LDII Watch

August 4, 2006

[Kliping] Runtuhnya Dinasti LDII (Dialog 1)

Filed under: Kliping Artikel Kontra LDII — ldiiwatch @ 6:39 pm

Penulis : Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, Dzat yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amiin…

Memenuhi harapan saudara Luqman Taufiq, maka berikut saya akan berupaya menjawab berbagai pertanyaan yang ia ajukan kepada saya, seputar berbagai doktrin yang sedang melilit dan membelenggu dirinya (silahkan melihat komentar-komentar lain dari pengikut LDII dan pro LDII pada bagian akhir artikel ini -ed).

Pertanyaan Pertama:

Luqman Taufiq berkata,
“Kalo kita berada pada suatu wilayah (negara) minimal 3 orang dan salah satunya tdk mengangkat imam maka di katakan bahwa hidupnya tidak halal (nafasnya harom, sholatnya harom, hajinya harom bahkan jima’nya harom) nah kalo harom semua maka statusnya di samakan dgn org-2 kafir. Dan di katakan Bahwa Presiden bukanlah seorang imam, krn presiden hanya mengurusi masalah dunia aja, tidak pernah mengajak rakyatnya, meramut rakyatnya utk mengaji qur’an hadist (hal ini beda dgn imam kami). adapun dalil yg di gunakan :

a. Tidak halal bagi tiga orang yang berada di suatu daerah kecuali mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi amir (pemimpin) (HR. Ahmad)
b. Barang siapa yang mati sedang ia tidak memiliki imam maka matinya dalam keadaan jahiliyyah (HR. Ahmad)

Mohon Pak Ustadz menjelaskan bagaimana kedudukan hadist tsb, sah apa tidak? trus bagaimana syarah yg bener menurut ulama?”

Jawaban:
Agama Islam adalah agama yang mengajarkan agar umatnya senantiasa berbuat adil dan bijak, sehingga ucapan atau perbuatan apapun yang ia lakukan senantiasa mendatangkan kebaikan dan menghindarkannya dari kerugian, baik di dunia ataupun di akhirat. Bahkan dinyatakan dalam kaedah ilmu fiqih: “Syari’at Islam dibangun di atas upaya merealisasikan kemaslahatan dan menghindarkan kerugian/ kejelekan.”

Syeikh Abdurrahman bin Nasir As Sa’di dalam salah satu bait sya’ir beliau yang memuat kaedah-kaedah fiqih menyatakan:

والدين مبني على المصالح في جلبها والدرء للقبائح

“Dan agama itu dibangun diatas kemaslahatan
Dengan merealisasikannya dan menepis segala bentuk keburukan.”

Bahkan sebagian ulama’ menyimpulkan lebih tegas dengan menyatakan: seluruh syari’at Islam berpusat pada satu kaedah besar, yaitu upaya merealisasikan kemaslahatan bagi umat manusia, dalam kehidupan di dunia ataupun di akhirat, sebagaimana yang dipaparkan dengan panjang lebar oleh Imam Izzuddin bin Abdissalaam As Syafi’i dalam kitabnya: “Qawaidul Ahkam Fi Mashalihil Anam” (Kaedah-kaedah hukum tentang kemaslahatan umat manusia).

Kesimpulan beliau ini selaras dengan firman Allah Ta’ala :

خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Allah menciptakan langit dan bumi dengan al haq (penuh hikmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasan Allah bagi orang-orang yang beriman.” (Al ‘Ankabut: 44)

Dan lebih jelas lagi sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala dalam ayat lain:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً

“Dialah Allah Yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (Al Baqarah: 29)

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Luqman: 20)

Berangkat dari prinsip dasar ini, dapat disimpulkan bahwa setiap hal yang akan mendatangkan kebaikan, dan menghindarkan dari petaka, baik di dunia ataupun di akhirat diajarkan dan dianjurkan dalam syari’at Islam. Dan sebaliknya setiap hal yang akan merugikan kehidupan mereka di dunia atau diakhirat, atau tidak ada gunanya pasti tidaklah diajarkan kepada umatnya.

Oleh karena itu hendaknya setiap umat Islam senantiasa menjadikan fakta ini sebagai pedoman hidupnya. Dengan demikian seorang muslim tidaklah berkata-kata atau berbuat kecuali dengan hal-hal yang berguna, baik di dunia atau di akhirat.

Bahkan Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menjadikan hal ini sebagai standar mutu keislaman seseorang:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه. رواه أحمد والترمذي وابن ماجة وصححه الألباني

“Diantara pertanda kebaikan islam seseorang ialah ia meninggalkan hal-hal yang tidak perlu bagi dirinya.” (Riwayat Imam Ahmad, At Tirmizy, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albany)

Hal ini berlaku dalam seluruh urusan umat islam, termasuk di dalamnya urusan tatanan kemasyarakatan mereka. Tidaklah layak bagi umat islam untuk melakukan suatu hal yang tidak ada kegunaannya bagi mereka, misalnya mengangkat/membai’at seorang imam yang tidak dapat menjalankan tugasnya sedikitpun, tidak dapat menangkap penjahat, mengadili orang salah dan membela orang lemah, mempertahankan kedaulatan negara, mengatur pelaksanaan ibadah haji, menegakkan stabilitas ekonomi, keamanan negara, membela agama, memberantas syirik dan bid’ah dll.

Al Mawardi As Syafi’i rahimahullah berkata: “Umat manusia harus memiliki seorang pemimpin yang berkuasa, yang dengannya bersatu berbagai keinginan yang beraneka ragam, dan berkat kewibawaannya jiwa-jiwa yang berselisih dapat bersatu, berkat kekuatannya orang-orang yang zalim dapat dihentikan, dan karena rasa takut kepadanya jiwa-jiwa yang jahat lagi suka membangkang dapat dijinakkan. Hal ini karena sebagian manusia memiliki ambisi untuk menguasai dan menindas orang lain, yang tabiat ini tidaklah dapat dihentikan kecuali dengan kekuatan dan ketegasan.” (Dinukilkan dari Faidhul Qadir, oleh AL Munawi 4/143).

Penjabaran Al Mawardi ini selaras dengan ucapan sahabat Umar bin Khattab rodiallahu’anhu:

والله لما يزع الله بالسلطان أعظم مما يزع بالقرآن. رواه الخطيب البغدادي

“Sungguh demi Allah, pengaruh para pemimpin dalam mencegah manusia dari kemaksiatan lebih besar dibanding pengaruh Al Qur’an.” (Riwayat Al Khathib Al Baghdady)

Oleh karena itu tatkala hal-hal yang merupakan fungsi kepemimpinan ini tidak dapat atau tidak mungkin dilaksanakan, maka tidaklah ada gunanya bai’at dan kepemimpinan. Sehingga tidak heran bila Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam selama berada di kota Makkah, tidak menegakkan imamah/negara. Bahkan tatkala beliau ditawari oleh orang-orang Quraisy untuk menjadi pemimpin/penguasa -dengan konsekwensi tetap melestarikan praktek-praktek kesyirikan, dan segala tradisi jahiliyyah- beliau menolak tawaran tersebut. Kisah ini dapat dibaca di sirah Ibnu Ishaq 1/503, sirah Ibnu Hisyam 2/130, dan Al Bidayah wa An Nihayah 363.

Bahkan Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam telah mewasiatkan hal ini kepada sahabtnya Huzaifah bin Yaman, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه يقول: كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه و سلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني، فقلت: يا رسول الله إنا كنا في جاهلية وشر، فجاءنا الله بهذا الخير، فهل بعد هذا الخير شر؟ قال: نعم. فقلت: هل بعد ذلك الشر من خير؟ قال: نعم، وفيه دخن. قلت: وما دخنه؟ قال: قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي، تعرف منهم وتنكر. فقلت: هل بعد ذلك الخير من شر؟ قال: نعم: دعاة على أبواب جهنم، من أجابهم إليها قذفوه فيها. فقلت: يا رسول الله صفهم لنا. قال: نعم، قوم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا. قلت: يا رسول الله فما ترى إن أدركني ذلك قال: الزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك. متفق عليه

“Dari sahabat Huzaifah bin Al Yaman rodiallahu’anhu ia menuturkan: Dahulu orang-orang senantiasa bertanya kepada Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam tentang kebaikan, dan aku bertanya kepadanya tentang kejelekan karena khawatir akan menimpaku, Aku bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam jahiliyah, kejelekan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini (agama islam), maka apakah setelah kebaikan ini akan ada kejelekan? Beliau menjawab: Ya. Aku pun bertanya kembali: Apakah setelah datangnya kejelekan tersebut akan ada kebaikan? Beliau menjawab: Ya, dan padanya terdapat kekeruhan. Akupun bertanya: Apakah kekeruhannya tersebut? Beliau menjawab: Sekelompok orang yang mengamalkan petunjuk selain petunjukku, sehingga engkau dapatkan pada mereka amalan baik dan juga kemungkaran. Aku kembali bertanya: Apakah setelah kebaikan tersebut akan ada kejelekan? Beliau menjawab: Ya, para da’i (penyeru) yang berada di pintu-pintu Jahannam, barang siapa memenuhi seruan mereka niscaya akan mereka campakkan ke dalamnya. Aku pun kembali bertanya: Ya Rasulullah, sebutkanlah kriteria mereka kepada kami. Beliau menjawab: Mereka itu dari bangsa kita, dan berbicara dengan bahasa kita. Aku pun kembali bertanya: Apakah yang engkau wasiatkan kepadaku bila aku mengalami keadaan itu? Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah engkau dengan jama’atul muslimin dan pemimpin (imam/kholifah) mereka”. Aku pun bertanya: Seandainya kaum muslimin tidak memiliki jama’ah, juga tidak memiliki pemimpin (imam/kholifah)? Beliau pun menjawab: Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut, walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajalmu, dan engkau dalam keadaan demikian itu“. (Muttafaqun ‘Alaih)

Hal ini tentu menyelisihi keimaman yang ada di berbagai sekte, termasuk LDII, dimana mereka membai’at seorang imam yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa, dan tidak dapat melakukan apa-apa, sehingga maksud dan tujuan adanya imamah benar-benar tidak tercapai.

Dengan demikian Khilafah/Imamah dalam Islam bukan hanya sebatas simbol, atau titel atau gelar, walaupun tanpa ada gunanya. Akan tetapi Khilafah adalah salah satu kewajiban (syari’at) yang harus dilaksanakan dengan ikhlas dan selaras dengan syari’at Islam.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Wajib untuk diketahui bahwa mengatur/memimpin urusan masyarakat adalah salah satu kewajiban terbesar dalam agama, bahkan tidaklah akan tegak urusan agama dan juga urusan dunia tanpa adanya kepemimpinan. Karena urusan umat manusia tidaklah akan dapat tercapai dengan sempurna kecuali dengan cara bersatu saling memenuhi kebutuhan sesama mereka. Dan ketika mereka telah bermasyarakat, maka harus ada kepemimpinan, sampai-sampai Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدهم. رواه أبو داود من حديث أبي سعيد وأبي هريرة

“Bila tiga orang keluar dalam suatu safar/perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah satu dari mereka sebagai pemimpin.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abu Sa’id dan Abu Hurairah)

Dan Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam kitabnya Al Musnad dari sahabat Abdullah bin Amer, bahwasannya Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

لا يحل لثلاثة يكونون في فلاة من الأرض إلا أمروا عليهم أحدهم

“Tidaklah halal bagi tiga orang yang sedang berada di tanah terbuka (padang pasir/atau hutan atau yang serupa) melainkan bila mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.”

Nabi shollallahu’alaihiwasallam mengharuskan agar seseorang sebagai pemimpin dalam perkumpulan yang kecil dan bersifat sementara yaitu hanya dalam perjalanan. Hal ini sebagai pelajaran pada perkumpulan-perkumpulan yang lainnya. Dan karena Allah Ta’ala telah mewajibkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan kewajiban ini tidaklah dapat dilakukan dengan sempurna tanpa adanya kekuatan dan kepemimpinan. Demikian juga halnya dengan kewajiban lainnya, yaitu jihad, menegakkan keadilan, pelaksanaan ibadah haji, shalat jum’at, perayaan hari raya, dan pembelaan terhadap orang yang tertindas, dan penerapan hukum had (hukum pidana) tidak dapat dilakukan melainkan dengan adanya kekuatan dan kepemimpinan. Oleh karena itu diriwayatkan :

أن السلطان ظل الله في الأرض

“Penguasa/pemimpin adalah naungan Allah di bumi.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dari sahabat Abu Bakrah, dan dihasankan oleh Al Albani)

Dan dinyatakan:

ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان

“Enam puluh tahun di bawah kepemimpinan seorang imam yang jahat, lebih baik dibanding satu malam dengan tanpa penguasa.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 28/390)

Dari keterangan di atas, kita dapat pahami bahwa syari’at Islam mensyaratkan agar imam/khalifah yang memimpin masyarakat memiliki dua kriteria penting, dua kriteria yang saling melengkapi, yaitu:

  1. Kepemimpinan
  2. Kekuatan

Dan tugas utama dari kepemimpinan ialah menjalankan syari’at Allah, yaitu menegakkan hukum pidana, memimpin jihad, dan melindungi serta mengatur berbagai urusan rakyatnya. Oleh karena itu diriwayat dalam sebuah hadits:

السلطان ظل الله في الأرض يأوي إليه كل مظلوم من عباده. رواه البيهقي

“Pemimpin adalah naungan Allah yang ada di bumi, yang kepadanyalah setiap orang yang teraniaya akan berlindung.” (Riwayat Al Baihaqy, dengan sanad yang lemah)

Dan dalam hadits lain Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء، كلما هلك نبي خلفه نبي، وإنه لا نبي بعدي، وستكون خلفاء فتكثر، قالوا: فما تأمرنا؟ قال: فوا ببيعة الأول فالأول، وأعطوهم حقهم فإن الله سائلهم عما استرعاهم. متفق عليه

“Dahulu Bani Israil dipimpin/diatur oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal, maka digantikan oleh nabi lainnya. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan nanti akan ada para penguasa, dan banyak jumlahnya. Para sahabat bertanya: Apakah yang engkau perintahkan kami (bila pemimpinnya lebih dari satu)? Beliau menjawab: Penuhilah bai’at orang yang lebih dahulu (memimpin), dan tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka, karena sesungguhnya Allah akan memintai pertanggung jawaban mereka tentang tugas yang mereka emban.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan pada hadits lain, beliau shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: إنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به، فإن أمر بتقوى الله عز وجل وعدل، كان له بذلك أجر وإن يأمر بغيره كان عليه منه. رواه البخاري ومسلم

“Dari sahabat Abu Hurairah rodiallahu’anhu, dari Nabi shollallahu’alaihiwasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya pemimpin/imam itu bagaikan perisai, digunakan untuk berperang dari belakangnya dan sebagai pelindung. Bila ia memerintahkan dengan ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan berbuat adil, maka ia akan mendapatkan pahala, dan bila ia memerintahkan dengan selainnya, maka hanya dialah yang menanggung dosanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan berkata: “Seorang pemimpin/ imam bagaikan perisai, karena ia menghalangi musuh dari mengganggu umat islam, dan mencegah kejahatan sebagian masyarakat kepada sebagian lainnya, membela keutuhan negara Islam, ditakuti oleh masyarakat, karena mereka kawatir akan hukumannya. Dan makna ‘digunakan untuk berperang dibelakangnya‘ ialah orang-orang kafir diperangi bersamanya, demikian juga halnya dengan para pemberontak, kaum khowarij, dan seluruh pelaku kerusakan dan kelaliman.” (Syarah Shahih Muslim oleh Imam An Nawawi 12/230)

قال النووي: الإمام جنة أي كالستر لأنه يمنع العدو من أذى المسلمين ويمنع الناس بعضهم من بعض ويحمي بيضة الإسلام ويتقيه الناس ويخافون سطوته ومعنى يقاتل من ورائه أي يقاتل معه الكفار والبغاة والخوارج وسائر أهل الفساد والظلم مطلقا والتاء في يتقي مبدلة من الواو 12/230

Inilah konsep khilafah atau imamah (kepemimpinan) dalam syari’at Islam. Dengan demikian jelaslah bahwa anggapan yang menyatakan: pemerintah (presiden) bukanlah imam, adalah anggapan yang salah, sebab kita semua tahu bahwa dengan pemerintahan yang ada banyak hal dapat terwujud, diantaranya: stabilitas keamanan, perekonomian, pengadilan, pelaksanaan ibadah haji, pembelaan negara dari serangan musuh dll.

Adapun kekurangan dalam hal pendidikan agama, maka pada prinsipnya pemerintah yang ada telah menjalankan sebagian tugas ini, yaitu melalui Departeman Agama, dan sekolah-sekolah islam yang ada. Akan tetapi para pelaksananyalah yang melakukan kesalahan-kesalahan, dan lalai dari tugasnya.

Hal ini bukan berarti saya menyatakan bahwa pemerintah yang ada telah menerapkan syari’at islam, akan tetapi banyak dari fungsi imamah tercapai dengan mereka, walaupun mereka belum menjadikan syari’at islam sebagai landasan hukum mereka.

Ditambah lagi doktrin LDII yang disebutkan oleh saudara Luqman Taufik, yaitu:

“di katakan bahwa Presiden bukanlah seorang imam, krn presiden hanya mengurusi masalah dunia aja, tidak pernah mengajak rakyatnya, meramut rakyatnya utk mengaji qur’an hadist (hal ini beda dgn imam kami).”

Maka ini adalah suatu kesesatan tersendiri, sebab doktrin ini mengandung unsur paham sekuler, yaitu pemisahan antara urusan dunia dan agama. Padahal yang benar islam (imam) mengatur urusan dunia dan akhirat.

Doktrin ini juga merupakan kedustaan besar, sebab kita semua tahu bahwa pemerintah (sekarang ini –ed) –dengan segala kekurangannya- mengurusi keamanan umat islam, perekonomian, pendidikan, ibadah haji, puasa, pernikahan, pembagian warisan, menjaga kedaulatan negara, dll. Ini adalah bagian dari tugas imamah/kepemimpinan yang mereka jalankan, dan tidak mampu dijalankan oleh imam LDII/Imam Bithonah, sehingga lebih tepat bila kita menyebut imam LDII sebagai Imam Batholah (imam pengangguran). (Maaf sedikit kasar, tapi itulah fakta yang terjadi di alam nyata).

Sebagaimana doktrin ini juga mengandung pembodohan terhadap umat, sebab setiap orang tahu dan menyaksikan sendiri bahwa para imam yang dibai’at oleh kaum LDII tidaklah dapat menjalankan tugas utama imamah yang telah disebutkan di atas. Adapun seruan untuk mengaji Al Qur’an dan hadits, maka hal ini bukan hanya dapat dilakukan oleh imam-imam-an LDII, akan tetapi dapat juga dilakukan oleh setiap orang yang berilmu, dari para mubaligh, ulama’, santri dll.

Adapun hadits yang disebutkan oleh saudara Luqman Taufik, berikut ini:

لا يحل لثلاثة نفر يكونون بأرض فلاة إلا أمروا عليهم. رواه أحمد

“Tidak halal bagi tiga orang yang berada di suatu daerah kecuali mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi amir (pemimpin).” (Riwayat Imam Ahmad)

Maka hadits ini ditafsiri oleh hadits lain yang senada dengannya dan dengan teks yang lebih tegas dan jelas:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إذا كنتم ثلاثة في سفر فليؤمكم أحد وأحقكم بالإمامة أقرؤكم . رواه مسلم وأحمد أبو داود وابن حبان وغيرهم واللفظ لابن حبان

“Dari Abu Sa’id Al Khudri rodiallahu’anhu, ia menuturkan: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Bila kalian bertiga dalam suatu perjalanan, maka hendaknya salah seorang dari kamu menjadi imam kalian/pemimpin, dan yang paling berhak dari kalian untuk menjadi imam ialah yang paling banyak bacaannya (hafalannya).” (Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dll, dan teks hadits ini sesuai dengan riwayat Ibnu Hibban)

Dan bila hadits ini bila dipahami sesuai paham LDII, maka urusan umat akan kacau-balau, sebab di tengah masyarakat akan terdapat beribu-ribu Khalifah/Imam, karena dalam satu kota saja terdapat banyak rombongan musafir, dan setiap rombongan telah menunjuk pemimpin/ketua. Dan bila hal ini terjadi, maka apa gunanya Khilafah, dan pasti terjadi kekacauan, terlebih-lebih bila digabungkan dengan pengamalan terhadap hadits berikut:

إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهما. رواه مسلم من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه.

Bila dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (Riwayat Muslim dari hadits Abu Sa’id Al Khudri rodiallahu’anhu)

Maka pertumpahan darah akan menimpa setiap musafir yang bepergian dengan cara berombongan. Dan sudah barang tentu, hal ini akan membumi hanguskan seluruh umat, sebab tidaklah suatu keluarga yang biasanya terdiri dari suami, istri dan anak, melainkan pernah bepergian/safar bersama-sama, sehingga otomatis mereka menunjuk salah satu dari mereka sebagai pemimpin, dan kemudian keluarga lain yang safar terlebih dahulu akan memeranginya dan demikian seterusnya.

Oleh karena itu para ulama hadits yang meriwayatkan hadits ini menyebutkannya dalam bab Imamatus Shalat (imam dalam shalat berjama’ah). Dan mereka juga menjabarkan bahwa kepemimpinan ini diistilahkan dengan Kepemimpinan Safar. Dan kepemimpinan safar tidaklah sama dengan Kepemimpinan Khilafah. Kepemimpinan safar hanya terbatas dalam hal urusan safar belaka, misalnya tempat istirahat, yang mengendarai kendaraan, mengambil/membeli makanan, menentukan jalur yang akan ditempuh dst. Adapun menegakkan hukum pidana dan perdata, menggerakkan jihad, dll bukanlah wewenangnya. (Silahkan baca keterangan Al Munawi tentang hadits ini dalam kitabnya Faidhul Qadir 1/333)

Pahamilah wahai saudara-saudaraku, bahwa ilmu mangkul seperti yang pernah saya jabarkan dalam diskusi pertama, akan dapat menghindarkan kita dari kesalah pahaman semacam ini. Akan tetapi ilmu mangkul ala LDII justru malah menjerumuskan kita kedalam kesesatan dan kebinasaan semacam ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan ilmu dan pemahaman kepada kita semua.

Adapun hadits kedua yang disebutkan oleh saudara Luqman Taufiq, yaitu:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية. رواه الإمام أحمد

“Barang siapa yang mati sedang ia tidak memiliki imam maka matinya dalam keadaan jahiliyyah”. (Riwayat Imam Ahmad)

Hadits ini semakna dengan hadits lain yang berbunyi:

ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية . رواه مسلم

“Barang siapa yang mati sedang dilehernya tidak terdapat bai’at (kepada seorang imam) maka matinya dalam keadaan jahiliyyah.” (Riwayat Muslim)

Hadits-hadits ini harus dipahami sesuai dengan penjelasan saya di atas, sebab Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam sendiri telah mewasiatkan kepada umatnya bila umat islam tidak memiliki Khalifah atau jama’ah/negara, agar meninggalkan seluruh sekte yang ada di masyarakat. Beliau tidak memerintahkan umatnya agar tetap mengangkat khalifah atau imam walaupun kekhilafahannya hanya di bawah tanah, karena yang dapat hidup di bawah tanah dan kemudian memimpin di sana hanyalah bangsa cacing, tikus dan yang serupa. Adapun umat Islam maka diperintahkan untuk senantiasa hidup dan berpikir yang nyata, sehingga bila tidak mampu untuk menegakkan khilafah atau negara, maka tidak ada gunanya memaksakan diri, akan tetapi sebagaimana waksiat Nabi shollallahu’alaihiwasallam kepada sahabat Huzaifah bin Yaman berikut:

قال حذيفة رضي الله عنه: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك. متفق عليه

“Sahabat Huzaifah bertanya: Seandainya kaum muslimin tidak memiliki jama’ah, juga tidak memiliki pemimpin (imam/kholifah)? Beliaupun menjawab: Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut, walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajalmu, dan engkau dalam keadaan demikian itu”. (Muttafaqun ‘Alaih)

Imam At Thobary rahimahullah berkata: “Pada hadits ini ada petunjuk bahwa bila pada suatu saat umat islam tidak memiliki seorang pemimpin/imam, sehingga mereka terpecah-belah menjadi berbagai sekte, maka tidak dibenarkan bagi seorang muslim untuk mengikuti siapa saja dalam hal perpecahan ini. Akan tetapi hendaknya ia menjauhi mereka semua -bila ia mampu melakukan hal itu- agar ia tidak terjerumus dalam kejelekan.” (Dinukil dari Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalany 13/44)

Bila Nabi shollallahu’alaihiwasallam mewasiatkan kita bila dalam keadaan kacau-balau karena tidak ada imam yang memimpin umat islam, agar tidak mengikuti sekte atau kelompok apapun, maka di saat umat islam telah memiliki pemerintahan yang sah, dan memiliki kekuatan, dan berbagai kelengkapan suatu negara, jelas tidak ada alasan untuk membai’at Imam Bawah Tanah yang bernegerikan di negeri antah berantah, atau Imam Bithonah (imam tersembunyi/terselubung).

Bukan hanya tidak boleh membaiat pemimpin baru, bahkan Nabi shollallahu’alaihiwasallam memerintahkan agar siapa saja yang menobatkan dirinya sebagai pemimpin tandingan agar diperangi atau dibunuh, sebagaimana ditegaskan pada hadits riwayat imam Muslim di atas, dan juga pada sabda beliau berikut ini:

من أتاكم وأمركم جميع على رجل واحد يريد عصاكم أو يفرق جماعتكم فاقتلوه. رواه مسلم

“Barang siapa yang datang kepada kalian, sedangkan urusan kalian telah bulat di bawah kepemimpinan seseorang, dan ia hendak memecah belah persatuan kalian dan merusak barisanmu, maka bunuhlah dia.” (Riwayat Muslim)

Pada kesempatan ini saya menyeru pengikut LDII untuk sedikit berfikir:

Bila imam yang mereka bai’at tidak mampu menampilkan batang hidungnya, apalagi menjalankan tugasnya, sampai-sampai dijuluki sebagai Imam Bithonah (imam pedalaman) maka apa kegunaan imam? Apakah manfaat yang dapat dipetik dari membai’atnya?

Bila menampakkan batang hidungnya sebagai imam tidak berani, maka bagaimana mungkin ia berani menegakkan keadilan atau menerapkan syari’at?!

Bila imam-nya sembunyi dan tidak mampu menerapkan hukum-hukum syari’at, misalnya hukum potong tangan bagi pencuri, rajam/cambuk bagi penzina, qishosh bagi oang yang membunuh dengan sengaja, menarik upeti dari ahli zhimmah, berarti ia tidak berhukum dengan hukum Allah Ta’ala. Dan imam yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka halnya seperti yang dinyatakan dalam 3 firman Allah Ta’ala berikut ini:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

“Dan barang siapa yang tidak berhukum menurut apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44)

Atau firman-Nya berikut ini:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون

“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu adalah orang-orang dzolim”. (Al-Maidah: 45)

Atau firman-Nya berikut ini:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الفاسقون

“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu adalah orang-orang fasik.” (Al Maidah: 47)

Bila demikian halnya, maka apa gunanya membai’at imam yang kafir atau zholim atau fasiq?

Bila Imam-nya saja sembunyi dan sampai-sampai dijuluki sebagai Imam Bithonah, maka pengikutnya lebih layak untuk sembunyi, dan hidup di negeri bawah tanah, entah bersama cacing atau makhluk lain.

Bila imamnya tidak berani menunjukkan dengan terus terang akan pembai’atan dirinya, maka amat dimungkinkan pada waktu yang sama ada berjuta-juta atau minimal beribu-ribu Imam Bithonah.

Bila imamnya sembunyi, maka mana mungkin ia mampu membela pengikutnya dari kelaliman selain kelompok LDII, apalagi sampai menangkap pencuri, atau perampok dan penjahat lainnya?!

Bila imamnya sembunyi dan takut untuk menampakkan jati dirinya, maka tidak mengherankan bila berbagai doktrin dan ajarannya disembunyikan dan dirahasiakan dari masyarakat umum. Oleh karena itu mereka berusaha mati-matian bahkan sampai berdusta untuk menyembunyikan bahwa mereka senantiasa mengkafirkan selain kelompoknya.

Adapun makna “mati dalam keadaan jahiliyyah” yang disebutkan dalam hadits yang dipertanyakan oleh saudara Luqman Taufiq di atas, maka maknanya ialah sebagaimana dijelaskan oleh Imam An Nawawi rahimahullah berikut ini: “Kematiannya bagaikan kematian orang-orang jahiliyyah, dari yaitu dalam kekacau-baluan tanpa adanya seorang pemimpin yang mengatur urusannya.” (Syarah Muslim oleh Imam An nawawi 12/238)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata senada dengan ucapan An Nawawi: “Dan yang dimaksud dengan “kematian jahiliyyah” perihal kematiannya serupa dengan kematian orang-orang jahiliyyah, yaitu dalam kesesatan dan tidak memiliki seorang imam/pemimpin yang dipatuhi, hal ini karena orang—orang jahiliyyah tidak pernah mengenal kepemimpinan. Dan maksudnya bukanlah ia mati dalam keadaan kafir, akan tetapi ia mati dalam keadaan bermaksiat. Dan amat dimungkinkan penyerupaan ini adalah penyerupaan yang sebenarnya, maksudnya: ia mati seperti kematian orang jahiliyah, walaupun ia sendiri bukan orang jahiliyyah. Dan dimungkinkan juga penyerupaan ini sebatas teguran dan peringatan, sedangkan makna lahirnya tidak dimaksudkan. Dan yang menguatkan bahwa yang dimaksud dengan “jahiliyyah” hanya sebatas penyerupaan ialah sabda beliau pada hadits lain:

من فارق الجماعة شبرا فكأنما خلع ربقة الإسلام من عنقه. أخرجه الترمذي وابن خزيمة وابن حبان ومصححا من حديث الحارث بن الحارث الأشعري.

“Barang siapa yang memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin (yang di bawah kepemimpinan seorang penguasa), maka seakan-akan ia telah melepaskan kekang Islam dari lehernya.” (Diriwayatkan oleh At Tirmizy, Ibnu KHuzaimah, Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh beliau, dari hadits riwayat Al Harits bin Al Harits Al Asy’ary.” (Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalany 13/9)

Dari keterangan Imam Nawawi dan Ibnu Hajar ini dapat dipahami bahwa seseorang disebut berperilaku jahiliyyah atau perlakuannya adalah jahiliyyah tidak serta-merta ia telah keluar dari agama islam, akan tetapi itu merupakan celaan dan suatu perbuatan dosa besar, dan pelakunya tidak murtad dari agama islam. Diantara buktinya ialah dua kisah berikut:

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه يقول: كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم في غزاة، فكسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار، فقال الأنصاري: يا للأنصار، وقال المهاجري: يا للمهاجرين. فقال رسول الله: ما بال دعوى الجاهلية؟! قالوا: يا رسول الله كسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار. فقال: دعوها فإنها منتنة، فسمعها عبد الله بن أبي، فقال: قد فعلوها؟! والله لئن رجعنا إلى المدينة ليخرجن الأعز منها الأذل. قال عمر: دعني أضرب عنق هذا المنافق. فقال: دعه لا يتحدث الناس أن محمدا يقتل أصحابه. متفق عليه

“Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, ia mengkisahkan, pada saat kami bersama Nabi shollallahu’alaihiwasallam dalam suatu peperangan, tiba-tiba ada seseorang dari kaum Muhajirin yang memukul pantat seseorang dari kaum Anshar, maka orang Anshar tersebut berteriak meminta pertolongan kepada kaumnya orang-orang Anshar, dan sebaliknya orang Muhajirin tadi juga berteriak meminta bantuan kepada kaumnya orang-orang Muhajirin. Mendengar hal tersebut Rasulullah  bersabda, “Mengapa kalian menyeru dengan seruan orang-orang jahiliyyah?!” Mereka pun menjawab, “Wahai Rasulullah, ada seseorang dari Muhajirin yang memukul pantat seseorang dari kaum Anshar. Maka Nab ipun bersabda, “Tinggalkanlah, karena sesungguhnya itu (seruan jahiliyyah) adalah busuk“. Maka tatkala Abdullah bin Ubay mendengar hal itu ia berkata, “Apakah mereka (orang-orang Muhajirin) benar-benar telah melakukannya (berbuat semena-mena terhadap kaum Anshar)? Sungguh demi Allah bila kita telah tiba di kota Madinah, niscaya orang-orang yang lebih mulia (Yang ia maksud ialah orang-orang Anshar –pen) akan mengusir orang-orang yang lebih hina”. (Yang ia maksud ialah orang-orang Muhajirin). (Mendengar ucapan demikian ini) Umar bin Khattab berkata kepada Nabi shollallahu’alaihiwasallam, “Izinkanlah aku untuk memenggal leher orang munafiq ini (Abdullah bin Ubay), Maka Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda, “Biarkanlah dia, jangan sampai nanti orang-orang beranggapan bahwa Muhammad telah tega membunuh sahabatnya sendiri”. (Muttafaqun ‘Alaih)

Perbuatan sebagian sahabat ini dinyatakan dengan tegas oleh Nabi shollallahu’alaihiwasallam sebagai seruan jahiliyyah, akan tetapi Nabi shollallahu’alaihiwasallam tidak memvonis mereka telah murtad atau keluar dari agama islam, dan harus memperbaharui syahadatnya.

Kisah kedua:

قال أبو ذر رضي الله عنه : كان بيني وبين رجل كلام، وكانت أمه أعجمية، فنلت منها، فذكرني إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال: لي أساببت فلانا ؟ قلت: نعم. قال: أفنلت من أمه؟ قلت: نعم. قال: إنك امرؤ فيك جاهلية قلت: على حين ساعتي هذه من كبر السن؟ قال: نعم. متفق عليه

“Sahabat Abu Dzar rodiallahu’anhu mengisahkan: “Pada suatu saat terjadi percekcokan antara aku dan seseorang , dan ibu orang itu adalah wanita non arab (seorang budak), kemudian aku mencela ibunya tersebut. Dan orang tersebut melaporkan aku kepada Nabi shollallahu’alaihiwasallam, maka beliau bersabda kepadaku: Apakah engkau telah bercaki-maki dengan fulan? Ak upun menjawab: Ya. Beliau bertanya lagi: Apakah engkau mencela ibunya? Aku pun menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau adalah orang yang padamu terdapat perangai jahiliyyah” Aku bertanya: Apakah hal itu terjadi setelah aku cukup umur seperti ini? Beliau menjawab: Ya. (Muttafaqun ‘alaih)

Sahabat Abu Zar dinyatakan oleh Nabi shollallahu’alaihiwasallam memiliki perangai orang-orang jahiliyyah, akan tetapi beliau tidak memerintahkannya untuk memperbaharui syahadatnya, ini membuktikan bahwa penyataan terhadap suatu ucapan atau perbuatan sebagai “perbuatan atau ucapan atau kejadian jahiliyyah” tidak serta-merta bermakna kafir atau murtad. Atau mungkinkah LDII telah memvonis kafir/murtad para sahabat yang menyerukan dengan seruan jahiliyyah dan juga Abu Zar yang kala itu terdapat perangai jahiliyyah??! Adakah orang-orang LDII yang berani menjawab pertanyaan ini dengan jujur dan tegas?

Dan diantara yang membuktikan kebenaran apa yang telah dijabarkan oleh imam An Nawawi dan juga Ibnu Hajar di atas ialah kisah berikut:

عن الحسن قال: لما قتل علي رضي الله عنه الحرورية، قالوا: من هؤلاء يا أمير المؤمنين، أكفار هم؟ قال: من الكفر فروا. قيل: فمنافقين؟ قال: إن المنافقين لا يذكرون الله إلا قليلا، وهؤلاء يذكرون الله كثيرا. قيل: فما هم؟ قال: قوم أصابتهم فتنة فعموا فيها. رواه عبد الرزاق

Dari Al Hasan Al Bashry, ia menceritakan: “Tatkala Kholifah Ali (bin Abi Tholib) telah berhasil menumpas kelompok Al Haruriyyah (khowarij), para pengikutnya bertanya: Siapakah mereka itu wahai Amirul Mukminin, apakah mereka itu orang-orang kafir? Beliau menjawab: Mereka itu orang-orang yang melarikan diri dari kekufuran. Dikatakan lagi: Kalau demikian apakah mereka itu orang-orang munafiqin? Beliau menjawab: Sesungguhnya orang-orang munafiqin tidaklah menyebut/berzikir kepada Allah melainkan sedikit sekali, sedangkan mereka itu banyak berzikir kepada Allah. Dikatakan kepada beliau: Lalu siapakah mereka itu: beliau menjawab: Mereka adalah orang-orang yang ditimpa fitnah (kesesatan) kemudian mereka menjadi buta karenanya.” (Riwayat Abdurrazzaq)

Kaum Haruriyyah telah memberontak kepada kholifah yang sah kala itu, yaitu sahabat Ali bin Abi Tholib rodiallahu’anhu, sehingga mereka semua mati dalam keadaan tidak ada ikatan bai’at pada lehernya, akan tetapi sahabat Ali -dan juga seluruh sahabat kala itu menyetujui ucapan beliau- tidaklah mengkafirkan mereka, tidak juga menganggapnya sebagai orang-orang munafiq.

-bersambung-

Berikut ini adalah beberapa komentar dari para pengikut dan pro LDII yang tidak kami tampilkan pada artikel LDII sebelumnya:

Name: qball | E-mail: mo_qihum@yahoo.com | IP: 222.124.45.105
dan pernyataan pak ustad LDII menajiskan orang lain itu juga tidak benar, emang pak ustad pernah mengalami sendiri?????? kalau tidak mau salaman dengan wanita yg bukan mahrom jelas gak mau dong… kan dalilnya ada bahwa lebih baik ditusuk dengan jarum besar dari besi yang tembus dari kepala samapai dubur dari pada menyentuh wanita yg bukan mahromnya, jelaskan???

Name: qball | E-mail: mo_qihum@yahoo.com | IP: 222.124.45.105
pak ustad juga harus ingat bahwa kita muslim tidak boleh mengkafir-kafirkan muslim yg lain karna akan akan menimpa pada dirinya sendiri, jadi tidak benar LDII mengkafir-kafirkan muslim yg lain, kalaupun ada itu hanyalah oknum yang menjelek-jelekkan.

Name: qball | E-mail: mo_qihum@yahoo.com | IP: 222.124.45.105
ingat sabda nabi man qola fi kitabillahi azza wa jalla bi rokyihi faqod akhto yang artinya bahwa barang siapa yang berkata dengan kitabnya Alloh (quran) dengan pendapatnya sendiri maka sungguh2 telah salah, maka berdasarkan dalil ini saya tidak setuju dengan ustad muh arifin karna jelas berdasarkan dalil ini orang tidak bisa dengan pemahamannya sendiri mengartikan atau memahami quran dengan pendapatnya sendiri walaupun pemahamannya benar, ingat nabi muhammad sendiri mendapat wahyu dari Alloh dari Malaikat Jibril dan dijelaskan oleh malaikat jibril padahalkan nabi orang arab, nah disinilah perlunya ilmu manqul itu, saya harap ustad faham

Name: Kardiman | E-mail: neo-2005@telkom.net | URI: | IP: 222.124.53.23
Ass
Membaca tulisan pak ustads ini saya berkesimpulan ini bukanlah dialog tapi satu pendapat yang secara sepihak di voniskan pak Ustads kepada LDII/Abu altov.Ini tidak mengherankan karena banyak web yang sepaham dengan Muslim.or.id menulis yang begitu “miring” tentang LDII.
Pak ustads saya banyak bergaul dengan berbagai orang dari berbagai paham islam yang berbeda baik itu NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahir dan bahkan salafy dengan berbagai pecahannya dan saya suka berdiskusi dengan mereka dengan dilandasi saling menghormati tanpa ada prasangka karena kami sama sama mempraktekan firman Allah di surat Al hujaraat ayat 11.
Sayapun sering diskusi dengan teman teman dari LDII mendengar dan memahami pandangan mereka tentang islam, tentang Quran, tentang hadist, bagaimana pula cara mereka belajarnya, bagaimana pula mereka mempraktekannya dalam kehidupan sehari hari dan bahkan bagaimana cara mereka menghadapi berbagai cercaan dan hujatan dari pihak pihak yang tidak suka dengan mereka, Inssya Allah saya lebih banyak tahu dari pak ustads.
Kembali membaca tulisan pak ustads, saya berkesimpulan kalau pak ustads sangat tidak tahu bahkan bisa dikatakan “nol” pemahamannya tentang LDII dan saya menyarankan jika bapak ingin lebih dalam memahami mereka lebih baik datang ke pengajian mereka yang banyak sekali di pelosok pelosok desa maupun kota diskusilah dengan mubalighnya atau orang orang yang sudah dianggap Fakih.Dan saya yakin cara itu akan lebih elegant dan lebih akurat dan fair dalam membuat tulisan dan tentu saja hal itu harus dilandasi hati yang bersih tanpa prasangka.

Name: rohmanudins | E-mail: rohmanudins@yahoo.com | URI: http://udinsyahoo.com | IP: 222.124.24.67
Komentar saya tentang tulisan ini masih memiliki rasa siniz.. ada unsur tidak senang terlebih dahulu sebelumnya, mestinya saudara harus bersifat netral, walaupun dihati saudara tidak senang seperti kata-kata “Semoga ini menjadi nasehat kepada kaum LDII untuk kembali kepada islam yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam.ini mengandung makna bahwa saudaralah yang paling benar dan banyak lagi kata2x yang menunjukan bahwa saudara penulis orang yang tidak berkualitas alias bodoh ‘n goblok dalam hal ilmu agama, mestinya saudara masih perlu banyak belajar(ngaji)berguru seperti ceritanya nabi musa berguru kepada Khaidir sampai betul-betul faham apa itu agama.baru anda bicara
ingatlah saudara ku…..
Kebenaran itu hanyalah milik Allah, bukan milik golongan tertentu (LDII),orang-orang LDII hanyalah Patuh, dan tunduk sa’dermo thoat atas perintah Allah Rosul, dan Amir-nya lain tidak…ya
Ingat-ingat ya saudara ku
Kebenaran islam seseorang itu bukan dilihat dari pakaian gamis, congklang pecis, atau jenggotnya yang panjang atau dijidatnya ada tanda hitam bekas sujudnya akan tetapi benaran islam seseorang itu dilihat dari bagaimana dia mendapatkan ilmunya tidak mencuri(mangkul), dan juga ketaqwaan dihatinya, tidak menggunjingkan/ngerasani orang /memfitnah golongan tertentu, menjelek-jelekan golonga tertentu.

Name: wong LDII | E-mail: wongldii | URI: | IP: 222.124.24.67
-tulisan:
Semoga ini menjadi nasehat kepada kaum LDII untuk kembali kepada islam yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam.
-komentar :
ini kata-kata sinis, gimana mau mendapat hidayah!?
-tulisan :
Oleh karena itu saya heran terhadap ucapan saudara Abu Altov ini, apakah maksudnya dan kandungan apa yang sedang ia siratkan dari ucapannya ini? Apakah yang ia maksud adalah ilmu yang terkandung dalam Al Qur’an dan hadits Nabi shollallahu’alaihiwasallam yang sekarang ada di rumah-rumah umat islam (selain warga LDII) atau di toko-toko kitab, pesantren-pesantren, perpustakaan para ulama’, ustadz, kiyai, muballigh, dan santri-santri tidak sah karena tidak disampaikan oleh guru LDII?! Ataukah LDII memiliki sumber ilmu (baca: Al Qur’an dan hadits-hadits) yang tidak dimiliki oleh masyakat umum di luar kelompoknya?
-komentar :
ini ucapan orang yang tidak mengerti akan ilmu manqul.
-tulisan :
Ucapan Abu Altov ini menurut hemat saya adalah suatu doktrin yang amat buruk sekali yang mungkin ini adalah belenggu yang telah dililitkan oleh tokoh-tokoh LDII di leher setiap pengikutnya
-komentar :
sebaiknya belajar dulu, ngaji yang banyak biar ngerti dasar …
-tulisan :
kelompok LDII senantiasa eksklusif, dan takut bila ajarannya diketahui oleh khalayak umum secara terbuka.
-komentar :
ini tidak benar fitnah ini.
-tulisan :
lha wong LDII baru ada kemaren sore…
-komentar :
sore mbahmu ..!!
-tulisan :
Dan pada kesempatan ini saya ingin bertanya: Menurut doktrin LDII, sahkah keislaman orang kafir yang telah mengucapkan 2 kalimat syahadat akan tetapi pengucapannya tersebut tidak dibimbing oleh seorang guru baik dari LDII atau lainnya, melainkan dari hasil belajar sendiri?
-komentar :
anda sendirilah yang menjawabnya dan menilainya OK !?
-tulisan :
LDII adalah generasi penerus khowarij yang senantiasa mengkafirkan selain kelompoknya
-komentar :
salah satu ucapan orang yang bodoh.
– komentar tambahan :
Kebenaran hanyalah milik Alloh dan Rosul-NYA bukanlah milik orang LDII..!!
Orang-orang LDII hanya tunduk dan patuh (to’at) kepada perintah Alooh dan Rosul-NYA serta Amirnya, itu saja lain tidak.
INGAT !!!
* Tidaklah halal hidup seseorang di muka bumi kalau tidak ada tali bai’at (mengangkat amir) di lehernya.
* Ilmu manqul tidak akan runtuh …
ilmu manqul beriyoni, berwibawa, syah, tidak mencuri.
komentar tambahan :
Wahai ummat, orang kalau sudah terlalu banyak membaca buku/kitab-kitab karangan, maka sulitlah dia untuk mendapatkan hidayah/petunjuk kebenaran. Karena dia merasa dirinya sudah paling pintar, sudah merasa benar, sudah merasa POL sendiri.
INGAT! kebenaran islam seseorang tidak dilihat dari pakaian gamisnya yang congklang, jenggotnya yang panjang, topi pecisnya yg selalu gonta ganti.
Tapi islam seseorang itu dari hatinya, ketaqwaanya kepada Alloh, tidak “ngrasani” seseorang atau kelompok tertentu, tidak sok tau, padahal tidak tahu (sok pintar).
Ikutlah ilmu padi, semakin merunduk semakin berisi semakin berkualitas. OK!

Name: abil baghda | E-mail: resand@yahoo.com | URI: | IP: 61.94.200.13
ilmu mangkul :
1. mana lebih bagus belajar setir mobil sendiri atau dengan ada yang mengajar ?
sy yakin anda ( arifin ) adalah supir metro mini yang belajaR menyetir dengan pake SIM tembak ( jd ngawur)
2. nama ldii memang baru . tetapi anda pun belum lahir pada waktu nama itu di buat.
3. saya tanya apakah para imam-imam besar mencari ilmu dengan hanya membaca saja atau langsung datang dan belajar pada gurunya ?
4. baiat ! saya yakin anda belum sampai pada kitabul ahkam nya imam bukhory , imarohnya muslim .
5. mana dalil nya islam itu jaya dengan debat ?
6. INI TELP SAYA ( 0370 6639552 ) NAMA : ABIL UMUR SAYA 29 TH. MASIH MUDA ? YA , SAYA 28 TAHUN DI LDII.
PADA WAKTU ANDA ( ARIFIN ) MSH DALAM KEGELAPAN.
7. SILAHKAN HUB SAYA BILA ANDA MAU BELAJAR HADITS ATAU
KARNA KALO DEBAT ANDA BUKAN LEVEL SAYA.
HAI PARA PEMBACA SEMUA BACA – RENUNGKAN – DAN MENANGISLAH :::::::
TIDAK AKAN DATANG SEORANG LAKI-LAKI YANG MEMBAWA KEBENARAN SEMISAL YANG ENGKAU BAWA (ROSUL ) KECUALI AKAN DI MUSUHI.
GOL ANDA DI HUJAT ? DI KAFIRKAN ? OLEH GOL LAIN ? TIDAK ? BERARTI ANDA BUKAN YANG DI MAKSUD DALAM HADITS INI. OH…YA …. HADITS IMAM BUKHORY JUZ 1. CARI SENDIRI !

 

Sumber:  http://muslim.or.id/?p=482

78 Comments »

  1. Muhamad arifin badri M.A ( Masuk Angin ) hehehehe ,kayaknya cocok tuh.

    Comment by ady — June 20, 2009 @ 4:16 pm

  2. Bukanlah Ghibah Menceritakan Keadaan Ahli Bid’ah

    Dari Al A’masy dari Ibrahim ia berkata :
    “Bukanlah ghibah menceritakan keadaan ahli bid’ah.” (Al Lalikai 1/140 nomor 276)

    Al Hasan Al Bashry berkata :
    “Menerangkan keadaan ahli bid’ah dan kefasikan orang yang berbuat fasiq terang- terangan bukan perbuatan ghibah.” (Al Lalikai nomor 279-280)

    Dari Sufyan bin Uyainah berkata, Syu’bah pernah berkata :
    “Kemarilah kita (berbuat) ghibah di jalan Allah Azza wa Jalla.” (Al Kifayah 91 dan Syarah Ilal At Tirmidzy 1/349)

    Dari Abi Zaid Al Anshary An Nahwiy berkata, Syu’bah mendatangi kami pada waktu turun hujan dan berkata :
    “Ini bukanlah hari (pelajaran) hadits, hari ini adalah hari ghibah, marilah melakukan ghibah tentang para pembohong itu.” (Al Kifayah 91)

    Dari Makky bin Ibrahim ia berkata, Syu’bah mendatangi Imran bin Hudair dan berkata : “Hai Imran, marilah kita ghibah sesaat di jalan Allah Azza wa Jalla.”
    Kemudian mereka menyebut-nyebut kejelekan (kesalahan) para perawi hadits. (Al Kifayah 91)

    Abu Zur’ah Ad Dimasyqi berkata, saya mendengar Abu Mushir (ketika) ditanya tentang seorang rawi yang keliru dan kacau serta menambah-nambah dalam meriwayatkan hadits, ia berkata : “Terangkan keadaan orang itu!”
    Maka saya bertanya kepada Abu Zur’ah : “Apakah itu tidak Anda anggap ghibah?”
    Ia menjawab : “Tidak.” (Syarh Ilal At Tirmidzy 1/349 dan Al Kifayah 91 dan 92)

    Ibnul Mubarak berkata : “Al Ma’la bin Hilal adalah rawi hanya saja jika datang satu hadits ia berdusta (berbuat dusta dengan hadits itu).”
    Seorang Sufi berkata : “Hai Abu Abdirrahman, Anda berbuat ghibah?”
    Maka beliau menjawab : “Diamlah kau! Jika kami tidak menerangkan hal ini bagaimana mungkin dapat diketahui mana yang haq mana yang bathil?” (Al Kifayah 91 dan 92 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/349)

    Abdullah bin (Imam) Ahmad bin Hanbal berkata, Abu Turab An Nakhsyabi datang kepada ayahku lalu beliau mulai berkata : “Si Fulan dlaif, si Fulan tsiqah.”
    Berkatalah Abu Turab : “Wahai Syaikh, janganlah mengghibah ulama.”
    Ayahku segera menoleh ke arahnya dan berkata : “Celakalah kamu! Ini adalah nasihat bukan ghibah.” (Al Kifayah 92 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/350)

    Muhammad bin Bundar As Sabbak Al Jurjaniy berkata, saya mengatakan kepada Imam Ahmad bahwa sangat berat bagi saya untuk mengatakan si Fulan dlaif, si Fulan pendusta.
    Maka beliau berkata : “Jika kamu diam dalam perkara ini dan saya juga diam maka siapa lagi yang akan menerangkan kepada orang-orang yang awam mana hadits yang shahih dan mana yang lemah?!” (Al Kifayah 92, Syarh Ilal At Tirmidzy, dan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 28/231)

    Dari Syaudzab (katanya) dari Katsir Abu Sahl ia berkata :
    “Dikatakan bahwa ahli ahwa (ahli bid’ah) itu tidak mempunyai kehormatan.” (Al Lalikai 1/140 nomor 281)

    Dari Al Hasan bin Aly Al Iskafy ia berkata, saya bertanya kepada Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang pengertian ghibah, beliau menerangkan : “Ghibah itu ialah jika kamu tidak menolak aib seseorang.”
    Saya bertanya lagi, bagaimana dengan seorang yang mengatakan : “Si Fulan tidak mendengar hadits dari seseorang dan si Fulan keliru?”
    Beliau menjawab : “Seandainya hal ini ditinggalkan manusia maka tidak akan pernah diketahui shahih atau tidaknya suatu hadits.” (Syarh Ilal At Tirmidzy 1/350)

    Ismail Al Khathaby berkata, Abdullah bin (Imam) Ahmad menceritakan kepada kami bahwa ia berkata kepada ayahandanya :
    “Apa yang Anda katakan mengenai para rawi yang mendatangi seorang syaikh yang barangkali ia seorang Murjiah atau Syi’iy atau dalam diri syaikh itu terdapat perkara yang menyelisihi As Sunnah apakah ada kelonggaran buat saya untuk diam dalam hal ini ataukah saya harus memperingatkan manusia agar berhati-hati dari syaikh ini?”
    Ayahku menjawab : “Jika ia mengajak orang kepada bid’ah sedangkan dia adalah imam ahli bid’ah maka benar kamu harus memperingatkan manusia dari syaikh ini.” (Al Kifayah 93 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/350)

    Comment by hambaAlloh — June 11, 2008 @ 4:23 am

  3. mengapa kaum salafi-indon begitu gencar membuat blog-blog yang menghujat LDII ya?apalagi di situs audiosalaf, disitu “ulama-ulama” salafi begitu bebas mengeksperesikan kebenciannya pada LDII.direkam lagi.disave lagi. trus bebas didownload lagi. salafi indon memang antek yahudi yang memecah belah umat islam.coba antum semua buka situs-situs dan blog-blognya salafi. pasti disitu ada menu wajib yang isinya memfitnah, menghujat, mencaci,menghina, menghasut LDII dan memprovokasi masyarakat agar terjadi perpecahan. belom lagi milis-milis “karya”salafi indon yang isinya debat2 an konyol dan memfitnah LDII.kan kalo salafi ngga sejalan dengan LDII bisa melakukan dialog baik2. ngga usah pake caci maki.terus terang, banyak orang2 LDII yang awalnya simpati pada salafi kini berbalik benci pada salafi.

    Comment by tondi — June 10, 2008 @ 3:14 am

  4. 1. Salafi merasa dirinya yang paling benar, karena mereka meyakini kebenaran hanya satu, indikasi yang terdapat dalam hadits hanya satu golongan yang masuk syurga dari 73 golongan adalah golongan salafi, serta salafi menganggap sesat dan bid’ah golongan yang berseberangan ijtihad dengan mereka. Sehingga sulit bagi salafi untuk menerima ijtihad yang berbeda dengan mereka dan sangat taqlid dengan ijtihad ulama-ulama mereka.
    2. Salafi cenderung mencela golongan lain, karena salafi diperintahkan untuk mengungkapkan semua keburukan golongan sesat dan bid’ah itu dan dilarang mengungkapkan secuil-pun kebaikan mereka. Karena mengungkapkan kebaikan mereka akan menyebabkan orang lain mengikuti golongan sesat dan bid’ah itu. Sehingga tidak heran jika buku-buku dan website-website salafi banyak memuat celaan sesat dan bid’ah kepada golongan lain.
    3. Salafi juga melarang untuk berkasih sayang, berteman dengan golongan selain mereka, bahkan tidak boleh shalat di belakang mereka, salafi menyesatkan ulama yang mereka anggap ahlu bid’ah, melarang memuji, mengagungkan, membaca kitab dan mendengarkan kaset ulama-ulama tersebut. Sehingga salafi akan mengalami kesulitan dalam menjalin ukhuwah dengan golongan lain, malah akan menimbulkan pertentangan dan perpecahan dengan golongan lain.
    4. Salafi akan menghambat gerak da’wah golongan yang dianggap sesat dan bid’ah oleh mereka, bahkan harus memusnahkan mereka (golongan da’wah dan partai politik), karena golongan itu dianggap akan meracuni umat dan menimbulkan perpecahan. Sehingga akan timbul benturan di medan da’wah antara salafi dengan golongan lain, karena golongan lain merasa dihalang-halangi saat berda’wah di area-area yang dikuasai oleh salafi.
    Diharapkan setelah memahami karakter salafi ini, kita mampu mengantisipasi menghadapi golongan seperti ini. Tetapi jangan kaget, jika penjelasan dari kitab-kitab salafi di atas, akan ditemukan pertentangan dalam kitab-kitab salafi yang lain. Karena di antara ulama salafi sendiri bisa terjadi saling pertentangan, seperti halnya terpecahnya salafi dalam beberapa golongan.
    Wallahua’lam

    Comment by wiwrti — June 9, 2008 @ 9:25 am

  5. Mengapa Bid’ah harus Dijelaskan

    Sering terjadi diskusi atau debat tentang boleh dan tidaknya seorang da’i yang menjelaskan masalah bid’ah dimajlis majlis ‘ilmu dan tentu saja debat ini terjadi diantara para pendukung sunnah melawan pendukung bid’ah, simpatisan atau para da’i yang gandrung dengan bid’ah-bid’ah yang digemari oleh kebanyakan manusia, dan mereka tidak ingin ditinggalkan pengikutnya.

    Seakan-akan sudah menjadi kaidah yang disepakati diantara mereka (walaupun tidak diucapkan) bahwasanya pembahasan masalah-masalah bid’ah akan membuat manusia lari dan menjauh dari mereka, dan memecah belah persatuan ummat islam, maka demi terlaksananya dakwah maka tidak perlu hal-hal tersebut diangkat dihadapan manusia.

    Baca selengkapnya

    http://adiabdullah.wordpress.com/2007/11/03/mengapa-bidah-harus-dijelaskan/

    Comment by abu hammam — December 27, 2007 @ 2:52 am

  6. Si kardiman ki aneh kok, lha wong bahasa peribahasan..sanepan…majas..kok suruh mraktekkan,piye toh??

    Comment by bibi — December 17, 2007 @ 9:47 am

  7. mumgkin se dimaksud 69 itu,
    komentar bawah in maksude kuwi opo…opo ngono lho…iki opo..hey(karo nangis)
    Jawaban sapeyan “ya” maupun “tidak” akan mencerminkan bagaimana kelompok sampeyan mengimplementasikan Quran Hadist dalam kehidupan sehari hari.

    Comment by judeg — August 22, 2007 @ 8:37 am

  8. No 68
    Lho? apa kagak kebalik sampeyan yang nuduh kok minta dibuktiin harusnya sampeyan dong yang ngebuktiin.
    No 69
    Perhatiin sekali lagi pertanyaannya di nomor 67 bukan daftar pustaka yang diminta itu mah enggak ada gunanya.

    Comment by kardiman — August 20, 2007 @ 5:13 am

  9. 1. Dakwah pada keluarga mulai dari tauhid
    2. Cara mendakwahi keluarga yang berbuat bid’ah
    3. Kita tidak boleh memaksa orang
    4. Sikap bijak mengingatkan orang tua ari taklid pada nenek moyang
    5. Sikap bijak berdakwah tauhid dan menjelaskan bid’ah selamatan kematian
    6. Bagaimana cara bersikap di daerah banyak maksiat ?
    7. Adakah batas kesabaran, sabarnya rasulullah dalam berdakwah ?
    8. Keadaan ummat dan solusinya
    9. Adakah Tareqat dalam Islam
    10. Tentang kitab Ihya’ dan Ghazali
    11. Patutkah Membaca Kitab Ihya Ulumuddin al-Ghazali ?
    12. Dakwah Manajemen Qolbu, seharusnya mulai dari mana ?
    13. Ilmu Laduni, Manajemen Qolbu Aa Gym Menyimpang dari Manhaj Salaf
    14. Perkembangan Tasawuf dan Penyebabnya
    15. Tentang Imam al Ghozali dan Amalan Bid’ahnya
    16. Bolehkah Membaca Kitab Kutub Durrotun Nashihin ?
    17. Apakah Tasawuf Pelarian dalam Hidup ?
    18. Benarkah Hakikat Khusyu’Sholat ala Tasawuf ?
    19. Mudhorot apa saja yang ditimbulkan oleh Tasawuf ?
    20. Ciri-ciri Tasawuf dan Kiat Menghindarinya
    21. Perpecahandan Solusinya Side A 1-47 M
    22. Perpecahandan Solusinya Side B 47-94 M
    23. Perpecahandan Solusinya Side C 1-30 M
    24. Dari sisi mana sesatnya HT 56M
    25. Hizbut Tahrir tambah ramai, ukuran benar bukan banyaknya jumlah
    26. Pokok penyimpangan manhaj Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir
    27. Kelemahan pendidikan islam dan penyimpangan JIL (Jaringan Islam Liberal)
    28. Kufurnya ajaran Jaringan Islam Liberal
    29. Siapakah Nur Cholis Majid sesungguhnya ?
    30. Penyimpangan Jama’ah Tabligh
    31. Bagaimana tentang ajaran Jama’ah Tabligh
    32. Persamaan aqidah Maturidiyah dan Asy’ariah
    33. Adakah penyimpangan aqidah Jama’ah Tabligh
    34. Apakah Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh Salafi
    35. Hukum keluar dengan jama’ah Tabligh
    36. Penyimpangan LaskarJihad dan FKASWJ
    37. Untuk kejayaan umat bisakah bekerjasama dengan partai-partai ?
    38. Haruskah parlemen Partai Keadilan dan Yusuf Al-Qaradhawi
    39. Ciri-ciri Hizbiyyah, dakwah sembunyi-sembunyi
    40. Dari Islamkah demokrasi ?
    http://www.vbaitullah.or.id/

    Comment by abu hammam — August 17, 2007 @ 12:59 am

  10. buktikan mas jangan asal ngomong

    Comment by antok — August 17, 2007 @ 12:49 am

  11. No 66
    Bagus sekali: sekarang kita kaji point yang ini “…Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya.” menurut sampeyan saat ini ada enggak Jama’ah Muslimin ?
    Jika jawabannya ada siapakah dia ? dan sudahklah sampeyan berpegang teguh pada dia?

    jika jawabannya tidak berarti Point yang ini harus sampeyan jalankan ? “…Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”.

    Sudahkah anda mempraktekan Quaran Hadist hari ini ?

    Jawaban sapeyan “ya” maupun “tidak” akan mencerminkan bagaimana kelompok sampeyan mengimplementasikan Quran Hadist dalam kehidupan sehari hari.

    Comment by kardiman — August 15, 2007 @ 2:44 am

  12. Hadits Hudzaifah Radhiyallahu ‘Anhu
    “Artinya : Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : ‘Ada‘. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?. Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, da’i – da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)

    Comment by abu hammam — August 14, 2007 @ 7:46 am

  13. No 64
    Kalau yang saya katakan itu tidak ada dalilnya tolonng dong tunjukin dalilnya

    Comment by kardiman — August 13, 2007 @ 7:05 am

  14. Contoh : sesuai dalil jika tidak ada jamaah maka kita harus menyendiri dihutan dan kalau perlu menggigit akar pohon – tunjukan bahwa sampeyan sudah membuktikan / mempraktekan hal ini…
    jangan bisanya cuman ngoreksi orang tapi diri sendiri kagak bisa mrakteki
    saya jawab
    saudara ini suatu bukti kebebasan berpikir anda yang mirip cara berpikir jil yang tidak ada dalilnya,tunjukan dimana saudaramu mengatakan demikian kalau anda benar

    Comment by abu hammam — August 11, 2007 @ 3:41 pm

  15. Kayanya kardiman ini perlu belajar bahasa Indonesia di SMP kali yach, masa bahasa MAJAS kok di suruh telan mentah mentah,tekstual…muntah dong kang kang🙂

    Comment by jokram — August 10, 2007 @ 7:31 am

  16. No 60
    Lho sampeyan kan pengagumnya dan pengikut alirannya kan?
    No 61
    Itu kan menurut sampeyan, dalil – sampeyan lebih menguasai tapi tolong tunjukan bahwa sampeyan and kelompoknya telah mempraktekan ritual ibadah sesuai dalil.
    Contoh : sesuai dalil jika tidak ada jamaah maka kita harus menyendiri dihutan dan kalau perlu menggigit akar pohon – tunjukan bahwa sampeyan sudah membuktikan / mempraktekan hal ini…
    jangan bisanya cuman ngoreksi orang tapi diri sendiri kagak bisa mraktekin.

    Comment by kardiman — August 10, 2007 @ 6:59 am

  17. wajar to mas Man kalo kritikan kepada ldii sangat gencar,masalahnya pemikiran ldii yang tidak sesuai dengan sunah telah merajalela alias terbuka dan banyak meniipu banyak orang,untuk itulah dalam hal membantah ldii secara umum sudah pas kalau pemikiran ldii ya harus di jelaskan kepada umum,jika apa yang tidak sesuai dengan ldii ya jelaske kepada kalayak,tapi…tapi jangan pakai logika seperti kebiasaan anda,tunjukan hujah/dalil,

    Comment by antok — August 10, 2007 @ 3:37 am

  18. Tau..tanya aja sendiri🙂, ngeles lagi ya man??

    Comment by kardimun — August 10, 2007 @ 2:59 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: