapan bisa kita membersihkan diri,kalau kita tidak memulai dgn membuat tempat yang bersih untuk kita tidur. kita tau hukum,bid’ah,kurafat,tahyul,sirik,tapi ketika sholat dan berjamaah kumpul dgn orang2 yg penuh bid’ah. gimana itu? kalau begitu itulah yang namanya persatean Islam (ada gajih,kikil,ada tulang,ada ati,ada rempelo,ada babat ditusuk dalam satu stick bambu )bukan yang dimaksud dgn Jamaah Islam.

    Comment by Zulkarnain — September 29, 2006 @ 1:53 am

  20. Tulisan mengenai bai’at yang dikupas tuntas oleh Al Ustadz Qomar Su’aidi cukup jelas dan mudah dipahami tapi saya yang awam menyimpulkan pemahaman Ustadz mengenai yang diselisihkan antara ulama jamaah yg mengangkat bai’at hanya perngertian “Jahiliyah”,Ustadz menganggap bahwa jahiliyah bukanlah kafir,sedang sebagian ulama mengatakan jahiliyah adalah kafir,berarti orang kafir juga tidak bisa dikatakan jahiliyah kalau menurut pemahaman pak Ustadz,begitukan pak Ustadz? pantas Islam Indonesia semakin berlari dari kemurnian Islam ?

    Comment by Subhan — September 28, 2006 @ 7:53 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: