LDII Watch

August 26, 2006

[Kliping] Mengurai Benang Kusut LDII (Sebuah Dialog Dengan Mantan Pengikut LDII)

Filed under: Kliping Artikel Kontra LDII — ldiiwatch @ 10:02 am

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Dialog kali ini insya Allah akan membahas beberapa permasalahan dan pertanyaan pada artikel sebelumnya (Runtuhnya Dinasti LDII) yang diajukan oleh seorang saudara kita, yaitu Akhi Aris Wahyono yang pernah berkecimpung dan kemudian bertobat dari dunia gelap LDII. Sungguh betapa banyak syubhat-syubhat yang melilit para pengikut LDII, dan insya Allah kita akan mencoba menguraikannya satu persatu. Semoga Allah memudahkan…

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya hingga hari qiyamat. Amiin.

Menanggapi komentar saudara Aris Wahyono –semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan ketetapan di atas kebenaran kepadanya– maka perlu diketahui bahwa perihal poin (b) (silahkan membaca pertanyaan Aris Wahyono pada kolom artikel “Runtuhnya Dinasti LDII (dialog 2)“) yaitu yang berkenaan dengan kewajiban membayar infaq rutin atau persenan sebenarnya adalah tujuan utama dari berbagai propaganda dan doktrin yang diajarkan oleh kelompok LDII. Berbagai doktrin tersebut pada ujung perjalanannya adalah sarana untuk mengeruk harta umat islam dan sekaligus ongkang-ongkang alias nganggur sambil menikmati setoran upeti dari seluruh pengikutnya. Dan pungutan ini bila dimaksudkan sebagai pembayaran zakat, maka kita semua sudah mengetahui tentang berbagai ketentuan dan persyaratan syari’at zakat mal, dimulai dari nishob, haul, jenis harta, jumlah yang harus dibayarkan, serta orang-orang yang berhak menerimanya. Dan iuran rutin yang diajarkan oleh LDII sudah barang tentu tidak memperdulikan semua ini, oleh karena itu mereka hanya mempertimbangkan jumlah kekayaan, tanpa memperdulikan berbagai ketentuan zakat yang telah saya sebutkan di atas dan telah dijabarkan dalam Al Qur’an, yaitu dalam surat At Taubah ayat 60, dan berbagai hadits Nabi shollallahu’alaihiwasallam serta telah dipaparkan dengan gamblang dalam karya-karya ulama islam di sepanjang masa.

Dengan demikian, jelaslah bahwa iuran wajib LDII tersebut bukan zakat, karena dikenakan kepada setiap anggota. Padahal segala pungutan dari setiap muslim yang di luar zakat dan tanpa sebab yang dibenarkan merupakan bentuk pungutan zholim atau semena-mena dan termasuk memakan harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” (An Nisa’: 29)

Pungutan-pungutan semacam ini dalam islam disebut dengan “Al Muksu“/upeti. Penarikan upeti dari kaum muslimin diharamkan dalam syari’at Islam. Upeti hanya dibenarkan untuk diambil dari orang-orang ahluz zimmah (orang kafir/ahlul kitab yang tinggal di negeri islam).

Secara khusus Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam telah mengancam para penarik upeti semacam ini dalam sabdanya:
إن صاحب المكس في النار. رواه أحمد والطبراني في الكبير من رواية رويفع بن ثابت رضي الله عنه، وصححه الألباني.

“Sesungguhnya pemungut upeti akan masuk neraka.” (Riwayat Ahmad dan At Thobrany dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir dari riwayat sahabat Ruwaifi’ bin Tsabit rodiallahu’anhu, dan hadits ini dishahihkan oleh Al Albany)

Kemudian klaim LDII bahwa yang tidak setor iuran wajib seperti itu atau berusaha mengakalinya akan masuk neraka, maka itu hanya sekedar doktrin kosong dan senjata untuk menakut-nakuti saja. Sebab bila pungutan wajib tersebut selain zakat, maka itu adalah upeti atau dalam bahasa arab disebut dengan Al Muksu. Dan bila itu adalah upeti maka yang diancam masuk neraka adalah pemungutnya dan bukan orang yang dipungut dan enggan membayar, sebagaimana ditegaskan dalam hadits di atas.

Adapun bila itu zakat, maka zakat tidak harus dibayarkan kepada kelompok LDII akan tetapi kepada orang-orang yang berhak menerimanya sebagaimana yang dirinci dalam ayat 60 dari surat At Taubah. Dan dalam konsep kehidupan umat Islam di Indonesia, yang berhak memungut zakat adalah pemerintah yang sah di negeri kita, merekalah yang berkewajiban memungut zakat dari orang-orang kaya, dan kemudian dibagikan kepada yang berhak menerimanya. Oleh karena itu sahabat Mu’adz bin Jabal rodiallahu’anhu ketika diutus oleh nabi shollallahu’alaihiwasallam untuk berdakwah di daerah Yaman, beliau diwasiati oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dengan sabdanya berikut ini:

إِنَّك تأتي قوماً من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادةُ أن لا إله إلا الله –وفي رواية: إلى أَنْ يوحِّدوا الله- فإِنْ هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أَنَّ الله افترض عليهم خمس صلوات في كلِّ يوم وليلة، فإِنْ هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أَنَّ الله افترض عليهم صدقةً تُؤْخَذُ من أغنيائهم فتُرَدُّ على فقرائهم، فإِنْ هم أطاعوك لذلك، فإيَّاك وكرائم أموالهم، واتَّق دعوة المظلوم، فإِنَّه ليس بينها وبين الله حجاب . متفق عليه

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab, maka hendaknya pertama kali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah mengucapkan syahadat (la ilaha illallah) -dan menurut riwayat yang lain: mentauhidkan (mengesakan) Allah-, Dan bila mereka menta’atimu dalam hal tersebut, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, dan bila mereka menta’atimu dalam hal tersebut, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya dari mereka dan dikembalikan kepada orang-orang miskin dari mereka. Dan bila mereka menta’atimu dalam hal tersebut, maka jauhilah olehmu mengambil yang terbaik dari harta mereka (sebagai zakat). Dan takutlah tehadap do’a orang yang dizolimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antaranya dan Allah (untuk di kabulkan do’anya). (Muttafaqun ‘alaih)

Inilah zakat dalam islam, diambil dari orang kaya dan kemudian dibagikan kepada orang-orang miskin dan mustahik lainnya yang telah disebutkan dalam surat At Taubah ayat 60.

Walau demikian bila ada dari umat islam yang ingin membayarkan zakatnya dengan sendiri tanpa melalui pemerintah, maka tidak ada larangan dari yang demikian.

Yang berkenaan dengan kewajiban mengikuti pengajian rutin, maka ini jelas-jelas menyelisihi firman Allah Ta’ala:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ
وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari mereka tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At Taubah: 122)

Ulama ahli tafsir dan juga lainnya telah menjabarkan bahwa ilmu itu terbagi menjadi beberapa bagian:

1. Ilmu Wajib atas setiap orang muslim, yaitu ilmu yang menjadi syarat tegaknya agama seseorang, diantaranya ilmu bahwa hanya Allah Ta’ala Yang Berhak diibadahi, ilmu tentang tatacara sholat (walau tanpa harus menghafal dalil setiap gerakan shalat dengan terperinci) tatacara mensucikan najis, berwudhu, berpuasa dll. Diantara dalil yang menjadi dasar kewajiban menuntut ilmu macam ini ialah firman Allah Ta’ala berikut:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan Yang Berhak diibadahi selain Allah.” (Muhammad: 19)

Dan juga sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد . متفق عليه

“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada petunjuknya dari kami, maka amalannya itu ditolak.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ulama telah menjelaskan bahwa -berdasarkan hadits ini dan juga dalil-dalil lainnya- salah satu syarat diterimanya suatu amalan ialah bila amalan tersebut sesuai dengan ajaran Nabi shollallahu’alaihiwasallam dan sunnah beliau.

2. Ilmu yang merupakan fardhu kifayah, yaitu berbagai ilmu agama lainnya yang selain dari ilmu macam pertama, diantaranya mengetahui berbagai perincian ilmu agama dalam berbagai bagiannya dengan disertai dalil-dalinnya. Dan dalil dari ilmu jenis ini ialah ayat 122 dari surat At Tubah di atas.

Oleh karena itu dahulu zaman Nabi shollallahu’alaihiwasallam tidak setiap orang yang telah masuk islam terus menerus duduk belajar dengan beliau atau sahabat beliau, dari mereka akan yang senantiasa menyertai beliau kemanapun beliau pergi dan dari mereka ada yang hanya belajar pertama kali masuk islam, diantaranya buktinya ialah hadits berikut:

عن طلحة بن عبيد الله رضي الله عنه يقول: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم من أهل نجد ثائر الرأس يسمع دوي صوته، ولا يفقه ما يقول حتى دنا، فإذا هو يسأل عن الإسلام فقال رسول اللهصلى الله عليه و سلم: خمس صلوات في اليوم والليلة. قال: هل علي غيرهن؟ قال: لا إلا أن تطوع. قال: وذكر له رسول الله صلى الله عليه و سلم صيام شهر رمضان. قال: هل علي غيره؟ قال: لا ألا أن تطوع؟ قال: وذكر له رسول الله صلى الله عليه و سلم الصدقة. قال: فهل علي غيرها؟ قال: لا إلا أن تطوع؟ فأدبر الرجل وهو يقول: والله لا أزيد على هذا ولا أنقص. فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم أفلح إن صدق. رواه مسلم وأبو داود وغيرهما.

“Dari sahabat Tholhah bin Ubaidillah rodiallahu’anhu ia menuturkan: Datang seorang lelaki dari daerah Najed kepada Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dalam keadaan rambutnya tidak rapi, terdengar dengungan suaranya, akan tetapi tidak dapat dipahami apa yang ia ucapkan hingga ia mendekat, dan ternyata ia bertanya tentang agama Islam. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam kemudian bersabda: Shalat lima waktu dalam sehari semalam. Sahabat Itu bertanya: Apakah aku wajib melakukan selainnya? Rasulullah menjawab: Tidak, kecuali bila engkau hendak melakukan shalat sunnah. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam juga mengajarkan kepadanya tentang puasa bulan Ramadhan, Sahabat Itu bertanya: Apakah aku wajib melakukan selainnya? Rasulullah menjawab: Tidak, kecuali bila engkau hendak melakukan puasa sunnah. Dan Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam mengajarkan kepadanya tentang shadaqah (zakat). Sahabat Itu bertanya: Apakah aku wajib melakukan selainnya? Rasulullah menjawab: Tidak, kecuali bila engkau hendak melakukan shadaqah sunnah? Kemudian sahabat itu berpaling dan pergi sambil berkata: Sungguh demi Allah aku tidak akan menambah sedikitpun dari amalan-amalan ini dan juga tidak akan menguranginya. (Mendengar yang demikian) Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: Ia akan sukses bila ia jujur (dengan ucapannya). (Riwayat Muslim, Abu Dawud dll)

Banyak ulama hadits menjelaskan bahwa hadits ini beliau sabdakan sebelum diwajibkannya ibadah Haji.

Sahabat ini hanya belajar ilmu jenis pertama, yaitu ilmu yang merupakan kewajiban atas setiap muslim, dan ternyata Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam telah memberikan kesaksian bahwa bila sahabat ini tetap komitmen dan benar-benar menjalankan ucapannya, maka ia akan sukses/selamat dari neraka.

Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam tidak memerintahkan agar sahabat ini kembali lagi ke majlis beliau atau menghadiri majlis ilmu yang ada di sekitar tempat ia tinggal atau dengan cara lainnya. Apalagi sampai mengancamnya dengan siksa neraka karena ia tidak mau belajar, dan tidak menghadiri pengajian. Dengan demikian hadits ini tidak selaras dengan doktrin LDII, yang mewajibkan belajar ngaji setiap minggu beberapa kali.

Bila ada yang bertanya mengapa LDII melakukan ini? Maka jawabannya –menurut hemat saya- doktrin ini hanya sekedar proteksi dan isolasi bagi setiap pengikut agar tidak belajar dan mendengar dari selain gurunya, sehingga tetap buta dan tidak dapat mendengar atau mengkaji ilmu agama dengan cara yang penuh obyektifitas, apalagi membandingkan dengan penjelasan selain kelompoknya.

Mengenai Pernikahan Bithonah adalah salah satu bentuk doktrin LDII yang tidak jelas dan tidak ada dalilnya, sebab pernikahan dalam Islam tidak disyaratkan dihadiri atau dilakukan di hadapan seorang Imam. Oleh karena itu dahulu, Nabi shollallahu’alaihiwasallam kadang kala tidak mengetahui bila salah seorang sahabatnya telah menikah hingga dikabari atau berjumpa dengan sahabat tersebut, sebagaiman adalam kisah berikut:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم رأي على عبد الرحمن بن عوف أثر صفرة، فقال: ما هذا؟ قال: يا رسول الله إني تزوجت امرأة على وزن نواة من ذهب. قال: فبارك الله لك، أولم ولو بشاة . متفق عليه

“Dari sahabat Anas bin Malik rodiallahu’anhu, bahwasannya pada suatu hari Nabi shollallahu’alaihiwasallam menyaksikan pada diri Abdurrahman bin ‘Auf terdapat bekas minyak Za’faran, maka Beliau bertanya: Apakah ini? Sahabat Abdurrahman-pun menjawab: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita dengan mas kawin berupa emas seberat biji kurma. Beliau bersabda: Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu. Buatlah pesta walimah walau hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bila Kita hendak sedikit bersikap lugu di hadapan orang-orang LDII, maka kita akan bertanya kepada mereka: Wahai Imam Bithonah, antum semua memuja-muja ilmu mangkul hingga menjadikannya sebagai syarat keabsahan islam seseorang. Nah, dalam penerapannya, ilmu mangkul yang bagaimana dan dari siapa antum semua menjalankan Penikahan Bithonah semacam ini?! Mana dalilnya? Ulama siapa yang mengajarkan nikah bithonah?

Bila Imam Bithonah tidak dapat membuktikan kemangkulan praktek nikah bithonah semacam ini, maka ini membuktikan bahwa ilmu mereka tidak mangkul dan bila tidak mangkul maka tidak sah dst.

Pertanyaan dari seorang yang lugu ini juga dapat diterapkan pada berbagai doktrin mereka:

Mengaji harus tiap minggu: mana ilmu mangkul-nya? Ayat apa, hadits mana? Ucapan ulama siapa? Dst

Mengenai iuran wajib: mana ilmu mangkulnya? Ayat dan haditsnya mana? Dst

Kemudian anggapan bahwa Islam yang murni telah berpindah dari Makkah dan Madinah? Adalah anggapan yang tidak mangkul apalagi sampai mengklaim bahwa Islam yang murni tersebut sekarang sedang berada di Indonesia. Nyata-nyata suatu hal yang tidak mangkul. Mana dalilnya? Ulama siapa yang menyatakan demikian? Bukankah kata Indonesia tidak ada dalam Al Qur’an, Hadits dan juga karya-karya ulama zaman dahulu, maka bagaimana klaim ini bisa dikatakan mangkul??!! Ini bukti nyata bahwa doktrin mereka bahkan keagamaan mereka tidak mangkul sehingga tidak sah (menurut kaedah LDII) dan tidak benar.

Sebagai salah satu bukti ketidakmangkulan dakwaan ini ialah pernyataan mereka sendiri yang hingga kini masih menganggap Makkah dan Madinah sebagai sumber ilmu agama, sampai-sampai mereka merasa perlu untuk mengutus utusannya yaitu Kholil Asy’ary dan Dawam Habibullah untuk belajar di Makkah, sebagaimana yang dituturkan oleh saudara Aris Wahyono.

Bukan hanya mengutus utusan untuk belajar di Makkah dan Madinah, bahkan keberadaan dua kader LDII ini di Mekkah mereka jadikan sebagai pelet dan pemikat atau propaganda atau sebagai legimitasi akan kemangkulan mereka.

Seharusnya bila mereka mengaku bahwa Islam yang benar dan murni sedang mangkal dan mendekam di Indonesia, maka mengapa mereka melakukan hal tersebut?! Seharusnya mereka merasa terhinakan dan dikhianati dengan adanya dua orang tersebut yang masih menganggap Makkah sebagai sumber ilmu. Harusnya mereka belajar saja di Indonesia ke Imam bithonah mereka atau kepada amir yang mewakili Amir Bithonah mereka. Atau kepada Abdudhahir bin Nurhasan yang sekarang sedang menjabat sebagai pimpinan LDII, sebagai warisan dari bapaknya.

Ataukah Imam Bithonah yang telah mereka bai’at benar-benar seperti yang saya katakan: Imam Batholah (imam pengangguran) yang tidak memiliki ilmu?!

Ataukah…

Fakta ini membuktikan bahwa LDII bingung, membingungkan, muter-muter akhirnya keputer dan keblinger, dan benar-benar tidak mangkul.

Jelas-jelas fakta yang mangkul ini membuktikan bahwa agama mereka tidak mangkul sehingga tidak benar alias sesat. Inilah penerapan kaedah mangkul yang benar, tidak seperti penerapan LDII.

Tapi saya harap para pembaca tidak heran dengan kebingungan kaum LDII dalam menerapkan ilmu mangkul, sebab orang yang merasa telah menguasai ilmu hadits dari mereka semisal Abil Baghda (lihat artikel “Runtuhnya Dinasti LDII 2 -ed) kebingungan nyari dalil untuk menegakkan ilmu mangkul-nya, dan akhirnya hanya bisa mendatangkan qiyas (penyerupaan) dengan ilmu nyopir metromini, makanya ilmunya juga muter-muter kayak metromini hingga akhirnya keblinger. Dan sudah barang tentu penyerupaan ini tidak mangkul, sebab di arab dan pada zaman Nabi shollallahu’alaihiwasallam tidak ada metromini bukankah demikian wahai Abil Baghda??!!

Adapun mengenai Darul Hadits Al Kahiriyyah, maka sekolahan ini didirikan oleh Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah dan sudah barang tentu yang diajarkan serta kitab-kitab yang diajarkan tidak seperti yang didakwakan oleh LDII. Dan diantara staf pengajarnya saat ini ialah Syeikh Muhammad bin Jamil Zaenu, penulis buku: Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat, karya beliau ini adalah salah satu bukti nyata yang mendustakan ajaran LDII, dan membuktikan bahwa ilmu mangkul LDII benar-benar tidak mangkul.

Adapun dakwaan bahwa Syeikh Yahya bin Utsman membai’at Imam Bithonah, maka kedustaan ini tidak lebih besar dari kedustaan sebelumnya yang menyatakan bahwa Imam-imam Masjid Haram dan Nabawi membaiat Imam Bithonah, sama-sama bohong di siang bolong.

Menanggapi pertanyaan Abul Baghda: “mana dalil nya islam itu jaya dengan debat ?” Maka saya katakan: pertanyaan ini merupakan salah satu bukti bahwa ilmu mereka tidak mangkul, sehingga ‘ahli hadits muda ini’ tidak tahu bahwa diantara cara berdakwah yang mangkul menurut Al Qur’an atau hadits, atau praktek ulama salaf semenjak zaman dahulu kala hingga zaman kita ini adalah dengan debat yang dilakukan dengan cara-cara yang bijak nan ilmiyyah.

Untuk sedikit mengajari ilmu mangkul kepada saudara Abu Baghda, maka berikut saya sebutkan beberapa dalil yang benar-benar mangkul tentang dibenarkannya memperjuangkan kejayaan Islam melalui perdebatan:

1. Firman Allah Ta’ala:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah (bijak) dan pelajaran yang baik dan debatlah/bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An Nahel: 125)

2. Firman Allah Ta’ala:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (Al Ankabut: 46)

Kedua ayat ini menganjurkan dan mensyari’atkan perdebatan dalam mendakwahkan kebenaran, tentu kedua ayat ini adalah salah satu bukti bahwa islam dan kebenaran dapat jaya melalui perdebatan yang ilmiyyah dan dengan hati lapang guna mencari kebenaran, sebagaimana dicontohkan oleh Imam As Syafi’i dalam ucapannya berikut:

ما ناظرت أحدا قط إلا أحببت أن يوفق ويسدد ويعان ويكون عليه رعاية من الله وحفظ وما ناظرت أحدا إلا ولم أبال بين الله الحق على لساني أو لسانه. رواه أبو نعيم في حلية العلماء 9/118

“Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang melainkan aku suka bila lawan debatku mendapatkan bimbingan, diluruskan dan pertolongan serta mendapatkan perlindungan dan penjagaan dari Allah (sehingga ucapannya benar). Dan aku tidak pernah berdebat dengan seseorang , melainkan aku tidak pernah perduli kebenaran itu Allah tunjukkan melalui lisanku atau lisannya.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ 9/118)

Dan dalam Al Qur’an dikisahkan berbagai perdebatan/jidal para Nabi ‘alaihimussalaam dengan kaumnya, sebagai contoh, perdebatan antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan Raja Namrud (raja Babilonia) yang dikisahkan dalam firman Allah Ta’ala berikut ini:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِـي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِـي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu kekuasaan (kerajaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan”, orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari arah timur, maka terbitkanlah dari arah barat” lalu terbungkamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang dzalim.” (Al Baqarah: 258)

Pada kisah ini, nampak dengan jelas dan gamblang bahwa kebenaran menjadi jaya dan tegak dengan perdebatang yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ’alaihissalam. (Mungkinkah kisah ini tidak termaktub dalam Al Qur’an anda wahai Abil Baghda?! Ataukah Ayat ini masih disimpan oleh Imam Bithonah anda dan belum sempat diajarkan kepada umat LDII?!)

Dan pada kesempatan ini saya juga jadi penasaran dengan kisah-kisah perdebatan para nabi ‘alaihimussalam lainnya yang dikisahkan dalam Al Qur’an, diantaranya dalam ayat dan surat berikut:

1. Ali Imran ayat 64 s/d71, & 183 s/d 184.
2. Al Maidah ayat 18.
3. Al An’am ayat 74 s/d 83.
4. Thaha ayat 47 s/d 75, dan masih banyak sekali kisah-kisah perdebatan antara para Nabi ‘alaihimusslamam dengan umatnya. Mungkinkah ayat-ayat yang mengisahkan kisah-kisah ini belum disampaikan oleh Imam Bithonah kepada umatnya, terutama kepada ‘muhaddits muda’ Abil Baghda, sehingga ia bertanya: “mana dalil nya islam itu jaya dengan debat ?” Hingga saat ini saya belum mendapatkan jawaban yang tegas dari kaum LDII: Apakah Al Qur’an yang diimani oleh LDII berbeda dengan yang ada di masyarakat/kaum muslimin selain LDII?, sehingga ‘Ahli Hadits Muda’ Abul baghda tidak bisa mendapatkan ayat yang mensyari’atkan berdakwah melalui perdebatan dengan cara-cara yang bijak??

Apakah LDII memiliki percetakan yang mencetak Al Qur’an khusus untuk mereka? Bila tidak punya, dan mereka menggunakan Al Qur’an yang dicetak dan dibaca oleh umunya umat islam selain warga LDII, maka mereka telah menggunakan Al Qur’an yang tidak mangkul melalui Imam Bithonah? Tentu ini tidak sah menurut ilmu mangkul LDII? Bahkan bila kita mengikuti ucapan saudara Rohmanudin pada komentarnya (lihat komentar Rohmanudin pada artikel sebelumnya), maka Al Qur’an itu adalah curian karena tidak mangkul melalui Imam Bithonah LDII.

Dan berikut contoh perdebatan Nabi shollallahu’alaihiwasallam dengan salah seorang sahabatnya dalam hal perzinaan:

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال : إن فتى شابا أتى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يا رسول الله ! ائذن لي بالزنى. فأقبل القوم عليه فزجروه وقالوا مه مه ! فقال : ادنه. فدنا منه قريبا. قال: فجلس. قال: أتحبه لأمك ؟ قال : لا والله، جعلني الله فداك . قال : ولا الناس يحبونه لأمهاتهم . قال: أفتحبه لابنتك ؟ قال : لا والله يا رسول الله ! جعلني الله فداك . قال : ولا الناس يحبونه لبناتهم . قال أتحبه لأختك ؟ قال: لا والله جعلني الله فداك. قال: ولا الناس يحبونه لأخواتهم . قال أتحبه لعمتك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداك . قال: ولا الناس يحبونه لعماتهم . قال أتحبه لخالتك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداك . قال: ولا الناس يحبونه لخالاتهم . قال: فوضع يده عليه وقال : اللهم اغفر ذنبه وطهر قلبه وحصن فرجه . فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء. رواه أحمد والطبراني والبيهقي وصححه الألباني

“Dari sahabat Abu Umamah rodiallahu’anhu, ia mengisahkan: “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shollallahu’alaihiwasallam lalu ia berkata: Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina. Maka spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: Apa-apaan ini! Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya: “Mendekatlah”, maka pemuda itu pun mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam kemudian bersabda kepadanya: “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu? Pemuda itu menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam kembali bertanya: Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu? Ia menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu, Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menimpalinya: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka. Kemudian beliau bertanya lagi: Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu? Ia menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menimpalinya: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka. Rasulullah kembali bertanya: Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu? Ia menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menimpalinya: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka. Rasulullah kembali bertanya: Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu? Ia menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menimpalinya: Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka. Kemudian Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, lalu berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Maka semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong). ” (Riwayat Ahmad, At Thabrani, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany)

Pada diskusi antara Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dengan pemuda tersebut nampak dengan jelas bahwa kebenaran hukum Allah Ta’ala dalam hal perzinaan tegak dan berjaya. Bukankah demikian wahai Abil Baghda?! (Mungkinkah ilmu mangkul ini tidak ada dalam kamus atau ensiklopedi Imam Bithonah anda?! Bila belum atau tidak ada maka tambahkan sekarang juga agar tidak ketinggalan zaman dan kadaluwarsa)

Dan salah satu contoh tegaknya kebenaran melalui perdebatan yang dilakukan dengan himmah dan bijak, ialah kisah berikut:

Ibnu Abbas mengkisahkan kisah perdebatannya dengan orang-orang khowarij, beliau berkata: “Tatkala orang-orang haruriyyah (khowarij) telah bermunculan, mereka memisahkan diri dari kaum muslimin dengan berkumpul di daerah mereka, dan jumlah mereka adalah enam ribu orang, maka aku berkata kepada Ali bin Abi Tholib radliallahu ‘anhu: Wahai Amirul mikminin, aku mohon engkau menunda pelaksanaan sholat dluhur, karena aku hendak mendatangi mereka dan menasehati mereka.

Maka Ali berkata : Aku takut atas dirimu.
Aku menjawab : Tidak akan terjadi apa-apa. Lalu aku berangkat menuju kepada mereka, dan mendatangi mereka pada saat pertengahan hari, sedangkan mereka sedang tidur siang, lalu aku mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka pun sepontan menjawab: Selamat datang, kami ucapkan untukmu, wahai Ibnu Abbas, apakah yang menjadikanmu datang kemari? Aku berkata kepada mereka : Aku datang kepada kalian dari sisi para sahabat Nabi shollallahu’alaihiwasallam dan menantunya, atas merekalah Al Qur’an diturunkan, sehingga mereka lebih tahu daripada kalian tentang tafsirnya, sedangkan tidak seorang pun diantara kalian yang tergolong dari mereka (sahabat), sungguh aku akan menyampaikan kepada kalian apa yang sebenarnya mereka katakan/yakini, dan hendaknya kalian pun menyampaikan apa yang kalian katakan/yakini. Lalu aku berkata kepada mereka : Apakah yang kalian benci dari sahabat Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dan anak pamannya? Mereka menjawab : Ada tiga hal. Aku berkata : Apakah itu? Mereka menjawab : Adapun yang pertama : karena ia (Ali bin Abi Tholib) telah menjadikan seorang manusia sebagai hakim (berhakim) dalam urusan Allah, padahal Allah telah berfirman :
إن الحكم إلا لله
Artinya: “Tiadalah hukum / keputusan, kecuali hukum Allah” (Yusuf: 67) apa urusan manusia dalam hukum Allah? ………Aku berkata kepada mereka : Adapun anggapan kalian, bahwa Ali telah berhakim kepada seorang manusia dalam urusan Allah, maka aku akan membacakan kepada kalian ayat dari Al Qur’an, yang menyatakan bahwa Allah telah menyerahkan hukumnya kepada manusia dalam urusan yang berharga seperempat dirham, dan Allah memerintakan agar mereka memutuskan dalam urusan tersebut, Allah berfirman :

يا أيها الذين آمنوا لا تقتلوا الصيد وأنتم حرم ومن قتله منكم متعمدا فجزاء مثل ما قتل من النعم يحكم به ذوا عدل منكم

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membunuh binatang buruan, sedangkan kalian dalan keadaan berihram. Dan barang siapa yang dengan sengaja membunuhnya, maka hukumanya adalah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan binatang buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang adil diantara kalian.” (Al Maidah: 95), maka atas nama Allah Ta’ala, apakah keputusan manusia dalam seekor kelinci dan yang serupa dari binatang buruan lebih utama? Ataukah keputusan mereka dalam urusan pertumpahan darah dan perdamaian diantara mereka, sedangkan kalian tahu, bahwa seandainya Allah menghendaki, niscaya Ia akan memutuskan, dan tidak perlu menyerahkan keputusan (hukuman pembunuh binatang buruan dalam keadaan berihram) kepada manusia? Mereka menjawab: Tentau keputusan dalam hal pertumpahan darah dan perdamaian lebih utama. -Ibnu Abbas melanjutkan perkataannya- Dan dalam urusan seorang istri dengan suaminya, Allah Azza wa Jalla berfirman:

وإن خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكما من أهله وحكما من أهلها إن يريدا إصلاحا يوفق الله بينهما

Artinya: “Dan bila kalian kawatir ada persengketan antara keduanya, maka utuslah seorang hakim dari keluarga laki-laki (suami) dan seorang hakim dari keluarga wanita (istri). Jika keduanya menghendaki perbaikan, niscaya Allah memberikan taufiq kepada keduanya.” (An Nisa’: 35). Maka, atas nama Allah, apakah keputusan manusia dalam urusan perdamaian antara mereka dan mencegah terjadinya pertumpahan darah diantara mereka lebih utama ataukah, keputusan mereka dalam urusan seorang wanita? Apakah aku sudah berhasil menjawab tuduhan kalian? Mereka menjawab : Ya, kemudian dari mereka bertaubatlah sebanyak dua ribu orang sedangkan sisanya terbunuh dalam kesesatan. (Riwayat At Thabrani, Al Hakim, Al Baihaqi dll)

Pada kesempatan ini saya ingin bertanya kepada kaum LDII secara umum dan kepada saudara Abil Baghda secara khusus: “Kemanakah kedua ayat di atas dari kalian?! Apakah kedua ayat tersebut tidak termaktub dalam Al Qur’an yang dimangkulkan oleh Imam Bithonah yang telah anda bai’at? Mungkinkah Imam Mangkul anda telah membaiat anda untuk tidak mengakui ayat-ayat ini?

Saudara Abil Baghda, makanya belajarlah ilmu mangkul yang benar, dan jangan malah belajar ilmu mangkul ala sopir metro mini! (maaf kan anda sendiri yang menjadikan ilmu nyopir metro mini sebagai dalil)

Dan pada kesempatan ini saya ingin sedikit menegaskan lagi bahwa ilmu-ilmu yang –segala puji hanya milik Allah- telah diwariskan oleh para ulama’ dan diabadikan dalam karya-karya ilmiyyah mereka, semuanya adalah hak setiap orang muslim untuk mempelajarinya, tidak satupun dari mereka yang mensyaratkan suatu persyaratan tertentu bagi yang ingin membaca karya mereka. Bahkan Imam As Syafi’i –sebagaimana yang dikisahkan oleh muridnya Rabi’ bin Sulaiman- dengan tegas mengatakan:

قال ربيع بن سليمان: دخلت على الشافعي وهو عليل فسأل عن أصحابنا وقال يا بني لوددت أن الخلق كلهم تعلموا يريد كتبه ولا ينسب إلي منه شيء. رواه أبو نعيم في حلية الأولياء 9/118

“Rabi’ bin Sulaiman mengisahkan: Aku menjenguk As Syafi’i di saat beliau sedang sakit, kemudian beliau menanyakan perihal sahabat-sahabat kami, lantas berkata kepadaku: Wahai nak, aku berangan-angan seandainya seluruh manusia mempelajari karya-karyaku, dan mereka tidak menisbatkan sedikitpun dari karya-karya itu kepadaku.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ 9/118)

Sehingga tuduhan mencuri ilmu sebagaimana yang didoktrinkan oleh Imam Bithonah (silahkan baca komentar saudara Rohmanudin yang dimuat pada akhir artikel sebelumnya) LDII tidak ada makna dan dasarnya, bahkan merupakan tuduhan palsu dan dusta. Doktrin itu hanya berfungsi membodohi umat LDII dan pengikutnya, sampai-sampai ‘ahli hadits muda’ LDII, yaitu saudara Abil Baghda tidak tahu kalau dalam Al Qur’an, hadits Nabi shollallahu’alaihiwasallam serta tauladan ulama salaf ada dalil, bahkan banyak dalil yang mensyari’atkan perdebatan/jidal guna menegakkan kebenaran, dan meruntuhkan dinasti kesesatan. Bila demikian halnya ahli hadits dari kalangan LDII, maka tidak heran bila orang-orang awam dari kalangan LDII benar-benar buta akan kebenaran.

Dan bila demikian halnya, maka saya dengan amat bangga dan amat bersyukur dan akan senantiasa bersyukur –insya Allah- kepada Allah Ta’ala yang telah melindungi saya dari berguru kepada ahli hadits atau guru ngaji dari kalangan LDII semacam saudara kita yang satu ini, yaitu Abil Baghda. Dan Pada kesempatan ini juga saya dengan bangga dan sadar telah mendapat kenikmatan yang amat besar karena diberi kesempatan untuk menimba ilmu di kota Madinah, kota Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam yang merupakan sumber ilmu dari zaman dahulu hingga zaman sekarang, dan bukan mengais ilmu di negeri antah berantah yang dipimpin oleh Imam Bithonah.

Pada akhirnya saya mohon maaf bila ada kata-kata saya yang kurang berkenan di hati pembaca, atau kesalahan saya, semoga Allah mengampuni itu semua dan saya yakin itu semua adalah kekurangan saya dan kesalahan saya. Dan semoga Allah melindungi kita dari kesesatan dan dari guru ngaji yang telah hanyut oleh hawa dan fanatis golongan.

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك

“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan jantung, tetapkanlah jantung kami di atas agama-Mu…

Wallahu a’alam bisshawab

Sumber: http://muslim.or.id/?p=486

267 Comments »

  1. Assalaamu’alikum saudaraku.

    semoga tuan tuan semua dalam lindungan Allah SWT.
    tuan tuan yang terhormat. . . .

    Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, karena itu kebenaran islam tidaklah hanya milih sebagian kecil umat. sangat tidak dibenarkan golongan yang menganggap dirinya paling benar dan yang lainnya tidak benar apalagi menganggap kafir. kita tidak hidup pada zaman rasululllah sehingga sehingga banyak perbedaan dalam cara melakukan ibadah dan itu bisa dimaklumi. dalam fiqis perbedaan itu adalah rahmat. tetapi dalam tauhid, sudah harga mati tidak ada perbedaan. dan ulama sepakat atas itu. selama taauhid tuan tuan sama. maka tuan tuan adalah saudara.haram saling mengkafirkan.

    mari bangun persatuan Umat Islam.

    Comment by Fachmi — July 11, 2009 @ 6:13 am

  2. erkataan Al-Khathib Al-Baghdadi

    & Miripnya Dengan Keadaan

    Mubaligh-Mubaligh 354

    Kami juga memperingatkan apa yang telah dikeluhkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi (w. 463 H) –penulis kitab Tarikh Baghdad- sejak ratusan tahun yang lalu dalam kitabnya Al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah dalam muqadimah hal 3-4 (Cetakan Maktabah Al-Ilmiyah Madinah al-Munawaroh), yaitu tentang para pencari sanad. Mereka yang bersusah payah mengejar sanad dan ijazah (mangkulan) tapi melupakan pemahaman, amal dan penelitian terhadap sanad-sanad itu. Sehingga ijazahnya itu menjadi hujjah atas pemiliknya.

    Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada Ahli Kitab:

    مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

    artinya : ”Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (Qs. Al-Jumu’ah 5)..

    Al-Khathib berkata :

    ولما كان ثابت السنن والآثار وصحاح الأحاديث المنقولة والاخبار ملجأ المسلمين في الأحوال ومركز المؤمنين في الأعمال إذ لا قوام للإسلام الا باستعمالها ولا ثبات للايمان الا بانتحالها وجب الاجتهاد في علم أصولها ولزم الحث على ما عاد بعمارة سبيلها وقد استفرغت طائفة من أهل زماننا وسعها في كتب الأحاديث والمثابرة على جمعها من غير أن يسلكوا مسلك المتقدمين وينظروا نظر السلف الماضين في حال الراوي والمروى وتمييز سبيل المرذول والمرضى واستنباط ما في السنن من الاحكام وإثارة المستودع فيها من الفقه بالحلال والحرام بل قنعوا من الحديث باسمه واقتصروا على كتبه في الصحف ورسمه فهم أغمار وحملة أسفار قد تحملوا المشاق الشديدة وسافروا الى البلدان البعيدة وهان عليهم الدأب والكلال واستوطئوا مركب الحل والارتحال وبذلوا الأنفس والاموال وركبوا المخاوف والاهوال شعث الرؤس شحب الألوان خمص البطون نواحل الابدان يقطعون أوقاتهم بالسير في البلاد طلبا لما علا من الإسناد لا يريدون شيئا سواه ولا يبتغون الا إياه يحملون عمن لا تثبت عدالته ويأخذون ممن لا تجوز امانته ويروون عمن لا يعرفون صحة حديثه ولا يتيقن ثبوت مسموعة ويحتجون بمن لا يحسن قراءة صحيفته ولا يقوم بشيء من شرائط الرواية ولا يفرق بين السماع والاجازة ولا يميز بين المسند والمرسل والمقطوع والمتصل ولا يحفظ اسم شيخه الذي حدثه حتى يستثبته من غيره ويكتبون عن الفاسق في فعله المذموم في مذهبه وعن المبتدع في دينه المقطوع على فساد اعتقاده ويرون ذلك جائزا والعمل بروايته واجبا

    Terjemahan bebasnya kurang lebih begini:

    ”… Jika sunnah dan atsar yang telah ditetapkan dan hadits-hadits shahih yang dinukil (dimangkul) telah menjadi pedoman bagi kaum muslimin dalam segala hal, karena semua itulah yang memang menjadi pilar islam serta iman, maka mereka harus berijtihad mengetahui dasar-dasarnya dengan berbagai macam cara. Harus diakui bahwa sekarang ini ada sebagian orang yang mau meluangkan waktu untuk kitab-kitab hadits dan dengan sabar menghimpunnya (membuat himpunan). Tetapi sayangnya mereka tidak mau menempuh cara yang pernah ditempuh oleh orang-orang terdahulu. Mereka tidak mau memperhatikan cara kaum salaf mengetahui perawi maupun riwayat yang diriwayatkannya, membedakan mana perawi yang ditolak dan mana yang diterima, mengeluarkan hukum-hukum yang terdapat dalam sunnah, dan mengetahui mana yang halal dan mana yang haram. Sebaliknya mereka cukup puas dengan hanya mengetahui nama jenis-jenis hadits, dan tekun menulisnya dalam lembaran-lembaran kertas. Mereka itulah kelompok orang-orang bodoh. Mereka melakukan perjalanan ke negeri yang cukup jauh tetapi hanya membawa bekal yang pas-pasan. Dengan susah payah mereka mengorbankan jiwa dan harta pergi ke tempat yang jauh hanya sekedar untuk mencari sanad (untuk mangkul). Hanya itu yang mereka tuju. Tidak ada yang lain. Itu pun mereka hanya berhubungan dengan orang yang tidak punya sifat adil, yang tidak bisa dipercaya, yang tidak tahu hakikat hadits yang shahih, yang membaca mushafnya saja tidak baik, yang tidak paham syarat-syarat riwayat, yang tidak bisa membedakan antara sama’ dan ijazah, mana hadits musnad, mana hadits mursal, mana hadits maqthu, dan mana hadits muttashil, bahkan yang tidak tahu nama guru yang memberikan hadits kepadanya, sampai diberitahu oleh selainnya. Mereka bahkan menulis hadits dari orang yang suka berbuat fasik, yang mengikuti madzhab sesat, yang suka membikin bid’ah dalam urusan agama, dan yang punya i’tikad batil. Celakanya, menurut mereka hal itu diperbolehkan, bahkan menurut mereka menganggap mengamalkan riwayat dari orang seperti itu adalah suatu kewajiban”. [akhir ucapan syaikh].

    Ungkapan semisal ini telah datang pula dari Imam Ibn Jauzi dalam kitabnya, Talbis Iblis.
    rumahku-indah.blogspot.com

    Comment by abu faadhilah — July 9, 2009 @ 2:43 pm

  3. Dialog 1

    Mereka bertanya :

    Bagaimana mungkin orang Islam selain L*** tidak kafir? Saya ingin anda menjawabnya dengan hadits-hadits dalam Kutubusittah yang sudah dimangkulkan dalam jama’ah !!!

    Penulis menjawab :

    Jika bapak mengatakan Islam, maka Islam itu pengertiannya sebagaimana adanya dalam hadits-hadits.

    Seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, kitabu Iman bab 1 hadits no.1, dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu’anhu, yaitu hadits terkenal tentang Jibril ‘alaihisalam yang datang kehadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasalam.

    Jibril ‘alaihisalam berkata : ‘Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam’, maka Nabi shallallahu’alaihiwasalam menjawab :

    الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

    ‘Islam adalah bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana’.

    Jibril pun pun berkata :

    صدقت

    ‘Benarlah engkau’.

    Setelah Jibril pergi, Nabi shallallahu’alaihiwasalam pun bersabda :

    فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم

    ‘Dia adalah Jibril, yang telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian”.

    Inilah definisi Islam yang sesuai dalil, andaikata tidak ditambah dan tidak dikurangi maka telah cukup untuk memasukan seseorang itu ke surga. Dalilnya adalah datangnya seorang A’rob kepada Nabi shallallahu’alaihi wasalam dan berkata: “Ajarkan kepadaku suatu amal yang apabila ku amalkan maka aku masuk surga karenanya”.

    Nabi shallallahu’alaihi wasalam menjawab, “Sembahlah Allah, jangan dipersekutukan dengan-Nya sesuatu. Dirikanlah shalat wajib, bayarlah zakat fardhu dan puasalah dibulan Ramadhan”.

    Kemudian orang A’rob itu berkata,

    والذي نفسي بيده لا أزيد على هذا شيئا أبدا ولا أنقص منه

    “Demi Allah, yang diriku ditangan-Nya, tidak akan ku tambah ini selamanya, dan tidak akan kukurangi”.

    Ketika orang itu telah pergi Nabi shallallahu’alaihi wasalam bersabda,

    من سره أن ينظر إلى رجل من أهل الجنة فلينظر إلى هذا

    “Siapa yang ingin melihat penghuni surga lihatlah orang itu”. (Muslim no. 14).

    Ini bukan pendapat pribadi, perkataan ulama, atau pendapat seorang imam, melainkan sabda Rasulullah shallallhu’alaihi salam dan dibenarkan oleh Jibril ‘alaihisalam. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an :

    …لا يضل ربي ولا ينسى

    …Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa; (Ath-Thahaa 52).

    Jika ada sesuatu ibadah tidak termasuk dalam rukun Islam, tentu ada hikmah besar didalamnya, yang tidak mungkin Allah Ta’ala melupakan dan melalaikannya.

    Seperti masalah keimaman, kita sepakat bahwa hal itu adalah masalah wajib. Akan tetapi masalah ini tidak boleh diangkat melebihi sesuatu yang lebih wajib lagi (seperti rukun Islam diatas). Seperti kita ketahui, umat Islam berkali-kali berselisih mengenai masalah keimaman ini, bahkan para sahabatpun berselisih!!! Seperti yang terjadi pada Perang Jamal, Perang Shifin dan lainnya. Dan tidak mungkin seorang Islam yang bertauhid dan menjalankan ad-Dinnya dikafirkan gara-gara perselisihan sesama manusia yang bersifat sementara seperti keimaman ini.

    Saya akan menjelaskannya dengan sudut pandang bahwa jama’ah anda adalah jama’ah yang benar, supaya anda tahu bahwa kalau anda berpikir jernih, menurut sudut pandang anda sendiri kaum muslimin selain kelompok anda tidak bisa dikafirkan.

    Berikut ini penjelasannya :

    1. Bukankah banyak orang Islam yang mengetahui dan meyakini kewajiban berimam, berbai’at dan berjama’ah, tetapi tidak mau bergabung dengan jama’ah anda sebab:

    – Tidak meyakini bahwa jama’ah anda dibai’at pertama kali,

    – Tidak setuju karena tidak dibai’at oleh tokoh-tokoh masyarakat (ulama dan umaro),

    – Tidak setuju karena tidak berdasarkan musyawarah kaum muslimin,

    – Tidak setuju karena tidak memiliki kekuasaan,

    – Tidak setuju sebab yang dimaksud hadits adalah bagi imam seluruh kaum muslimin bukan sebagian kaum muslimin, dan lain sebagainya?!!.

    Mereka tidak mau bergabung bukan karena ingkar kepada dalilnya. Sedangkan anda tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja, sebab mereka ini juga berdasarkan dalil (bukan ro’yu).

    Sebagian orang Islam yang berkata : “Kami tidak yakin kelompok anda dibai’at pertama kali”. Sebenarnya mereka menanyakan bukti yang jelas, sebagaimana Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

    البينة على المدعي واليمين على المدعى عليه

    “(Harus ada) bukti bagi yang mendakwa dan sumpah bagi yang didakwa”. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 1341).

    Jika buktinya hanya perkataan-perkataan teman-teman anda sendiri, maka yang demikian bukan bukti. Sebagaimana Allah Ta’ala memberikan bukti kepada manusia tatkala diutus oleh-Nya seorang Rasul, yaitu dengan mukjizat-mukjizat yang bisa dilihat dan diketahui baik oleh orang iman ataupun orang kafir.

    Sebagian orang Islam yang berkata : “Imam anda tidak dibai’at oleh tokoh-tokoh masyarakat atau tidak oleh musyawaroh kaum muslimin”, ada hujjahnya, yaitu ketika Abu Bakar radhiyallahu’anhu yang dibai’at pertama kali oleh Umar radhiyallahu’anhu sedangkan Umar adalah tokoh kaum muslimin waktu itu, pembai’atan itupun dilakukan dalam suatu forum musyawaroh para sahabat, sehingga diikutilah bai’at itu oleh peserta musyawaroh yang lainnya dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Jadi pada peristiwa pembai’atan Abu Bakar ini ada setidaknya dua kaidah yang merupakan syarat sahnya seorang imam:

    · Dibai’at oleh tokoh-tokoh masyarakat

    · Atau berdasarkan ijma musyawarah kaum muslimin (perwakilannya)

    Itulah makna perkataan Umar ibn Khattab radhiyallahu’anhu:

    فمن بايع أميرا عن غير مشورة المسلمين فلا بيعة له

    “Barangsiapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah dengan kaum muslimin terlebih dahulu, maka tidak ada bai’at baginya”. (Bukhari no. 6329).

    Sebagian orang Islam yang berkata : “Imam anda tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan”, ada hujjahnya, sebab demikianlah fungsi imam seperti yang disebutkan oleh hadits-hadits, seperti hadits :

    إنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به

    “Sesungguhnya imam itu bagaikan perisai, digunakan untuk berperang dari belakangnya dan sebagai pelindung. (Bukhari no. 2737, Muslim no. 1841 juga oleh Nasai no. 4196).

    Sedangkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam melarang orang yang tidak memiliki kekuatan, dijadikan amir (pemimpin) sebagaimana dalam hadits:

    يا أبا ذر إني أراك ضعيفا وإني أحب لك ما أحب لنفسي لا تأمرن على اثنين ولا تولين مال يتيم

    ‘Hai Abu Dzar sesungguhnya aku melihatmu lemah dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang kucintai untuk diriku, janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan janganlah sekali-kali engkau mengurus harta anak yatim”. (Shahih Muslim no. 1826).

    Dalam riwayat lain:

    عن أبي ذر قال قلت يا رسول الله ألا تستعملني قال فضرب بيده على منكبي ثم قال يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها وأدى الذي عليه فيها

    Dari Abu Dzar, ia berkata, “Aku berkata, ‘Hai Rasulullah! Tidaklah engkau memperkerjakan aku?’ Ia berkata, ‘Maka beliau menepuk pundakku dengan tangannya kemudian bersabda, ‘Hai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya pekerjaan itu adalah amanah, dan sesungguhnya ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari Kiamat kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban padanya”. (Shahih Muslim no. 1825)

    Sedangkan kewajiban imam itu adalah menegakan hudud, melindungi rakyatnya dari kedzaliman, berjihad dan sebagainya?!!!.

    Bahkan seandainya bai’at yang tidak mensyaratkan kekuasaan itu dibenarkan, maka akan tercipta dalam satu negara ribuan bai’at dan ribuan imam (sebab tidak mensyaratkan kekuasaan). Yang demikian ini tentu kebatilan yang nyata.

    Sebagian orang Islam yang berkata : “Perintah berjama’ah, berbai’at dan beramir itu adalah untuk jama’atul muslimin dan imamnya, bukan untuk jama’ah minal muslimin (jama’ah sebagian orang Islam)”. Perkataan ini juga berdasarkan dalil, yaitu hadits Hudzaifah radhiyallahu’anhu:

    قال: “تلزم جماعة المسلمين وإمامهم”.

    Beliau (Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam) bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’atul Muslimin dan imamnya”.

    Jika kita memperhatikan, hadits itu secara jelas menyebutkan: Jama’atul Muslimin (jama’ah seluruh kaum muslimin) dan imamnya”, Nabi shallallahu’alaihi wasalam tidak mengatakan ‘Jama’ah minal muslimin (jama’ah sebagian orang Islam) dan imamnya”.

    Bahkan kelanjutan hadits itu makin menjelaskan hal ini:

    فقلت: “فإن لم تكن لهم جماعة ولا إمام؟”.

    قال: “فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض على أصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك”.

    Hudzaifah bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?”.

    Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon (‘ashlu syajarah’) hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Bukhari no. 3411, Muslim no. 1847)

    Perhatikan perkataan beliau “Hindarilah semua firqah (kelompok) itu”, sebagai penjelasan perkataan sebelumnya bahwa kelompok-kelompok (jama’ah minal muslimin/jama’ah sebagian orang islam) akan ada, tapi Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam melarang kita bergabung dengan salah satu kelompok jama’ah minal muslimin yang ada.

    Mereka beralasan pula, jika yang dimaksud imam yang kalau kita tidak bai’at kepadanya kita diancam mati jahiliyah adalah imam-imam jama’ah-jama’ah minal muslimin (sebagian orang Islam) seperti yang ada sekarang, bagaimana mungkin Nabi shallallahu’alahi wasalam dalam hadits diatas menyuruh umatnya untuk ‘mati jahiliyah’ karena tidak membaiat salah satu kelompok (jama’ah minal muslimin) yang ada?.

    Bahkan, apabila kita katakan tentang bolehnya bai’at kepada selain imam jama’atul muslimin, maka apakah itu khusus pada kelompok-kelompok tertentu? Atau bahwa itu boleh untuk seluruh kelompok umat dan pribadi-pribadinya?. Jika kita jawab: Ya, pada soal pertama, maka hal itu adalah batil dan merupakan suatu pembuatan syari’at yang tidak diizinkan Allah, karena tidak ada wahyu yang mengkhususkan beberapa manusia tertentu dengan sesuatu tanpa yang lain setelah wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam.

    Dan jika kita jawab, soal kedua dengan: Ya, maka sesungguhnya kita telah memecah belah perkara kaum muslimin, menceraiberaikan persatuan mereka dan mematahkan kekuatan mereka. Dan dari sana maka hal itu akan membuka pintu yang tidak tertutup kemungkinan bagi ribuan bai’at, lantas akan datang siapa yang berkeinginan, membai’at siapa yang dia kehendaki, dan ini termasuk perkara yang batil.

    Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam:

    …فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر

    “…. Jika ada orang lain yang merebut (keimaman)-nya penggallah lehernya”.

    (Muslim no. 1844, Abu Dawud no. 4248 dan lainnya).

    Artinya harus hanya ada satu bai’at, yaitu untuk imam yang tertinggi, yang berkuasa, disatu negara.

    Dengan demikian mereka yang tidak membai’at imam anda juga berdasarkan nash-nash yang jelas, dan kalaupun mereka dianggap salah dalam ijthadnya itu, tidak boleh kita mengkafirkan mereka, sebab siapapun pendapatnya dapat diambil dan ditinggalkan kecuali Rasullullah shallallahu’alaihi wasalam. Dan tidak semua orang yang Islam sebagian pendapatnya ditinggalkan karena kesalahan yang dilakukan, lalu dikafirkan atau dicap fasik, bahkan berdosa pun tidak, sebab Allah Ta’ala berfirman dalam doa kaum Mukmin:

    ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا

    “…Wahai Rabb kami janganlah Engkau hukum kami bila kami lupa atau bersalah…” [Al-Baqarah 286]. Dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ’alaihi wasalam bahwa Allah Ta’ala telah menjawab doa diatas dengan firman-Nya:

    قد فعلت

    “Telah Kulakukan”. (Muslim no. 126).

    2. Adapula orang-orang Islam yang bodoh, yang tidak paham dengan masalah imamah ini, lalu tidak mau berjama’ah, berimam dan berbai’at, sedangkan Allah Ta’ala memaafkan mereka dengan firman-Nya,

    لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (Al-Baqarah 286).

    Banyak dalil lain mengenai hal ini, diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Bukhari (no. 3478, 3481) dan Muslim (no. 2756, 2757) : Ada seorang laki-laki yang tidak pernah melakukan amal kebaikan sama sekali, lalu menyuruh anaknya bila mati agar jasadnya dibakar lalu abunya ditebar ke laut pada saat angin bertiup kencang. Ia berkata : “Demi Allah jika Dia mampu membangkitkanku tentu akan mengadzabku dengan adzab yang belum pernah ditimpakan pada seorang pun”. (Tetapi) kemudian Allah mengampuninya”.

    Orang ini ragu terhadap Qadar Allah dan kemampuan-Nya untuk membangkitkannya kembali setelah tulangnya hancur menjadi debu, bahkan berkeyakinan bahwa ia tidak akan dibangkitkan kembali. Tentu ini adalah kekufuran menurut kesepakatan seluruh kaum muslimin. Akan tetapi ia seorang yang tidak mengerti akan itu semua, sedang ia mukmin yang takut pada siksa Allah, maka ia diampuni karena hal itu.

    Maka jika dalam masalah seperti itu saja mereka bisa diampuni sebab kebodohannya dan rasa takutnya kepada Allah, maka bagaimana dengan masalah keimaman yang kadangkala sulit dipahami bagi sebagian orang?. Sedangkan dalam mengkafirkan seseorang, diharuskan orang itu mengetahui bahwa tindak penyimpangannya itu menyebabkan dirinya kafir. Allah Ta’ala berfirman :

    ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا

    Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali (An-Nisa 115).

    Pada ayat ini dijelaskan bahwa syarat seseorang dijatuhi hukuman neraka jahanam adalah setelah dia menentang Rasul, dan telah jelas baginya kebenaran yang disampaikan oleh Rasul itu.

    3. Ada juga orang Islam yang terpaksa tidak berjama’ah, berimam dan berbai’at, karena takut dan terancam jiwanya, sedangkan Allah Ta’ala memaafkan mereka, dengan firman-Nya,

    من كفر بالله من بعد إيمانه إلا من أكره وقلبه مطمئن بالإيمان ولكن من شرح بالكفر صدرا فعليهم غضب من الله ولهم عذاب عظيم

    Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar [An-Nahl 106].

    Maka kitapun tidak boleh mengkafirkan mereka.

    4. Ada juga orang Islam yang tidak tahu sama sekali masalah jama’ah, bai’at dan imamah ini, sedangkan Allah Ta’ala berfirman,

    وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا

    “…dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (Al-Israa 15).

    Sedangkan kelompok anda sendiri, kadangkala tidak pernah terang-terangan mendakwahi mereka. Bahkan berpura-pura tidak ada pemahaman tentang imamah, bai’at dan jama’ah.

    Oleh sebab itu, hendaknya tidak juga mengkafirkan orang-orang seperti ini.

    Kesimpulannya:

    Dengan sudut pandang seperti ini pun sebenarnya keadaan orang Islam selain jama’ah anda tidak bisa dikafirkan hanya karena tidak mau gabung atau tidak termasuk kelompok anda.
    Diposkan oleh Rikrik Aulia Rahman waktu 11/24/2008 11:43:00 PM

    Comment by abu faadhilah — July 9, 2009 @ 2:40 pm

  4. belajarlah saudaraku, biar tahu mana yang benar, lihatlah aqidahmu,,,, ahlussunnahkah, khawarij atau syiah, maenlah ke blog mantan LD** biar tahu banyak, rumahku-indah.blogspot.com, kami mencintai kalian karena Allah

    Comment by abu faadhilah — July 9, 2009 @ 2:36 pm

  5. koq komentarnya pedas2 ya, kayak g pernah belajar agama

    Comment by abu faadhilah — July 9, 2009 @ 2:35 pm

  6. haii itu kalo di Papua orang bilang….kasih biar sudah itu orang, biar jelek2 gitutu dia itu BINATANG yang tara pake OTAK alias GOBLOOKK.Bahasa Arabnya MUGH MAFI.

    Comment by jeki — March 31, 2009 @ 6:22 pm

  7. HE…HE…. HAI ORANG YANG NGAKU2 MANHAJ SALFI .

    APA KABAR ???? MASIH DENGKI AJA YA DENGAN LDII.
    UDAH LAMA NIH KITA2 GA GABUNG. AYO YANG BUKA PERTAMA KALI KERIBUTAN INI ARIFIN BADRUN MASUK LAGI DONG ,
    MASAK LEMPAR BATU TERUS LARI KAYAK ANJING AJA.

    Comment by abil baghda — March 25, 2009 @ 9:17 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: