LDII Watch

January 15, 2007

[Kliping] Bukan Keparat

Filed under: Kliping Artikel Kontra LDII — ldiiwatch @ 12:57 am

Sumber: http://yamadhipati.blogspot.com/2006/11/bukan-keparat.html

Ditulis oleh: Alex Ramses

Saya merasa perlu menanggapi keberatan ataupun umpatan atas tulisan saya di Republika dengan judul “Aliran Sesat” beberapa waktu lalu. Ketika membaca surat pembaca di Republika yang berjudul ‘Penjelasan Mengenai LDII” saya tidak kaget. Saya baru Njumbul — meminjam istilah Ulin — ketika membaca pesan di Guestbook Blog saya ini. Wah, saya dibilang Keparat. Saya Insha Allah bukan keparat Mas. Justru semua ini saya dasarkan atas kecintaan saya kepada sesama Muslim. Saya merasa sedih melihat saudara-saudara saya ditipu. Berikut ini saya posting surat jawaban untuk penanggap yang saya kirimkan ke Republika kemarin.

*****

Coretan ini menanggapi “keberatan” pembaca mengenai tulisan saya di republika online tanggal 19 oktober 2006 berjudul Aliran Sesat. Tanggapan tesebut dikirimkan oleh saudara Sudarmo tanggal 31 Oktober 2006 dengan judul Penjelasan Soal LDII. Memang sangat baik jika kita selalu berusaha menjalankan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Mengaji Alqur’an dan Hadist menjadi kewajiban kita semua ummat Islam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Saudara Sudarmo selama dua puluh tahun ini. Sudarmo juga mengatakan bahwa sebaiknya kita mencari tahu kebenaran mengenai LDII langsung kepada sumbernya. Masalahnya adalah jurus taqiyah yang digunakan oleh LDII itu sendiri. Taqiyah, yang sebenarnya sudah sejak zaman dulu digunakan oleh beberapa kelompok Syi’ah yang menyimpang ini membenarkan suatu kelompok untuk tidak mengungkapan ajaran yang sebenarnya dari kelompok tersebut kepada orang luar. Logikanya, apa yang membuat suatu kelompok merahasiakan ajarannya kalau bukan karena takut ketahuan penyelewengannya? Kesesatannya?

LDII dalam situs resminya juga mengatakan bahwa mereka tidak ada hubungan dengan Islam Jama’ah yang pernah dilarang di Indonesia. Sekali lagi ini adalah taqiyah. Kenyatannya, LDII itu ya Islam Jama’ah, ya LEMKARI, ya Darul Hadis. Kelompok dan orangnya itu-itu juga. Saya masih ingat betul di kampung saya dulu di dekat sekolah SD saya ada sekelompok orang mendirikan sebuah masjid atau langgar. Dulu papan yang ada di depan langgar tersebut bertuliskan LEMKARI. Sekarang di tempat yang sama itu tulisannya menjadi LDII. Orang-orang ini dari dulu hingga sekarang tidak pernah ikut sholat jum’at di masjid yang telah ada sebelumnya. Padahal tempatnya masih sangat cukup untuk menampung mereka. Ada apa gerangan? Apakah menurut mereka yang sholat di masjid lain itu bukan muslim? Sholat bersama mereka tidak sah? Kenapa mereka sangat ekslusif? Saudara Sudarmo bisa menjelaskan?

Sekitar tahun 1998, saya berkunjung ke rumah seorang kawan yang drop out dari pesantren karena disuruh orang tuanya untuk tidak meneruskan belajar di pesantren kami. Kawan saya ini tinggal di kota Malang. Karena saya menginap di rumahnya, kami banyak mengobrol tentang segala hal. Akhirnya kawan saya ini bicara tentang LDII dan bahwa dirinya sekarang menjadi anggota LDII. Rasa penasaran saya mengenai LDII membuat saya tertarik untuk mengetahuinya lebih dalam. Setelah lama kami berdiskusi sampai larut malam, dan setelah kawan saya memberitahu kepada tentang prinsip taqiyah dan saya sendiri menunjukkan seolah-olah akan ikut ajaran LDII, akhirnya kawan saya ini bersedia menunjukkan sebuah buku yang menerangkan tentang apa sebenarnya ajaran LDII ini.

Malam itu juga saya baca semua isi buku tersebut. Buku itu ddiawali dengan nash-nash mengenai Imamah. Suatu dalil naqli yang menyatakan bahwa Islam seseorang tidaklah sempurna jika dia tidak hidup dalam suatu jama’ah dan berbaiat kepada seorang amirul mukminin. Ada hadis yang menyatakan bahwa tidak ada islam (yang benar) kecuali dengan adanya jama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya imamah, dan imamah tidak sah jika tanpa bai’at, selanjutnya bai’at tidak berguna jika tidak ada ketaatan kepada sang amir. Dikutip juga dalam buku tersebut hadis mengenai seseorang yang meninggal dunia sebelum dia menjadi anggota jama’ah, atau keluar dari jama’ah. Orang yang demikian ini dianggap mati dalam keadaan jahiliyah. Sesat dan Kafir. Buku tersebut disusun dengan bahasa yang sangat meyakinkan sehingga pembaca yang awam mengenai Islam sangat mudah tertipu.

Pembaca awam pasti akan terusik hatinya dan akhirnya termakan oleh ajaran tersebut. Seorang muslim pasti takut mati dalam keadaan jahiliyah dan kafir. Dan buku tersebut menawarkan solusi “redemption”. Yaitu melakukan bai’at. LDII dalam situs resminya mengatakan bahwa organisasi tersebut didirikan sekitar tahun 1972. Tapi buku yang saya baca tersebut mengatakan bahwa Imam atau Amir pertama mereka dibai’at sekitar tahun 1948, saya kurang yakin mengenai tahun yang pasti. Mereka mengatakan bahwa sebelum Imam mereka dibai’at, belum ada seorang muslim di Indonesia yang diangkat sebagai pemimpin muslim dan dibai’at menjadi amirul mukminin.

Loh, yang benar yang mana? Tahun berapa sebenarnya gerombolan ini berdiri? Lagi-lagi dengan prinsip taqiyah, gerombolan ini tidak akan mau mengungkapkan mana yang benar. Di dalam “buku panduan” LDII tersebut juga dilampirkan foto kopi surat bai’at. Surat pernyataan seorang anggota untuk masuk dalam jama’ah mereka. Untuk menjadikan sang pemimpin gerombolan sebagai amirul mukminin. Tapi mereka dengan berbohong mengatakan bahwa LDII tidak ada hubungan apa-apa dengan Islam Jama’ah. Amir yang ada sekarang ini adalah anak dari amir sebelumnya yang telah meninggal dunia. Kalau memang yang mereka ajarkan itu adalah khilafah dan imamah yang haq, kenapa khilafah bisa diwariskan? Ingin membuat kerajaan? Negara dalam negara? Hadis dan ayat-ayat yang dinukil dalam buku tersebut memang sahih. Hanya pemaknaannya saja yang diselewengkan oleh para pemimpinnya untuk menipu anggotanya.

Bulan Juni yang lalu saya pulang ke Indonesia. Di rumah saudara di Jakarta saya bertemu seorang famili dari kampung. Beliau menceritakan permasalahan yang beliau alami dan meminta pendapat dan penjelasan dari saya. Beliau bercerita bahwa selama ini diajak oleh anaknya mengaji di LDII. Namun akhir-akhir ini didesak oleh sang anak untuk menjadi anggota dengan melakukan bai’at. Famili saya ini bingung. Beliau melihat banyak perilaku aneh dari anaknya. Menurut famili saya ini memang dalam hal sholat, wudhu, yang diajarkan oleh LDII sama seperti yang beliau lihat dilakukan oleh orang arab di Makkah ketika Haji. Tapi beliau merasa aneh, kenapa anaknya ini tidak mau melayat kalau ada tetangganya yang muslim meniggal dunia. Ataupun kalau melayat, kelihatan tidak ikhlas. Kalau yagn meninggal adalah orang LDII pasti melayat apapun keadaanya dan betapapun sibuknya. Beliau juga bertanya-tanya kenapa anaknya ini bersikap lain terhadap orang-orang Islam yang bukan anggota LDII. Beliau bingung mengapa dirinya yang sudah ikut mengaji dan melakukan ibadah seperti yang diajarkan oleh Al-Quran dan Hadist, masih juga harus menjadi anggota? Apakah menajalankan ibadah seperti yang diperintahkan saja tidak cukup untuk menjadi Muslim? Dari situ beliau merasa aneh dan sampai sekarang tidak mau bergabung.

Beliau juga menceritakan bahwa belum lama ini telah terjadi penipuan besar-besaran yang dilakukan oleh seorang petinggi LDII. Sang penipu mengumumkan kepada anggotanya bahwa Organisasi mendapatkan tender dari Pemda Jatim dalam bidang kelistrikan. Para anggota dijanjikan keuntungan yang sangat besar jika mau ikut mendanai proyek tersebut. Akhirnya banyak anggota yang menjual barang-barang berharga miliknya untuk bisa menyetor uang. Merekapun berhasil mengumpulkan uang tidak kurang dari satu trilyun rupiah. Namun setelah beberapa bulan, sang petinggi ini kabur. Banyak anggota yang stress, gila, bahkan bunuh diri. Namun kejadian ini tertutup dan tidak diketahui orang luar. Karena famili saya ini punya beberapa anak yang menjadi anggota LDII, beliau tahu tentang hal ini dan menceritakannya kepada saya.

Perlu saya jelaskan bahwa pembicaraan saya mengenai LDII di sini ataupun pada tulisan berjudul “Aliran Sesat”, sama sekali bukan karena kebencian yang membabi buta. Ini saya lakukan justru karena kecintaan saya kepada saudara-saudara seagama. Saya sedih melihat mereka ditipu. Saya juga tidak anti perbedaan. Saya anti penipuan dan penyesatan. Mungkin begini saja, kalau para penipu di LDII merasa tidak melakukan penyelewengan dan penipuan, kita lakukan Mubahalah saja. Muhammadiyah tidak ekslusif atau menutupi ajarannya, NU juga tidak, dan Persis juga tidak. Adapun LDII sangat terkenal dengan ekslusivitas dan penipuannya. Mari Kita melakukan mubahalah, dan berdoa bersama kepada Allah untuk menghukum dan menghancurkan fihak yang menipu, di dunia dan di akhirat. Kita serahkan kepada Allah hukuman apa yang akan diberikan kepada yang jahat dan menipu. NU pasti berani, Muhammadiyah dan Persis juga. Bagaimana dengan LDII?

524 Comments »

  1. by Juli anda tidak boleh demikian nasehati dengan baik atau kasih informasi aja agar bisa menjadi pembanding,karena hampir sebagian kita dahulu yang pernah terbelenggu dalam penyimpangn dakwah selalu merasa pemahaman kita benar sedangkan merasa kelompok lain tidak.
    Tidaklah ada diantara kita seorang pun melainkan bisa diambil ucapannya atau ditolak kecuali Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah.

    “Semua ucapan kadang bisa diterima dan terkadang bisa di tolak kecuali Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam”
    lihatlah nasehat diantara Alim umat ini

    Kaum Yang Senang Bertengkar
    Ingatlah, hizbiyun telah mengetahui bahwa kejahatan mereka telah dibongkar, hizbiyun tahu bahwa kerusakan mereka telah disingkap. Oleh karena itu mereka sekarang menyusup diantara kita dan menghendaki supaya kita menjadi sibuk antara satu dengan lainnya, menginginkan kita tersibukkan antara satu dengan lainnya!!! Ahlus sunnah wal Jama’ah, yaitu mereka yang berada di atas manhaj salaf, seharusnya mereka bergandengan tangan bersama… seharusnya mereka bergandengan tangan bersama!!! Daripada kita sibuk di antara sesama, seharusnya kita berdakwah dan membantah hizbiyun, membantah sufiyun, membantah asy`ariyah dan membantah seluruh ahlul bid’ah. Namun anehnya, kita ini lebih senang mencari kesalahan saudara lainnya, mencari kesalahan antara satu dengan lainnya!!!
    (Syaikh Salim Hilali Hafizhahullahu).

    Menceritakan kepada kami Abu Bakar ibn Malik beliau berkata menceritakan kepada saya Hamid Ath-Thawil dari Abu Qilabah (Abdullah bin Yazid Al-Jurmi) berkata: “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mencarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

    Bila ada dari mereka yang membantah kebatilan kelompok lainnya yang lebih menyimpang dari sunnah daripada mereka, maka kita puji bantahan mereka dan kebenaran yang mereka ucapkan. Akan tetapi, sayang, terkadang mereka melampui batas (keluar dari batas-batas keadilan) dalam menyampaikan bantahan tersebut. Terkadang dalam bantahan tersebut mereka menyalahi kebenaran dan mengatakan hal-hal yang batil. Terkadang mereka membantah bid’ah yang besar dengan bid’ah yang lebih ringan; membantah kebatilan dengan kebatilan yang lebih ringan. Ini sering kita jumpai di kalangan ahli kalam yang menisbatkan diri mereka kepada Ahlussunnah wal Jama’ah.

    Bila ada dari mereka yang membantah kebatilan kelompok lainnya yang lebih menyimpang dari sunnah daripada mereka, maka kita puji bantahan mereka dan kebenaran yang mereka ucapkan. Akan tetapi, sayang, terkadang mereka melampui batas (keluar dari batas-batas keadilan) dalam menyampaikan bantahan tersebut. Terkadang dalam bantahan tersebut mereka menyalahi kebenaran dan mengatakan hal-hal yang batil. Terkadang mereka membantah bid’ah yang besar dengan bid’ah yang lebih ringan; membantah kebatilan dengan kebatilan yang lebih ringan. Ini sering kita jumpai di kalangan ahli kalam yang menisbatkan diri mereka kepada Ahlussunnah wal Jama’ah.

    Comment by Antok — May 17, 2009 @ 10:40 am

  2. LDII kayak nyamuk gak da untungnya untuk kebaikan malah perlu dibasmi.BASMI LDII …………….salah satu alasan yang makin bikin kiamat cepet datang

    Comment by juli — May 11, 2009 @ 2:00 pm

  3. Maret 25, 2009 pada 4:26 am (Pelajaran Berharga)
    Tags: Ilmu, Kiamat, Tholabul Ilmi, Ulama
    Allah ta’ala berfirman,
    يَرْفَعْ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
    “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang mendapatkan karunia ilmu beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 11).
    Yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang beriman yang berilmu lebih utama dan diangkat derajatnya lebih tinggi oleh Allah ta’ala daripada orang beriman yang tidak berilmu (Fath Al-Bari, 1/92. Asy-Syamilah).
    Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,
    أيها الناس : افهموا هذه الآية ولْتُرغِّبْكم في العلم ، فإن الله يرفع المؤمن العالم فوق مَن لا يعلم درجات
    “Wahai manusia, pahamilah ayat ini (Al-Mujadilah : 11) niscaya ia akan memotivasi kalian untuk menimba ilmu, karena sesungguhnya Allah mengangkat orang beriman yang berilmu di atas orang (beriman) yang tak berilmu.” (Dinukil oleh Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Zaadul Masiir, Asy-Syamilah).
    Allah ta’ala berfirman,
    نَرْفَع دَرَجَات مَنْ نَشَاء
    “Kami mengangkat derajat orang-orang yang Kami kehendaki.” (QS. Al-An’aam : 83 dan Yusuf : 76).
    Zaid bin Aslam rahimahullah mengatakan bahwa maksudnya Allah akan mengangkat manusia dengan sebab ilmunya (Fath Al-Bari, 1/92, Asy-Syamilah).
    Dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
    “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat dengan kitab suci ini sebagian orang dan menghinakan sebagian yang lain.” (HR. Muslim [1353]).
    Allah ta’ala berfiirman,
    وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
    “Katakanlah; Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha : 114).
    Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata mengomentari ayat ini, “Ayat ini mengandung penunjukan yang sangat jelas untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Sebab Allah ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu selain dari tambahan ilmu. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i -sebagaimana disebutkan oleh Al-Alusi rahimahullah dalam tafsir Ruhul Ma’ani, pent- yang akan membuahkan faedah bagi setiap orang yang terbebani syariat sehingga dia akan mengerti apa yang wajib dilakukannya dalam urusan ibadah atau pun muamalahnya, ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, perintah Allah yang harus dilakukannya, menyucikan Allah dari berbagai sifat kurang dan cela. Poros ilmu-ilmu tersebut adalah pada ilmu tafsir, fiqih, dan hadits.” (Fath Al-Bari, 1/92. Asy-Syamilah).
    Dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
    “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menimba ilmu, maka Allah akan menuntunnya berjalan di atas jalan di antara jalan-jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya karena meridhai penimba ilmu. Orang yang berilmu niscaya akan dimintakan ampunan oleh segala makhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan oleh ikan yang berada di kedalaman air (laut). Sesungguhnya keutamaan seorang alim di atas seorang ahli ibadah sebagaimana keutamaan bulan pada malam purnama dibandingkan seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris nabi-nabi. Para nabi tidak meninggalkan warisan dinar dan dirham, (namun) mereka meninggalkan warisan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mendapatkan jatah warisan yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud [3157] disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Targhib wa Tarhib, 1/63/68. Asy-Syamilah).
    Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
    “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari [69,2884,6768] dan Muslim [1719,1721,3549]).
    Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan salah satu pelajaran yang dapat diambil dari hadits ini adalah besarnya keutamaan bertafqquh/mendalami agama. Beliau juga menyimpulkan dari hadits ini bahwa; orang yang tidak berusaha untuk mendalami agama -tidak mau mempelajari pokok-pokok ajaran Islam dan cabang-cabangnya- maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan. Hadits ini juga menunjukkan besarnya keutamaan menimba ilmu agama dibandingkan ilmu-ilmu yang lainnya (Fath Al-Bari, 1/115. Asy-Syamilah).
    Tercabutnya ilmu tanda dekatnya kiamat
    Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
    “Sebagian tanda hari kiamat adalah; ketika ilmu diangkat, kebodohan merajalela, khamr diminum, dan zina terjadi secara terang-terangan.” (HR. Bukhari [78] dan Muslim [4824]).
    Hadits yang mulia ini dicantumkan oleh Al-Bukhari rahimahullah di dalam Kitabul Ilmi bab terangkatnya ilmu dan tampaknya kebodohan, kemudian Bukhari membawakan ucapan Rabi’ah, “Tidak selayaknya orang yang memiliki ilmu untuk menyia-nyiakan dirinya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, maksud ucapan Rabi’ah ini adalah bagi orang yang mampu memahami dan mencerna ilmu tidak selayaknya meninggalkan kesibukan untuk belajar karena hal itu akan menyebabkan terangkatnya ilmu (Fath Al-Bari, 1/131. Asy-Syamilah). Yang dimaksud terangkatnya ilmu adalah kematian orang yang membawanya (para ulama). Khamr diminum, maksudnya seringnya hal itu terjadi dan kabarnya tersiar ke mana-mana (Fath Al-Bari. Asy-Syamilah).
    Dari Abdullah bin Amr bin Al-’Ash radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
    “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung dari dada manusia. Namun Allah mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama, sampai-sampai apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang alim, maka orang-orang pun mengangkat pemimpin yang bodoh-bodoh. Mereka berfatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari [98] dan Muslim [4828]).
    Hadits yang mulia ini dicantumkan oleh Al-Bukhari rahimahullah di dalam Kitabul Ilmi bab bagaimana cara tercabutnya ilmu. An-Nawawi rahimahullah berkesimpulan dari hadits ini bahwa di dalamnya terkandung maksud anjuran untuk menjaga ilmu serta mengambilnya dari ahlilnya (Al-Minhaj, 9/32. Asy-Syamilah).

    Comment by antok — March 25, 2009 @ 6:16 am

  4. Download Audio gratis

    http://id.wordpress.com/tag/download-audio/

    Comment by antok — March 22, 2009 @ 12:44 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: