LDII Watch

August 4, 2006

[Kliping] Dialog Bersama LDII dan Nasihat Untuk Kembali ke Manhaj Salafus Sholih

Filed under: Kliping Artikel Kontra LDII — ldiiwatch @ 6:35 pm

 

Penulis : Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya, semoga Allah melimpahkan hidayah dan rahmat-Nya kepada kita semua. Berikut adalah diskusi antara ustadz Muhammad Arifin Badri dengan Abu Altov membahas mengenai beberapa permasalahan yang padanya kaum LDII menyelisihi ajaran islam yang diajarkan oleh Rasululullah shollallahu’alaihiwasallam. Mudah-mudahan kita semua dapat mengambil pelajaran dari dialog ini dan semakin menambah keyakinan kita bahwa kebenaran itu adalah satu dan tidak berbilang, yaitu islam yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dan dipahami oleh para sahabatnya, dan bukan yang selainnya. Semoga ini menjadi nasehat kepada kaum LDII untuk kembali kepada islam yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam.

Ustadz Muhammad Arifin bertanya:
Dari yang saya ketahui, tentang dasar beragama LDII bahwa mereka mengharuskan agar ilmunya mangkul (dinukilkan langsung) dari seorang guru. Bukankah demikian?

Abu Altov menjawab:
“Yang saya ketahui benar demikian, Bapak.
Bila Bapak Muhammad Arifin pernah belajar alquran dan hadits dari siapapun entah ulama mekah madinah atau ulama disini dan apa yang dikatakan bapak dengan guru bapak tidak beda demikian pula yang dikatakan guru bapak tidak beda dengan gurunya, terus demikian dan terus demikian, sampai kepada para ulama salav, para sahabat dan rosulullooh SAW, Insya Allooh sayapun akan belajar kepada Bapak. Karena ilmu ini sangat asing dan jarang (sesuatu yang asing dan jarang pasti tidak mudah didapat dan dipahami) dan pasti suatu saat akan meninggalkan kita. Saya akan bersedih dan menangis karena ilmu ini akan terangkat, tinggallah generasi kita yang hanya mengikuti kitab-kitab karangan, kitab-kitab terjemahan. kitab-kitab cetakan, ucapan-ucapan si A, Si B, si C dan hal ini sekarang ilmu ini siap-siap akan berpindah kenegara lain, selain mekah madinah. Sehingga yang disini Insya Allooh sebagian akan hijrah pula, bila Allah mengizinkan saya dan keluargapun ingin hijrah. Karena pada dasarnya kita hanyalah lembaran putih yang kosong yang belum terisi oleh goresan pena, sebagaimana para ulama terdahulu, seperti ahli membaca quran para ahli hadits, mereka sebagaimana gelas kosong yang belum terisi oleh air. Sedikit demi sedikit mendapat ilmu dengan belajar kepada ulama yang menjadi guru mereka.”

Pada penggalan komentaf saudara Abu Altov di atas ada beberapa hal yang ingin saya komentari dan menurut hemat saya merupakan titik permasalahan yang menjadi pembeda antara paham LDII dan kaum muslimin secara umum:

Pertama

Saudara Abu Altov telah membuat suatu kaidah dan prinsip besar yang menurut hemat saya ini adalah prinsip yang layak untuk ditulis dengan tinta emas dan dijadikan sebagai pedoman hidup setiap muslim. Suatu keyakinan dan aqidah yang indah dan benar-benar mencerminkan akan kecintaan kepada kebenaran dan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Kaidah tersebut tersurat dengan jelas dan gamblang pada ucapan Saudara kita Abu Altov berikut ini: “Bila Bapak Muhammad Arifin pernah belajar alquran dan hadits dari siapapun entah ulama mekah madinah atau ulama disini dan apa yang dikatakan bapak dengan guru bapak tidak beda demikian pula yang dikatakan guru bapak tidak beda dengan gurunya, terus demikian dan terus demikian, sampai kepada para ulama salav, para sahabat dan Rosulullooh SAW, Insya Allooh sayapun akan belajar kepada Bapak.”

Inilah pedoman hidup yang semestinya dipegang erat-erat dan diamalkan oleh setiap muslim, yaitu senantiasa mengamalkan agama islam yang murni bersih dari noda kesyirikan atau bid’ah. Yaitu syari’at islam yang pernah diamalkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dan para sahabatnya, dan yang tertuang dalam Al Qur’an dan Sunnaah-sunnah beliau shollallahu’alaihiwasallam. Dan inilah wasiat Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam kepada ummatnya, sebagaimana yang dikisahkan oleh sahabat Irbadh bin Sariyyah rodiallahu’anhu:

قال: (صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا؛ فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة)

“Pada suatu hari Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab: Aku berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan agar senantiasa setia mendengar dan taat, walaupun ia (pemimpin/penguasa) adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah kholifah-kholifah yang telah mendapat petunjuk lagi cerdik. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat“. (Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmizy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15, hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll.)

Inilah wasiat Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam, yaitu senantiasa menjalankan syari’at Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam yang murni bersih dari noda-noda bid’ah dan juga kesyirikan. Wasiat beliau ini sering beliau sampaikan kepada ummatnya, agar umatnya senantiasa ingat dan tidak melalaikannya. Dalam berbagai kesempatan beliau mengulang-ulangnya dengan teks yang berbeda-beda, akan tetapi kandungannya sama, diantaranya ketika beliau beliau menyampaikan khutbah hari arafah pada haji wada’:

وقد تركت فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به كتاب الله. رواه مسلم

“Sungguh aku telah meninggalkan ditengah-tengah kalian, satu hal yang bila kalian berpegang teguh dengannya, niscaya selama-lamanya kalian tidak akan tersesat, bila kalian benar-benar berpegang teguh dengannya, yaitu kitab Allah (Al Qur’an).” (Muslim)

Dari wasiat ini kita dapat menarik suatu prinsip dan sekaligus standar kebenaran dalam agama islam. Prinsip dan standar tersebut ialah: “Al Qur’an dan As Sunnah dengan pengamalan yang selaras dengan pengamalan yang pernah diterapkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam beserta para sahabatnya, yang diantaranya oleh khulafa’ ar rasyidun”. Sehingga jelaslah bahwa setiap yang menyelisihi prinsip ini adalah sesat dan menyesatkan.

Berdasarkan prinsip ini syari’at Islam tidak membenarkan adanya kultus terhadap seseorang sepeninggal Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam. Dan tidak ada orang yang ma’shum (terlindung dari kesalahan) selain Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam, yang demikian ini karena Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam seperti yang dinyatakan dalam ayat berikut:

وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى

“Dan ia tidaklah mengucapkan menurut hawa nafsunya, ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS An Najem 3-4)

Adapun selain beliau shollallahu’alaihiwasallam pasti memiliki kesalahan, kekurangan, dosa, kekhilafan dan kelalaian, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits berikut:

كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون. رواه أحمد والترمذي والدارمي والحاكم وغيرهم

“Setiap anak keturunan Adam adalah pelaku kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan ialah orang yang banyak bertaubat.” (Riwayat Imam Ahmad, At Tirmizy, Ad Darimy Al Hakim dll.)

Berdasarkan ini Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah menyatakan:

كل أحد يؤخذ من قوله ويترك إلا صاحب هذا القبر صلى الله عليه وسلم

“Setiap orang pasti boleh diambil ucapannya dan juga boleh ditinggalkan selain ucapan penghuni kuburan ini (yaitu Rasulullah) shollallahu’alaihiwasallam.” (Siyar A’alam An Nubala’ 8/93)

Imam As Syafi’i rahimahullah juga berwasiat kepada kita semua dengan berkata:

ذا صح الحديث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلت قولا فأنا راجع عن قولي وقائل بذلك

“Bila suatu hadits telah terbukti keshahihannya dari Rasulillah shollallahu’alaihiwasallam, kemudian aku berpendapat (menyelisihinya), maka aku telah meninggalkan pendapatku tersebut, dan mengikuti hadits tersebut.” (Hilyatul Auliya’ oleh Abu Nu’aim Al Asbahany 9/107)

Beliau (imam Syafi’i rohimahulla -ed) juga berpesan:

إذا وجدتم لرسول الله صلى الله عليه و سلم سنة فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد

“Bila kamu telah mendapatkan suatu hadits dari Rasulillah shollallahu’alaihiwasallam, maka ikutilah, dan janganlah engkau menoleh ke pendapat siapapun.” (Hilyatul Auliya’ oleh Abu Nu’aim Al Asbahany 9/107)

Imam Syafi’i sering sekali mengulang-ulang wasiat ini, dan saking banyaknya ucapan beliau yang semakna dengannya, sampai-sampai As Subky -salah seorang ulama’ mazhab As Syafi’i – menuliskan karya ilmiyyah dengan judul:

معنى قول الإمام المطلبي : إذا صح الحديث فهو مذهبي

“Makna ucapan Imam Al Muthalliby (As Syafi’i) : ‘Bila suatu hadits telah terbukti keshahihannya, maka itulah mazhabku/pendapatku.’

Bila hal ini telah jelas bagi kita, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk hidup dalam dunia sempit bak katak dalam tempurung dalam beragama, sehingga senantiasa beranggapan bahwa kebenaran hanya milik kelompok tertentu atau guru tertentu atau aliran tertentu.

Kedua

Abu Altov kemudian berkata:
“Karena ilmu ini sangat asing dan jarang (sesuatu yang asing dan jarang pasti tidak mudah didapat dan dipahami) dan pasti suatu saat akan meninggalkan kita. Saya akan bersedih dan menangis karena ilmu ini akan terangkat”.

Saya amat heran dengan komentar dan keterangan saudara Abu Altov. Dari manakah sumber dan apakah dalil ucapannya ini?! Ucapannya ini jelas-jelas menyelisihi realita, sebab Al Qur’an dan As Sunnah yang merupakan sumber ilmu telah merata dan menyebar luas di masyarakat, setiap orang dapat membacanya dan mengkajinya. Sehingga ilmu itu tidak jarang dan juga tidak asing. Yang asing adalah pemahaman dan pengamalannya, betapa banyak yang membaca Al Qur’an, akan tetapi berapakah dari mereka yang paham artinya? Dan dari yang paham artinya, berapakah yang paham akan kandungannya? Dan dari yang paham akan kandungannya, berapakah yang mengamalkannya? Dari yang mengamalkannya, berapakah yang menyerukan dan mengajarkannya kepada orang lain dengan baik dan benar? Inilah yang jarang dan sedikit. Adapun Ilmu agama, maka telah merata dan banyak, yaitu dengan dibukukannya Al Qur’an dan hadits Nabi shollallahu’alaihiwasallam.

Oleh karena itu saya heran terhadap ucapan saudara Abu Altov ini, apakah maksudnya dan kandungan apa yang sedang ia siratkan dari ucapannya ini? Apakah yang ia maksud adalah ilmu yang terkandung dalam Al Qur’an dan hadits Nabi shollallahu’alaihiwasallam yang sekarang ada di rumah-rumah umat islam (selain warga LDII) atau di toko-toko kitab, pesantren-pesantren, perpustakaan para ulama’, ustadz, kiyai, muballigh, dan santri-santri tidak sah karena tidak disampaikan oleh guru LDII?! Ataukah LDII memiliki sumber ilmu (baca: Al Qur’an dan hadits-hadits) yang tidak dimiliki oleh masyakat umum di luar kelompoknya?

Ditambah lagi, anggapan bahwa ilmu agama itu tidak mudah dipahami, adalah suatu anggapan dan doktrin yang sesat lagi menyesatkan, sebab menyelisihi dan mendustakan berbagai dalil, diantaranya firman Allah Ta’ala:

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran”. (Ad Dukhan 57) dan pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya Kami telah mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al Qomar 17)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dengan berkata: “Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an ini yang telah Kami turunkan, sehingga menjadi mudah, jelas, gamblang dengan menggunakan bahasamu (bahasa arab) yang merupakan bahasa yang paling fashih (jelas), gamblang, indah dan tinggi.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/147)

Ucapan Abu Altov ini menurut hemat saya adalah suatu doktrin yang amat buruk sekali yang mungkin ini adalah belenggu yang telah dililitkan oleh tokoh-tokoh LDII di leher setiap pengikutnya, agar mereka tidak mendengar dan membaca dari selain kelompoknya. Dan ucapan ini –menurut hemat saya- adalah salah satu bukti nyata akan kebenaran sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam berikut ini:

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين . رواه البيهقي

“Yang (layak) memikul ilmu ini (ilmu agama) pada setiap generasi adalah orang-orang yang berkredibilitas tinggi. Mereka akan menepis penyelewengan orang-orang yang ekstrim (berlebih-lebihan) dan ajaran orang-orang sesat, dan takwil orang-orang bodoh.” (Riwayat Al Baihaqy)

Adapun diangkatnya ilmu, maka itu adalah suatu hal yang telah menjadi sunnatullah (ketentuan/takdir Allah) sebagaimana yang dikabarkan dalam hadits berikut:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا. متفق عليه

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia, akan tetapi Ia mengangkat ilmu dengan cara mematikan para ulama’, hingga bila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama’-pun, niscaya manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka, kemudian mereka ditanya, dan mereka pun menjawab dengan tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan“. (Muttafaqun ‘alaih)

Dan mungkin fakta diangkatnya ilmu inilah yang menjadikan kelompok LDII senantiasa eksklusif, dan takut bila ajarannya diketahui oleh khalayak umum secara terbuka. Alasan sikap mereka ini hanya ada satu, yaitu seperti yang ditegaskanoleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah:

إذا رأيت قوما يتناجون في دينهم بشيء دون العامة فاعلم أنهم على تأسيس ضلالة. رواه اللالكائي وابن أبي عاصم.

“Bila engkau mendapatkan suatu kaum yang berbicara tentang agama mereka dengan suatu hal yang dirahasiakan dari masyarakat umum, maka ketahuilah bahwa mereka sedang merintis kesesatan.” (Riwayat Al Lalaka’i dan Ibnu ABi ‘Ashim)

Ketiga

Saudara Abu Altov berkata:
“Saya akan bersedih dan menangis karena ilmu ini akan terangkat, tinggallah generasi kita yang hanya mengikuti kitab-kitab karangan, kitab-kitab terjemahan. kitab-kitab cetakan, ucapan-ucapan si A, Si B, si C .”

Menangislah dan bersedihlah, karena antum telah beranggapan bahwa Al Qur’an dan As Sunnah adalah ilmu langka. Dan Menangislah serta selalu bersedihlah, karena antum telah mengganggap bahwa kebenaran (Al Qur’an dan As Sunnah) yang ada di masyarakat sudah tidak ada harganya, sehingga antum merasa kesulitan untuk mendapatkan ilmu, dan kesulitan untuk memahami Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam.

Teruslah menangis dan bersedih, karena ternyata sebagian orang yang berada disekitar antum termasuk orang-orang yang digambarkan oleh ibnu Abbas dalam kisah berikut:

عمر بن الخطاب رضي الله عنه ذات يوم يحدث نفسه، فأرسل إلى ابن عباس فقال: كيف تختلف هذه الأمة ونبيها واحد وكتابها واحد وقبلتها واحدة؟ فقال ابن عباس: يا أمير المؤمنين إنا أنزل علينا القرآن فقرأناه وعلمنا فيم أنزل، وإنه سيكون بعدنا أقوام يقرأون القرآن ولا يعرفون فيم نزل، فيكون لكل قوم فيه رأي، فإذا كان لكل قوم فيه رأي اختلفوا، فإذا اختلفوا اقتتلوا، فزبره عمر وانتهره، فانصرف ابن عباس ثم دعاه بعد فعرف الذي قال، ثم قال إيه أعد علي. رواه سعيد بن منصور

“Pada suatu hari Umar bin Al Khatthab rodiallahu’anhu sedang merenung, kemudian ia memanggil Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya: Bagaimana umat ini dapat berselisih, padahal nabinya satu, kitab sucinya satu dan qiblatnya juga satu? Maka Ibnu Abbas menjawab: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al Qur’an diturunkan kepada kita, kemudian kita membacanya, dan kita mengetahui berkenaan dengan apa ayat-ayat Al Qur’an itu diturunkan. Dan sesungguhnya setelah zaman kita nanti, akan ada orang-orang yang membaca Al Qur’an dan tidak mengetahui berkenaan dengan apa ayat-ayat Al Qur’an itu diturunkan, sehingga masing-masing kelompok akan memiliki penafsiran sendiri-sendiri tentangnya. Dan bila setiap kelompok telah memiliki penafsiran sendiri-sendiri, niscaya mereka akan berselisih. Dan bila mereka telah berselisih, niscaya mereka akan saling berperang. Maka Umar menariknya dengan kuat dan memarahinya, lalu Ibnu Abbas berpaling dan pergi. Kemudian selang beberapa saat, Umar memanggilnya lagi dan ia telah memahami (menyetujui) jawabannya, kemudian ia berkata: Ulangilah sekali lagi jawabanmu itu”. (Riwayat Sa’id bin Manshur dalam kitabnya As Sunnan 1/176, no: 42)

Keempat

Saudara Abu Altov berkata:
“sekarang ilmu ini siap-siap akan berpindah kenegara lain, selain mekah madinah. Sehingga yang disini Insya Allooh sebagian akan hijrah pula, bila Allah mengizinkan saya dan keluargapun ingin hijrah.”

Apakah dalil antum dalam sangkaan dan dakwaan ini, darimanakah antum mengetahui hal gahib?! Apa indikasi/pertanda berpindahnya ilmu dari negri Mekkah dan Madinah? Menurut antum, ilmu akan berpindah ke negri mana? Bukankah dakwaan antum ini bertentangan dengan sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam berikut ini:

إن الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبا كما بدأ وهو يأرز بين المسجدين كما تأرز الحية إلى جحرها. رواه مسلم

“Sesungguhnya agama Islam datang (turun) dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana ketika datang pertama kali, dan Islam itu akan kembali ke antara dua masjid (Masjid Haram dan Masjid Nabawi) layaknya seekor ular kembali ke lubangnya.” (Riwayat Muslim)

Ustadz Muhammad Arifin bertanya:
Bukankah orang yang membaca Al Quran kemudian membaca tafsirnya yang telah dibukukan oleh para ulama’ misalnya tafsir at thabari, Ibnu Katsir dll berarti telah mengambil ilmunya dengan cara mangkul?

Abu Altov menjawab:
“Kalau demikian saya tidak tahu. Tetapi, adakah hal ini sesuai dengan penyampaian ilmu dari guru kepada murid? kalau iya berarti saya cukup membeli buku saja dan terus saya amalkan, siapa gurunya? ya buku dan pencetaknya itu, namanya manusia tempat salah terlebih bila cetakannya salah bagaimana mengamalkan ibadah, siapa yang salah, siapa yang bertanggungjawab karena ilmu ini adalah ilmu masalah akhirot.”

Mengomentari penggalan ucapan Abu Altov ini saya hendak mengatakan: Allah Ta’ala telah memudahkan Al Qur’an sehingga dapat dipahami dengan mudah, oleh karena itu dalam setiap ayat atau hadits, yang memerintahkan manusia untuk membaca, merenungi dan mentadabburi ayat-ayat Allah tidak disebutkan persyaratan harus dibimbing oleh seorang guru, apalagi dari kelompok tertentu, apalagi dari kelompok LDII saja. Diantara dalil-dalil tersebut ialah firman Allah Ta’ala berikut:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيراً

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An Nisa’ 82)

Saya yakin orang-orang LDII tidak akan dapat menyebutkan satu ayat atau hadits yang mensyaratkan belajar harus dari guru, bila tidak maka ilmu yang ia peroleh tidak sah atau tidak benar.

Memang benar dan saya setuju bahwa belajar dari guru yang telah menghabiskan umur dan waktunya dalam mengkaji dan mempelajari ilmu akan lebih baik hasilnya dan lebih cepat daripada belajar sendiri, serta akan lebih sedikit kesalahannya. Akan tetapi hal itu tidak berati tidak sah dan tidak boleh membaca Al Qur’an langsung dari Mushaf dan tanpa ada guru yang membimbing atau membaca hadits dari kitab-kitab hadits serta syarahnya dengan sendiri tanpa dibimbing oleh seorang guru. Apalagi harus dari kelompok tertentu, misalnya LDII, maka jelas lebih tidak ada dalilnya, lha wong LDII baru ada kemaren sore…

Sebagai salah satu dalil yang meruntuhkan doktrin dan belenggu LDII ini ialah kisah berikut:

عن أبي جحيفة قال: قلت لعلي رضي الله عنه : هل عندكم شيء من الوحي إلا ما في كتاب الله؟ قال: والذي فلق الحبة وبرأ النسمة ما عندنا إلا ما في القرآن إلا فهما يعطيه الله رجلا في القرآن. رواه البخاري.

“Dari Abu Juhaifah, ia berkata: Aku pernah berkata kepada sahabat Ali (bin Abi Thalib): Apakah anda memiliki wahyu selain yang tercantum dalam Kitabullah (Al Qur’an)? Beliau menjawab: Sungguh demi Dzat Yang Telah Membelah biji-bijian, dan Yang Telah Menciptakan Manusia, aku tidak mengetahui wahyu selain yang termaktub dalam Al Qur’an,kecuali pemahaman yang Allah karuniakan kepada seseorang terhadap Al Qur’an.” (Riwayat Al Bukhari)

Pada kisah ini sahabat dan sekaligus Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa ia tidak memiliki wahyu yang dikhususkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk beliau atau yang hanya diketahui oleh beliau saja. Beliau hanya memiliki pemahaman terhadap Al Qur’an yang mungkin tidak dimiliki oleh orang muslim lainnya. Pernyataan beliau ini membuktikan bahwa pemahaman terhadap Al Qur’an tidak mesti ditimba dari guru, bahkan beliau menyatakan bahwa bisa saja Allah membukakan hati atau melimpahkan pemahaman kepada seseorang tanpa harus mendapatkan pemahaman tersebut dari seorang guru.

Kesimpulan saya ini selaras dengan sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam berikut ini:

نضَّر الله أمرأً سمع منا حديثا فحفظه حتى يبلغه غيره، فرب حامل فقه إلى من هو أفقه منه، ورب حامل فقه ليس بفقيه. رواه أحمد وأبو داود والترمذي والدارمي وغيرهم

“Semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada orang yang mendengarkan suatu hadits (sabda) dari kami kemudian ia menghafalnya hingga ia sampaikan kepada orang lain. Bisa saja ada orang yang mengemban (menyampaikan) ilmu kepada orang yang lebih faham (faqih) dari dirinya, dan bisa saja ada orang yang mengemban (menyampaikan) ilmu sedangkan dia tidak faqih (tidak paham)”. (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ad Darimy dan lainnya)

Pada hadits ini Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menyebutkan sebagian realita para pengemban ilmu, dan diantara yang beliau sebutkan ialah:

  1. Kadang kala orang yang menghafal sesuatu ilmu (Al Qur’an & hadits) kemudian ia mengajarkannya kepada murid-muridnya, dan ternyata muridnya lebih bagus dan luas pemahamannya terhadap ayat atau hadits yang disampaikan oleh gurunya tersebut.
  2. Dan kadang kala ada guru yang menyampaikan ilmu (Ayat & Hadits) kepada murid-muridnya, akan guru tersebut tidak memahami ayat dan hadits tersebut, dan murid-muridnya justru memahaminya dengan baik.

Dari kedua fenomena ini, kita simpulkan bahwa suatu pemahaman terhadap ayat atau hadits bila itu sesuai dengan metode yang ilmiyyah sehingga pemahaman tersebut benar, maka pemahaman itu dapat diamalkan dan sah, walaupun pemahaman tersebut tidak diperoleh dari seorang guru, apalagi dari LDII. Dan pemahaman murid yang tidak didapatkan dari gurunya tersebut oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dibenarkan dan tidak disalahkan, karena hadits di atas bermaknakan pujian terhadap seluruh macam orang yang disebutkan di dalamnya.

Bila hal ini telah jelas, maka belenggu “mangkul” yang dipasang dileher setiap anggota LDII tidak lagi ada artinya. Atau dengan kata yang lebih lugas, amat dimungkinkan bahwa guru-guru LDII adalah bagian dari sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam:

ورب حامل فقه ليس بفقيه

“…Dan bisa saja ada orang yang mengemban (menyampaikan) ilmu sedangkan dia tidak faqih (tidak paham).”

Bila demikian maka tidak ada bedanya belajar dari guru dengan belajar dari membaca kitab dengan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Sama-sama memiliki kemungkinan salah: salah paham, salah cetak.
  2. Bisa saja guru perannya tak ubah sebuah kitab, bisanya hanya sebatas membacakan, akan tetapi ia tidak paham.
  3. Belenggu “mangkul” ala LDII tidak lagi berlaku dan sesat lagi menyesatkan, sebab menyelisihi berbagai dalil, baik dari Al Qur’an atau hadits atau naluri sehat.

Abu Altov berkata:
“Berhubung keterbatasan waktu, tempat, keadaan diri saya yang sangat tidak memungkinkan, maka dalam mencari ilmu agama yang terkait sangat erat sekali dengan masalah ibadah, masalah pahala, masalah surga, saya tidak macam-macam cukup sesuai dengan kriteria atau syarat-syarat syahnya ilmu itu yaitu guru menerangkan, menjelaskan secara langsung dan baik dari alquran maupun hadits (bukhori, muslim, nasai, ibnu majah dan hadits lainnya) yang penting bukan hasil karangan dan muridpun menyimak baik apa yang disampaikan guru baik yang membawa kitab maupun yang tidak.”

Mengomentarai perkataan Abu Altov ini, saya katakan: persyaratan ini hanyalah belenggu yang dililitkan oleh tokoh-tokoh LDII kepada setiap anggotanya, proteksi agar mereka tidak terbuka dan mencari kebenaran dengan menggunakan metode yang ilmiyyah, yaitu berfikir, merenungkan dan membandingkan berbagai pendapat, manakah yang lebih dekat atau bahkan selarasa dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Dan pada kesempatan ini saya ingin bertanya: Menurut doktrin LDII, sahkah keislaman orang kafir yang telah mengucapkan 2 kalimat syahadat akan tetapi pengucapannya tersebut tidak dibimbing oleh seorang guru baik dari LDII atau lainnya, melainkan dari hasil belajar sendiri?

Bila LDII menyatakan tidak sah, maka berarti LDII menentang dan mengkufuri sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam berikut ini:

عن عبادة بن الصامت قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأنَّ محمَّداً عبدُهُ ورسُولُهُ، وأَنَّ عيسى عبد الله ورسُولُهُ، وكلمَتُهُ ألقَاهَا إلى مريم وروحٌ منه، والجنَّة حقٌّ والنَّارُ حقٌّ، أدخلَهُ اللهُ الجنَّةَ على ما كان من العمل.

Dari sahabat Ubadah bin As Shomit menuturkan: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: ”Barang siapa yang bersaksi bahwa tiada yang berhaq disembah selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah hamba dan Rasul-Nya, dan ‘Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Ia campakkan kepada Maryam, dan roh daripada-Nya (roh dari roh-roh yang Ia ciptakan), dan (bersaksi) bahwa surga itu benar-benar ada dan neraka itu benar-benar ada, niscaya Allah akan memasukkannya kedalam surga, apapun amalannya.” (Hadits riwayat Bukhori dan Muslim)

(إِنَّ اللهَ حَرَّم عَلَى النَّار من قَالَ: لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بذلك وجهَ اللهِ)

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan “La Ilaha IllaAllah” (Tiada yang berhaq disembah selain Allah), dengan penuh mengharap Wajah Allah (rasa keikhlasan).” (Muttafaqun ‘alaih)

Bila keislaman orang tersebut sah, maka runtuhlah belenggu “mangkul” ala LDII. Dan runtuhlah persyaratan sahnya ilmu yang Abu Althof sebutkan dalam ucapannya di atas. Akan tetapi dari fenomena dan ulah anggota LDII, dapat dipahami bahwa mereka tidak mengakui keislaman orang tersebut, oleh karena itu mereka senantiasa membasuh apapun yang tersenggol atau disentuh oleh selain kelompoknya. Mereka beranggapan bahwa orang yang ilmunya tidak mangkul maka tidak sah, dan bila tidak sah maka kesilamannya juga tidak sah, dan bila keislamannya tidak sah berarti ia kafir, dan orang kafir adalah najis, berdasarkan firman Allah Ta’ala berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrikin itu adalah najis.” (At Taubah 28)

LDII memahami kata “najis” pada ayat ini sebagai najis layaknya kotoran manusia, babi, anjing dll. Padahal arti sebenarnya yang dimaksud dengan “najis” pada ayat ini adalah najis maknawi, maksudnya orang-orang musyrikin itu hatinya, keyakinannya, dan amalannya najis (sesat). Adapun badannya, maka tidak ada bedanya dengan selain mereka, bila telah bersuci dengan mandi dll, maka badannya suci tidak najis. Sebagai buktinya: Allah Ta’ala dan Rasul-Nya membenarkan bagi orang islam untuk memakan makanan ahlul kitab (yahudi dan nasrani) padahal mereka adalah orang-orang musyrikin dan kafir. Seandainya yang dimaksud dengan najis adalah najis bak kotoran manusia, niscaya tidak akan boleh memakan makanan yang mereka buat, sebab dalam proses pembuatannya pasti mereka menyentuhnya dengan kedua tangannya. Bahkan menikahi wanita-wanita ahlul kitab dibolehkan, ini membuktikan pemahaman LDII terhadap ayat di atas adalah salah dan menyesatkan, Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَّهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَن يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatannya diantara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum islam) maka hapuslah amalannya, dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Al Maidah 5)

Perilaku nyleneh LDII ini tidak mungkin ditafsiri sebagai sikap berhati-hati, karena mungkin orang selain LDII tidak dapat membersihkan najis dari dirinya dengan baik, sebab Nabi shollallahu’alaihiwasallam sering bersinggungan dengan orang-orang yahudi dan nasrani, bahkan pernah memakan makanan mereka tanpa harus membasuhnya terlebih dahulu. Perilaku ini hanya ada satu penafsiran, yaitu mereka mengganggap bahwa selain anggotanya adalah kafir dan najis. Perilaku ini adalah bukti nyata bahwa LDII adalah generasi penerus khowarij yang senantiasa mengkafirkan selain kelompoknya, dan menganggap bahwa surga itu sempit sehingga tidak cukup untuk selain kelompoknya saja.

Bila ada yang bertanya: mengapa LDII dan nenek moyang mereka (kaum khowarij) bersikap demikian?

Jawabannya ada pada ucapan sahabat Ibnu Umar rodiallahu’anhu berikut:

إنهم انطلقوا إلى آيات نزلت في الكفار فجعلوها على المؤمنين

“Sesungguhnya mereka itu biasa membawakan ayat-ayat yang diturunkan berkenaan dengan orang-orang kafir, kemudian menerapkannya pada orang-orang mukminin. (Riwayat At Thobary dan Al Bukhary)

Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, dan melindungi kita dari para penyeru ke pintu-pintu neraka. Dan membebaskan kita semua dari belenggu-belenggu bid’ah dan kesesatan.

اللهم ربَّ جبرائيلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطَر السَّماواتِ والأرضِ، عالمَ الغيبِ والشَّهادة، أنتَ تحْكُمُ بين عِبَادِك فيما كانوا فيه يَخْتَلِفُون، اهْدِنَا لِمَا اخْتُلِفَ فيه من الحق بإِذْنِكَ؛ إنَّك تَهْدِي من تَشَاء إلى صراط مستقيم. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. والله أعلم بالصَّواب، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

“Ya Allah, Tuhan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Dzat Yang telah Menciptakan langit dan bumi, Yang Mengetahui hal yang gaib dan yang nampak, Engkau mengadili antara hamba-hambamu dalam segala yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami –atas izin-Mu- kepada kebenaran dalam setiap hal yang diperselisihkan padanya, sesungguhnya Engkau-lah Yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki menuju kepada jalan yang lurus. Shalawat dan salam dari Allah semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dan Allah-lah Yang Lebih Mengetahui kebenaran, dan akhir dari setiap doa kami adalah: “segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam”.

131 Comments »

  1. dan selanjutnya sesama muslim saling nasehat menasehati dalam kebenaran

    Dari Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari radhilallahu ‘anhu, bahwa Nabi telah bersabda, “Agama (Islam) itu adalah nasehat.” (mengulanginya tiga kali), Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, imam-imam kaum muslimin, dan kaum muslimin umumnya.”

    Takhrij-Hadits Ringkas
    http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/fiqih-nasehat.html

    Comment by antok — March 29, 2009 @ 6:19 am

  2. Ass wr wb.siapapun panjenengan disini, mbok yao sama2 instropeksi diri.Marilah kita baca diri masing2,sudah sucikah hati kita? baik yang di LDII maupun non LDII.Hanya Alloh saja yang tahu akan kebenaran itu.Keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan itu hidayah dari Alloh.Kami sadar kami bukan orang pandai hal Al-Qur’an maupun hadist tapi kami punya “RASA”.Marilah wahai saudaraku sesama muslim kita saling mendo’akan semoga kita diberi keselamatan baik didunia maupun diakherat kelak.Al-Qur’an diturunkan kepada kita sebagai tuntunan hidup kita.Wahai saudaraku,sudahkah kita melaksanakan apa saja yang diperintahkan dan sudahkah kita meninggalkan apa saja yang dilarang Alloh? Sekali lagi marilah kita membaca diri masing2.Ingat tanpa ada pertolongan dari Alloh kita tidak bisa apa2.Was wr wb.

    Comment by mas lik mustang — March 14, 2009 @ 9:22 am

  3. KAIDAH ISLAM DALAM MENIMBA ILMU DAN BERDALIL

    Pertama
    Sumber akidah/keyakinan adalah Kitabullah, Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih serta ijma’/konsensus Salafush shalih.

    Kedua
    Setiap dalil yang shahih di antara Sunnah/hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia wajib diterima dan diamalkan; meskipun statusnya adalah hadits ahad (bukan mutawatir, hanya sedikit jalan periwayatannya), dalam hal akidah maupun bidang-bidang lainnya.

    Ketiga
    Rujukan untuk memahami kandungan Al Kitab dan As Sunnah adalah nash/dalil-dalil yang menjelaskannya, pemahaman Salafush shalih dan pemahaman para imam yang menempuh manhaj mereka. Segala penafsiran yang sudah terbukti keabsahannya maka itu tidak boleh ditolak dengan berdasarkan kemungkinan makna bahasa semata.

    Keempat
    Semua pokok ajaran agama sudah diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga tidak ada lagi celah bagi siapapun untuk menciptakan suatu ajaran baru dengan dakwaan hal itu termasuk bagian dari agama.

    Kelima
    Harus bersikap pasrah kepada Allah, kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lahir dan batin. Oleh karena itu maka dalil dari Al Kitab atau Sunnah yang shahih tidak boleh dipertentangkan dengan analogi/qiyas, perasaan, penyingkapan, ucapan seorang Syaikh/guru, pendapat seorang Imam dan semacamnya.

    Keenam
    Dalil akal yang tegas dan akurat pasti sesuai dengan dalil naqli yang shahih. Tidak akan terjadi pertentangan dua hal qath’i/yang pasti dari keduanya selama-lamanya. Apabila muncul persangkaan seolah-olah ada pertentangan maka dalil naqli itulah yang lebih dikedepankan.

    Ketujuh
    Wajib konsisten memakai lafadz-lafadz syar’i dalam hal akidah dan harus menjauhi lafadz-lafadz bid’ah yang direka-reka oleh orang. Apabila terdapat lafadz yang masih bersifat global dan mengandung kemungkinan makna benar atau salah maka hendaknya diminta tafsirannya. Apabila tafsirannya adalah benar maka maksud itu cukup ditetapkan dengan lafadznya yang syar’i. Dan apabila ternyata tafsirannya adalah batil maka ia harus ditolak.

    Kedelapan
    Keterpeliharaan dari salah (’ishmah) hanya dimiliki oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan umat Islam ini secara keseluruhan (bukan perindividu) juga terjaga dari bersepakat dalam kesesatan. Adapun individu-individunya maka tidak seorangpun di antara mereka yang ma’shum. Hal-hal yang telah diperselisihkan oleh para imam dan selain mereka maka rujukan pemecahannya adalah Al Kitab dan As Sunnah. Semua pendapat yang tegak di atas landasan dalil maka diterima dengan tetap memberikan toleransi bagi para mujtahid umat ini yang tersalah.

    Kesembilan
    Di antara umat ini ada orang-orang yang mendapatkan ilham/muhaddats, seperti halnya Umar bin Al Khaththab. Mimpi yang benar adalah nyata, dan ia termasuk bagian dari ciri Nubuwwah/kenabian. Firasat yang benar adalah nyata adanya. Begitu pula terdapat berbagai karamah (keistimewaan yang diberikan Allah kepada Wali-Nya) dan mubasysyaraat/tanda-tanda menggembirakan, dengan syarat itu semua harus selaras dengan aturan syari’at, dan hal itu juga bukan menjadi sumber akidah dan tidak dijadikan sebagai pedoman untuk menetapkan aturan/syari’at.

    Kesepuluh
    Debat kusir dalam hal agama adalah sesuatu yang tercela. Sedangkan perdebatan dengan cara yang baik adalah disyari’atkan. Perkara-perkara yang terdapat dalil shahih untuk tidak memperdebatkannya maka aturan itu harus dilaksanakan. Seorang muslim wajib menahan diri untuk tidak membicarakan hal-hal yang dia sendiri tidak menguasai ilmunya.

    Kesebelas
    Wajib berpegang teguh dengan manhaj/metode wahyu dalam hal perbantahan, sebagaimana halnya itu juga wajib diterapkan dalam masalah akidah dan pemancangan suatu ketetapan. Bid’ah tidak boleh dibalas dengan bid’ah. Sikap tafrith/melecehkan tidak boleh dibalas dengan sikap ghuluw/ekstrim, begitu pula sebaliknya.

    Keduabelas
    Semua urusan yang diada-adakan di dalam ajaran agama adalah bid’ah. Setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap kesesatan nerakalah tempatnya.

    (disadur dari Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah karya Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql, Penerbit Darul Wathan cet 1, 1413 H hal. 7-9)

    Comment by by — January 10, 2009 @ 11:23 pm

  4. apakah engkau menyangka banyaknya kalian adalah keimanan.buih…buih…

    Comment by bego — December 23, 2008 @ 12:11 pm

  5. no 125. trus klo kamu tau rahasia ldii kamu mau ngapain? mo triak2 ditengah pasar gitu? ato menggelelar tabligh akbar dengan judul “membongkar rahasia ldii”. brani? klo kamu tau rahasia ldii. kamu juga pasti tau dong smangat jihad warga ldii? silahkan mencoba klo kamu cukup bernyali, ato nyalimu telah hilang seiring dengan keluarnya kamu dari LDII? karena sekarang kamu telah bargabung dengan Jamaah2 ahlul GIBAH? hmmm…., ayo buktikan klo sekarang kamu dalam kebenaran…,
    TAKOET…..

    Comment by bolodewe — December 20, 2008 @ 3:25 am

  6. ldii bidah..sy mantan ldii n semua rahsia ldii sy tau

    Comment by abu fida' — December 13, 2008 @ 7:11 am

  7. Titik (Tujuan) Akhir Ahli Bid’ah Dan Sifat-Sifat Mereka
    Dari Abu Qilabah ia berkata :
    “Tidaklah seseorang berbuat bid’ah melainkan (suatu saat) ia akan menganggap halal menghunus pedang (menumpahkan darah).” (Al I’tisham 1/112 dan Ad Darimy 1/58 nomor 99)

    Ayyub menamakan para mubtadi’ itu (sebagai) Khawarij dan ia menyatakan bahwa sesungguhnya orang-orang Khawarij itu nama dan julukan mereka berbeda namun mereka bersepakat dalam menghalalkan darah kaum Muslimin. (Al I’tisham 1/113)

    Abu Qilabah berkata :
    “Sesungguhnya ahlul ahwa itu adalah orang-orang yang sesat dan saya tidak menganggap ada tempat kembali mereka selain neraka.” (Al I’tisham 1/112 dan Ad Darimy 1/158)

    Seseorang berkata kepada Ibnu Abbas : “Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan hawa nafsu kami (berjalan) di atas hawa nafsu kalian (para shahabat).”
    Ibnu Abbas menukas : “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kebaikan sedikitpun di dalam hawa nafsu ini. Dan ia dinamakan hawa karena ia menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka.” (Asy Syarhu wal Ibanah 123 nomor 62)

    Pendapat tersebut juga berasal dari Al Hasan Al Bashry, Mujahid, Abul Aliyah, dan Asy Sya’bi. (Asy Syarhu 124 nomor 63 dan Ad Darimy 1/120 nomor 395)

    Ibnu Sirin berpendapat bahwa orang yang paling segera murtad adalah ahlul ahwa (mubtadi’). (Al I’tisham 1/113)

    Dari Abi Ghalib dari Umamah, ia berkata mengenai ayat :
    “Lalu mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat (samar)” (QS. Ali Imran : 7)
    Bahwa ayat ini menerangkan keadaan orang Khawarij dan para ahli bid’ah. (Al Ibanah 2/606 nomor 783)

    Dari Ma’mar dari Qatadah ia menerangkan maksud ayat :
    “Adapun orang-orang yang di hatinya terdapat zaigh (kecenderungan kepada kesesatan)”
    Ia berkata : “Jika yang dimaksud ayat ini bukan Khawarij dan kaum Sabaiyyah, saya tidak tahu lagi siapa mereka. Demi Allah, seandainya orang Khawarij itu di atas hidayah tentulah mereka akan bersatu namun ternyata mereka di atas kesesatan maka mereka bercerai-berai. Begitupula segala perkara yang bukan berasal dari sisi Allah tentu akan terdapat di dalamnya perselisihan yang sangat banyak. Demi Allah sungguh Haruriyyah itu benar-benar bid’ah dan Sabaiyyah juga benar-benar bid’ah yang tidak pernah ada dalam satu kitab pun dan tidak pula disunnahkan oleh seorang Nabi pun.”

    Ibnu Baththah Al Ukbary berkata : “Al Haruriyyah adalah Khawarij dan As Sabaiyyah adalah kaum Rafidliy pengikut Abdullah bin Saba’ yang dibakar oleh Aly bin Abi Thalib dan hanya tertinggal sebagian di antara mereka.” (Al Ibanah 2/607 nomor 785)

    Dari Ayyub dari Abu Qilabah ia berkata :
    [ Sesungguhnya ahlil ahwa adalah orang-orang yang sesat. Saya menganggap tidak ada tempat kembali mereka selain neraka. Cobalah kalian uji mereka maka tidak ada satu pun dari mereka yang meyakini suatu ucapan atau berpendapat dengan satu pendapat lalu urusan mereka berakhir kecuali dengan pedang (menumpahkan darah). Dan sesungguhnya karakter kemunafikan itu beraneka-ragam modelnya. Kemudian ia membaca :
    “Di antara mereka ada yang mengikat janji kepada Allah.” (QS. At Taubah : 75)
    “Di antara mereka ada yang mencelamu dalam (pembagian) zakat.” (QS. At Taubah : 58)
    “Dan di antara mereka ada yang menyakiti Nabi.” (QS. At Taubah : 61)
    Ucapan mereka berbeda-beda namun mereka bersatu dalam keraguan, kedustaan, dan pedang (penumpahan darah kaum Muslimin). Dan saya menganggap bahwa tempat kembali mereka tidak lain adalah neraka. ] (Ad Darimy 1/58 nomor 100)
    Kemudian Ayyub mengatakan : “Abu Qilabah adalah –demi Allah– salah seorang dari para fuqaha’ yang berakal (cerdas).”

    Sa’id bin Anbasah berkata :
    “Tidak akan ada seseorang yang mengerjakan suatu kebid’ahan kecuali dengki hatinya terhadap kaum Muslimin dan tercabut amanah dari dirinya.” (Ibanah Ash Shughra 135 nomor 98-100)

    Al Auza’iy berkata :
    “Tidaklah seseorang berbuat suatu bid’ah melainkan hilang sikap wara’-nya.” (Ibid)

    Al Hasan Al Bashry berkata :
    “Tidaklah seseorang berbuat suatu bid’ah melainkan keimanannya akan berlepas diri darinya.” (Ibid)

    Imam Al Barbahary berkata (Syarhus Sunnah halaman 122) :
    “Dan ketahuilah sesungguhnya hawa nafsu itu semuanya rendah dan selalu mengajak kepada pedang (penumpahan darah).”

    Saya (Jamal) berkata : “Engkau lihat firqah-firqah dan hizb (golongan) yang ada dewasa ini seperti Ikhwanul Muslimin, Sururiyyah, Al Jabhah (di Aljazair), Tandhimul Jihad, Firqah At Turabi, Hizb Mas’udi dan lain-lain di manapun juga. Seolah-olah mereka berselisih sesama mereka namun (ternyata) mereka bersepakat dalam (urusan) pedang yaitu menghalalkan darah kaum Muslimin dan memusuhi Ahlus Sunnah.”

    Comment by hambaAlloh — October 15, 2008 @ 3:20 pm

  8. ntuk mas bolo dewe bolodewe
    saya punya banyak teman2 salafi mereka terang2an mengkafirkan LDII,mengatakan jamaah2 di PKS ahlul Bid’ah, jamaah2 lain semua ahlul bid’ah.dl

    mas situs-situs salafy bertebaran di internet alangkah baik jika kalian tujukan satu hal yang kalian tuduhkan?

    ke 2. anda bisa pahami MENGAPA HARUS SALAFI?
    Salafiyah merupakan predikat yang akan memuliakan dan memudahkan jalan menuju “Firqah Najiyah”. Dan hal itu tidak akan didapatkan bagi orang yang menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tidak akan terlepas dari dua perkara :
    http://www.almanhaj.or.id/content/909/slash/0

    kurang jelas,karena ciri dakwah yang hak tidak disembunyikan,baik kitab,atau selainya silahkan kunjungi http://assunnah.web.id/fitur/

    Comment by hambaAlloh — September 17, 2008 @ 1:34 am

  9. no 122. anda bilang yang terdekat dengan Al quran dan Al Hadist adalah adalah para salafus shalih “dekat” brati belum sesuai dong. ibarat orang bepergian itu belum sampai tujuan. baru dekat ke tujuan. berarti kalo di akhirat nanti tujuannya surga krn cuma dekat dengan surga namanya apa dong, diakhirat kan cuma ada surga dan neraka brati klo dekat dengan surga ya neraka dong.hee…, agama itu gak ada tawar menawar bung. gak surga brati neraka. meleset dikit, mirip, dekat, hampir baner atau apapun itu berarti salah. anda sudah tau kalo salafi itu cuma paling dekat dengan qur’an dan sunnah kenapa di ikuti. ikuti yang pas, tepat, benar, sesuai dengan Qur’an dan sunnah dong.gmn sih. jadi muslim jgn cuma dekat2 dengan kebenaran,. saya jamaah di pengajian LDII dan saya yakin saya sudah mengaji sesuai dengan qur’an dan Sunnah, tepat. bukan hanya dekat. kenapa anda tega mengajak orang ke pengajian anda klo anda hanya merasa paling dekat dengan quran hadist, harusnya anda malu. saya punya banyak teman2 salafi mereka terang2an mengkafirkan LDII,mengatakan jamaah2 di PKS ahlul Bid’ah, jamaah2 lain semua ahlul bid’ah.dll. eh ternyata anda gak lebih baik. hanya merasa paling dekat dengan kebenaran kok sombong. pikir kan, apa anda cuma dekat atau sudah sesuai.

    Comment by bolodewe — September 16, 2008 @ 2:35 pm

  10. Mendapat petunjuk itu tidak mudah, perlu usaha yang sungguh2, ikhlas kepada Allah, tidak fanatik golongan kecuali golongan yang bersesuaian dengan benar2/ terdekat dgn Al-qur’an dan Sunnah. Tentu saja tidak ada golongan yang lebih dekat dengan itu kecuali salafus shalih, paling tidak yang benar2 terdekat/ mencerminkan yang demikian.
    Kepada ikhwan semuanya, bersabarlah kepada saudara2 kita yang belum mendapat petunjuk yang demikian, karena hal itu tidaklah mudah sedangkan saudara2 kita disekitarnya masih bergelimang dengan maksiat bahkan syirik, yang bahkan sama sekali tidak mereka sadari hal itu.
    Ajarkanlah terlebih dahulu tentang Tauhid, kenalkan dahulu apa2 yang membahayakan tauhid, dan apa saja yang membatalkannya. Kemudian kenalkan lebih dalam tentang siapa Rasulullah, kedudukan beliau, sahabat beliau, dan bagaimana resiko yang ditempuh oleh orang2 saleh yang telah mendahului kita. Setelah itu ceritakanlah tentang dien ini, Agama Islam, apa saja kewajiban kita, lalu hak kita, hak orang2 sekitar kita baik itu muslim maupun kafir, juga hak pemerintah dll.
    Ukur keimanan orang2 yang engkau ajarkan apakah sudah mampu untuk menerima ilmu yang lebih tinggi? jika mampu ajarkanlah yang wajib2 terlebih dahulu kemudian sunnah2/mustahab lalu keutamaan2 lain dengan tidak meninggalkan tauhid!
    Setelah kokoh tauhid dan keimanan dalam hati mereka, kenalkanlah para Imam pengusung agama ini (yakni setelah para sahabat engkau perkenalkan) dari mulai Abu Hanifah, Sufyan Ats Tsauri dll hingga zaman beliau rahimahullah 3 Kibarul ulama yang meninggal ditahun 2000-an ini.
    Dari sini saudaraku ikhwan fillah, bisa memperkenalkan dengan 73 golongan sebagaimana telah di sabdakan Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wassalam.
    Terlihat sekali bukan, bahwa jalan yang telah diloncati demikian jauh!!!!! bagaimana saudaramu bisa mengerti dengan apa yang engkau pahami saat ini? Setelah itu tawakal kepada Allah semata, karena seberapapun usahamu yang sangat keras, jika Allah tidak mengizinkan petunjuk itu diterima oleh saudaramu, maka yakinilah tidak akan mungkin.
    Jangan sampai terlewat untukmu untuk menggunakanlah bahasa yang mudah dicerna, bersikap lemah lembutlah dalam berbicara kepada mereka, tetapi janganlah bersikap tawar-menawar/ bersikap lemah lembut dalam kaidah2 agama sebagaimana kelompok yang mengaku mengikuti Rasulullah padahal telah melakukan penyimpangan dalam manhaj.
    Kepada saudaraku yang mnuntut ilmu, sabarlah terhadap guru2/ ustadz kalian yang bersikap keras kepada kalian tetapi kalian tidak mendapati kekeliruannya dalam agama (yakni engkau bandingkan dengan Al-Qur’an/ Sunnah Rasulullah). Jika engkau mendapatinya (kekeliruan) tegurlah dengan baik secara sendiri2 (berdua langsung), karena yang demikian lebih baik hasilnya. Jika engkau tidak mampu maka carilah orang yang bisa berbicara dengan nya. Tidak perlu engkau secara langsung karena yang engkau harapkan hanyalah pahalanya dari Allah. Bersikap sabar kepada guru2 kalian karena engkau dapati sesungguhnya beliau memiliki ilmu agama ini. Bantulah beliau untuk mengurus sehari2nya (kebutuhan minimal hidupnya). Semoga Allah Ta’ala memberikan kebaikan kepada kita semua, kaum muslimin, rakyat dan penguasanya.

    Barakallahu Fiik

    Comment by zidon — August 30, 2008 @ 4:24 pm

  11. DARIPADA SALING MENGHUJAT…LEBIH BAIK MENDENGARKAN BLACK SABBATH…
    gimana ok ngga tuh…Buat LDII tetap solid yah….tetap QUR’AN – HADIST JAMAAH ILLA YAUMUL KIAMAH…LDII RULES!!!!

    Comment by dr.feelgood — August 26, 2008 @ 4:06 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: