LDII Watch

October 15, 2006

[Kliping] FAQ LDII.OR.ID: Isu Negatif

Filed under: Kliping Artikel Pro LDII — ldiiwatch @ 9:20 am

Berikut ini adalah FAQ (Frequently Asked Questions) dari situs resmi LDII. FAQ yang kami kutip ini hanya berisi FAQ tentang isu-isu negatif terhadap LDII. Link sumber adalah : http://ldii.or.id/isyunegatif.php

:: LDII – FAQ | Isyu Negatif ::

BAGIAN 3.

 

TANYA-JAWAB:

 

TENTANG ISU-ISU NEGATIF

  1. Adakah hubungan LDII dengan Islam Jamaah?
  2. Benarkah LDII sebagai penerus ajaran Islam Jamaah?
  3. Benarkah warga LDII menganggap kafir orang di luar LDII?
  4. Benarkah warga LDII merasa benar sendiri?
  5. Benarkah LDII meresahkan masyarakat?
  6. Benarkah warga LDII bila berjabat tangan dengan orang lain kemudian tangannya dicuci?
  7. Benarkah masjid LDII jika dimasuki orang lain, kemudian lantainya dicuci?
  8. Apakah di LDII ada amir atau imam?
  9. Benarkah bahwa warga LDII tidak mau bermakmum kepada orang lain?
  10. Benarkah bahwa warga LDII tidak mau sholat di masjid selain di masjid LDII?
  11. Benarkan LDII melaksanakan pernikahan sendiri tanpa melalui KUA?
  12. Mengapa LDII tidak pernah melakukan bantahan terhadap hujatan?

1. Adakah hubungan LDII dengan Islam Jamaah? LDII tidak ada hubungannya dengan Islam Jama’ah dan/atau ajaran terlarang lainnya. LDII adalah ormas Islam yang legal , berdasarkan Undang-undang, berasaskan Pancasila, setia dan ta’at kepada Pemerintah NKRI yang sah, memiliki Program Umum yang dapat diketahui secara transparan oleh masyarakat seluas-luasnya.Informasi resmi mengenai LDII bisa dibaca di internet website dengan alamat di http://www.ldii.or.id 2. Benarkah LDII sebagai penerus ajaran Islam Jama’ah? Tidak benar . LDII adalah ormas Islam yang besar dengan latar belakang warga yang sangat beragam, dalam bidang pendidikan, profesi, status sosial maupun aspirasi kelompok keagamannya, termasuk mereka yang dulunya ”dianggap” melaksanakan ajaran Islam Jama’ah.

Adanya orang-orang yang dianggap mantan Islam Jama’ah inilah yang kemudian menimbulkan citra seolah-olah LDII ini sebagai penerus Islam Jama’ah.

3. Benarkah warga LDII menganggap kafir orang di luar LDII?

Tidak benar . Karena siapapun tidak memiliki wewenang untuk menyatakan kekafiran seseorang, berdasarkan dalil: ” barang siapa yang menganggap kafir saudaranya, maka kekafiran akan berbalik kepada dirinya, jika saudaranya ternyata tidak kafir ”(Hadits Shohih Al Bukhori, Kitabul Adab).

4. Benarkah warga LDII merasa benar sendiri?

Tidak benar . Warga LDII tidak merasa benar sendiri, karena kebenaran itu ada di tangan Alloh (Surat Al Baqoroh 147). Siapapun yang di dalam beribadahnya berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, walaupun dari golongan manapun, tetap dijamin kebenarannya.

5. Benarkah LDII meresahkan masyarakat?

Tidak benar . Namun jika ada warga LDII yang melakukan kegiatan yang dianggap meresahkan masyarakat, bukan berarti LDII sebagai institusi bisa dipersalahkan. LDII sebagai institusi akan sangat menghargai jika warga LDII yang dianggap menimbulkan keresahan tersebut dapat diselesaikan menurut hukum yang berlaku.

6. Benarkah warga LDII bila berjabat tangan dengan orang lain kemudian tangannya dicuci?

Tidak benar . Jika isu tersebut benar, alangkah sulitnya menjadi warga LDII karena harus mencuci tangan setiap habis berjabat tangan atau bersentuhan dengan orang yang bukan warga LDII. Kenyataannya banyak warga LDII yang merupakan kaum terpelajar dan para profesional yang setiap saat bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan, serta tetap mengikuti etiket dalam pergaulan.

7. Benarkah masjid LDII jika dimasuki orang lain, kemudian lantainya dicuci?

Tidak Benar . Jika isu itu benar, logikanya adalah daripada harus membersihkan lantai setelah dimasuki seseorang yang bukan warga LDII, tentunya lebih baik LDII melarang siapa saja yang bukan warga LDII untuk masuk ke masjid LDII tersebut, sebab alangkah susahnya jika setiap dimasuki orang selain warga LDII kemudian harus mencuci lantai.

Kenyataannya tidak demikian. LDII tidak melarang siapa saja yang bukan warga LDII untuk masuk ke masjid LDII dan LDII tidak mencuci lantai masjidnya yang dimasuki bukan warga LDII.

Banyak sekali masjid LDII yang terletak di pinggir jalan besar bebas dimasuki oleh siapa saja, baik untuk sekedar sholat maupun untuk mengikuti sholat Jum’at. Sebagian dari foto-foto Masjid LDII tersebut dapat dilihat di internet website dengan alamat di http://www.ldii.or.id

8. Apakah di LDII ada amir atau imam?

Tidak ada . Di LDII tidak ada istilah Amir atau Imam, melainkan yang ada adalah Ketua Umum dan istilah-istilah yang lazim di sebuah organisasi. Adapun istilah amir dan imam memang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits , sehingga di LDII istilah-istilah itu tetap dikaji, tetapi dalam kerangka keilmuan saja.

9. Benarkah bahwa warga LDII tidak mau bermakmum kepada orang lain?

Tidak benar . Penetapan Imam sholat mengikuti tuntunan Rosululloh SAW: ” Yang berhak mengimami kaum adalah yang paling mahir di dalam membaca Al-Qur’an, jika dalam hal ini sama semua maka yang paling dahulu hijrahnya, jika dalam hal ini sama semua, maka yang paling banyak mengetahui sunnahnya, jika dalam hal ini mereka sama semua maka yang paling tua usianya ”(HR-An Nasai no. 772). Contoh yang nyata adalah pada saat ibadah haji. Di Makkah warga LDII sholat di belakang Imam Masjidil Harom. Di Madinah warga LDII sholat di belakang Imam Masjid Nabawi. Begitu juga di masjid-masjid lainnya.

10. Benarkah bahwa warga LDII tidak mau sholat di masjid selain di masjid LDII?

Tidak benar . Warga LDII selalu berusaha tertib dalam menetapi sholat lima waktu, dalam rangka menetapi firman Allah: ” Jagalah waktu-waktu sholat dan sholat yang tengah (Asar) ”(Surat Al Baqoroh 238 ). Untuk menetapi kewajiban sholat lima waktu tersebut, warga LDII dapat melaksanakan ibadah sholat di masjid, di musholla, atau di tempat ibadah lainnya. Adapun jika di lokasi terdekat ada masjid LDII, tentunya wajar saja jika warga LDII tersebut lebih memilih pergi ke masjid LDII. Hal tersebut semata-mata disebabkan karena di masjid LDII tersebut dapat diperoleh informasi-informasi mengenai kegiatan organisasi, sekaligus silaturohim dan menambah ilmu.

11. Benarkan LDII melaksanakan pernikahan sendiri tanpa melalui KUA?

Tidak benar . Sebagai warga negara yang baik dan ta’at kepada Peraturan Pemerintah yang sah, dalam melasanakan pernikahan, warga LDII harus mengikuti Undang-undang Perkawinan, dimana perkawinan hanya sah apabila disaksikan dan dicatat oleh pejabat dari kantor Urusan Agama (KUA).

12. Mengapa LDII tidak pernah melakukan bantahan terhadap hujatan?

LDII mengedepankan tiga (3) prinsip ukhuwwah , yaitu: ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah basyariyah, dan ukhuwah wathoniah. LDII mempunyai suatu pandangan bahwa berbantah-bantahan lebih banyak madlorotnya daripada manfaatnya.

65 Comments »

  1. Menutupi kebohongan dengan kebohongan = LDII / Islam Jamaah.
    Dan begitulah seterusnya… Mereka terperangkap pada lingkaran kebohongan syetan mereka.

    Comment by Meluruskan LDII — July 11, 2009 @ 4:44 pm

  2. Kamu bersama siapa?

    April 30, 2009 pada 10:04 pm (Keutamaan)
    Tags: Cinta, Iman, Rasulullah, Sahabat

    Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :

    حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

    Sulaiman bin Harb menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hammad bin Zaid menuturkan kepada kami dari Tsabit dari Anas radhiyallahu’anhu bahwa dulu ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari kiamat. Dia berkata, “Kapankah hari kiamat tiba?”. Nabi bersabda, “Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menyambutnya?”. Dia menjawab, “Tidak ada melainkan hanya saja saya mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi bersabda, “Kamu kelak akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” Anas pun mengatakan, “Tidaklah kami pernah merasa gembira melebihi kegembiraan kami ketika mendengar sabda beliau, ‘Kamu kelak akan bersama dengan orang yang kamu cintai’.” Maka Anas mengatakan,”Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar. Dan aku berharap agar kelak bisa bersama mereka dengan kecintaanku kepada mereka meskipun aku tidak bisa beramal seperti amal-amal mereka.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Manaqib)

    Hadits yang agung ini memberikan pelajaran di antaranya :

    1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib
    2. Hendaknya seseorang menanyakan sesuatu yang bermanfaat baginya
    3. Seorang pengajar atau mufti hendaknya mengalihkan jawaban kepada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi penanya jika pertanyaannya kurang bagus dan tidak penting baginya
    4. Cinta Allah dan Rasul merupakan bagian dari iman, bahkan itu merupakan pokoknya
    5. Cinta kepada Allah dan Rasul merupakan sebab utama untuk masuk ke dalam surga
    6. Tidak ada keimanan pada diri orang yang tidak cinta kepada Allah dan Rasul
    7. Dianjurkan menyampaikan kabar gembira kepada saudara sesama muslim
    8. Besarnya pengagungan para sahabat terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
    9. Keutamaan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu
    10. Kejujuran dan kerendahan hati para sahabat dan sikap saling mencintai satu sama lain dan saling menghormati di antara mereka
    11. Keutamaan Abu Bakar dan Umar
    12. Orang masuk surga dengan sebab amal-amal mereka, meskipun amal bukanlah harga yang seimbang untuk mendapatkan segala kenikmatan surga
    13. Kewajiban mengikuti pemahaman sahabat terutama Abu Bakar dan Umar dan mendahulukan mereka di atas yang lainnya
    14. Perintah untuk mempersiapkan diri dengan iman dan amal salih untuk menghadapi dahsyatnya hari kiamat
    15. Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya amalan hati dan besarnya peran amal hati dalam meningkatkan kualitas amalan
    16. Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/04/30/kamu-bersama-siapa/

    Comment by antok — May 1, 2009 @ 2:53 pm

  3. wahai saudara2 ku umat islam mengapa kita saling memperdebatkan kebenaran. bahwa kita tau kebenaran datang dari Allah yang diturunkan kepada Rosullullah SAW yang diteruskan oleh para shohabat, para tabi’in, para ulama dan penyiar agama.seharusnya kita merasa bersyukur atas jasa jasa mereka tanpa mereka ( penyiar agama ) dunia kiamat……

    Comment by friman taufik s — April 15, 2009 @ 10:08 am

  4. Wahai saudaraku Ustadz Qomar, walaupun anda memberikan penjelasan bahwa LDII itu sesat, sy tidak perduli pokoknya sekali LDII tetap LDII,silakan anda menyebarluaskan pernyataan anda ini, justru sekarang warga LDII sudah bertambah banyak walaupun saya yakin anda juga sudah tau bahwa berapa ratus bahkan juta orang yang ingin merintangi LDII dari dulu termasuk dengan pernyataan anda yang menyimpulkan bahwa LDII itu sesat.
    Saya akui pernyataan anda cukup berdasar juga secara anda memang lulusan dari Saudi Arabia.Menurut hemat saya anda kok seakan-akan angin jadi pahlawan yang akan mengeluarkan mereka yang tersesat dari ajaran LDII,oke silakan saja…bisakah anda seperti KH.Ubaidah??Kalau anda ingin mengkaji betul-betul LDII silakan datangi asrama2 LDII, pengajian2 LDII, Pondok LDII Kediri. Silakan anda bertanya banyak tentang manqul,Sanad dsb jangan asal main tuduh yang belum jelas kebenarannya, Sudah pernahkah anda menanyakan itu? jernihkan hati anda sebelum menghukumi sesuatu,lha wong LDII itu sudah benar2 berdasarkan QH masih aja dikatakan sesat, bagaimana dengan Islam kebanyakan sekarang?Anda juga harus mengkorek ajaran Islam lain selain LDII jika anda ingin jadi PAHLAWAN KEBENARAN…anda akan dapat pahala yang besar jika anda mengeluarkan orang2 dari kesesatan seperti yang dilakukan para Nabi terdahulu.

    Comment by Tama — April 13, 2009 @ 4:09 am

  5. BACA DENGAN SEKSAMA,
    WAHAI ORANG LDII !!!! SEMOGA KALIAN SADAR AKAN DOSA KALIAN !!

    Membongkar Kesesatan LDII : Bantahan Manqul
    Antara Al Quran, al Hadits dan ‘Manqul’

    Penulis:
    Al Ustadz Qomar ZA, Lc LULUSAN JAMIAH ISLAMIAH SAUDI ARABIA( ISNADYA JELAS TIDAK DIAGUKAN LAGI DAN BIOGRAFI PARA SYEH2/ISNADNYA JELAS, TIDAK SEPERTI isnadnya UBAIDAH YANG BIOGRAFI ISNADNYA NGGAK NGGENAH )
    NB;
    1. yang katanya ubaidah lulusan dari darul hadtis tapi setelah ditanyakan di darul hadits ternyata tidak di kenal dan tidak diakui nama ubaidah / madkhal dari indonesia, bahkan manhaj/metode ubaidah dalam beragama islam dicela dan dianggap bathil oleh syeh2 darul hadits seperti SYEH ABDULLOH IBNU HUMAID, KETUA WAKAF MASJIDIL HAROM juga IMAM MASJIDIL HAROM.
    2. yang anehnya ubaidah itu mengaku belajar di DARUL HADITS kr2 tahun 1930 – 1941, padahal darul hadits sendiri berdiri tahun 1956, ini suatu kebohongan besar!! aklo tidak percaya, tanya sendiri, penulis disini sudah membuktikan, bahkan banyak warga LDII yang Insaf dr LDII sudah membuktikannya..

    Jangan khawatir…
    Jangan takut…
    Baca dulu…
    Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk.

    Pengertian Manqul dalam Ajaran LDII
    Manqul H Nur Hasan Ubaidah adalah proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Ilmu itu harus musnad (mempunyai sandaran) yang disebut sanad, dan sanad itu harus mutashil (bersambung) sampai ke Rasulullah sehingga manqul musnad muttashil (disingkat M.M.M.) diartikan belajar atau mengaji Al Quran dan hadits dari Guru dan gurunya bersambung terus sampai ke Rasulullah.
    Atau mempunyai urutan guru yang sambung bersambung dari awal hingga akhir (demikian menurut kyai haji Kastaman, kiyai LDII dinukil dari bahaya LDII hal.253)
    Yakni: Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru, telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat, terhalang dinding [Menurut mereka, berkaitan dengan terhalang dinding sekarang sudah terhapus. Demikian dikabarkan kepada kami melalui jalan yang kami percaya. Tapi sungguh aneh, aqidah yang sangat inti bahkan menjadi ciri khas kelompok ini bisa berubah-rubah. Demikiankah aqidah?! – pen] atau lewat buku tidak sah sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapatkan ijazah (ijin untuk mengajarkan-red) [Ijazah artinya pemberian ijin untuk meriwayatkan hadits misalnya saya katakan: ‘Saya perbolehkan kamu untuk meriwayatkan hadits-hadits yang telah saya riwayatkan dari guru saya’- pen] dari guru, maka ia boleh mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu” [Drs Imron AM, selintas mengenai Islam Jama’ah dan ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993 hal. 24 dinukil dari Bahaya LDII hal. 258- pen]

    Keyakinan LDII tentang Manqul
    1. Mereka meyakini dalam mempelajari ajaran agama harus manqul musnad dan muttashil, bila tidak maka tidak sah ilmunya, ibadahnya ditolak dan masuk neraka.
    2. Nur Hasan mengaku bahwa dirinyalah satu-satunya jalur untuk menimba ilmu secara musnad muttashil di Indonesia bahkan di dunia., atas dasar itu ia mengharamkan untuk menimba ilmu dari jalur lain.
    3. Ia mendasari kayakinannnya itu dengan dalil-dalil, -yang sesungguhnya tidak tepat sebagai dalil-.

    Kajian atas Keyakinan dan Dalil-Dalil mereka

    Kajian atas point pertama:
    a. Keyakinannya bahwa ilmu tidak sah kecuali bila diperoleh dengan musnad mutashil dan manqul, adalah keyakinan yang tidak berdasarkan dalil, adapun dalil-dalil yang dia pakai berkisar antara lemah dan tidak tepat sebagai dalil. Seperti yang akan anda lihat nanti Insya Allah.

    b. Bahwa ini bertentangan dengan dalil-dalil syar’i yang menunjukan bahwa sampainya ilmu tidak mesti dengan manqul, bahkan kapan ilmu itu sampai kepadanya dan ilmu itu benar, maka ilmu itu adalah sah dan harus ia amalkan seperti firman Allah: …وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ “Dan diwahyukan kepadaku Al Quran ini untuk aku peringatkan kalian dengannya dan siapa saja yang Al Quran sampai padanya” [Al An’am:19]
    Mujahid mengatakan: dimanapun Al Quran datang maka ia sebagai penyeru dan pemberi peringatan. Kata (ومن بلغ) Ibnu Abbas menafsirkannya: “Dan siapa saja yang Al Quran sampai kepadanya, maka Al Quran sebagai pemberi peringatan baginya.”

    Demikian pula ditafsirkan oleh Muhammad bin Ka’b, As Suddy [Tafsir at Thabari:5/162-163], Muqatil [Tafsir al Qurthubi:6/399], juga kata Ibnu Katsir [2/130]. Sebagian mengatakan : “Berarti bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemberi peringatan bagi orang yang sampai kepadanya Al Quran.” Asy Syinqithi mengatakan: “Ayat mulia ini menegaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pemberi peringatan bagi setiap orang yang Al Quran sampai kepadanya, siapapun dia. Dan dipahami dari ayat ini bahwa peringatan ini bersifat umum bagi semua yang sampai kepadanya Al Quran, juga bahwa setiap yang sampai padanya Al Quran dan tidak beriman dengannya maka ia di Neraka”. [Tafsir Adhwa’ul Bayan:2/188 lihat pula tafsir-tafsir di atas-pen] Maka dari tafsir-tafsir para ulama di atas – jelas bahwa tidak seorangpun dari mereka mengatakan bahwa sampainya ilmu harus dengan musnad muttashil atau bahkan manqul ala LDII.

    Bahkan siapa saja yang sampai padanya Al Quran dengan riwayat atau tidak, selama itu memang ayat Al Quran, maka ia harus beriman dengannya apabila tidak maka nerakalah tempatnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:بلغوا عني ولو آية”Sampaikan dariku walaupun satu kalimat” [Shahih, HR Ahmad Bukhari dan Tirmidzi]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengharuskan cara manqul ala LDII dalam penyampaian ajarannya.

    c. Keyakinan mereka bertentangan dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau menyampaikan ilmu dengan surat kepada para raja. Seperti yang dikisahkan sahabat Anas bin Malik: عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada Kisra, Qaishar, Najasyi dan kepada selurus penguasa, mengajak mereka kepada Allah. bukan an Najasyi yang Nabi menshalatinya” [Shahih, HR Muslim, Kitabul Jihad….no:4585 cet Darul Ma’rifah] (Surat Nabi kepada Heraqlius) [Shahih, HR Bukhari no:7 dan Muslim: 4583]. An Nawawi mengatakan ketika mensyarah hadits ini: “Hadits ini (menunjukkan) bolehnya beramal dengan (isi) surat.” [Syarh Muslim:12/330] Surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada raja Bahrain, lalu kepada Kisra [Shahih, HR al Bukhari, Fathul Bari:1/154]dan banyak lagi surat beliau kepada raja atau tokoh-tokoh masyarakat, bisa anda lihat perinciannya dalam kitab Zadul Ma’ad:1/116120 karya Ibnul Qoyyim [Cet Ar Risalah ke 30 Thn. 1417/1997]

    Surat-menyurat Nabi ini tentu tidak sah menurut kaidah manqulnya Nur Hasan Ubaidah. Adapun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap itu sah, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menerima Islam – mereka yang masuk Islam – karena surat itu tidak menganggap mereka kafir karena tidak manqul. Dan Nabi menganggap surat itu sebagai hujjah atas mereka yang tidak masuk Islam setelah datangnya surat itu, sehingga tiada alasan lagi jika tetap kafir, seandainya sistem surat-menyurat itu tidak sah, mengapa Nabi menganggapnya sebagai hujjah atas mereka??.

    Kemudian setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, cara inipun dipakai oleh para sahabatnya seperti surat Umar kepada Abu Musa al ‘Asy ‘ari yang terdapat didalamnya hukum-hukum yang berkaitan dengan Qadha’ [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, ad Daruqhutni al Baihaqi dan lain-lain `dishahihkan oleh al Albani dalam Irwaul Ghalil:8/241, Ahmad Syakir dan lain-lain -pen], lihat perinciannya dalam buku khusus membahas masalah ini berjudul رسالة عمر ابن الخطاب إلى أبي موسى الأشعري في القضاء و آدابه رواية ودراية karya Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul.], Aisyah menulis surat kepada Hisyam bin Urwah berisi tentang shalat [al Kifayah fi ‘Ilmirriwayah:343], Mu’awiyahpun menulis kepada al Mughirah bin Syu’bah tentang dzikir setelah shalat [Shahih, HR Bukhari dan Muslim], Utsman bin Affan mengirim mushaf ke pelosok-pelosok [Riwayat al Bukhari secara Mu’allaq:1/153 dan secara Musnad:9/11], belum lagi para ulama setelah mereka. Namun semuanya ini dalam konsep manqulnya Nur Hasan Ubaidah tidak sah, berarti teori ‘manqul anda’ justru tidak manqul dari mereka, sebab ternyata menurut mereka semua sah. Dan pembaca akan lihat nanti – Insya Allah – komentar para ulama tentang ini.

    Surat-menyurat ini lalu diistilahkan dengan mukatabah, dan para ulama ahlul hadits menjadikannya sebagai salah satu tata cara tahammul wal ada’ (mengambil dan menyampaikan hadits), bahkan mereka menganggap ini adalah cara yang musnad dan muttashil, walaupun tidak diiringi dengan ijazah. Ibnus Sholah mengatakan: “Itulah pendapat yang benar dan masyhur diatara ahlul hadits…dan itu diamalkan oleh mereka serta dianggap sebagai musnad dan maushul (bersambung) [Ulumul Hadits:84] . As Sakhowi juga mengatakan: “Cara itu benar menurut pendapat yang shahih dan masyhur menurut ahlul hadits …. dan mereka berijma’ (sepakat) untuk mengamalkan kandungan haditsnya serta mereka menganggapnya musnad tanpa ada khilaf (perselisihan) yang diketahui.” [Fathul Mughits:3/5]

    Al Khatib al Baghdadi menyebutkan: “Dan sungguh surat-surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi agama yang harus dianut dan mengamalkan isinya wajib bagi umat manusia ini, demikian pula surat-surat Abu Bakar, Umar dan selain keduanya dari para Khulafar ar Rasyidin maka itu harus diamalkan isinya. Juga surat seorang hakim kepada hakim yang lainnya dijadikan sebagai dasar hukum dan diamalkan.’ [al Kifayah :345] . Jadi, ini adalah cara yang benar dan harus diamalkan, selama kita tahu kebenaran tulisan tersebut maka sudah cukup. [lihat, al Baitsul hatsits:123 dan Fathul mughits:3/11]

    Imam al Bukhari pun mensahkan cara ini, dimana beliau membuat sebuah bab dalam kitab Shahihnya berjudul : “Bab (riwayat-riwayat) yang tersebut dalam hal munawalah dan surat/tulisan ulama yang berisi ilmu ke berbagai negeri.” [Fathul Bari:1/153]

    Kalaulah ‘manqul kalian’ dimanqul dari para ulama penulis Kutubus Sittah, mengapa Imam Bukhari menyelisihi kalian?? Apa kalian cukupkan dengan kitab-kitab ‘himpunan’, sehingga tidak membaca Shahih Bukhari walaupun ada di bab-bab awal, sehingga hal ini terlewatkan oleh kalian?? Demikian pula Imam Nasa’i menyelisihi kalian, karena beliau ketika meriwayatkan dari gurunya yang bernama Al Harits Ibnu Miskin beliau hanya duduk di balik pintu, karena tidak boleh mengikuti kajian haditsnya Sebabnya, karena waktu itu imam Nasa’i pakai pakaian yang membuat curiga al Harits ibnu Miskin dan ketika itu al Harits takut pada urusan-urusan yang berkaitan dengan penguasa sehingga beliau khawatir imam Nasa’i sebagai mata-mata maka beliau melarangnya [Siyar A’lam an Nubala:14/130], sehingga hanya mendengar di luar majlis. Oleh karenanya ketika beliau meriwayatkan dari guru tersebut beliau katakan: حدثنا الحارث بن مسكين قراءة عليه وأنا أسمع”Al Harits Ibnu Miskin memberitakan kepada kami, dengan cara dibacakan kepada beliau dan saya mendengarnya” dan anehnya riwayat semacam ini ada pada kitab himpunan kalian Kitabush Sholah hal. 4, “Apa kalian tidak menyadari apa maksudnya??”

    d. Istilah ‘manqul’ sebagai salah satu bidang ilmu ini adalah istilah yang benarbenar baru dan adanya di Indonesia pada Jama’ah LDII. Ini menunjukan bahwa ini bukan berasal dari para ulama. Adapun manqul sendiri adalah bahasa Arab yang berarti dinukil atau dipindah, dan ini sebagaimana bahasa Arab yang lain dipakai dalam pembicaraan. Namun hal itu hanya sebatas pada ungkapan bahasa -bukan sebagai istilah atau ilmu tersendiri yang memiliki pengertian khusus – apalagi konsekwensi khusus dan amat berbahaya.

    e. Adapun musnad dan mutashil, memang ada dalam ilmu Musthalah dan masing masing punya definisi tersendiri. Musnad salah satu artinya dalam ilmu mushtolahul hadits adalah ‘Setiap hadits yang sampai kepada Nabi dan sanadnya bersambung/mutashil’ [Min atyabil manhi fi ‘ilmil Musthalah:8]. Akan tetapi perlu diketahui bahwa persyaratan musnad ini adalah persyaratan dalam periwayatan hadits dari Nabi, bukan persyaratan mengamalkan ilmu. Harus dibedakan antara keduanya, tidak bisa disamakan antara riwayat dan pengamalan.

    Sebagaimana akan anda lihat nanti – Insya Allah – dalam pembahasan al wijadah, bahwa al wijadah itu secara riwayat terputus Namun secara amalan harus diamalkan. Orang yang tidak membedakan antara keduanya dan mewajibkan musnad mutashil dalam mengamalkan ilmu maka telah menyelisihi ulama ahlul hadits.

    f. Musnad muttashilpun bukan satu-satunya syarat dalam riwayat hadits. Karena hadits yang shahih itu harus terpenuhi padanya 5 syarat yakni pertama, diriwayatkan oleh seorang yang adil [adil dalam pengertian ilmu mushtalah adalah seorang muslim, baligh, berakal selamat dari kefasikan dan hal-hal yang mencacat kehormatannya (muru’ah) [Min Atyabil Manhi fi Ilmil Musthalah:13]-pen, kedua yakni yang sempurna hafalannya atau penjagaannya terhadap haditsnya, ketiga, sanadnya bersambung, keempat, tidak syadz [Syadz artinya, seorang rawi yang bisa diterima menyelisi yang lebih utama dari dirinya [nuzhatun nadzor] yakni dalam meriwayatkan hadits bertentangan dengan rawi yang lebih kuat darinya atau lebih banyak jumlahnya. Sedang mu’allal artinya memiliki cacat atau penyakit yang tersembunyi sehingga tampaknya tidak berpenyakit padahal penyakitnya itu membuat hadits itu lemah. -pen] dan kelima tidak mu’allal.

    Kalaupun benar –padahal salah- apa yang dikatakan oleh Nurhasan bahwa ilmu harus musnad muttashil, mana syarat-syarat yang lain ? Kenapa hanya satu yang diambil ? Jangan-jangan dia sengaja disembunyikan karena memang tidak terpenuhi padanya !

    Atau kalau kita berhusnudhon, ya mungkin tidak tahu syarat-syarat itu, atau lupa, apa ada kemungkinan lainnya lagi?? Dan semua kemungkinan itu pahit. Jadi tidak cukup sekedar musnad muttashil bahkan semua syaratnya harus terpenuhi dan tampaknya keempat syarat yang lain memang tidak terpenuhi sama sekali. Hal itu bisa dibuktikan apabila kita melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ajaran LDII, misalnya dalam hal imamah, bai’at, makmum sholat, zakat, dan lain-lain. Ini kalau kita anggap syarat Musnad Muttashil terpenuhi pada mereka, sebenarnya itu juga perlu dikaji.

    g. Amal LDII dengan prinsip ini menyelisihi amal muslimin sejak Zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai saat ini.

    h. Kenyataannya mereka hanya mementingkan MMM, tidak mementingkan keshahihan hadits, buktinya dalam buku himpunan mereka ada hadits-hadits dha’if, bahkan maudhu’ (palsu). Lantas apalah artinya MMM kalau haditsnya tidak shahih karena rawinya tidak tsiqoh misalnya? [Contoh pada pembahasan terakhir -pen]

    i. Dari siapa ‘manqul’ ini dimanqul? Kalau memang harus manqul bukankah ‘metode manqul’ itu juga harus manqul?? Karena ini justru paling inti, Nur Hasan atau para pengikutnya harus mampu membuktikan secara ilmiyah bahwa manqul ini ‘dimanqul’ dari Nabi, para sahabatnya dan para ulama ahli hadits. Kalau ia tidak bisa membuktikannya, berarti ia sendiri yang pertama kali melanggar kaidah manqulnya. Kalau ia mau buktikan, maka mustahil bisa dibuktikan, karena seperti yang kita lihat dan akan kita lihat – Insya Allah – ternyata manqul ini menyelisihi Nabi, para sahabat, dan ulama ahlul hadits.

    j. Dalam ilmu Mushtholah al Hadits pada bab tahammul wal ada’ (menerima dan menyampaikan hadits) terdapat cara periwayatan yang diistilahkan dengan al Wijadah. Yaitu seseorang mendapatkan sebuah hadits atau kitab dengan tulisan seseorang dengan sanadnya [al Baitsul Hatsits:125]. Dari sisi periwayatan, al wijadah termasuk munqothi’ [Munqothi: terputus sanadnya. Mursal: terputus dengan hilangnya rawi setelah tabi’in. Mu’allaq: terputus dengan hilangnya rawi dari bawah sanad – pen], mursal [Ulumul hadits:86, Fathul Mughits:3/22] atau mu’allaq, Ibnu ash Sholah mengatakan: “Ini termasuk munqothi’ dan mursal…”, ar Rasyid al ‘Atthor mengatakan: “Al wijadah masuk dalam bab al maqthu’ menurut ulama (ahli) periwayatan”.[Fathul Mughits:3/22]

    Bahkan Ibnu Katsir menganggap ini bukan termasuk periwayatan, katanya: “Al Wijadah bukan termasuk bab periwayatan, itu hanyalah menceritakan apa yang ia dapatkan dalam sebuah kitab.” [al Baitsul Hatsits:125]

    Jadi al wijadah ini kalau menurut kaidah M.M.M-nya Nur Hasan tentu tidak terpenuhi kategorinya, sehingga tentu tidak boleh bahkan haram mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan cara al wijadah. Tetapi maksud saya disini ingin menerangkan pandangan ulama tentang mengamalkan ilmu yang didapat dengan al wijadah, ternyata disana ada beberapa pendapat:
    a. Sebagian orang terutama dari kalangan Malikiyah (pengikut madzhab Maliki) melarangnya.
    b. Boleh mengamalkannya, ini pendapat asy Syafi’i dan para pemuka madzhab Syafi’iyyah.
    c. Wajib mengamalkannya ketika dapat rasa percaya pada yang ia temukan. Ini pendapat yang dipastikan ahli tahqiq dari madzhab as Syafi’iyyah dalam Ushul Fiqh. [lihat Ulumul Hadits karya Ibnu Sholah:87]

    Ibnush Sholah mengatakan tentang pendapat yang ketiga ini: “Inilah yang mesti dilakukan di masa-masa akhir ini, karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadits yang dinukil (dari Nabi) karena tidak mungkin terpenuhinya syarat periwayatan padanya.” [Ulumul Hadits:87] Yang beliau maksud adalah hanya al wijadah yang ada sekarang. [al Baitsul Hatsits: 126]
    An Nawawi mengatakan: ‘Itulah yang benar’ [Tadriburrawi:1/491], demikian pula As Sakhowi juga menguatkan pendapat yang mewajibkan. [Fathul Mughits:3/27]
    Ahmad Syakir mengatakan: yang benar wajib (mengamalkan yang shahih yang diriyatkan dengan al wijadah). [al Baitsul Hatsits: 126]

    Tentu setelah itu disyaratkan bahwa penulis kitab yang ditemukan (diwijadahi) adalah orang yang terpercaya dan amanah dan sanad haditsnya shahih sehingga wajib mengamalkannya. [al Baitsul Hatsits:127] Ali Hasan mengatakan: Itulah yang benar dan tidak bisa terelakkan, seandainya tidak demikian maka ilmu akan terhenti dan akan kesulitan mendapatkan kitab, akan tetapi harus ada patokan-patokan ilmiyah yang detail yang diterangkan para ulama’ dalam hal itu sehingga urusan tetap teratur pada jalannya [Al Baitsul Hatsits:1/368 dengan tahqiqnya]. Dengan demikian pendapat yang pertama tidak tepat lebih-lebih di masa ini. Diantara yang mendukung kebenaran pendapat yang membolehkan atau mewajibkan adalah berikut ini Nabi bersabda:
    -أي الخلق أعجب إليكم إيمانا ؟قالوا : الملائكة.قال: وكيف لايؤمنون وهم عند ربهم وذكروا الأنبياء،فقال: وكيف لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم ؟!قالوا : ونحن فقال: وكيف لاتؤمنون وأنا بين أظهركم. قالوا فمن يا رسول الله؟ قال قوم يأتون من بعدكم يجدون صحفا يؤمونو بما فيها artinya: “Makhluk mana yang menurut kalian paling ajaib imannya?” Mereka mengatakan: “Para malaikat.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Bagaimana mereka tidak beriman sedang mereka di sisi Rabb mereka?”. Merekapun (para sahabat) menyebut para Nabi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallampun menjawab: “Bagaimana mereka tidak beriman sedang wahyu turun kepada mereka”. Mereka mengatakan: “Kalau begitu kami?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bagaimana kalian tidak beriman sedang aku ditengah-tengah kalian.” Mereka mengatakan : “Maka siapa Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya.” [HR Ahmad, Abu Bakar Ibnu Marduyah, ad Darimi, al Hakim dan Ibu ‘Arafah, Ali Hasan mengatakan: Cukuplah Hadits itu dalam pandangan saya sebagai Hadits Hasan lighoirihi (bagus dengan jalan-jalan yang lain), semua jalannya lemah namun lemahnya tidak terlalu sehingga dihasankan dengan seluruh jalan-jalannya. Dan al Haitsami dalam al Majma:10/65 serta al Hafidz dalam al Fath:6/7 cenderung kepada hasannya hadits itu. [al Baitsul Hatsits:1/369 dengan tahqiqnya], maraji’: Ad Dho’ifah:647-649, syekh al Albani cenderung kepada lemahnya, Fathul Mughits:3/28 ta’liqnya, Al Mustadrak:4/181, musnad Ahmad:4/106, Sunan ad Darimi:2/108, Ithaful Maharoh:14/63. Tafsir Ibnu Katsir:1/44 Al Baqarah:4- pen]
    – Amalan Ibnu Umar, dimana beliau meriwayatkan dari ayahnya dengan al wijadah, al Khatib al Baghdadi dalam bukunya [al kifayah:354] meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Nafi, dari Ibnu Umar, أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب صحيفة فيها ليس فيما دون خمس من ا لابل صدقة فإذا كانت خمسا ففيها شاة
    ‘Bahwa beliau mendapatkan pada gagang pedang umar sebuah lembaran (tertulis) ‘Tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari lima, kalau jumlahnya 5 maka zakatnya satu kambing jantan…’
    – Abdul Malik bin Habib atau Abu Imran al Jauni beliau adalah seorang Tabi’in yang Tsiqoh (terpercaya) seperti kata al Hafidz Ibnu Hajar dalam [at Taqrib:621], beliau mengatakan: “Kami dulu mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat padanya ilmu, maka kamipun silih berganti mendatanginya, bagaikan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih.” [Al Kifayah:355 dan Fathul Mughits:3/27]

    Bila seperti ini keadaannya maka seberapa besar faidah sebuah sanad hadits yang sampai ke para penulis Kutubus Sittah di masa ini, toh tanpa sanad inipun kita bisa langsung mendapatkan buku mereka. Dan kita dapat mengambil langsung hadits-hadits itu darinya, walaupun tanpa melalui sanad ‘muttashil musnad manqul’ kepada mereka. Dan wajib kita mengamalkannya seperti anda lihat keterangan di atas.

    Tidak seperti yang dikatakan Nur Hasan bersama LDIInya bahwa tidak boleh mengamalkanya bahkan itu haram!! Subhanallah, pembaca melihat ternyata dalil dan para ulama menyelisihi mereka, jadi dari mana ‘manqulmu’ dimanqul?? Ahmad Syakir mengatakan: “Dan kitab-kitab pokok kitab-kitab induk dalam sunnah Nabi dan selainnya, telah mutawatir periwayatannya sampai kepada para penulisnya dengan cara al wijadah.

    Demikian pula berbagai macam buku pokok yang lama yang masih berupa manuskrip yang dapat dipercaya, tidak meragukannya kecuali orang yang lalai dari ketelitian makna pada bidang riwayat dan al wijadah atau orang yang membangkang, yang tidak puas dengan hujjah.[Al Baitsul Hatsits:128].

    Oleh karenanya para ulama yang memiliki sanad sampai penulis Kutubus Sittah, tidak membanggakan sanad mereka apabila amalannya tidak sesuai dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan mereka tidak pernah pamer, tidak pula mereka memperalatnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok, karena mereka tahu hakekat kedudukan sanad pada masa ini., berbeda dengan yang tidak tahu sehingga memamerkan, memperalat dan…dan…

    k. Juga, untuk membuktikan benar atau salahnya ajaran manqul. Kita perlu membandingkan ajaran LDII dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Seandainya manqulnya benar maka tentu ajaran LDII akan sama dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya, kalau ternyata tidak sama maka pastikan bahwa manqul dan ajaran LDII itu salah, dan ternyata itulah yang terbukti.

    Berikut ini pokok-pokok ajaran LDII yang berbeda dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya:
    – Dalam hal memahami bai’at dan mengkafirkan yang tidak bai’at.
    – Dalam hal mengkafirkan seorang muslim yang tidak masuk LDII
    – Dalam hal manqul itu sendiri
    – Dalam aturan infaq
    – Menganggap najis selain mereka dari muslimin
    – Menganggap tidak sah sholat dibelakang selain mereka
    – Begitu gampang memvonis seseorang di Neraka padahal dia muslim
    – Menganggap tidak sahnya penguasa muslim jika selain golongannya
    – Dan lain-lain
    [perincian masalah-masalah ini sebagiannya telah kami jelaskan dalam makalah yang lain, dan yang belum akan menyusul insyaallah, tunggulah saatnya!! -pen]
    l. Sanad Nur hasan Ubaidah [Seputar sanad Nur Hasan atau Ijazah haditsnya ini banyak cerita unik di kalangan LDII, konon hadits-haditsnya hilang waktu naik becak, yang disampaikan kepada pengikutnya hanya 6.-pen], dalam kitab himpunan susunan LDII pada Kitabush Sholah hal. 124-125 yang sampai kepada Imam at Tirmidzi pada hadits Asma’ wa Shifat Allah, ternyata hadits itu adalah hadits lemah, Ibnu Hajar mengatakan: “‘Illah (cacat) hadits itu menurut dua syaikh (al Bukhari dan Muslim). Bukan hanya kesendirian al Walid ibnu Muslim (dalam meriwayatkannya), bahkan juga adanya ikhtilaf (perbedaan periwayatan para rawinya), idlthirab (kegoncangan akibat perbedaan itu), tadlis (sifat tadlis pada al Walid ibnu Muslim yaitu mengkaburkan hadits) dan kemungkinan adanya idraj (dimasukkannya ucapan selain Nabi pada matan hadits itu [Fathul Bari, syarah al Bukhari:11/215].). Jadi cacat/’illah/kelemahan hadits itu ada 5 sekaligus, yaitu tafarrud, ikhtilaf, idlthirab, tadlis dan idraj.” Imam At Tirmidzipun merasakan kejanggalan pada hadits ini, dimana beliau setelah menyebutkan hadits ini mengatakan: ‘Gharib’ (aneh karena adanya tafarrud/kesendirian dalam riwayat) [Sunan at Tirmidzi:5/497, no:3507], demikian pula banyak para ulama menganggap lemah hadits ini seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, al Bushiri, Ibnu Hazm, al Albani dan Ibnu Utsaimin. [lihat al Qowa’idul Mutsla:18 dengan catatan kaki Asyraf Abdul Maqshud]. Hadits yang shahih dalam masalah ini adalah tanpa perincian penyebutan Asma’ul Husna dan itu diriwayatkan al Bukhari dan Muslim

    Kajian keyakinan kedua, bahwa dialah satu-satunya jalan manqul…

    Apa ini bukan kesombongan, kebodohan serta penipuan terhadap umat?!. Karena sampai saat ini sanad-sanad hadits itu masih tersebar luas di kalangan tuhllabul ilmi, mereka yang belajar hadits di Jazirah Arab, Saudi Arabia dan negara-negara tetangganya, di Pakistan, India atau Afrika, baik yang belajar orang Indonesia atau selain orang Indonesia, mereka banyak mendapatkan Ijazah [Bukan ijazah tamat sekolah, tapi ini istilah khusus dalam ilmu riwayat hadits. Yaitu ijin dari syekh untuk meriwayatkan hadits – pen] riwayat Kutubus Sittah dan yang lain termasuk diantaranya adalah penulis makalah ini. Kalau dia konsekwen dengan ilmu manqulnya, lantas mengapa dia anggap dirinya satu-satunya jalan manqul?? Sehingga kalian – wahai pengikut LDII – mengkafirkan yang tidak menuntut ilmu dari kalian, termasuk mereka yang mengambil ilmu dari negara-negara Arab dari ulama/syaikh-syaikh yang punya sanad, padahal mereka mendapat sanad, ternyata kalian kafirkan juga?!

    Asy Syaikh al Albani dan murid-muridnya di Yordania, asy Syaikh Abdullah al Qar’awi dan murid-muridnya, asy Syaikh Hammad al Anshari dan murid-muridnya di Saudi Arabia, asy syaikh Muqbil di Yaman, asy Syaikh Muhammad Dhiya’urrahman al ‘Adhami dari India dan murid-muridnya, dan masih banyak lagi yang lain tak bisa dihitung. Merekapun punya sanad Kutubus Sittah dan selainnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tapi mereka tidak seperti kalian, wahai Nur Hasan dan pengikutnya. Mereka tahu apa arti sebuah sanad di masa ini, dan perlu diketahui bahwa semua mereka aqidahnya berbeda dengan aqidah kalian, wahai penganut LDII. Mana yang benar, wahai orang yang berakal??

    Comment by hamba alloh — February 2, 2009 @ 8:29 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: