LDII Watch

March 28, 2007

[Kliping] LDII Tidak Identik dengan Islam Jemaah

Filed under: Kliping Artikel Pro LDII — ldiiwatch @ 6:49 am

Sumber: http://www.ldii.or.id//index.php?option=com_content&task=view&id=62&Itemid=1

JAKARTA–MIOL: Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) KH Abdullah Syam menyatakan LDII tidak identik dengan Islam Jemaah yang pernah dilarang berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Saya tegaskan LDII tidak memiliki hubungan dan tidak ada hubungannya dengan Islam Jemaah,” kata KH Abdullah Syam pada acara Media Gathering menyambut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LDII di Jakarta, Senin (5/3).

Menurut Abdullah Syam momentum Rakernas yang berlangsung Selasa (6/3) hingga Kamis (8/3) di Jakarta, akan menjawab berbagai tuduhan miring dan stigma negatif yang pernah melekat pada LDII. Dijadwalkan acara Rakernas yang bakal diikuti ribuan jemaah LDII dari seluruh Indonesia akan dibuka Menko Kesra Aburizal Bakrie.

Kehadiran LDII yang sebelumnyya bernama Lemkari (Lembaga Karyawan Dakwah Islam) didirikan pada 1972 bertujuan meluruskan dan membina para anggota Islam Jemaah. Abdullah Syam mengungkapkan LDII telah menjelaskan kepada Komisi Fatwa MUI yang diketuai KH Ma’ruf Amin, tidak benar anggota LDII pada saat salat berjamaah tidak boleh mengambil imam selain orang dari kelompoknya.

“Kami juga menolak anggapan jemaah LDII suka ‘mengkafirkan’ mereka yang bukan jamaah LDII,” tandasnya.

Koordinator Bidang Dakwah LDII, H Chriswanto Santoso menambahkan tuduhan eksklusif yang dialamatkan kepada LDII juga tidak benar. “LDII tidak mengajarkan doktrin ekslusif dalam bermasyarakat dan juga beribadah, ” ujarnya seraya mengakui kemungkinan adanya jemaah yang tidak terkontrol dengan sikap seperti itu.

Namun kalaupun ada, kata Chriswanto, sifatnya perorangan semata dan bukan menjadi ajaran LDII. Ia mengungkapkan Ketua Umum LDII ketika bertemu Ketua Komisi Fatwa MUI KH Ma’ruf Amin dan pimpinan MUI lainnya telah disumpah untuk menyampaikan pernyataan yang benar mengenai LDII.

Menjawab pertanyaan tentang hubungan LDII dengan NU dan Muhammadiyah, Chriswanto menandaskan LDII telah membaur dengan kedua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut. Bahkan beberapa kader LDII ada yang dipercaya menjadi pengurus MUI di beberapa daerah seperti di Sumatra Selatan dan Jawa Timur.

Ketua Panitia Rakernas LDII Iskandar Siregar mengatakan, rakernas kali ini akan memfokuskan pada pengembangan ekonomi syariah sebagai salah satu solusi dalam peningkatan kesejahteraan umat dan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.

Iskandar mengemukakan sejumlah tokoh telah diundang sebagai pembicara. Antara lain Kapolri Jendral Sutanto, Ketua Komisi Fatwa MUI Ma’ruf Amin, Mendagri Moh Ma’ruf, tokoh NU Ahmad Bagja, pakar ekonomi syariah, praktisi pers dan lain-lain. (Bay/OL-02).

 

Sumber: Media Indonesia Online

Last Updated ( Tuesday, 06 March 2007 )

38 Comments »

  1. islam rohmatul lil’alamin.

    Comment by tisagapulsa — May 14, 2010 @ 11:53 pm

  2. by dista kenapa bingung memnag islam di takdirkan terjadi perpecahan,anda lihat
    Cara Penanggulangan Perpecahan Umat
    http://www.almanhaj.or.id/content/1491/slash/0

    Comment by budi — May 29, 2009 @ 2:46 am

  3. by Dista

    ana sarankan agar anda tidak masuk dalam perdebatan yang pada dasarnya mereka masih awam dalam agama yang mulia ini,tentunya anda pahami prinsip-prinsip agama mulai dari yang sangat dasar tersebut.

    Tidak dipungkiri jika kita minim akan ilmu atau tidak memiliki ilmu tentu akan di bingungkan dengan banyaknya kerancuan yang ada,apakah mungkin orang yang belum mengenal islam dari para ulama lantas mengatakan,mereka begini dan begitua?

    ketauilah bahwasan ilmu itu sebelum berucap dan beramal

    Berapa umur kita sekarang? Barapa usia kita ketika mulai terkena beban syariat? Mungkin sudah belasan tahun bahkan puluhan tahun kita mengenal islam dan melaksanakan ajarannya. Tapi pernahkah kita berpikir, apakah ibadah kita ini sudah benar sesuai dengan contoh nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apakah cara kita berislam sudah sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita berislam dengan tata cara dan urutan yang benar?
    Beramal Perlu Ilmu! wahai saudara seagama?
    http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=105

    lantas BerIslam: Mulai Dari Mana?
    http://assunnah-qatar.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=323

    Comment by antok — May 15, 2009 @ 1:47 pm

  4. Saya baru mulai belajar agama, sholat, puasa dll..kebetulan saya di ajak ngaji di LDII..pengetahuan saya msh minim..tp intinya, betapa membingungkan sy baca komentar2 anda semua, yang ini bilang sesat, yg lain bilang tdk sesat..kenapa belajar islam kok mulainya sudah susah ya? Apa dulu jaman nabi jg begini? Saya harus kemana, LDII, NU, Muhammadiyah, Persis, Hizbh Tahrir, Ikhwanul muslimim or….?

    Comment by Dista — March 28, 2009 @ 5:50 am

  5. ajaran kalian adalah ajaran khowairj,coba baca kitab albidayah wannihayah…
    saudara-saudara non LDII banyak bukti penyimpangan mereka pada saya,bukan buku-buku mereka.akan tetapi acara-acara nasehat mereka yang saya rekam.baik dari pusatnya kediri maupun di daerah-daerah…
    berminat…!!!!!!!!!!!!!! hubungi saya di 081244430321

    Comment by antidajjal — March 27, 2009 @ 6:22 am

  6. wahai LDII apakan kalian itu gak merasa bahwa dalil dalil tentang fitnah dajjal berada di kitabul ahkam,dia dari arah timur,berarti kalian….
    coba perhatikan dokrin kalian yang mengubah-ubah nama..
    dan kenapa>>>>

    Comment by antidajjal — March 27, 2009 @ 6:18 am

  7. Saya amat setuju banget dengan ThA (asline tak eruh).Islam itu luas,damai,sejuk,indah.Perbedaan itu sudah semestinya harus ada.Semua sudah tertulis di Al-Qur’an maupun hadist,tinggal manusianya mau “membaca” dari sisi mana.seperti diri kita ini ,yang dimaksud dengan manusia itu yang bagaimana? apa yang hanya terlihat oleh mata itu? Demikian juga dengan Islam itu.o k e…

    Comment by mas lik mustang — March 20, 2009 @ 7:09 am

  8. Ya Sudahlah kawan semua, mari tersenyum dan sambut hari baru.
    yakini apa yang kita yakini, dan berharap semua orang mendapat hidayah tuk mencapai jalan lurus
    mari singkirkan perbedaan dan mari hidup berdampingan dengan damai!!!
    teguhkan hati islam!!!

    Comment by ThA — February 6, 2009 @ 6:01 am

  9. LDII itu penuh dengan kebohongan…Be carefull with LDII
    mungkin ini yang disebut tanda2 akhir jaman…
    yang jelas siapa yang bisa menentukan masuk surga hanya Allah swt yang tahu bukan karena dia masuk LDII…Bahkan seorang yang paling alim pun jika pada saat meninggal dia kafir maka dia masuk neraka.
    Segera Bertobatlah!!!!!!!!!

    -Ex kader LDII-

    Comment by Telah Insyaf — January 5, 2009 @ 2:36 pm

  10. MAULUIDIN MURTAD.
    DIUMUMKAN KEPADA KHALAYAK BAHWA SEUSAI DENGAN HASIL DAERAHAN INDONESIA TIMUR BULAN DEC 2008 MENYATAKAN BAHWA SDR. MAULUDIN ILLIYIN SUDAH BENAR BENAR MURTAD, FAROQOL JAMAAH.
    BAGAIMANA DENGAN KHOLIL ???????? LET SEE TOGETHER…………….
    HIDUP LDII. HIDUP JAMAAH.

    Comment by kholil — December 15, 2008 @ 8:15 am

  11. ALHAMDULILLAH SETELAH MENGAJI DI LDII SAYA TAHU BAGAIMANA CARA WUDHU DAN SHOLAT YANG BENAR SESUAI DENGAN YANG DICONTOHKAN OLEH RASULLULLAH SAW. YANG JELAS SAYA SUDAH TIDAK LAGI KECING “DIKOPAT KAPIT LAGI SEPERTI DULU”, SUDAH TIDAK SENGOL-SENGGOLAH KE WANITA , DAN SUDAH TIDAK LAGI MEROKOK . HIKZ , KASIAN DEH LU YANG MAISH NGGAK TAHU CARA SHOLAT YANG BENAR.

    Comment by kholil — December 15, 2008 @ 7:45 am

  12. DR. M. Syafi’i Mufid, MA – Peneliti, Departemen Agama – Republik Indonesia
    LDII Sekarang Ibarat Teori Gelombang

    LDII yang saya ketahui itu kan sebuah organisasi Islam. Yang awalnya dari LEMKARI kemudian menjadi LDII. Nah, sebelumnya ada yang namanya Islam Jama’ah. Sebelum Islam Jama’ah, ada yang namanya Darul Hadits. Jadi, itu proses dimulainya sebuah tafsir terhadap ajaran-ajaran Islam tentang imamah (tentang jama’ah) kemudian implementasinya dalam bentuk gerakan, yang namanya gerakan Islam Jama’ah atau Darul Hadits.

    Sebetulnya, ajaran inti dari yang kita kenal Islam Jama’ah itu adalah mengenai kejama’ahan dan keimamahan. Apa yang dipahami dari kawan-kawan Islam Jama’ah itu adalah atsar-nya dari Sayidina Umar yaitu la islama illa bil jama’ah walajamaata illa bil imamah wala imamata illa bithoah wala thoata illa bil bai’at. Kemudian mamata laisa lahu biatun mata mitatan jahiliyatan, haditsnya maupun atsarnya itu, lazim di kalangan umat Islam. Tidak merupakan sesuatu yang aneh, artinya masyhur (umum, dikenal). Yang menjadi aneh pada waktu itu adalah, kalau orang tidak masuk jama’ah, mereka itu dianggap bukan Islam. Itu masalahnya. Nah, ini kekeliruan penafsiran yang banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok. Kemudian oleh Majelis Ulama Indonesia dikatakan sebagai kelompok sesat. Itu adalah klaim kebenaran yang hanya ada pada mereka. La islama illa bil jama’ah. Kata-kata jama’ah itu hanya untuk Darul Hadits, Islam Jama’ah. Kan begitu awalnya. Mestinya tidak begitu. Jadi, Islam Jama’ah adalah Al jama’ah min jamaatul muslimin. Jadi, satu jama’ah dari jama’ah-jama’ahnya umat Islam. Umat Islam itu banyak jama’ahnya. Tidak satu-satunya. Nah, disini yang menjadi krusial itu.

    Bai’at itu, kalau kita kembali kepada sejarah sirah nabawiyah itu, kan ada bai’at aqobah, ada bai’atur ridwan. Nah, itu berbeda. Bai’at yang pertama itu, bai’at untuk menyatakan lailaha illallah muhammadurrasulullah, dan dia siap. Di Aqobah itu, orang Aus dan Hujrat yang datang menghadap Nabi itu, siap menerima kehadiran Nabi di Madinah, melindungi Nabi di Madinah, dan siap mengikuti ajaran Nabi Muhammad. itu bai’at aqobah. Kemudian bai’atur ridwan itu adalah umat Islam yang siap untuk menghadapi apapun yang terjadi. Ketika umat Islam mendapatkan berita bahwa utusan Nabi yang ke Mekkah itu di tahan oleh Quraisy, Utsman diutus untuk negosiasi dengan orang Quraisy. Waktu itu, Nabi tidak berkehendak perang, tapi ingin melakukan ibadah haji. Tapi akhirnya ditolak. Kemudian ada perjanjian. Kemudian Nabi kembali ke Madinah. Baru kemudian 2tahun berikutnya, Nabi pergi ke Mekkah. Nah, itu bai’at, dan ada bai’at lagi yaitu bai’at kepemimpinan ketika khalifah Umar membai’at Abu Bakar sebagai khalifah. Bai’at itu sebetulnya, ya kalau bahasa sekarang, bai’at kepada khalifah atau bai’at kepada khulafaur rosyidin. Ya, demokrasi itu dimana pemilih menyatakan aku setuju dengan anda. Nah, bai’at yang di LDII atau yang sejenis itu, hakikatnya adalah sama dengan bai’at kepada pemimpin. Pemimpinnya sebagai imam yang secara spesifik itu sama dengan bai’at orang-orang thariqot. Orang-orang thariqot juga bai’atnya untuk sami’na waatho’na terhadap guru atau mursyidnya. Nah kalau orang-orang Jama’ah ini sami’na waatho’na terhadap imamnya, itu sama dengan tidak masalah. Masih tetap dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan syari’at. Nah, yang bertentangan adalah tidak ada imam yang lain kecuali imamku, dan membai’at imam yang bukan imamku, batal. Itu kafir. Itu yang keliru. Siapapun yang berpandangan eksklusif semacam itu, keliru. Dan itu ciri dari jama’ah-jama’ah yang eksklusif seperti itu.

    Ajaran manqul itu, sebetulnya ada dalam tradisi ulama-ulama nusantara, meskipun tidak dikatakan manqul. Itu kan ada istilah ijazah. Seorang ulama misalnya, saya pernah ngaji kepada guru saya untuk baca kitab ihya’. Setelah tamat baca ihya’, itu guru saya (kyai saya itu) memberikan ijazah kepada murid-muridnya yang mengikuti pengajian itu, termasuk saya, untuk sahnya membaca ihya’. Nah, saya bisa membaca ihya’, kayak begini itu dari guru saya. Guru saya itu mendapatkan kemampuannya itu dari gurunya. Itulah yang namanya silsilah. Manqul, kalau dipahami sebagai silsilah, kayak begitu. Biasa, wajar. Persoalannya, manqul itu adalah hadits yang diajarkan oleh gurunya. Itu sajalah yang benar. Tidak ada hadits yang benar kecuali yang diajarkan oleh gurunya. Padahal, jumlah hadits itu kan ratusan ribu. Nah, bagaimana dia bisa mengatakan hanya gurunya sajalah yang sah untuk meriwayatkan hadits ini. Kan lagi-lagi eksklusif. Di situ letak kekeliruannya. Manqul pada umumnya tidak ada masalah, karena dia tidak beranggapan bahwa hanya dengan jalan inilah orang bisa masuk syurga. Kecuali, kalau tidak mengikuti jalan ini, orang masuk neraka, di situ kemudian terjadi doktrin yang menyesatkan, karena jalan untuk menuju kebenaran itu banyak. hadits itu banyak. Kitab itu banyak pendapat. Nah, ini yang mereka itu tidak ada ketika masih dalam gerakan Islam Jama’ah.

    Nah, ketika sudah menjadi LDII, saya sudah mendengar, saya sudah membaca Keputusan Rakernas LDII tahun 2007 bahwa memang LDII sudah mengubah paradigma lama dengan paradigma baru, termasuk ajaran tentang Islam Jama’ah, ajaran Manqul, ajaran tentang Imamah, Keamiran dan lain sebagainya sudah dihilangkan. Mereka sudah mengikuti sawadul a’dhom. Itu tertulis. Nah, sekarang apa iya seperti itu, tanyakan kepada orang-orang LDII. Sepengetahuan saya, pernah suatu ketika saya shalat jum’at di Masjid LDII di daerah Dago (Bandung). Sampai orang-orang sebagian bubar, saya masih shalat di situ. Kemudian saya pergi. Saya tinggalkan Masjid itu, tetapi saya pergi ke rumah seorang teman yang berdekatan dengan masjid itu. Saya yakin mereka tidak tahu, kalau saya mampir di depan Masjid itu. Nah di rumah teman itu, saya perhatikan dari rumah jendela kaca, saya perhatikan betul bahwa tidak ada seorangpun yang mencuci tempat di mana saya duduk dan saya sujud di Masjid itu. Karena anggapan bahwa kalau saya bukan anggota LDII adalah najis atau orang bukan Islam, ternyata tidak ada sampai akhirnya datang waktu shalat Ashar. Ketika shalat Ashar, saya datang lagi ke tempat itu. Kemudian saya memperkenalkan diri. Saya salaman kepada mereka. Lalu terjadilah dialog. Dia tanya, ”Bapak dari mana?” Saya dari Departemen Agama, lagi ada Rapat Kerja di Badung. Kebetulan saya ada keperluan ketemu dengan teman yang rumahnya dekat sini. Lalu saya shalat disini. ”Saya mau tahu apakah sudah ada perubahan di kalangan teman-teman di LDII apa nggak?,” Katanya, kalau ada orang shalat di LDII, dicuci. Ketika saya lihat sendiri, kok tidak dicuci bekas tempat saya tadi. Nah itu gimana? Kata mereka, ”Itulah pak, fitnah yang terjadi, dimana saya mencuci bekasnya orang shalat, nggak ada, itu fitnah.” Apakah dulu memang pernah terjadi seperti itu, atau itu memang sudah terjadi perubahan? ”Saya orang LDII yang berhak untuk menjawab.” Pengalaman saya yang seperti itu tidak sekali saja. Pada waktu lebaran kemarin, saya juga shalat di Masjid Pantura yang di situ ada spanduknya yang bertuliskan ”Mengucapkan selamat Idul Fitri.” Pada kanan kiri spanduk tersebut, ada simbol Majelis Ulama Indonesia dan simbol LDII. Boleh saya katakan bahwa Masjid yang saya pakai adalah masjidnya LDII. Ternyata di situ, yang menjadi Imam Maghrib –waktu itu masih dalam bulan Ramadhan– itu bukan orang LDII. Dan orang-orang LDII yang tinggal di sekitar masjid juga ikut berjama’ah di situ. Masjid di situ tempat lalu lalang (banyak orang), dan tidak ada cuci-mencuci itu. Itulah pengalaman saya terhadap LDII.

    Comment by fauzan — December 5, 2008 @ 7:50 am

  13. umat islam yang mana?. dipecah belah ldii.
    menurut .Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

    Mereka Kita Anggap Mutanaththi`

    Airan atau madzhab atau firaq islamiah itu, sepanjang masa akan tetap ada. Kajian mengenai al-Firaq al-Islamiah (firqah-firqah Islam) dan al-Firaq al-Kharijah `anil Islam (firqah-firqah yang keluar dari Islam) adalah salah satu mata kuliah wajib di Timur Tengah, baik itu di Ummul Qura Makkah maupun di Al-Azhar Kairo. Yang termasuk firqah Islam adalah Mu`tazilah, Khawarij, Jabariah, Qadariah, Murji’ah, Jahamiah; Syi`ah, Syi`ah Itsna `Asyariah, Imamiah, dan Zaidiah. Sedangkan firqah yang keluar dari Islam yaitu Syiah Ismailiah, Bahaiyah, Qadianiyah, dan lain-lain. Kelompok kedua ini dianggap keluar dari Islam karena mereka mengingkari prinsip-prinsip ma`ulima minaddin bidhdharuri (prinsip yang sangat fundamental dalam Islam).

    Orang atau kelompok yang mengingkari ma’ulima minaddin bidhdharurah54 bisa dikategorikan sesat. Sedangkan kelompok atau orang yang mengingkari ma`ulima minaddin bitta`allum (hasil pemikiran/telaah/ijtihad) tidaklah sesat. Sampai-sampai, golongan Khawarij pun masih dianggap sebagai bagian dari kelompok Islam (firaq islamiah), padahal mereka telah membunuh Sayidina Ali Karramallahu Wajhah.

    Di dalam Islam terdapat beragam aliran dan golongan. Sebagian besar golongan tersebut tidak bisa dianggap sesat, karena ada dua perbedaan, yaitu perbedaan yang bersifat wacana dan perbedaan yang bersifat aksi/amal. Lha, LDII ini perbedaannya amal. Mereka tidak kita anggap sesat, tetapi mutanaththi`, tanaththu`, orang yang eksklusif, kelompok eksklusif. Namun demikian, LDII masih dalam bagian firqah islamiah, karena meyakini apa yang disebut ma’ulima minaddin bidhdharurah, meski dalam beberapa hal LDII (menurut beberapa kalangan yang mengamati organisasi ini) berbeda dengan mayoritas ulama dalam menafsirkan ayat tertentu. Perbedaan penafsiran itu sendiri dalam banyak kesempatan dibantah oleh pengurus LDII. Seandainya dugaan para pengamat itu benar, perbedaan itu tidak menyebabkan LDII menyandang label ”sesat.” Itu tidak sesat, hanya salah atau sempit. Itu tanaththu`, mutanatti`, hatta Khawarij kita tidak mengatakan sesat. Padahal dia yang membunuh Sayidina Ali, kita tidak mengatakan sesat, tetapi mutasyaddid, mutatharrif.

    Mutasyaddid (keras) dan mutatharrif (ekstrem atau keterlaluan) itu berbeda dengan menyimpang. Yang menyimpang adalah yang mengingkari ma`ulima minaddin bidhdharurah, yang bitta`allum tidak. Allah punya sifat berapa dan apa, itu bitta`allum. Di kalangan NU dan di kalangan Pesantren, ada juga kalangan yang eksklusif. Sampai-sampai, kaum perempuan sama sekali tidak boleh bertemu dengan laki-laki. Ada sebagian orang membaca takbiratul ihram berkali-kali, karena was-was, seakan-akan harus hati-hati. Justru hal ini adalah bagian dari sifat keterlaluan dan berlebihan.

    LDII tidak bisa disamakan dengan Ahmadiah. Ahmadiah itu sesat karena mengingkari ma`ulima minaddin bidhdharurah, mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Saya menanggapi perubahan paradigma LDII secara positif. Paradigma Baru LDII harus disikapi dengan positif. Mereka (LDII) mengakui kesalahan, dalam tanda petik: kesalahan ajarannya atau kesalahan doktrinnya, bukan kesalahan aqidah. Aqidah nggak salah, dari awal nggak salah. Aqidah dia rukun iman yang enam itu. Rukun Islamnya juga sama. Ya seperti pesantren dulu, dimana Bahasa Inggris itu haram. Sekarang, justru membolehkan. NU sendiri, pada Muktamar tahun 30-an itu mengharamkan pakai dasi atau pakai celana. (Sekarang, tidak).

    Comment by fauzan — December 5, 2008 @ 7:48 am

  14. LDII PEMECAH BELAH UMAT ISLAM.
    LDII (Lembaga Dajjal Iblis Indonesia)

    HATI2 SESAT DAN MENYESATKAN,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!

    Comment by arman — December 2, 2008 @ 7:20 pm

  15. info
    http://situs.assunnah.web.id/category/aqidah-manhaj-3/

    Comment by by — November 4, 2008 @ 3:36 am

  16. oara kasar to cak…se sabar,ge malah wong sedulur cedhak

    Comment by gadi — November 4, 2008 @ 3:34 am

  17. Bubarkan LDII
    Tembak mati orang2 LDII
    selesai masalah….
    gak ada yg susah kok

    Comment by A5U KLA10 — November 2, 2008 @ 5:22 am

  18. @coment 19 kok tanyannya disini….klo anda jokam ya tanya Mt-nya…diklpk.disinikan isinya org2 campuran……aplgi ini kan bkn forum pengajian.klo anda salafi indon….ya tanya sm ustadnya pas wkt dauroh…gitu lho

    Comment by jokamfanatik — October 17, 2008 @ 11:16 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: